Sabtu, 26 Maret 2022

Sejarah Padang Sidempuan (26): Putra-Putri Angkola Mandailing Antar Generasi Studi ke Batavia; Jong Sumatranen Bond 1917

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan di blog ini Klik Disini

Sejarah awal pendidikan Angkola Mandailing kurang populer pada masa ini, Namun sesungguhnya pada era Hindia Belanda sejarah pendidikan di Afdeeling Angkola Mandailing (kini Tapanuli Bagian Selatan) cukup dikenal luas. Hal ini karena Angkola Mandailing dan siswa-siswanya terbilang pionir dalam bidang pendidikan. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Pilar pendidikan adalah kesamaan hak diantara penduduk, penggunaan aksara, angka literasi dan semangat belajar. Pada era Hindia Belanda siswa-siswa Angkola Mandailing menuntut ilmu meski jauh hingga ke Jawa dan Belanda.

Penggunaan aksara Latin sejatinya terbilang baru di wilayah Tapanoeli, khususnya afdeeling Angkola Mandailing. Gagasan introduksi pendidikan modern (aksara Latin) baru muncul tahun 1846 (lihat TJ Willer, 1846). Meski demikian, pendidikan tradisi dengan menggunakan aksara lokal (aksara Batak) sudah berlangsung sejak zaman kuno (era Hindoe-Boedha). Prasasti-prasasti pada candi-candi di Padang Lawas sudah menggunakan aksara Batak. Demikian juga makam-makan tua yang ditemukan menggunakan aksara yang sama. Willem Marsden, seorang penulis asal Inggris yang pernah berkunjung ke district Angkola di dalam bukunya (1781) menyebut sesuatu yang fantastik bahwa lebih dari separuh orang Angkola bisa membaca dan menulis, sesuatu angka literasi yang tidak ditemukan pada semua bangsa-bangsa di Eropa. Lebih lanjut Marsden mencatat bahwa mereka menulis di kulit pohon yang halus dengan menggunakan tinta yang terbuat dari campuran arang dan getah damar. Pada permulaan cabang Pemerintah Hindia Belanda di afdeeling Angkola Mandailing sudah terdapat enam sekolah dasar pemerintah (tahun 1862). Jumlah ini terus bertambah, pada tahun 1870 dari 15 buah sekolah dasar pemerintah di Residentie Tapanoeli, sebanyak 12 buah berada di Afdeeling Angkola Mandailing. Lulusan sekolah Angkola Mandailing pada tahun 1854 sudah ada dua orang yang studi ke Batavia (siswa luar Jawa pertama studi ke Jawa) dan pada tahun 1857 satu orang studi ke Belanda (pribumi pertama studi ke Belanda).

Lantas bagaimana sejarah putra-putri Angkola Mandailing antar generasi studi ke Batavia-Buitenzoeg? Seperti disebut di atas, tradisi pendidikan modern di Angkola Mandailing adalah kelanjutan dari tradisi pendidikan sejak jaman lampau. Lalu bagaimana sejarah putra-putri Angkola Mandailing antar generasi studi ke Batavia-Buitenzoeg?  Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Jumat, 25 Maret 2022

Sejarah Menjadi Indonesia (493): Pahlawan Indonesia – RM Oetarjo Studi Pertanian di Wageningen;Landbouwschool-Veeartsensch.

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Setelah sekolah guru (kweekschool) dan sekolah kedokteran, beberapa dekade kemudian didirikan sekolah pertanian (landbouwschool) dan sekolah kedokteran hewan (veeartsenschool) di Buitenzorg (kini Bogor). Salah satu siswa pribumi pertama yang melanjutkan studi pertanian ke Belanda adalah RM Oetarjo. Lalu satu dekade kemudian siswa pribumi pertama melanjutkan studi kedokteran ke Belanda adalah Sorip Tagor Harahap.

Institut Pertanian Bogor adalah lembaga pendidikan tinggi pertanian yang secara historis merupakan bentukan dari lembaga-lembaga pendidikan menengah dan tinggi pertanian serta kedokteran hewan yang dimulai pada awal abad ke-20 di Bogor. Sebelum Perang Dunia II, lembaga-lembaga pendidikan menengah tersebut dikenal dengan nama Middelbare Landbouwschool, Middelbare Bosbouwschool dan Nederlandsch Indische Veeartsenschool. Lahirnya Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tanggal 1 September 1963 berdasarkan keputusan Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (PTIP) No. 92/1963 yang kemudian disahkan oleh Presiden RI Pertama dengan Keputusan No. 279/1965. Pada saat itu, dua fakultas di Bogor yang berada dalam naungan Universitas Indonesia berkembang menjadi 5 fakultas, yaitu Fakultas Pertanian, Fakultas Kedokteran Hewan, Fakultas Perikanan, Fakultas Peternakan dan Fakultas Kehutanan. Pada tahun 1964, lahir Fakultas Teknologi dan Mekanisasi Pertanian yang kini menjadi Fakultas Teknologi Pertanian. (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah RM Oetarjo? Seperti disebut di atas, RM Oetarjo melanjutkan studi pertanian ke Belanda. Sementara pada waktu itu sudah ada sekolah pertanian dan sekolah kedokteran hewan di Buitenzorg. Lalu bagaimana sejarah RM Oetarjo? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Menjadi Indonesia (492): Pahlawan Indonesia – Penemuan Pedalaman Bali dan Lombok;Ekspedisi Cornelis d Houtman1597

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Saat ekspedisi pertama Belanda yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman (1595-1597) pulau Lombok dan pulau Bali termasuk yang dikunjungi. Armada tiga kapal singgah di kampong Lombok di pantai timur pulau orang Sasak. Nama kampong ini kemudian dipetakan menjadi nama pulau. Lalu dua kapal yang tersisa merapat di pantai timur pulau Bali, di teluk Padang Bai yang sekarang. Sejak itu, (teluk) Padang di pantai timur Bali menjadi pos perdagangan Belanda/VOC. Namun orang-orang Eropa/Belanda hanya mengenal di sekitar (kota-kota) pantai di Bali dan Lombok.

Pulau Bali: Orang Eropa yang pertama kali menemukan Bali ialah Cornelis de Houtman dari Belanda pada 1597, meskipun sebuah kapal Portugis sebelumnya pernah terdampar dekat tanjung Bukit, Jimbaran, pada 1585. Belanda lewat VOC pun mulai melaksanakan penjajahannya di tanah Bali, akan tetapi terus mendapat perlawanan sehingga sampai akhir kekuasaannya posisi mereka di Bali tidaklah sekukuh posisi mereka di Jawa atau Maluku. Bermula dari wilayah utara Bali, semenjak 1840-an kehadiran Belanda telah menjadi permanen yang awalnya dilakukan dengan mengadu-domba berbagai penguasa Bali yang saling tidak mempercayai satu sama lain. Pulau Lombok. Kerajaan Selaparang muncul pada dua periode yakni pada abad ke-13 dan abad ke-16. Kerajaan Selaparang pertama adalah kerajaan Hindu dan kekuasaannya berakhir dengan kedatangan ekspedisi Kerajaan Majapahit pada tahun 1357. Kerajaan Selaparang kedua adalah kerajaan Islam dan kekuasaannya berakhir pada tahun 1744 setelah ditaklukkan oleh gabungan pasukan Kerajaan Karangasem dari Bali dan Arya Banjar Getas yang merupakan keluarga kerajaan yang berkhianat terhadap Selaparang karena permasalahan dengan raja Selaparang. Pendudukan Bali ini memunculkan pengaruh kultur Bali yang kuat di sisi barat Lombok, Baru pada tahun 1894 Lombok terbebas dari pengaruh Karangasem akibat campur tangan Batavia (Hindia Belanda) yang masuk karena pemberontakan orang Sasak mengundang mereka datang. (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah penemuan pedalaman Bali dan Lombok? Seperti disebut di atas, dua pulau ini sejatinya terbuka dengan dunia luar, lebih-lebih pada awal era Jepara dan era awal kehadiran Eropa/;Belanda, namun bagian pedalamannya terbilang tertutup. Lalu bagaimana sejarah penemuan pedalaman Lombok dan Bali? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Kamis, 24 Maret 2022

Sejarah Menjadi Indonesia (491): Pahlawan Indonesia – Noto Soeroto Studi di Leiden; Indische Vereeniging dan Soetan Casajangan

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Dalam sejarah awal mahasiswa-mahasiswa pribumi di Belanda, nama RM Noto Soeroto sama populernya dengan nama Soetan Casajangan (pendiri Indische Vereeniging). Satu yang membedakan RM Noto Soeroto dengan mahasiswa pribumi lainnya adalah riwayat RM Noto Soeroto yang sangat lengkap dan beragam. Yang jarang dimiliki mahasiswa pribumi yang lain adalah menikah dengan gadis Belanda dan menjadi perwira dalam cadangan militer Belanda.

Raden Mas Noto Soeroto (5 Juni 1888 – 25 November 1951) adalah wartawan, penulis, aktivis budaya, penari, dan penyair. Ia adalah penyair Jawa pertama yang karya-karyanya dikenal dalam kesusasteraan Belanda. Ia banyak diingat akan syair prosanya, yang banyak dipengaruhi oleh Rabindranath Tagore. Noto Soeroto adalah putera Pangeran Ario Notodirodjo (1858-1917), putera Paku Alam V. Noto Soeroto merupakan penganjur "politik asosiasi", dimana orang Belanda dan Indonesia harus menggabungkan sifat-sifat terbaiknya - rasionalisme Barat di jantung Timur. Ia dikirim ayahnya ke Belanda untuk belajar. Noto Soeroto belajar hukum di Universitas Leiden, menjadi sarjana namun tak mencapai magister. Ia mendapat penghasilan sebagai redaktur Nederlandsch-Indië Oud en Nieuw dan menerbitkan buah pemikirannya dalam berbagai media cetak (Bandera Wolanda, Het getij, Wederopbouw, De Gids, Oedaya, De Tijdspiegel). Ia juga salah satu pendiri Perhimpunan Hindia dan menjadi pimpinannya antara tahun 1911-1914. Pada tahun 1918, Noto Soeroto menikah dengan Jo Meijer, seorang wanita Belanda. Dari pernikahan tersebut lahirlah Rawindo (1918), Dewatya (1922), dan Harindro Dirodjo (1928). Jo, Rawi dan Dewi kelak aktif dalam melawan pendudukan Nazi di Belanda. Di awal tahun 1932, ia kembali ke Hindia Belanda tanpa keluarganya. Dalam pendudukan Jepang di Indonesia, Noto Soeroto dianggap bekerja sama dengan angkatan kolonial Belanda sehingga disiksa Jepang. Setelah mangkatnya Mangkunagara VII, ia mencoba karier kewartawanan di De Locomotief. Noto Soeroto meninggal dalam keadaan miskin. Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah RM Noto Soeroto? Seperti disebut di atas, RM Noto Soeroto memiliki riwayat yang sangat lengkap. Mahasiswa pribumi di Belanda, aktivis organisasi, penulis dan seorang perwira. Lalu bagaimana sejarah RM Noto Soeroto? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Menjadi Indonesia (490): Pahlawan Indonesia – Promosi Peradaban Nusantara di Belanda; Zaman Kuno - Era Hindia Belanda

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Ada satu masa dimana peradaban Nusantara mulai dipekernalkan di Belanda. Promosi ini menjadi penting karena tidak semua orang Belanda di Hindia mengenal peradaban pribumi (baca: nusantara), lebih-lebih orang Belanda di Belanda. Kehadiran mahasiswa-mahasiswa pribumi di Belanda menjadi agen yang penting untuk memperkenalkan peradaban nusantara di Belanda. Masa itu bertepatan dengan masa politik etik. Selama ini yang dipromosikan di Belanda adalah produk ekspor hasil bumi Nusantara yang diperdagangkan oleh orang Belanda sendiri.

Sikap rasial orang-orang Belanda di Hindia (baca: Nasantara) telah membuat jarak yang lebar antara pengetahuan, sikap dan perilakuk antara orang Belanda dengan orang pribumi. Sikap rasial ini menyebabkan orang Belanda yang datang menganggap rendah orang pribumi. Akibatnya orang Belanda di Belanda ikut memandangrendah orang pribumi. Orang Belanda hanya melihat satu sisi saja: bumi nusantara yang subur, kaya produk ekspor, penduduk yang dapat ditekan dengan kekuatan militer dan penduduk dianggap setara hewan (diburu). Namun diaantara orang Belanda, lambat laun muncul orang-orang yang humanis, terutama orang Indo (orang Belanda lahir di Hindia). Orang-orang Belanda yang humanis inilah yang membuka mata dan hati yang memberi jalan bagi orang pribumi mendapatkan peradaban Eropa/Belanda. Peradaban Belanda yang pertama itu adalah pendidikan modern (aksara Latin), peningkatan pendidikan hingga siswa pribumi bersaing di universitas-universitas Belanda. Peradaban lainnya adalah jurnalistik dan peradaban berorganisasi. Melalui peradaban yang diintroduksi inilah orang pribumi (baca: Indonesia) menemukan jalan untuk berjuang melawan Belanda. Salah satu dari fase perjuangan ini adalah upaya mempromosikan peradaban Nusantara (baca: penduduk pribumi).

Lantas bagaimana sejarah promosi peradaban Nusantara di Belanda? Seperti disebut di atas, upaya promosi ini dimulai oleh mahaiswa-mahasiswa pribumi di Belanda. Kemampuan mahasiswa pribumi dalam akademik di universitas di Belanda termasuk bagian dari promosi Nusantara itu. Lalu bagaimana sejarah promosi peradaban Nusantara di Belanda? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Rabu, 23 Maret 2022

Sejarah Menjadi Indonesia (489): Pahlawan Indonesia – Khouw Kim An, Mayor Cina Terakhir di Batavia; Letnan, Kapten, Mayor

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Mayor adalah pangkat tertinggi dari para pemimpin komunitas pada era Pemerintah Hindia Belanda. Pangkat di bawahnya kapten dan yang paling rendah letnan. Tingkatan kepangkatan ini biasanya di dasarkan pada besar kecilnya populasi komunitas. Kepangkatan diberikan kepada komunitas Cina, Arab, India dan juga dalam kondisi tertentu diberikan kepada komunitas pribumi. Level pangkat mayor umumnya di wilayah kota besar seperti Batavia, Soerabaja, Semarang dan Medan.. Salah satu mayor Cina di Batavia adalah Khouw Kim An.

Majoor Khouw Kim An (lahir di Batavia, 2, Juni, 1875- meninggal di Tjimahi, 6, September, 1945) adalah seorang baba bangsawan, tokoh masyarakat, tuan tanah dan Majoor der Chinezen yang terakhir di Batavia. Ia dikenang sebagai pemilik terakhir Candra Naya, yang disebut juga "Rumah Majoor", satu-satunya dari tiga rumah keluarga Khouw di Molenvliet (sekarang Jalan Gajah Mada) yang masih tersisa. Sang Majoor adalah anggota keluarga Khouw van Tamboen - salah satu wangsa baba bangsawan paling terkemuka di Hindia Belanda. Trah mereka berasal-usul dari hartawan Khouw Tjoen, seorang pedagang dari propinsi Hokkien di Tiongkok yang berimigrasi ke Tegal, dan pada akhirnya menetap di Batavia pada abad ke-18. Anaknya, Khouw Tian Sek, dapat dibilang pendiri kejayaan keluarga. Ia adalah raja penggadaian di Batavia yang membeli banyak tanah di Kota Tua dan tanah-tanah partikelir di seputar Batavia. Tanah partikelir utamanya adalah Tamboen, Pusat pemerintahan tanah partikelir adalah Landhuis Tamboen, yang kini adalah Gedung Juang Tambun. Ia jugalah yang membangun Candra Naya sebagai kediaman utama keluarga besarnya. Khouw Tian Sek mempunyai tiga orang putra, Khouw Tjeng Tjoan, Khouw Tjeng Kie dan Khouw Tjeng Po, yang semuanya diangkat menjadi Luitenants-titulair der Chinezen. Kepemimpinan keluarga bergilir dari anak ke anak, dan kemudian dari si bungsu Khouw Tjeng Po, Luitenant der Chinezen ke putra tertuanya, yaitu Khouw Yauw Kie, Kapitein der Chinezen, dan ke adiknya, Khouw Yauw Hoen Sia, dan pada akhirnya ke sepupu mereka, Khouw Kim An, Majoor der Chinezen. Khouw menikah dengan Phoa Tji Nio, putri satu-satunya dari tokoh masyarakat dan baba bangsawan Phoa Keng Hek, pendiri dan presiden perdana Tiong Hoa Hwee Koan. Khouw ditunjuk menjadi Luitenant der Chinezen pada tahun 1905, kemudian Kapitein pada tahun 1908, dan akhirnya Majoor pada tahun 1910. Jenjang kariernya sangat pesat karena latar belakang keluarganya dan keluarga istrinya. Pada tahun 1920, ia diangkat dengan Dekret Kerajaan menjadi ‘Officier der Orde van Oranje Nassau’. Ketika perkunjung ke Negeri Belanda pada tahun 1927, ia diterima secara resmi oleh Ratu Wilhelmina. Saat dirgahayu ke-25 sebagai opsir Tionghoa pada tanggal 10 Februari 1930, Sri Ratu menganugrahkan 'Groote Gouden Ster voor Trouw en Verdienste' kepada sang Majoor (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah Majoor Khouw Kim An? Seperti disebut di atas, Khouw Kim An adalah mayor Cina terakhir di Batavia. Lalu bagaimana sejarah Majoor Khouw Kim An? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.