Sejarah Persija Jakarta [2]: Media Mulai Mempopulerkan Sepakbola, Kompetisi Sepakbola Perdana Indonesia Diadakan di Jakarta



Liga Inggris (Algemeen Handelsblad, 28-12-1899)
Setelah Medan dan Jakarta, pertandingan sepakbola juga mulai diselenggarakan di Surabaya dan Semarang. Pertandingan sepakbola di berbagai tempat itu (kebetulan kota pantai) biasanya dilakukan sore hari jelang magrib (agar lebih adem buat orang Eropa/Belanda). Durasi pertandingan biasanya 2x35 menit, wasit dari tuan rumah dan masing-masing tim membawa penjaga garis sendiri. Pertandingan selalu menarik, baik buat orang Eropa/Belanda maupun pribumi dan Tionghoa. Strategi yang digunakan umumnya dengan formasi 1-2-3-5. Dari tontonan inilah orang-orang pribumi dan Tionghoa mengadopsi sepakbola sebagai permaianan yang menarik.

Pada tahun 1899, sebagaimana dilaporkan Soerabaijasch handelsblad, 20-05-1899 bahwa pada hari Senin, 22 Mei di lapangan Mesjid Surabaya akan diadakan pertandingan sepakbola antara anak-anak Surabaya (Soerabajasche jongelingen) dengan tamunya dari Semarang (Semarangsche Voetbal-club). Pertandingan terbuka untuk publik (sebagaimana telah diiklankan). Para pemain Surabaya adalah Kolling atau Merghard (penjaga gawang), Avis dan Pas (belakang), Vader, Guldenaar dan van Wieringen (gelandang), De Hoog, Douwes Dekker, Harper, Hughan dan Guldenaar (depan). Mereka itu adalah mantan pemain (di Belanda) dan dalam hal Gambar akan menjadi pemain cadangan. Masih di Surabaya, pada bulan Agustus 1899 juga terjadi pertandingan sepakbola, yakni antara Soerabsjasche (Voorwarts) dengan ECA Sportclub (ECA). Pertandingan ini dilaksanakan 20 Agustus, sore hari pukul enam. Tidak bisa diputuskan siapa yang pemenang (mungkin sudah gelap dan hasil masih imbang) dan akan dilakukan tanding ulang dalam minggu ini (Soerabaijasch handelsblad, 21-08-1899).

Sebelum berakhir abad ke-19, paling tidak sudah empat kota yang memiliki klub sepakbola, yakni: Medan, Jakarta, Semarang dan Surabaya, Sejauh ini pertandingan sepakbola di Bandung belum terdeteksi. Lagi pula pertandingan sepakbola sendiri belum popular dan masih pada fase pengenalan. Olahraga yang sudah popular saat itu hanya senam dan balap sepeda. Boleh jadi pada saat itu jumlah sepedea sudah sangat banyak, tidak hanya untuk kendaraan tetapi juga menjadi alat olahraga (baik laki-laki maupun perempuan). Sepakbola semakin popular karena media (utamanya surat kabar) juga telah mulai mempublikasikan berita-berita sepakbola di Eropa terutama liga Belanda dan liga Inggris.

Liga sepakbola Belanda dan Inggris kala itu sudah terbilang baik dan berjalan normal. Sementara di Hindia Belanda belum ada kompetisi. Klub yang ada masih bersifat anjangsana. Di Belanda klub seperti Eindhoven sudah ada. Di Inggris, meski baru terbilang seusia jagung, Liverpool sudah diperhitungkan. Nama-nama klub yang berkompetisi saat itu, masih kita kenal sekarang, misalnya Stoke, Menchester City, Newcastle, Everton, Aston Villa, Sunderland dan lainnya (Algemeen Handelsblad, 28-12-1899). Tentu saja Menchester United (MU), Chelsea dan lainnya belum lahir.  MU dibentuk tahun 1902, Chelsea didirikan tahun 1905. Sebaliknya nama-nama klub Belanda yang kita kenal sekarang banyak yang belum lahir dan klub-klub yang berkompetisi waktu kini sudah banyak yang tidak muncul lagi. Beberapa nama klub yang lahir nantinya di Medan, Jakarta, Semarang, Surabaya (dan Bandung) banyak yang sama dengan nama klub di kompetisi Belanda (imitasi). Mengapa koran-koran Belanda mempublikasikan liga Inggris agak samar, sebab Belanda dan Inggris sudah sejak lama berseteru, atau apakah karena di Langkat banyak orang-orang Inggris yang bermain sepakbola atau dimaksudkan hanya sekadar untuk mendongkrak tiras (motif bisnis). Tetapi juga boleh jadi karena liga Inggris lebih baik dari liga Belanda, dan untuk referensi dalam pengembangan sepakbola di Hindia Belanda diperlukan dengan mengesampingkan unsur politik.

Demikianlah gambaran awal tentang situasi dan kondisi eksternal tentang sepakbola di Jakarta. Masih terlihat belum bersemangat. Seorang pembaca menulis menggambarkan olahraga di Jakarta dan Surabaya masih kalah jauh jika dibanding dengan di Singapora meski udara di kota perdagangan hawanya lebih panas (Soerabaijasch handelsblad, 31-01-1901). Seperti kita tahu bahwa Singapoera dan Penang adalah pusat komunitas Inggris (di Jakarta juga sudah ada klub orang-orang Inggris), penulis ingin menunjukkan bahwa orang-orang Inggris sudah lebih terbiasa olahraga (termasuk sepakbola) di tropis daripada orang-orang Belanda. Penulis ini menujukan pada penduduk sipil, sebab di lingkungan militer Belanda, sepakbola adalah bagian dari kegiatan rutin. Pusat keramaian sepakbola di Jakarta sendiri berada di Koningsplein (alun-alun Jakarta). Nederlandsch Indie Sportclub berkantor di dekat alun-alun di Gang Boentoel.

Pada akhir tahun 1901 sesuatu yang diharapkan menjadi kenyataan di Jakarta. Salah satu klub di Jakarta (SSS Sportclub) berinisiatif menyelenggarakan suatu kompetisi sepakbola (dengan mengundang beberapa klub). Yang memberitakan kejadian ini adalah Koran yang terbit di Medan, Sumatra Post (edisi 19-12-1901). Koran ini memberikan pujian (karena mungkin yang pertama) dan berharap di Deli juga dapat dilakukan. Kami yakin itu bias terlaksana karena sudah cukup klub yang ada. Dewan klub olahraga Sumatra’s Ooskust perlu kiranya mempertimbangkan. Namun sangat disayangkan klub-klub apa saja yang melakukan kompetisi di Jakarta itu tidak disebutkan.

Di Medan sendiri kompetisi sepakbola baru pertama kali diadakan pada tahun 1905 (lihat De Sumatra post, 02-12-1905). Ada tiga klub: Medan Sportclub (klub orang-orang Belanda), Langkat Sportclub (klub orang-orang Inggris) dan Toengkoe Club yang berbasis di Binjei didirikan 1904 (klub orang-orang keradjaan). Klub Letterzetters Club (L.Z. Club) yang merupakan klub orang Tapanoeli (Angkola dan Mandailing) yang didirikan tahun 1903 tidak ikut kompetisi. Namun kompetisi ini hanya berlangsung satu putaran saja, kemudian vakum. Tahun 1906 dua klub baru didirikan: Voortwarts (orang-orang Belanda) dan Tapanoeli voetbal Club (orang-orang Angkola dan Mandailing). Tapanoeli VC dan Voortwarts berinisiatif untuk melakukan kompetisi yang akan dilaksanakan tahun 1907. Klub-klub Medan Sportclub, Langkat Sportclub, Toengkoe Club, Tiong Hoa Club dan Taman Sefakat Club tidak ikut serta. Klub yang berkompetisi (selain Tapanoeli VC dan Voortwarts) adalah Chinese Sport Club, Maimoen Sporting Club, Sarikat Voetbal Club, Java Voetbal Club, Djawi Beranakan Voetbal Club. Kompetisi dibagi dua divisi. Divisi satu terdiri dari tiga klub, yakni: Voorwaarts, Chinese Sport Club dan Maimoen Sporting Club. Divisi dua terdiri dari  tujuh klub, yakni: Medan Tapanoeli Club, Sarikat Voetbal Club, Java Voetbal Club, Djawi Beranakan Voetbal Club, Chinese Sport Club II, Voorwaarts II dan Maimoen Sporting Club II. Pada tanggal 16-07-1907 disepakati bahwa semua klub yang berkompetisi digabung menjadi satu nama: Deli Voetbal Bond (Perserikatan Sepakbola Deli).

Sejauh ini dinamika sepakbola lebih terasa di Medan daripada kota-kota lain. ‘Menteri Olahraga’ Belanda bahkan sengaja berkunjung ke Medan tahun 1904 dan memberikan bantuan keuangan untuk pengembangan sepakbola. Ketika majalah olahraga pertama terbit di Batavia (Jakarta), Indische Sport: Weekblad voor Sport in Indie tahun 1905, laporan utama mengetengahkan sepakbola di Medan. Di Bandung, pertandingan sepakbola pertama diadakan pada tanggal 6 November 1904 antara Sidolig Bandung vs BVC Jakarta . Untuk perkembangan lebih lanjut sepakbola di Jakarta, ikuti terus artikel berikutnya.

Bersambung:

*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar