Sejarah Bandung (26): Lukisan Bandung Tempo Doeloe; Adrianus Johannes Bik, Le Clercq, Junghuhn dan Groneman

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bandung dalam blog ini Klik Disini

Bandoeng, 1819
Adrianus Johannes adalah orang pertama yang mengabadikan Bandung dalam sebuah lukisan yang dibuat pada tahun 1819. Lukisan pertama tentang Bandung adalah lanskap Bandung (area pusat kota Bandung yang sekarang). Lukisan Adrianus Johannes ini diberi judul ‘Herten jacht te Bandong’ (Berburu rusa di Bandung). Lukisan ini menggambarkan suatu bangunan panggung yang besar di tengah padang yang menjadi area perburuan rusa oleh militer Belanda. Adrianus Johannes ke Preanger pada era Pemerintahan Hindia Belanda (pasca era Inggris 1811-1815). Pada tahun 1810 Pemerintah Hindia Belanda mulai melakukan invasi ke Preanger dan mulai membangun jalan pos trans-Java ruas Batavia-Chirebon melalui Buitenzorg, Tjoseroea, Tjiandjoer, Baybang (kini Radja Mandala), Soemadang. Saat Adrianus Johannes membuat lukisan, ruas Baybang-Soemadang masih melalui area yang lebih tinggi di Tjipagantie dan Oedjoengbrong.   

Dipo Negoro (1830)
Adrianus Johannes Bik lahir tanggal 13 Januari 1790 di Duinkerken. Adrianus tiba di Hindia Belanda pada bulan April 1816 dengan kapal Evertsen. Selama ekspedisi di Jawa, Adrianus membuat gambar dalam bentuk lukisan dari berbagai hal, seperti lanskap, peninggalan kuno, orang, pohon dan tanaman. Adrianus Johannes Bik adalah orang yang berhasil melukis dengan potlot Pangeran Diponegoro pada tahun 1830 dengan judul lukisan: DIPO NEGORO Hoofd der Muitelingen op Java (Diponegoro Pimpinan Pemberontak dari Jawa).

Nama-Nama Pelukis Tempo Doeloe

Adrianus Johannes Bik boleh jadi pelukis pertama yang mengabadikan daerah Preanger (Priangan). Nama-nama lain yang juga membuat lukisan Bandung di Preanger adalah Joannes Henricus Willem le Clercq, Franz Wilhelm Junghuhn dan Isaac Groneman, Charles Theodore Deeleman, CW Mieling, JP Berghaus, Ernest Hardouin, dan lainnya.

Groneman (1859): Goenong Malabar dari Tjioemboeloeit
Pelukis-pelukis tersebut di atas memiliki fungsi ganda dan fungsi khusus: dokter, botanis, militer dan pelukis. Saat itu tentu belum ada alat perekam seperti camera. Lukisan-lukisan mereka itu menjadi abadi dan yang terpenting kita dapat melihat kembali visual masa lampau seperti di Bandung dan Padang Sidempuan. Lukisan-lukisan mereka menjadi sumber data/informasi masa kini ketika kita ingin menulis sejarah Bandung masa lampau. Untuk menginterpretasi lukisan-lukisan mereka kita perlu mengkombinasikan dengan data/informasi yang bersumber dari peta (kaart) dan surat kabar (blad). Tapi untunglah mereka adalah pelukis beraliran realitas (melukis apa adanya).   

Jalur masuk Padang Sidempuan (Clercq, 1846)
Dalam menulis serial artikel Sejarah Bandung ini, lukisan-lukisan mereka juga turut memperkuat fakta sejarah. JHW le Clercq, Franz Wilhelm Junghuhn sama-sama pernah merekam situasi dan kondisi di Padang Sidempuan dan Bandung. Mereka berdua sebelum bekerja di Bandung, Preanger Regentschap sudah lebih dahulu bekerja di Padang Sidempuan afdeeling Mandailing en Angkola. Junghuhn sebagai geolog dan botanis (asal Jerman) meninggal di Lembang, Bandung dan Clercq tentara professional (asal Perancis) meninggal di Den Haag.
Jembatan rotan dekat Padang Sidempuan (Junghuhn 1840)
Isaac Groneman  pada tahun 1860 datang ke Bandoeng sebagai dokter. Junghuhn dan Groneman memiliki kontribusi besar dalam pembangunan social dan ekonomi pada tahap awal di Bandung dan Preanger. Groneman intens membantu penanganan berbagai penyakit dan endemik di Bandung khususnya dan di Preanger umumnya. Demikian juga Junghuhn yang memetakan geologi dan botani di Preanger termasuk di dalamnya introduksinya soal kina dan the. Satu logi tokoh yang seangkatan dua pelukis ini adalah Holle yang bergerak di bidang pendidikan termasuk social budaya. Mereka bertiga adalah ahli di bidangnya, sarjana yang berdedikasi tidak hanya kepada pemerintah yang mempekerjakan mereka tetapi juga kepada penduduk (mereka bertiga adalah orang-orang yang juga humanis).

*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar