Sejarah Kota Padang (30): Ragam Monumen di Padang, Medan dan Batavia; Michiels, Greve, Minangkabau, Sumatranen Bond

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disi


Kota Padang terkenal dengan banyak monument. Di Kota Medan hanya terdapat satu monument yakni Monumen Tamiang. Di Batavia terdapat dua monumen terkenal: Monumen Atjeh dan Monumen Michiels. Monumen-monumen tersebut sebagai peringatan di era kolonial Belanda telah dihancurkan pada era pendudukan Jepang dan era pasca kedaulatan RI oleh Belanda.

Monumen di Kota Medan

Monumen Greve di Kota Padang
Monumen Tamiang hanya terdapat di Kota Medan. Monumen ini dibangun di Esplanade (kini Lapangan Merdeka) tahun 1894. Monumen ini dibangun untuk mengenang Perang Tamiang yang telah membawa korban banyak diantara tentara Belanda dan para hulubalangan Kesultanan Deli.

Pada April 1893 suatu ekspedisi militer dikirim ke Tamiang melalui jalur sungai Tamiang. Ekspedisi ini datang dengan kapal besar yang di dalamnya juga terdapat para hulubalang Kesultanan Deli.

Hal ini boleh jadi karena militer Belanda kekurangan balabantuan dari Jawa dan Ambon yang masih terkonsentrasi di Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh dan Bataklanden. Jika di wilayah DOM lainnya jarang terjadi tetapi di pantai timur Sumatra (Sumatra’s Oostkust) benar-benar terjadi. Boleh jadi Sultan Deli dan parahulubalang Kesultanan Deli memiliki dendam terhadap para hulubalang dari Atjeh.

Sebagaimana diketahui Kesultanan Deli di Laboehan baru terbebaskan dari para hulubalang Atjeh ketika Resident Netscher 1863 datang ke Laboehan (Deli). Sejak 1863 Deli berada dibawah penaklukan Belanda.

Monumen Tamiang di Kota Medan
Ketika peringatan Hari Proklomasi Kemerdekaan RI yang kelima (1950) di Esplanade monumen ini masih ada. Ketua Panitia Perayaan adalah GB Josua (Het nieuwsblad voor Sumatra, 18-08-1950). GB Josua adalah salah satu dari empat orang republik yang menjadi pimpinan komite penyerahan kedaulatan dari Negara Sumatera Timur (NST) ke Republik Indonesia (Het nieuwsblad voor Sumatra, 23-11-1949). Pada peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI yang keenam (1951) yang diketuai oleh Gubernur Sumatra Utara sempat muncul keinginan untuk membongkar Monumen Tamiang ketika Esplanade diubah namanya menjadi Lapangan Merdeka. Gubernur Sumatra Utara yang pertama setelah pengakuan kedaulatan RI adalah Abdul Hakim Harahap (1951-1953). Monumen Tamiang ini baru dibongkar pada tahun 1958 pada era Gubernur Gubernur Sumut Sutan Komala Pontas. Monumen Tamiang di Esplanade Medan, 1910

Monumen di Kota Batavia

Peta 1910 (Monumen)
Monumen Tamiang tidak dibangun di Batavia. Monumen yang dibangun adalah Monumen Atjeh. Monumen Atjeh di Batavia secara fisik lebih besar dari Monumen Tamiang di Medan. Hal ini karena Perang Atjeh lebih besar dari Perang Tamiang. Dalam hal ini Perang Tamiang adalah bagian dari Perang Atjeh. Dalam Perang Atjeh yang berujung pada penghancuran Kraton Atjeh dan Masjid Raya Atjeh tahun 1874 menelan banyak korban bagi Belanda (termasuk tentara asal Jawa dan asal Ambon). Untuk menghormati para pahlawan Perang Atjeh di Batavia dibangun Monumen Atjeh. Peta Batavia 1910

Bersamaan dengan pembangunan Monumen Atjeh di Batavia bersamaan dengan Monumen Willian. Segera setelah penaklukan Atjeh, Radja Belanda, William III berkunjung untuk kali pertama de Hindia Belanda. Kedatangan Radaja Belanda sebagai wujud rasa sukacita karena semua wilayah di Indonesia telah ditaklukkan oleh Belanda. Pembangunan Monumen Atjeh sebagai peringatan untuk penaklukan Atjeh sedangkan pembangunan Monumen William untuk menandai berakhirnya seluruh perang di Hindia Belanda. Monumen Atjeh dihiasi oleh patung perunggu yang menggambarkan ratu Belanda di Wilhelmina Park (kini Masjid Istiqlal), sedangkan Monumen William yang berada di William Park itu dihiasi patung perunggu Radja William III.

Monumen William III di Kota Batavia
Monumen lain di sekitar Lapangan Banteng yang sekarang juga terdapat Monumen Michiels dan Monumen Waterloopen. Pembangunan Monumen Waterloopen yang dihiasi patung singa adalah peringatan perang Waterloo di Eropa yang mana Daendels adalah prajurit Radja Napoleon dari Prancis yang mana pada tahun 1808 Daendel sebagai Gubernur Jenderal pertama semasa Pemerintah Hindia Belanda.

Satu lagi monument di sekitarnya adalah Monumen Coen. Sebagaimana diketahui JP. Coen adalah pendiri kota Batavia.

Monumen Michiels adalah monument Jenderal Michiels, mantan gubernur pertama Sumatra’s Westkut yang merupakan pahlawan Belanda dalam Perang Bondjol. AV Michiels menjabat sebagai gubernur Sumatra’s Westkust dari tahun 1934-1849. AV Michiels dianggap sebagai pahlawan yang berjasa untuk membebaskan Sumatra’s Westkust dari kaoem Padri dan juga telah berjasa memulai pembangunan di Sumatra’s Westkust.

Monumen di Kota Padang

Tunggu deskripsi lengkap


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar