Sejarah Kota Padang (35): Mohamad Sjafei, Tokoh Pendidikan di Sumatera Barat; Soetan Goenoeng Moelia, Guru Bergelar Doktor

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disi


Mohamad Sjafei dan Soetan Goenoeng Moelia dua tokoh pendidikan Indonesia satu generasi: lahir tahun 1896 dan meninggal 1966. Mohamad Sjafei lahir di Ketapang, Kalimantan Barat, Soetan Goenoeng Moelia lahir di Padang Sidempuan, Tapanuli. Masa hidup keduanya sama-sama 70 tahun. Mereka berdua sama-sama aktif di bidang pendidikan, sama-sama pernah studi di Belanda dan sama-sama bergelar Doktor. Keduanya juga sama-sama mantan Menteri Pendidikan.

Soetan Goenoeng Moelia dan Mohamad Sjafei (foto Wikipedia)
Soetan Goenoeng Moelia adalah Menteri Pendidikan yang kedua menggantikan Menteri Pendidikan yang pertama, Ki Hadjar Dewantara. Soetan Goenoeng Moelia lalu digantikan Mohamad Sjafei sebagai Menteri Pendidikan yang ketiga.

Mohamad Sjafei adalah pendiri INS (Indonesisch-Nederlandse School) Kajoetanam (1926). Mohamad Sjafei mendapat gelar Doctor Honoris Causa dari IKIP Padang (1968). Soetan Goenoeng Moelia adalah pendiri UKI (Universitas Kristen Indonesia) Jakarta (1954). Soetan Goenoeng Moelia meraih gelar Doktor (Ph.D) dari Universiteit Leiden tahun 1933.

Mohamad Sjafei

Mohamad Sjafei adalah seorang guru. Pada tahun 1920  Mohamad Sjafei salah satu dari tujuh anggota dewan kota Batavia dari non Eropa (Bataviaasch nieuwsblad, 20-07-1920). Tidak lama sebagai anggota dewan Mohamad Sjafei mengundurkan diri (Bataviaasch nieuwsblad, 19-07-1921). Pengunduran diri ini boleh jadi karena akan berangkat studi ke Belanda. Setelah Mohamad Sjafei enam tahun tinggal di Batavia (empat tahun di Kartini School), pada tahun 1922 berangkat melanjutkan pendidikan ke Belanda.

Mohamad Sjafei berangkat ke Belanda dengan kapal ‘Oranje’ pada tanggal 31 Mei pukul 12 dari Batavia menuju Amsterdam (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 30-05-1922). Sebelum berangkat, Mohamad Sjafei telah menulis buku bersama HP van der Laak dan Dr. GJ Nieuwenhuis berjudul Nederlandsche Taalcursus voor Malelsch-sprekenden dengan judul ‘Djalan ke Barat (weg tot het westen). Buku itu baru terbit tahun 1922 oleh Wolters Groningen (Bataviaasch nieuwsblad, 22-11-1922). Mohamad Sjafei lulus di Rotterdam, Juni 14 (De Maasbode, 15-06-1924)

Setelah mendapat akta guru bantu Mohamad Sjafei kembali ke tanah air pada tahun 1926. Bidang keahlian Mohamad Sjafei adalah handen-arbeld. muziek en teekenen verwierf (prakarya, myusik dan menggambar). Mohamad Sjafei tidak ke Batavia tetapi ke Kajoetanam dan mendirikan Roeang Pendidik (Opvoeding lnstltuut).

Dalam Kongres Guru di Sumatra’s Westkust dan Tapanoeli yang diadakan di Fort de Kock dihadiri 800 guru, Mohamad Sjafei hadir sebagai salah satu pembicara dengan materi ‘Handenarheid’ (De Sumatra post, 11-12-1928).

Mohamad Sjafei dalam perkembangannya mengembangkan sekolah yang didirikannya dengan menerima bantuan dari pemerintah. Roeang Pendidik kemudian berganti nama menjadi Indonesisch-Nederlandsche School (INS). Sekolah semacam keguruan ini kini memiliki sebelas guru dan lebih dari 300 murid (Het Vaderland: staat- en letterkundig nieuwsblad, 16-03-1931).

Sekolah keguruan ala Mohamad Sjefei ini kurikulumnya kombinasi teori dan praktek. Pelajaran teori dilakukan sore hari. Siswa yang langsung praktek, hasil-hasilnya dapat dijual yang dapat membantu biaya sekolah si murid. Metode pembelajaran dengan metode sendiri dan siswa diarahkan untuk mandiri (prinsip self-help). Lama studi empat tahun.
.
NIS Kajoetanam ala Mohamad Sjafei tidaklah sendiri. Abdul Azis Nasoetion gelar Soetan Kenaikan beberapa tahun sebelumnya telah berinisiatif mendirikan sekolah pertanian swasta di Loeboeksikaping, Pasaman. Uniknya, sekolah pertanian ini kurikulumnya mengintegrasikan pendidikan pertanian, pendidikan agama dan praktek dengan sistem asrama. Karena itu orang Belanda menyebutnya sebagai Mohammedaansch Lyceum.

Abdul Azis Nasution adalah alumni pertama Sekolah Menengah Pertanian Bogor (Middelbare Landbouwschool) (Bataviaasch nieuwsblad, 06-08-1913. Abdul Azis Nasution, sebelum masuk Sekolah Pertanian Bogor, adalah lulusan Sekolah Guru (kweekschool) di Fort de Kock (Bukit Tinggi). Ini berarti Andoel Azis Nasution seorang guru dengan tambahan keahlian di bidang pertanian. Setelah Abdul Azis Nasution lulus Sekolah Menengah Pertanian (Middelbare Landbouwschool) di Bogor, diangkat pemerintah sebagai advisor pertanian di berbagai tempat: Tapanoeli, Priaman, Painan, Pajacombo, dan Atjeh. Tugas ini dilaksanakan Abdul Azis beberpa tahun hingga akhirnya diangkat pemerintah menjadi kepala sekolah pertanian (landbownormaalscholen) di Padang Panjang. Namun dalam perjalanannya, sekolah ini macet karena kondisi keuangan pemerintah. Meskipun sekolah pertanian di Padang Panjang macet, Abdul Azis Nasution tidak kehilangan akal. Guru tetaplah guru, pertanian juga tetaplah pertanian. Anak-anak Padang Sidempuan, sebagaimana alamiahnya, akan terus berkembang dan akan berkonsentrasi pada bidangnya dimanapun mereka berada. Abdul Azis kemudian lalu berinisiatif mendirikan sekolah pertanian swasta di Loeboeksikaping, Pasaman.

Guru-guru pertanian direkrut dari Sekolah Pertanian Bogor sedangkan guru-guru agama dari  Universitas Al Azhar di Kairo (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 21-12-1925). Rincian mengenai sekolah ini dapat dilihat dalam buku Parada Harahap berjudul Dari Pantai ke Pantai, penerbit Bintang Hindia di Batavia, 1926. Siswa-siswa berasal dari Bengkulu, Palembang, Aceh, Lampoengsche serta dari afdeeling-afdeeling pantai Sumatra bagian barat dan bagian timur.

Disebutkan kurikulum tidak berbeda dengan kurukulum Normaalschool. Beberapa pelajaran seperti botani, zoologi, fisika, geografi, aritmatika, bahasa Melayu, sejarah umum Hindia, geometri dan menggambar, diluar kimia, pengetahuan tentang penyakit tanaman, pengetahuan tentang penyakit peternakan dan ternak, geologi, ekonomi, survei, pertolongan kesehatan, pertanian teoritis dan praktis, dengan budidaya tertentu seperti kopi, karet, kelapa, kakao, padi, kentang,  vanili, jagong, dll. Untuk kelas pertama diajarkan bahasa Arab dan sebagai dasar untuk pengetahuan Islam. Dalam pendidikan agama kelas dua pendidikan agama sudah advance. Juga kurikulum mencakup bahasa Inggris, bahasa Belanda dan pelajaran adat istiadat. Sekolah ala Abdul Azis Nasution ini tidak hanya unik, tetapi juga mampu memberi manfaat langsung bagi siswa-siswanya. Dalam praktek, sambil terus belajar, siswa-siswa diminta kerjasama dengan masyarakat sekitar untuk menyediakan lahan dan para siswa yang mengerjakan dengan ilmu yang dipelajari dengan cara bagi hasil. Hasil pendapatan siswa lalu ditabung di kantor pos agar nantinya ketika mereka lulus para lulusan sudah memiliki modal sendiri.

NIS Kajoetanam seakan copy paste dari Mohammedaansch Lyceum ala Abdoel Azis Nasoetion di Loeboeksikaping. Pada waktu, banyak pribumi yang melakukan inisiatif sendiri di bidang pendidikan untuk memajukan penduduk. Pada tahun 1895 Dja Endar Moeda mantan guru alumni Kweekschool Padang Sidempuan mendirikan sekolah swasta di Kota Padang. Di Jawa kemudian muncul perguruan Taman Siswa (Ki Hadjar Dewantara). Di Medan juga muncul kemudian perguruan swasta yang didirikan oleh GB Josua.

Gading Batubara Josua lahir di Hoetapadang, Sipirok 10 Oktober 1901 (10-10-01) ini mengikuti jejak seniornya Radja Goenoeng untuk sekolah guru di Fort de Kock. Setelah lulus Kweekschool Fort de Kock, Gading Batoebara melanjutkan sekolah ke Hogere Kweekschool di Poeworedjo dan lulus 1923. Setelah lulus, Gading Batoebara pulang kampung dan menjadi guru sementara di HIS swasta Sipirok (kampung halamannya).  Kemudian Gading Batoebara merantau dan menjadi guru di Tandjoengpoera (Langkat). Tidak lama di Tandjongpoera, GB Josua tertarik atas tawaran untuk memajukan sekolah HIS swasta di Doloksanggoel. Kehadirannya membuat sekolah HIS Doloksanggoel maju pesat hingga akhirnya diakuisisi oleh pemerintah menjadi HIS negeri. Sukses GB Josua merancang HIS di Doloksanggoel membuat namanya diperhitungkan oleh pemerintah Nederlansch Indie. Dalam perkembangannya, Gading Batoebara Josua (GB Josua) diangkat menjadi guru pemerintah dan ditempatkan di Medan. Pada tahun 1929 GB Josua melanjutkan pendidikannya ke Negeri Belanda di Groningen. Setelah mendapat akte Lager Onderwijs GB Josua kembali ke tanah air dengan menumpang kapal ss. Patria dari Rotterdam 4 November 1931 (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 01-12-1931). Dalam perkembangan berkutnya GB Josua merencanakan untuk mendirikan sekolah menengah pertama (HIS) swasta (pribumi) di Medan. Peresmian sekolah ini dilakukan tanggal 16 Juli 1934. De Sumatra post, 27-04-1933 melaporkan daftar perolehan masing-masing sekolah yang siswanya diterima di MULO: Taman Siswa lulus 50 persen, HIS pemerintah nol persen dan Institute Josua lulus 80 persen.  Josua Instituut atau Perguruan Josua masih eksis hingga ini hari di Kota Medan.

Mohamad Sjafei dan Gading Batubara Josua adalah sama-sama alumni Belanda. Mohamad Sjafei berangkat tahun 1922 dan pulang tahun 1926 mendapat akte guru bantu (sarjana muda); Gading Batubara Josua berangkat studi tahun 1929 dan pulang tahun 1931 mendapat guru penuh (sarjana lengkap). Sedangkan Abdoel Azis Nasoetion studi di dalam negeri dengan kombinasi pendidikan guru dan pendidikan pertanian. Sekolah yang didirikan Mohamad Sjafei NIS Kajoetanam  dan sekolah yang didirikan Abdoel Azis Nasoetion Mohammedaansch Lyceum sama-sama mengusung pendidikan praktis dan lulusannya langsung bekerja. Sedangkan Gading Batubara Josua yang mendirikan Josua Instituut lebih diarahkan untuk menghasilkan siswa untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi (sebagaimana Taman Siswa).

NIS Kajoetanam yang didirikan Mohamad Shefei harus ditutup karena kesulitan financial (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 22-02-1934). Mohamad Sjafei yang beberapa waktu sebelumnya telah menulis buku dengan Dr. Nieuwenhuis berjudul ‘Djalan ke Barat’ mulai kebingungan sendiri. Banyak siswa yang menunggak uang sekolah. Subsidi yang dari pemerintah tidak seberapa apalagi sebagian diambil untuk gajianya memperburuk keadaan.

Het nieuws van den dag voor NI, 22-02-1934
‘(sebelumnya) pada saat pembukaan sekolahnya (sepulang dari Belanda) di Kajoe Tanam, Mohamad Shefei coba pergi ke Fort de Kock untuk meminta bantuan, baik secara finansial dan moral, karena Mohamad Sjafei (merasa) keturunan Minangkabausche sendiri, uang yang berharap bantuan itu tidak diberikan. Ketika ia mulai sekolah dikatakan hanya risiko anda sendiri. Dari semua tempat di sekitar (Kajoetanam) lalu berbondong-bondong menjadi murid. Bahkan dari Padang banyak siswa sukarela yang bercita-cita. Selama tiga tahun Mohamad Sjefei telah mengajar sesuai dengan sistem-Montesori (het stelsel-Montesori). Tapi sekarang sekolah harus ditutup karena kekurangan dana’ (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 22-02-1934).

Demikianlah nasib NIS Kajoetanam di awal keberadaannya di Sumatra’s Westkust. Sementara sekolah sejenis tetap eksis Mohammedaansch Lyceum ala Abdoel Azis Nasoetion di Loeboeksikaping, Perguruan Taman Siswa terus berkembang. Josua Instituut yang belum lama didirikan di Kota Medan sudah menunjukkan kualitasnya dan bahkan lulusannya sudah lebih banyak yang diterima di MULO dibanding mengalahkan Taman Siswa. Sebagaimana diketahui  Perguruan Taman Siswa dan Perguruan Josua hingga ini hari masih tetap eksis.

Pada masa pendudukan Jepang, kabar berita Mohamad Sjafei tidak diketahui, sebagaimana GB Josua di Medan. Berita dari Belanda melaporkan Mohamad Sjafei di era pendudukan Jepang diangkat sebagai ketua dewan rakyat Sumatra (Het dagblad : uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 30-10-1945). Komplek NIS Kajoetanam dijadikan militer Jepang sebagai basecamp. SEmentara di Medan, komplek Josua Instituut disita militer Jepang, karena tidak mau bekerjasama dan dijadikan basecamp militer Jepang. Pendidikan pribumi di Kajoetanam dan di Medan lumpuh (bubar).  Kota Padang secara resmi menyerah tanggal 20 Oktober (Het dagblad : uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 30-10-1945).

Di Kota Padang, situasi pendudukan tampak lebih tenang jika dibandingkan di Jawa dan di Sumatra Timur. Apa yang menyebabkan demikian sulit diketahui. Sjafei muncul kembali dan bergabung dengan RI di Batavia.

Sebagaimana diketahui Mohamad Sjafei terhitung sejak tangal 12 Maret 1946 diangkat menjadi Menteri Pendidikan (menggantikan Mr. Soetan Goenoeng Moelia, Ph.D). Mohamad Sjafei sebagai menteri hingga 2 Oktober 1946 (selama cabinet Sjahrir II).

Sejak tidak menjabat menteri, Mohamad Sjafei terdeteksi berada di Indonesia Timur. Di dalam cabinet koalisi antara Belanda dan pribumi Mohamad Sjafei duduk sebagai Wakil Menteri Social (lihat Algemeen Handelsblad, 15-12-1947). Namun tidak lama kemudian, Mohamad Sjafei kembali berada di Batavia.

Nieuwe courant, 14-03-1948 melaporkan Dr. Danoedirdjo, Setiaboedi dan Mohamad Sjafei menjadi anggota baru Dewan Pertimbangan Agoeng RI (diketuai Mr. Soerjo).

Di Sunmatra khususnya di Padangsche dan Tapanoeli Republik terus berjuang melawan Belanda. Mohamad Sjafei dalam situasi ini Belanda sempat ditawari untuk jabatan Wali Negara atau Menteri Negara di Sumatra Barat. Hal ini boleh jadi karena Mohamad Sjafei sebelum pendudukan Jepang begitu dekat dengan Belanda. Sekolah yang didirikan Mohamad Sjafei di Kajoetanam sebagaimana diketahui NIS adalah singkatan dari Nederlandsch-Indonesie School.

Sebagaimana diketahui di berbagai tempat sudah didirikan negara-negara boneka Belanda, seperti Negara Sumatera Timur, Negara Sumatera Selatan, Negara Pasoendan, Negara Madoera, Negara Jawa Timur, Indonesia Timur dan sebagainya. Sisa Republik Indonesia hanya tinggal sedikit lagi: Djogjakarta, Tapanoeli, Lampong, Atjeh dan Padangsch Bovenlanden. Tawaran Belanda untuk Mohamad Sjafei tampaknya ditujukan untuk membentuk Negara Padangsche Benelanden.

Mohamad Sjafei dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan di Tapanoeli dan Sumatera Barat menolaknya. Ketika, Mohamad Hatta kembali ke Jogjakarta, Mohamad Sjefei juga tampak di Jokjakarta yang baru dari Bukittinggi (Nieuwe courant,        13-04-1948). Selanjutnya bagaimana Mohamad Sjafei di Jokjakarta tidak diketahui dengan jelas.

Het nieuwsblad voor Sumatra, 19-01-1950
Het nieuwsblad voor Sumatra, 19-01-1950: ‘Moh. Sjafei dan sekolahnya. Majalah Indonesia, Kunang-Kunang, baru-baru ini mengatakan tentang penulis Mohammad Sjafei dan sekolah Kajutanam, sebuah desa sekitar 55 km dari Padang, Kami mengutip dari Indonesia Cultureel, daripadanya berikut: Ini I(ndonesisch) N(ederlandse) S(chool) adalah sepanjang garis nasional dan didirikan pada tanggal 31 Oktober 1926 dengan partisipasi VBPSS. Vereniging Bumi Putera Personeel S.S), setelah Sjafei kembali dari Belanda. Bangunan sekolah asli pinjaman dari St. Mansur…. Pada tahun 1937 mereka pindah ke gedung dimana sekolah sekarang berada… Firma Wolters memberikan beberapa buku pelajaran.. Mohd. Sjafei juga merupakan desainer yang berjasa (dia adalah kakak tua dari pelukis dan grafis Baharudin’.

Setelah sekian lama, pasca pengakuan kedaulatan RI (1949) nama Mohamad Sjafei muncul kembali di Sumatra Tengah. Sumatra sendiri saat itu (masih) terdiri dari tiga provinsi (Utara, Tengah dan Selatan). Sebagai gubernur Sumatra Tengah diangkat Ruslan Moeljahardjo.  Saat gubernur mulai membentuk dewan Sumatra Tengah dibentuk lebih dahulu dewan eksekutif (sementara) yang terdiri dari Mr. Abubakar Djaar, Mohamad Sjafei, Sarnubi (PSI), Dr. Darwis (Masyumi), St. Mangkuto (Masyumi) dan Hadji Mohamad (PNK) (De nieuwsgier, 14-02-1951).

De nieuwsgier, 15-02-1951
Namun Mohamad Sjafei kurang respek. Mohamad Sjafei yang diwawancarai oleh koresponden khusus Aneta yang dikutip De nieuwsgier, 15-02-1951 mengatakan parlemen hanya terlalu banyak bicara. Karena itu jarang mengikuti sesi parlemen. Sementara hanya ada 66 guru di seluruh Sumatra Tengah.Sebagai seorang mantan Menteri Pendidikan. Mohamad Sjafei tampak ingin membangun sekolah yang pernah didirikannya NIS Kajoetanam. Sejak pendudukan Jepang dan semasa perang (dengan Belanda) infrastruktur pendidikan hancur dan dibutuhkan biaya rekonstruksi sekitar 2 juta rupiah dan itu tergantung kemauan pemerintah.. Demikian dikatakan de directeur van het Indonesische Onderi wijsinstituut te Kajoetanam, Mohamad Sjafei’.

Dalam kegelisahan, Mohamad Sjafei terus melakukan rekonstruksi sekolah yang pernah dibangunnya secara mendiri sebagaimana semboyan pengajaran di sekolah tersebut. Mohamad Sjafei secara perlahan-lahan dan tertatih-tatih berhasil menghidupkan kembali semangat NIS Kajoetanam. Pada tahun 1953 NIS Kajoetanam genap berusia 27 tahun.

De nieuwsgier, 07-11-1953: ‘Kajoetanam 27 tahun. Pendidikan INS Kajpetanam merayakan ulang tahun ke-27. Gubernur Sumatera Tengah, Residen Mr. Abubakar Djaar, Wali Kota Padang, Dr. Rasjidin, Komandan Resimen Keempat, Mayor Ahmad Hosen dan banyak otoritas lainnya diperingati dengan Moh. Sjafei sekolah yang didirikan Moh. Sjafei Sekolah Belanda Indonesisch sebagai mitra untuk Sekolah Belanda-Pribumi. Prinsip INS dapat disimpulkan sebagai: Anda ingin tahu sesuatu, Anda pertama kali apa yang harus dilakukan; Mereka bisa, siswa dan guru telah menunjukkan ketika mereka secara pribadi sekolah mereka, yang merupakan kompleks tentara selama operasi militer. Banyak di Jakarta saat ini alumni sekolah ini yang berhasil, masih ingat kembali dan mereka bersyukur sebagai siswa atau guru dari Pak Sjafei’.

Dalam situasi sepi tapi gelisah dan situasi yang mulai tidak menentu di Sumatra Tengah akhirnya muncul pengambilalihan kekuasaan pemerintah (pusat) di Sumatra Tengah yang di dalamnya membentuk Bentengraad yang diketuai Letnan Kolonel Achmad Husein. Dalam dewan yang baru dibentuk Mohamad Sjafei bersama sujumlah individu duduk sebagai penasehat (Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 24-12-1956). Dewan ini kemudian yang menjadi cikal bakal dibentuknya PRRI. Mohamad Sjafei mendukung PRRI di (daerah) Sumatra Tengah dan melawan pemerintah pusat (RI) di Jakarta. Mohamad Sjafei tamat.

Last but no least: Mohamad Sjafei yang di era colonial, NIS Kajoetanam yang mendapat subsidi pemerintah, di era perang lain kisahnya. Hij wordt daarna van Nederlandse zijde benaderd, als de pre-federale regering in de maak is, om zich beschikbaar te stellen voor de functie van wali-negara (staatshoofd) van een op te richten staat Sumatra's Westkust. Of als staatssecretaris van onderwijs in de regering, dat wil zeggen dus minister, want staatssecretaris is dan departementshoofd. Sjafei weigert beide functies. Als in 1948 de tweede politionele actie wordt ingezet gaat Kajutanam, in vlammen op — de brand met brekend hart door eigen hand gesticht (Algemeen Handelsblad, 03-04-1958).

Soetan Goenoeng Moelia

Soetan Goenoeng Moelia pada tahun 1911 melanjutkan pendidikan ke Belanda dan kembali ke tanah air pada tahun 1918. Setelah menjadi guru di Kotanopan berangkat lagi studi untuk melanjutkan studi tingkat doctoral ke Belanda.

Tunggu deskripsi lengkapany


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar