Sejarah Kota Depok (26): Pabrik Susu Melkerij Vita di Depok; Susu Berkualitas, Pabrik Susu Tertua di Indonesia

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Depok dan sekitar tidak hanya pemasok hasil-hasil pertanian seperti beras dan hortikultura ke Batavia juga mengekspor kopi olahan dari Tapos. Depok juga sejak lama telah mengekspor kapur (Tjitajam) dan batu (Depok) ke Batavia. Tidak hanya itu, batu bata dan keramik juga mengalir dari Tjitajam dan Depok ke Batavia. Satu produk lagi yang mengalir ke Batavia adalah produk susu yang terkenal berkualitas.

Het nieuws van den dag voor NI, 15-08-1933
Adanya industri pengolahan susu di Depok diketahui tahun 1896 (De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 29-12-1896). Produk susu ini diusahakan oleh Nyonya Poth. Produk susu Nyonya Poth di Depok ini selama tahun 1896 dan 1987 cukup intens diiklankan di berbagai surat kabar.

Susu dari Depok lalu tenggelam dengan semakin banyaknya peternak-peternak yang mengusahakan produk susu di Batavia dan Buitenzorg. Populasi peternak yang mengusahakan produk susu terbanyak ditemukan di Mampang Tegal Parang.

Melkerij ‘Vita’ Depok

Pada tahun 1933 seorang pengusaha di Depok mendirikan perusahaan susu (melkerij). Perusahaan susu ini bernama Vita dan sekaligus merek (lihat  Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 15-08-1933). Perusahaan Melkerij Vita ini langsung membuat heboh di Batavia, karena kualitas susu merek Vita ini terbilang tinggi.

Berdasarkan hasil pengujian laboratorium (semacam BPOM) terhadap semua produk susu yang beredar di pasar, ternyata produk susu Melkerij ‘Vita’ Depok tidak kalah kelas dan masuk dalam kategori kelas-2. Hanya ada dua pabrik susu yang masuk kategori kelas-1, yakni: Melkerij ‘Petamboeran’ dan Melkerij ‘Kartiniweg’. Melkerij De Hoop dari Tandjong West hanya masuk kategori kelas-2 (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 09-03-1935).

Bataviaasch nieuwsblad, 16-02-1942
Melkerij Vita yang beralamat di Pasarstraat Depok ini terus meningkatkan kualitas produknya. Berdasarkan laporan hasil pengujian laboratorium terbaru Melkerij Vita masuk produk susu kategori kelas-1 (Bataviaasch nieuwsblad, 18-05-1936). Dengan tingkat pencapaian yang sudah masuk produk kelas-1, Melkerij Vita cukup lama bertahan bahkan hingga tahun 1942 (sebelum pendudukan Jepang). Berdasarkan pengujian tahun 1942, produk susu Melkerij Vita masih tetap berada pada kelas-1 (Bataviaasch nieuwsblad, 16-02-1942).

Ini menunjukkan kualitas susu dari Depok cukup bertahan lama dan terkenal karena kualitasnya. Pesaing sebelumnya, Melkerij ‘Petamboeran’ dan Melkerij ‘Kartiniweg’ sudah lama tiada. Pada tahun 1942 hanya ada tiga pabrik susu kategori kelas-1 yakni Melkerij Vita, merek Makasser dari Buitenzorg dan merek Tjipinang dari Meester Cornelis. Ini suatu indikasi produk susu Depok cukup andal.

Pemilik pabrik susu Melkerij Vita yang beralamat di Pasarstraat Depok (kini jalan Dewi Sartika) adalah H. Gerspach. Pendiri perusahaan susu ini dikabarkan telah meninggal dunia (Bataviaasch nieuwsblad, 27-02-1939). Sejak pendudukan Jepang kabar Melkerij Vita tidak diketahui keberadaannya hingga hilang selamanya.

Pabrik-pabrik susu yang menjamur di Batavia, Depok dan Buitenzorg diduga menyebar yang bermula di Tandjong Barat. Sebagaimana diketahui Jan Andries Duurkoop, pemilik Land Tandjong West, sejak era VOC sudah mendirikan peternakan berkapasitas 5.000 sapi untuk memproduksi susu. Peternakan Tandjong West bahkan saat itu dijuluki sebagai Frisian di Timur (lihat Sejarah Tandjong Barat dalam blog ini). Pabrik susu Tandjong West diduga penerusnya adalah Melkerij Vita di Depok. Jika dan hanya jika Melkerij Vita terus bertahan hingga ini hari, boleh jadi Melkerij Vita di Depok adalah pabrik susu tertua di Indonesia.


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar