Sejarah Jakarta (20): Sejarah Nama Jalan; Tan Boen Tjit (Buncit) di Mampang dan Usulan Nama Jalan Abdul Haris Nasution

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini


Hari ini Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Anies Baswedan menunda sosialisasi perubahan nama jalan terusan Rasuna Said, Jalan Mampang Prapatan dan Jalan Warung Jati Barat (Warung Buncit) menjadi Jalan AH Nasution. Usulan ini muncul dari Ikatan Keluarga Nasution tetapi ada penolakan dari pihak tertentu. Gubernur Anies Baswedan disamping masih memerlukan kajian dan juga menginginkan partisipasi sejarawan, budayawan dan ahli tata kota dalam penentuan nama jalan juga ingin meninjau Surat Keputusan Gubernur Nomor 28 Tahun 2009 terkait pedoman penetapan nama jalan.

Peta 1938
Sejarah Jenderal Abdul Haris Nasution sudah diketahui sejak lama dan siapa Abdul Haris Nasution sudah dipahami secara luas oleh rakyat Indonesia. Sementara sejarah Mampang dan sejarah Buncit masih simpang siur. Disebut bahwa Mampang dan Buncit berkaitan dengan memori kolektif warga Betawi. Namun tidak bisa dijelaskan memori kolektif dalam hal apa dan sejak kapan memori kolektif itu terbentuk.

Artikel ini akan mendeskripsikan sejarah perubahan nama-nama jalan di Jakarta, sejak era Batavia hingga Pasca Pengakuan Kedaulatan Republik Indonesia (1950). Dalam artikel ini juga akan dideskripsikan asal-usul nama Mampang dan asal-usul nama Buncit. Nama Buncit diduga kuat adalah seorang Tionghoa pemilik lahan di Mampang dan sekitarnya yang bernama Tan Boen Tjit. Deskripsi ini diharapkan dapat memperkaya pemahaman para sejarawan (yang belum menemukan data).

Perubahan Nama Jalan di Jakarta: Dari Era Belanda ke Era RI

Secara defacto, jalan Mampang Prapatan dan Jalan Warung Jati Barat (Jalan Raya Buncit) sudah sejak lama ada (lihat Peta 1928). Namun namanya tidak pernah disebut. Nama-nama jalan yang sudah ada hanya jalan-jalan yang berada di sekitar Koningsplein (Monas yang sekarang). Penabalan nama jalan di era kolonial Belanda harus berdasarkan keputusan Burgemeester (Wali Kota).

Di era pendudukan Jepang (1942-1945) nama-nama berbau Belanda diganti dengan nama-nama berbau Jepang (lihat De bevrijding: weekblad uitgegeven door de Indonesische Vereniging Perhimpoenan Indonesia, 26-05-1945). Nama-nama Jepang antara lain: Van Heutz-boulevard diganti menjadi Djalan Imamura; Oranje-boulevard berubah nama menjadi Djalan Raya Showa; Nassau-boulevard menjadi Djalan Raya Meiji dan Rijswijk straat menjadi Djalan Istana.

Setelah Belanda berkuasa kembali, nama-nama yang ada (sebelum tahun 1942) diberlakukan kembali (karena memang surat keputusannya belum diubah). Setelah berakhirnya perang, pasca pengakuan kedaulatan RI, nama-nama jalan di era kolonial Belanda diubah Pemerintah RI via Wali Kota Djakarta. Perubahan nama ini dilakukan secara bertahap dimulai tahun 1950. Sebelumnya nama Batavia telah diubah menjadi Djakarta dan nama Buitenzorg  diubah menjadi Bogor.

Dalam fase transisi perubahan nama masih tampak keraguan, seperti nama Oranje Boulevard menjadi Djalan Raja Oranje (lihat Provinciale Drentsche en Asser courant, 08-04-1950). Namun dalam perkembangannya, Oranje Boulevard diubah sepenuhnya menjadi Djalan Diponegoro (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 10-10-1950). Bersamaan dengan perubahan nama menjadi Djalan Diponegoro ini juga berubah nama jalan dan nama taman. Nassau Boulevard menjadi Djalan Imam Bondjol; Burgemeester Bisschopplein menjadi Taman Surapati dan Van Heutzboulevard menjadi Djalan Teuku Umar. Total ada perubahan nama jalan sebanyak 30 buah.

Beberapa bulan kemudian diumumkan perubahan nama-nama jalan yang baru sebanyak 30 buah lagi (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 11-10-1950). Dengan demikian nama jalan yang telah diubah menjadi 60 buah. Nam-nama jalan yang baru diubah tersebut antara lain: Molenvliet West menjadi Djalan Gadjah Mada; Molenvhet Oost menjadi Djalan Hajam Wuruk; Schoolweg menjadi Djalan Dokter Sutomo; Sipayersweg menjadi Djalan Dokter Wahidin; Nieuwe weg van Gambir Selatan (Kebonsirih) menjadi Djalan Thamrin; Rijswrjkstraat menjadi Djalan Modjopahit; Nieuwe Vliegveldlaan menjadi Djalan Angkasa; Djalan Kemajoran menjadi Djalan Garuda;  Eyckmanlaan menjadi Djalan Kimia; Boxlaan menjadi Djalan Borobudur; Bontiusweg menjadi Djalan Mendut; dan Duracusweg menjadi Djalan Prambanan.

Saat itu Jalan Thamrin yang sekarang sesungguhnya belum ada. Di lokasi tersebut masih sebuah jalan rintisan.

Beberapa hari kemudian diumumkan kembali perubahan nama jalan sebanyak 30 buah (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 16-10-1950). Jumlah nama jalan/taman yang berubah telah mencapai sebanyak 90 buah. Nama-nama jalan yang berubah tersebut antara lain: Drukkerijweg menjadi Djalan Percetakan Negara dan Landhuisweg menjadi Djalan Tambak.

Setelah itu kemudian perubahan nama tambahan diumumkan yakni Sunset Boulevard diubah namanya menjadi Djalan Djawa (Nieuwe courant, 17-11-1951).

Semua nama-nama jalan yang diubah tersebut berada di sekitar Istana dan Menteng. Pada bulan April 1952 diumumkan terjadi perubahan nama-nama jalan dan nama taman (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 03-04-1952). Nama-nama jalan yang baru tersebut antara lain: Koningin Emmalaan menjadi Djalan Slamat Rijadi; Generaal Staallaan menjadi Djalan Djenderal Oerip Soemohardjo; Stovia weg menjadi Djalan Kwini. Semenetara nama taman Wilhelminapark menjadi Taman Widjaja Kusuma (kelak menjadi lokasi pembangunan Masjid Istiqlal). Total ada sebanyak 41 buah.

Pada fase pertama ini, hingga bulan April 1952 sudah ada sebanyak 131 nama jalan/taman yang diganti. Meski demikian, beberapa nama jalan susulan diumumkan.
  
Nama jalan yang baru yang diumumkan pada bulan Desember 1953 adalah Djalan Teuku Tjiditiro (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 24-12-1953). Nama jalan Djalan Mampang diganti namanya menjadi Djalan Teuku Tjiditiro. Disebutkan bahwa Teuku Tjiditiro adalah pemimpin perlawanan di Aceh. Dalam arti tertentu, dia lebih penting daripada Teuku Umar—yang kami ketahui dari buku sejarah— karena Teuku Umar mengikuti perintahnya dan bergabung dalam perang melawan tentara Belanda sesuai dengan strategi Teuku Tjiditiro. Jadi dia adalah jiwa dari perlawanan di Atjeh. 

Setelah sekian lama diumumkan kembali nama jalan yang baru dan pergeseran nama jalan (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 27-11-1954). Nama jalan baru tersebut adalah Djalan Hadji A. Salim  untuk menggantikan Djalan Geredja Theresia. Sedangkan nama jalan  Geredja Theresia digeser menempati nama jalan Djalan Sunda. Sedangkan nama Djalan Sunda sendiri menempati jalan yang baru dibangun, yaitu jalan yang menghubungkan Djalan Thamrin dengan Djalan Hadji Agus Salim.

Nama jalan Mampang (Mampangweg) paling tidak sudah dilaporkan adanya pada tahun 1913 (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 20-05-1913). Jalan ini dibangun tahun 1913 yang merupakan terusan jalan Gondangdia (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie,  05-08-1913). Jalan ini merupakan jalan paling besar dari Koningsplein menuju selatan kota (tentu saja belum ada jalan MH Thamrin yang sekarang). Disebut jalan Mampang karena arahnya menuju selatan di Land Mampang. Pembangunan jalan Mampang ini bersamaan dengan pembangunan Orangeboelevard (kini jalan Diponegoro). Pembangunan dua jalan ini dalam rangka eksploitasi pembangunan pemukiman yang baru. Pada tahun 1918 Mampangweg ini terpotong karena dibangunnya bandjir kanaal (Banjir Kanal Barat). Namun demikian di atas kanal dibangun jembatan, sehingga layout pembangunan perumahan Menteng tidak terlalu terganggangu. Karena, pada masa kini terkesan sebagian wilayah perumahan Menteng menjadi terpisah di wilayah Guntur yang sekarang. Peta Menteng, 1938

Peta Menteng, 1938
Di Land Mampang sudah sejak lama dikenal Prapatan Mampang, suatu persimpangan jalan dari Tanahabang ke Doerian Tiga/Pedjaten dan dari Pantjoran ke Slipi. Pada Peta 1938 jalan dari Mampang Prapatan ke Menteng yang kini menjadi jalan Rasuna Said (Kuningan) yang tegak lurus ke utara belum ada. Jalan yang sudah ada adalah dari Prapatan Mampang ke arah barat laut menuju Tanahabang melalui Doekoeh. Dalam perkembangannya, jalan dari Mampang Prapatan yang menuju ke arah Doerian Tiga disebut jalan Mampang Prapatan. Sementara terusan jalan Mampang Prapatan disebut jalan Warong Boentjit (jalan Warong Rawa Djati Barat). Pada masa kini, jalan Mampang tidak dikenal karena yang eksis adalah jalan Mampang Prapatan. Nama Jalan Mampang telah lama tiada karena nama Jalan Mampang telah diganti menjadi Djalan Tjiditiro.

Jalan MH Thamrin yang sekarang dalam peta Tahun 1938 belum ada. Demikian juga Jalan Rasuna Said yang sekarang juga belum ada. Jalan MH Thamrin yang sekarang, baru dibangun awal tahun 1950an. Dengan kata lain, jalan baru dengan nama baru MH Thamrin ditabalkan pada tahun 1950.

Mampang dan Tan Boen Tjit

Pada tahun 1953 nama Djalan Mampang telah diubah menjadi nama Djalan Teuku Tjiditiro (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 24-12-1953). Nama jalan Mampang ini pada dasarnya di daerah Menteng, namun karena jalan tersebut menuju wilayah Mampang disebut Djalan Mampang.

Saat itu tentu saja belum ada Jalan Kuningan atau Jalan Rasuna Said. Jalan dari Menteng ke Mampang masih melalui Djalan Tjiditiro (eks Djalan Mampang) terus melalui Jalan Guntur yang sekarang menuju wilayah Mampang.

Dari Mampang hingga wilayah Pedjaten sudah ada jalan. Dari Pedjaten rute jalan berbelok ke timur menuju (stasion) Pasar Minggu. Sementara jalan terusan ke Ragunan belum ada. Ruas jalan antara Mampang ini hingga Pedjaten belum ada nama. Namun dalam perkembangannya, ruas jalan ini dibagi dua dengan nama Jalan Mampang Prapatan dan Jalan Warung Jati Barat. Jalan Mampang Prapatan di ruas sebelah utara, sedangkan Jalan Warung Jati Barat di sebelah selatan.

Nama jalan Mampang Prapatan mengacu pada prapatan (persimpangan) di Mampang. Di wilayah Mampang tidak ada (lagi) nama Jalan Mampang Raya. Jika disebut nama Jalan Mampang Raya adalah Jalan Mampang Prapatan. Hal ini karena Jalan Mampang Raya pada tahun 1953 telah diubah namanya menjadi Djalan Teuku Tjiditiro (di wilayah Menteng ke arah wilayah Mampang). Dalam hal ini nama Mampang mengacu pada nama wilayah Mampang, nama yang sudah ada tempo doeloe.

Jalan Warung Jati Barat ini disebut sebagai Jalan Warung Buncit. Lantas mengapa disebut nama Warung Buncit? Nama Buncit sendiri diduga kuat berasal dari nama seorang Tionghoa bernama Boen Tjit bermarga Tan (Tan Boen Tjit).

Orang-orang Tionghoa dari marga Tan di era kolonial Belanda termasuk yang memiliki posisi dan memiliki usaha yang besar dan lahan yang luas. Marga Tan ini cukup banyak yang memiliki landdrein, seperti di Land Tjimanggis dan Land Pondok Tjina. Tan Boen Tjit diduga kuat adalah pemilik Land Mampang.

Java-bode, 24-11-1892
Nama Tan Boen Tjit dikenal sebagai seorng pengusaha di wilayah Mampang. Tan Boen Tjit pada Senin malam, Selasa (23-11-1892) mengalami musibah. Pabrik batik milik Tan Boen Tjit di Mampang, sebuah particulier land di Afdeeling Meeter Cornelis terbakar hangus menjadi debu. Administrator China dan anaknya diselamatkan oleh petugas kepolisian. Penyebab kebakaran tidak diketahui akan tetapi diperkirakan kerusakannya mencapai senilai f 70,000 (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 24-11-1892).

Bataviaasch nieuwsblad, 27-03-1888
Terbakarnya pabrik batik milik Tan Boen Tjit diduga karena ada unsur kesengajaan. Bibit-bibit ketidakpuasan penduduk asli pada tahun 1888 sudah muncul (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 27-03-1888). Disebutkan bahwa ada Land Mampang, Doerian Tiga, Pabean, Tjilan dan Kalibata yang tergabung dalam pemilikan seorang Tionghoa Tan Boen Tjit yang terletak di Afdeeling Meester Cornelis ada ketidakpuasan yang besar diantara para penduduk asli. Penyebabnya harus dikaitkan dengan pengenalan hal baru oleh administrator [landerein tersebut].      

Dua tahun sebelumnya Tan Boen Tjit tuan tanah memerintah penduduk asli yang tinggal di kampung Kalibata Doeren Tiga melalui Landraad di Meester Cornelis untuk mengevakuasi lahan yang telah mereka panen di lahan tersebut. Penduduk asli yang tinggal di kampung tersebut mengajukan kasasi atas putusan dewan tanah tersebut di Landraad Meester Cornelis namun kasasi ini ditolak dewan (lihat Bataviaasch handelsblad, 14-07-1890).

Bataviaasch handelsblad, 14-07-1890
Tan Boen Tjit memiliki istri bernama Njo Kiem Nio (De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad,    18-10-1890). Selain memiliki lahan di Mampang, Tan Boen Tjit juga membeli lima persil lahan di Tjipete (lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 19-09-1891). Tan Boen Tjit terakhir diketahui berdomisili di Tanahabang, Batavia (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 20-08-1904).

Nama Mampang sendiri di Batavia sudah ada sejak lama. Nama Mampang di Batavia paling tidak sudah diberitakan tahun 1810 (lihat Bataviasche koloniale courant, 31-08-1810). Oleh karenanya bagaimana asal usul nama Mampang sulit dilacak. Nama Mampang di Depok bahkan sudah dikenal pada akhir tahun 1600an, ketika Cornelis Chastelein membuka lahan pertama di sisi barat sungai Tjiliwong di Sringsing [Srengseng Sawah]. Mampang adakalanya dipertukarkan dengan nama Kali Bata (Javasche courant, 07-05-1836), baik yang di (wilayah) Depok maupun yang di (wilayah) Pasarminggoe. Hulu sungai Kali Bata di Depok (Mampang) yang mengalir hingga ke Mampang/Kali Bata di Batavia.

Waroeng Tionghoa di Weltevreden (Gambir), 1904
Berdasarkan Sensus tahun 1930 Province West Java, Afdeeling Batavia, Regentschap Meester Cornelis, District Meester Cornelis, Onderdistrict Pasarminggoe terdiri dari desa-desa berikut: Mampang Prapatan, Mampang Tegalparang, Pedjaten, Pasarminggoe, Rangoenan, Srengseng Sawah, Tandjong West, Tjigandjoer, Tjilandak, Bangka, Djagakarsa, Djatipadang. Disamping nama-nama desa tersebut, di Onderdistrict Pasarminggoe juga terdapat nama-nama berikut: Kalibata Lentengagoeng (w); Kalibata Doerentiga (kmd.); Koeningan (wijk); Lenteng-agoeng (wijk) dan Mampang Tegalparang (wijk). Nama-nama wilayah wijk (kelurahan) biasanya wilayah padat yang juga banyak dihuni oleh orang-orang Eropa/Belanda. Sedangkan wilayah kemandoran (di Kalibata Doerentiga) biasanya dihuni oleh landheer (tuan tanah) yang mempekerjakan banyak tenaga kerja. Kemandoran Kalibata Doerentiga diduga kuat adalah milik yang menjadi pusat kegiatan usaha Tan Boen Tjit.

Jauh sebelum Sensus 1930 (1900) Batavia terdiri dari dua Afdeeling: Stad Batavia en Vorsteden dan Meester Cornelis. Wilayah Afdeeling Meester Cornelis adalah daerah pertanian yang penduduknya jarang. Wilayah ini terdiri dari kampung-kampung yang digabungkan menjadi sejumlah desa. Afdeeling Meester Cornelis, terdiri dari tiga district: Meester Cornelis, Kebajoran dan Bekassi. Sementara Afdeeling Stad Batavia en Vorsteden terdiri dari dua district: Batavia dan Weltevreden.

Pada tahun 1888 Soetan Abdoel Azis, pejabat di kantor Asisten Residen Mandheling en Ankola di Padang Sidempoean diangkat menjadi Asisten Demang di District Kebajoran dan pada waktu yang bersamaan Asisten Demang di District Weltevreden adalah Maharadja Soetan (Kepala Koeria Batoenadoea Padang Sidempoean). Anak Abdoel Azis bernama Haroen Al Rasjid lulus Docter Djawa School tahun 1902; Anak Maharadja Soetan bernama Soetan Casajangan lulus Kweekschool Padang Sidempoean tahun 1887. Soetan Casajangan (setelah mengabdi menjadi guru selama 10 tahun di Padang Sidempoean) pada tahun 1905 berangkat studi ke Belanda (untuk mendapat akta Kepala Sekolah). Pada tahun 1908 Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan mendirikan sekaligus Presiden pertama Perhimpoenan Indonesia (Indisch Vereeniging) yang kelak menjadi cikal bakal PPI tahun 1924 di Belanda (era M. Hatta). Haroen Al Rasjid memiliki dua anak yang hebat: Mr. Gele Haroen (alumni sekolah hukum Universiteir Leiden) dan Dr. Ida Loemongga, Ph.D (alumni sekolah kedokteran Universiteit Amsterdam). Ida Loemongga Nasution adalah perempuan Indonesia pertama bergelar doktor (Ph.D) yang berhasil mempertahankan desertasinya di Universiteit Amsterdam tahun 1931. Mr. Gele Harun Nasution adalah advokat dan Residen pertama Lampoeng (kini tengah diusulkan Pemerintah Lampung untuk menjadi Pahlawan Nasional dari daerah Lampung).

MH Thamrin, Abdul Hakim Nasution dan Parada Harahap: Abdul Haris Nasution, TB Simatupang dan Pierre Tendean

Hubungan orang-orang Afdeeling Padang Sidempoean (Mandailing en Angkola) sudah sejak lama terbina dengan baik dengan penduduk asli Batavia (Betawi). Soetan Abdoel Azis dan Maharadja Soetan adalah pionir, sejak 1888 keduanya menjadi Asisten Demang di Kebajoran dan Weltevreden.

Sepulang dari Belanda tahun 1914, Soetan Casajangan menjadi Direktur Normaal School (sekolah guru) di Meester Cornelis. Soetan Casajangan meninggal tahun 1929 selagi menjabat Direktur Normaal School. Soetan Casajangan dan Husein Djajadiningrat adalah penasehat berdirinya PPPKI (Permoesjawaratan Perhimpoenan-Perhimponenan Kebangsaan Indonesia) yang didirikan tahun 1927. Husein Djajadiningrat adalah sekretaris Soetan Casajangan ketika mendirikan Indisch Vereeninging tahun 1908 di Leiden. Inisiatif pendirian PPPKI ini adalah Parada Harahap, raja media (tujuh surat kabar) yang kala itu menjadi sekretaris Sumatranen Bond. Saat pendirian PPPKI ini dihadiri oleh dua anggota Volksraad yang paling vokal di Pedjambon (kini Senayan) yakni MH Thamrin dan Abdoel Firman Siregar gelar Mangaradja Soangkoepon (Anggota Indisch Vereeniging bersama Soetan Casajangan dan Husein Djajadiningrat). Dalam pembentukan PPPKI tersebut di rumah Husein Djajadiningrat, secara aklamasi memilih MH Thamrin (Kaoem Betawi) sebagai ketua dan sekretaris Parada Harahap. Dalam pembentukan PPPKI ini awalnya Boedi Oetomo enggan bergabung (karena menggangap diri sudah besar dan mendapat sokongan dari pemerintah) akhirnya bersedia setelah dibujuk Dr. Radjamin Nasution (teman sekuliah di STOVIA).  Parada Harahap mengusulkan agar PPPKI membangun gedung sendiri, lalu MH Thamrin menyediakan lahan di Gang Kenari (situs gedung itu masih ada sekarang disebut Gedung MH Thamrin). Di dalam gedung itu, Parada Harahap yang merangkap sebagai kepala kantor hanya memampang tiga potret: Diponegoro, Soekarno dan M. Hatta. Parada Harahap dari PPPKI (senior) adalah pembina panitia Kongres Pemuda (junior) tahun 1928. Parada Harahap sebagai ketua Kadin pribumi Batavia adalah sponsor pembiayaan Kongres Pemuda dengan menempatkan Amir Sjarifoeddin Harahap sebagai bendahara. MH Thamrin dan Parada Harahap adalah sama-sama pengusaha beken di Batavia. Dalam Kongres Pemuda 1928 lagu Indonesia Raya karya WR Supratman diperdengarkan (WR Supratman adalah anak buah Parada Harahap dalam mengelola kantor berita Alpena dan tinggal bersama di rumah Parada Harahap).

Ketika masa kepengurusan (yang pertama) MH Thamrin dan Parada Harahap berakhir tahun 1929, MH Thamrin pada tahun itu juga diangkat sebagai Wakil Wali Kota (Loco Burgemeester) Batavia. Dua tahun berikutnya di Kota Padang, Dr. Abdoel Hakim Nasution dipilih dan diangkat untuk menjabat Wakil Wali Kota di Padang. Gemeente Batavia dan Gemeente Padang, hanya dua kota yang pernah memiliki Loco Burgemeester yang dijabat oleh pribumi.

Dr. Abdoel Hakim adalah alumni Docter Djawa School lulus tahun 1905. Abdoel Hakim adalah teman sekelas Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo di Docter Djawa School. Sebagaimana diketahui Dr. Tjipto adalah pendiri PNI di Bandoeng. Di Pantai Barat Sumatra (Sumatra’s Westkust) yang menjadi pimpinan PNI adalah Dr. Abdoel Hakim. Salah satu anak Dr. Abdoel Hakim bernama Mr. Egon Hakim (lulusan sekolah hukum Universiteit Leiden) yang menjadi pengacara di Padang. Egon Hakim menikah dengan putri cantik MH Thamrin. Besar dugaan yang menjadi penghubung dua keluarga ini adalah Parada Harahap. Dr. Abdoel Hakim menjadi besan MH Thamrin. Kelak, ketika terjadi pendudukan Jepang, semua orang Belanda merapat ke Kota Padang untuk evakuasi ke Australia. Ir. Soekarno yang menjadi tahanan di pengasingan di Bengkulu turut dibawa ke Padang. Pada saat chaos di Padang, Ir. Soekarno dan keluarga 'diculik' oleh Egon Hakim dari tangan Belanda dan menyembunyikan di rumahnya. Saat-saat situasi inilah Parada Harahap, M. Hatta dan Soekarno bekerjasama dengan Jepang. Parada Harahap adalah penentang Belanda, sejak mendirikan surat kabar dengan nama Sinar Merdeka di Padang Sidempoean (1919) dan pada tahun 1933 Parada Harahap memimpin tujuh orang pertama ke Jepang (termasuk M. Hatta). Sepulang dari Jepang, rombongan tidak langsung ke Batavia tetapi turun di Soerabaya (disambut Dr. Soetomo, kepala rumah sakit dan Dr. Radjamin Nasution, anggota dewan kota (gemeenteraad) Surabaya. Kelak Radjamin Nasution menjadi wali kota pribumi pertama Kota Surabaya. Demikian juga, kelak Dr. Abdoel Hakim Nasution menjadi Wali Kota pribumi pertama di Kota Padang. Makam WR Supratman dan makam Dr. Radjamin Nasution berdekatan di satu pemakaman di Kota Surabaya.

Selama pendudukan Jepang (1942-1945). Parada Harahap, Soekarno dan M. Hatta bekerjasama dengan Jepang (sebagai wujud kelanjutan oposisi mereka bertiga terhadap Belanda sejak era kolonial Belanda). Sementara Amir Sjarifoeddin memilih menolak bekerjasama dengan Jepang. Soekarno dan M. Hatta lalu menjadi ketua dan wakil ketua penasehat pribumi. Sedangkan Parada Harahap menjadi Koordinator Media Informasi. Pada saat memimpin kantor media informasi ini, Parada Harahap menyertakan empat anak buahnya yang selama ini berkecimpung di media: Adam Malik, Mochtar Lubis dan Sakti Alamsjah untuk bekerja di radio militer Jepang dan BM Diah di media cetak.

Sebagai imbal dari kerjasama, pemerintah militer Jepang mulai membantu ke arah persiapan kemerdekaan Indonesia. Parada Harahap, Soekarno dan M. Hatta menjadi anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia).  Akhirnya era pendudukan Jepang benar-benar berakhir setelah Jepang menyerah kepada sekutu (pasca pemboman Hirosima dan Nagasaki). Adam Malik yang tergolong barisan pemuda mendesak Soekarno dan M. Hatta memproklamirkan kemerdekaan (Amir Sjarifoeddin masih di dalam penjara Jepang di Malang). Terjadilah pembacaan Proklamasi Kemerdekaan RI di Pegangsaan Timur Jakarta pada tanggal 17 Agustus 1945.

Setelah Indonesia merdeka dan teks proklamasi dibacakan pada pagi hari pukul 10 ternyata gaungnya hanya diketahui di Jakarta saja. Radio dan jalur komunikasi masih dikuasai dan dijaga ketat oleh militer Jepang. Saat inilah salinan teks proklamsi diduga kuat diberikan Adam Malik kepada Mochtar Lubis untuk dibawa ke Bandoeng agar bisa disiarkan melalui radio.

Sakti Alamsjah masih bekerja di radio militer Jepang di Bandoeng. Sakti Alamsjah dan Mochtar Lubis sangat dekat satu sama lain (kebetulan seumuran, 22 tahun). Pada pukul tujuh malam, teks proklamasi dibacakan oleh Sakti Alamsjah di radio militer Jepang yang lokasinya berada jauh di (gunung) Malabar. Siaran pembacaan teks proklamasi ini kemudian dapat didengar masyarakat Bandoeng dan sekitarnya (Priangan), juga siarannya dapat dipantau di Djogjakarta dan Australia. Radio Bandoeng merupakan satu-satunya radio yang berani menyiarkan dengan membacakan teks proklamasi kemerdekaan RI. Kelak kedua sahabat ini masing-masing memimpin surat kabar: Mochtar Lubis mendirikan surat kabar Indonesia Raya di Batavia dan Sakti Alamsjah Siregar mendirikan surat kabar Pikiran Rakyat di Bandoeng. Bukti kedekatan kedua tokoh muda ini (penerus Parada Harahap) bahwa motto surat kabar Indonesia Raya dan surat kabar Pikiran Rakyat sama persis: Dari Rakjat, Oleh Rakjat dan Ontoek Rakjat (tentu saja tidak ada dua surat kabar memiliki motto yang sama, kecuali Indonesia Raya dan Pikiran Rakyat).

Dalam perkembangannya, Ir. Soekarno menjadi Presiden dan M. Hatta menjadi Wakil Presiden. Parada Harahap lalu ‘lengser keprabon’. Perjuangannya sejak di Padang Sidempoean mendirikan surat kabar Sinar Merdeka (1919), kini benar-benar Indonesia telah merdeka. Adik-adiknya Soekarno, M. Hatta, Amir, Adam Malik, Mochtar Lubis dan Sakti Alamsjah sudah mengambil posisi penting di berbagai bidang. Adam Malik, Mochtar Lubis dan Sakti Alamsjah tetap bekerja di bidang media. Amir Sjarifoeddin yang sarjana hukum setelah keluar dari penjara diangkat Soekarno dan M. Hatta menjadi Menteri Informasi (Penerangan).

Namun tidak lama setelah Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945, sekutu di bawah pimpinan Inggris mulai melakukan invasi dengan dalih membebaskan tahanan Eropa/Belanda dan melucuti para militer Jepang. Awalnya Soekarno dan M. Hatta enggan menerima Inggris karena khawatir diikuti Belanda/NICA dari belakang. Akan tetapi karena tahanan Eropa/Belanda menjadi beban dan tidak mungkin melucuti militer Jepang akhirnya Inggris diizinkan. Seperti yang diduga, Inggris ternyata membuka jalan bagi Belanda/NICA. Perang pun mulai, diawali di Depok. Kejadian ini terjadi saat Inggris menjalankan tugasnya di Djakarta sebelum bergerak ke Bogor dan Bandoeng. Inggris juga melakukan hal yang sama di tempat lain di Jawa, di Sumatra dan wilayah lainnya.

Saat mulai terjadinya perang (perlawanan terhadap sekutu/NICA), Amir Sjarifoeddin diangkat Menteri Keamanan Rakyat (Menteri Pertahanan). Tugas menteri Amir Sjarifoeddin untuk mengkonsolidasikan bentuk-bentuk perlawanan juga untuk mengorganisasikan kekuatan rakyat yang bersamaan dengan upaya pembentukan TRI/TNI sebagai kekuatan inti.

Dua mantan perwira KNIL (yang telah mendapat pelatihan dari militer Belanda di era kolonial) yakni TB Simatupang dan Abdul Haris Nasution mulai membantu milisi PETA bentukan Jepang. Dua perwira inilah kemudian yang ditempatkan Amir Sjarifoeddin berada di bawah komando Sudirman dalam perang di Jawa. Kolonel TB Simatupang menjadi wakil dari Jenderal Sudirman dan Kolonel Abdul Haris Nasution menjadi perwira utama (yang membawahi Komando Siliwangi di Bandoeng yang bergesekan langsung dengan Inggris/NICA di Djakarta). Untuk wilayah Bogor dan sekitarnya sahabat Abdul Haris Nasution, Letkol Kawilarang untuk membantunya. Sementara itu, Kolonel Zulkifli Lubis yang memiliki keahlian di bidang intelijen menjadi perwira utama membawahi intelijen RI yang berpusat di Djogjakarta.

Dalam perkembangannya ibukota RI pindah ke Djogjakarta (awal tahun 1946). Pasukan Inggris dari Bogor telah merangsek ke Bandoeng. Pada fase inilah (1946) Amir Sjarifoeddin dan Kolonel Zulkifli Lubis di Djogjakarta menyusun desain organisasi TRI/TNI. Tidak lama kemudian terjadi perang di Bandung utara. Inggris lalu mengultimatum agar mengosongkan Bandung utara dalam tempo lima hari selambat-lambatnya tanggal 24 Maret 1946. Tentu saja ultimatum ini tidak diindahkan oleh para pejuang yang menyebabkan terjadinya sejumlah insiden. Pasukan sekutu sendiri mendarat di Bandung sejak 17 Oktober 1945.

Menteri Pertahanan (sebelumnya bernama Menteri Keamanan Rakyat) Mr Sjarifoeddin Harahap (dari Djogjakarta) lantas bergegas ke Bandung dan mendiskusikannya dengan Panglima Divisi III/Siliwangi, Kolonel Abdul Haris Nasution. Lalu dalam perkembangan berikutnya Kolonel Abdul Haris di Bandung mendapat pesan dari perwakilan RI di Batavia (Sjahrir) agar mengakhiri semua pertempuran yang dilancarkan oleh para pejuang dan pasukan. Sekutu sudah nekad, Memberi ultimatum agar TRI (Tentara Rakyat Indonesia) mengosongkan kota sejauh 11 Km dari pusat kota paling lambat pukul 24.00 tanggal 29 Maret 1946. Politik bumi hangus di Bandung tidak terhindarkan. Area kebakaran meliputi sepertiga dari Bandung Selatan. Jumlah bangunan yang terbakar ditaksir sebanyak 150 bangunan (Algemeen Handelsblad, 30-03-1946).

Setelah perang yang berlarut-larut dan didahului dua perundingan, akhirnya disepakati untuk berunding kembali dalam KMB di Den Haag. Belanda kemudian mengakui kedaulatan RI. Soekarno dan  M. Hatta kembali menjadi Presiden dan Wakil Presiden. Di Jakarta, Kolonel Abdul Haris Nasution diangkat sebagai KASAD yang dalam perkembangan berikutnya diangkat menjadi Panglima dengan pangkat Jenderal.

Singkat kata: Pada tahun 1965 terjadi kisruh politik yang menyebabkan Jenderal Abdul Haris Nasution menjadi sasaran penembakan yang dilakukan oleh PKI. Persitiwa ini dikenal sebagai G 30 S/PKI. Jenderal Abdul Haris Nasution terhindar dari pembunuhan tetapi tidak dengan putrinya Ade Irma Suryani dan ajudannya Pierre Tendean. Kelak nama Pierre Tendean diabadikan sebagai nama jalan di wilayah Mampang Jakarta. Sebelumnya, juga nama Jenderal TB Simatupang sudah diabadikan di Jakarta Selatan. Antara jalan TB Simatupang dan jalan Pierre Tendean ini kemudian diusulkan menjadi jalan Jenderal Abdul Haris Nasution. Sebagian dari ruas Jalan Abdul Haris Nasution ini nama sebelumnya adalah Jalan Buncit Raya.

Nama Mampang dan Buncit vs Nama Abdul Haris Nasution

Nama jalan yang merupakan terusan Jalan HR Rasuna Said di utara mulai dari batas Jalan Jenderal Gatot Subroto melalui Jalan Mampang Raya dan Jalan Buncit Raya (Jalan Warung Jati Barat) hingga batas Jalan Letjen TB Simatupang di selatan diusulkan nama keseluruhannya menjadi Jalan Jenderal Besar Abdul Haris Nasution. Usulan nama Abdul Haris Nasution sesungguhnya tidak berlebihan; juga nama Mampang dan Buncit tidak terlalu kehilangan.

Perubahan nama jalan adalah hal yang biasa, yang tidak biasa adalah nama apa yang tepat diberi nama jalan tersebut. Nama Djalan Mampang Raya pada tahun 1953 telah diubah dengan nama Teuku Cik Ditiro. Yang tersisa adalah Djalan Mampang Prapatan, ruas jalan yang akan diusulkan diganti dengan Jalan Abdul Haris Nasution. Nama Teuku Cik Ditiro adalah nama besar, demikian juga nama Abdul Haris Nasution adalah nama besar. Oleh karenanya kehilangan nama Mampang (dan nama Buncit) hanyalah kehilangan kecil, sedangkan penabalan nama Abdul Haris Nasution justru memberi nilai tambah yang besar bagi keseluruhan warga masyarakat khususnya di wilayah Buncit dan seluruh rakyat Indonesia.

Adanya penolakan pihak tertentu terhadap penghilangan nama Mampang dan nama Buncit dan penggantian dengan nama Abdul Haris Nasution boleh jadi hanya reaksi spontan. Hal ini karena sejarah kedua belah pihak (di satu sisi Mampang dan Buncit) dan di sisi lain Jenderal Besar Abdul Haris Nasution karena sejarahnya kurang tersosialisasi secara memadai. Abdul Haris Nasution adalah penjaga NKRI sejati yang menjadi korban pihak PKI dalam peristiwa G 30 S/PKI. Abdul Haris Nasution telah kehilangan putrinya dan juga seorang ajudannya yang setia. Pemilihan jalan yang diberi nama Jalan Abdul Haris Nasution tampaknya sudah tepat mengingat jalan tersebut mempertemukan kepada dua sahabat lamanya semasa hidup di masa lampau: TB Simatupang dan Pierre Tendean.


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber ang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja

Tidak ada komentar:

Posting Komentar