Sejarah Jakarta (24): Asal Usul Nama Tempat di Jakarta; Banyak Keliru, Keliru karena Kurangnya Upaya Pencarian Data


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Asal usul nama tempat di berbagai kota di Indonesia sudah banyak diceritakan. Tapi tampaknya masih diceritakan dengan asal usil yang keliru. Itu dapat dimaklumi, karena ada ambisi kuat untuk menceritakan tetapi lemah dalam menunjukkan bukti. Dalam bahasa sekarang: nafsu besar tenaga kurang. Namun ambisi adalah ambisi, bagaimana munculnya nama tempat, dengan jalan pintas hanya didasarkan pada arti dan kedekatan arti dari nama tersebut.  

Pemukiman (perkampungan) di Batavia, 1860
Upaya menceritakan asal usul nama tempat pada masa ini banyak yang keliru, keliru karena kurangnya data pendukung. Seharusnya menceritakan asal usul nama tempat berdasarkan informasi yang akurat, siapa yang menceritakan dan tahun-tahun tertua ketika diceritakan. Lebih baik menyebutkan ‘tidak/belum diketahui’ daripada harus dipaksakan seolah-olah sudah diketahui.

Sejarah asal usul nama-nama tempat di Jakarta tentu saja menjadi pusat perhatian yang menarik. Sebab nama-nama tempat di Jakarta sudah sangat dikenal di seluruh Indonesia, sebut saja Senen, Senayan, Kemayoran, Kebayoran, Tanah Tinggi, Tanah Abang dan lain sebagainya. Mari kita mulai sejarah asal usul Kemayoran.

Kemayoran: Mayor Portugis

Pada tahun 1890 wilayah Kemayoran yang sekarang sudah ramai. Saat itu di wilayah tersebut hanya satu bangunan yang terbilang besar. Bangunan ini terbuat dari batu. Penghuni rumah bangunan besar itu adalah keturunan Portugis (Bataviaasch handelsblad, 20-04-1890). Pemilik rumah itu dulunya dikaitkan dengan nama wilayah tersebut sebagai Kemajoran. Yang membangun rumah tersebut adalah pensiunan (majoor) yang juga pemilik (landheer) lahan luas tersebut. Penghuni lingkungan tersebut, yang juga merupakan turunan Portugis banyak yang bisa bermain biola.

Bataviaasch handelsblad, 20-04-1890
Majoor Portugis dalam hal ini bukanlah pangkat dalam militer, melainkan kepala komunitas (Letnan, Kaptein, Majoor) orang-orang Portugis yang memiliki gaji dan bertanggungjawab kepada Gubernur Jenderal VOC/Pemerintah Hindia Belanda. Tidak diketahui orang Portugis tersebut diangkat menjadi Majoor dan juga sejak kapan memulai tempat tinggal di tempat yang kini disebut Kemayoran.

Menteng: Marga Menting Belanda

Menting adalah salah satu nama keluarga orang Eropa di era VOC. Keluarga Menting ini kemudian membuka lahan di selatan Ryswyck. Nama pemilik lahan (land) ini dengan mengambil nama keluarga menjadi Land Menting. Dalam perkembangannya terjadai proses linguistik nama Menting sering dipertukarkan dengan nama Menteng. Pusat Land Menteng (Landhuis) ini berada di sekitar Terminal Manggarai yang sekarang. Lokasi landhuis merupakan jalan kuno dari Padjadjaran ke (pelabuhan) Sunda Kelapa. Dari Landhuis Menteng ini dibangun jalan ke Jalan Pos Trans Java di Afdeeling Meester Cornelis (melalui Jalan Tambak ke persimpangan Jalan Pramuka dan Jalan Salemba yang sekarang). Land Menteng kemudian diperjual belikan dengan berganti pemilik. Dalam perubahan kepemilikan ini juga muncul land baru seperti Land Gondangdia. Land Menteng semakin populer ketika pelukis terkenal Raden Saleh (peranakan Arab Jwa) membangun rumah di salah satu lokasi di land tersebut (Bataviaasch handelsblad, 19-04-1862). Pada tahun 1894 jalan dari Landhuis ke Buitenzorg via Depok diperkuat (Bataviaasch handelsblad, 04-06-1894). Jalan ini kelak dikenal sebagai Jalan Sahardjo dan Jalan Pasar Minggu. Pemilik land Menteng sebelum dibeli pemerintah adalah seorang Arab, Alie Shahab (Bataviaasch nieuwsblad, 12-08-1898).

Rumah Raden Saleh di Menteng, 1862
Land Menteng dibeli oleh Gemeente Batavia pada tahun 1908. Pada tanggal 25 April 1913 Komisi Menteng menyerahkan sebuah memorandum terperinci di land tersebut. Pada 28 Juli 1913 diputuskan bahwa tahun 1914 diinformasikan oleh Administrator Menteng tentang langkah-langkah persiapan yang harus diambil pada saat dalam operasi yang diusulkan. Pada 11 Oktober 1915, Heer Schoemaker, dua rancangan awal untuk pembangunan lahan. Pada 3 Januari 1916, Dewan memutuskan untuk menunjuk tiga insinyur konstruksi, dengan tugas melayani Dewan pertimbangan dan saran mengenai usulan  1916, komite ini menyerahkan laporan terperinci tentang rencana pembangunan awal yang sudah ada. Pada 1 Desember 1916, Komisi Pekerjaan Umum diikuti; rencana pembangunan yang dimodifikasi dibawa ke Dewan dengan secara diam-diam tanggal 11 Juni 1917. Pada 5 September 1917 diikuti, juga oleh tulisan rahasia, kartu dari. jalan dan pekerjaan perbaikan; maka master saya ditugaskan untuk membuat rencana rencana dan 17 Desember 1917, Burgemeester adalah rencana perkerasan ternak. Keluhan akan disampaikan kepada Dewan dalam waktu yang wajar. Itu adalah sepuluh tahun sejarah penderitaan Land Menteng secara singkat. Kami akan kembali ke denah bangunan dll. Secara lebih detail. Pada 20 Maret 1917, diputuskan untuk mengkonversikan jalan ini (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie,    15-01-1918).

Kwitang: Nama Wilayah di Tiongkok (Kwitang/Canton)

Kwitang bukanlah nama asli. Kwitang pada mulanya adalah suatu area antara jalan sisi timur sungai Tjiliwong (kelak ditingkatkan menjadi Groote Postweg di era Daendles) dengan sungai Tjiliwong di selatan Noordwyck. Di dalam area ini awalnya ditempati (disewa) oleh orang-orang Tionghoa. Mereka yang menyewa ini adalah orang-orang Tiongkok yang berasal dari Kwitang (Canton). Perkampungan orang-orang asal Kwitang ini kemudian disebut Kampong Kwitang.

Pada tahun 1824 area Kampong Kwitang ini dijual pemerintah (verponding) berdasarkan Resolutie van de Govenrneur Genaraal in Rade dd 28 Desember 1824 No 25. Area Kampong Kwitang ini menjadi Land Kwitang. Pembeli pertama persil Kampong  Kwitang (Land Kwitang) ini adalah F. Rijnkarl (Javasche courant, 20-04-1939). Lahan Kwitang kemudian dimiliki oleh Voute de GuĂ©rin (Javasche courant, 10-04-1847). Dalam perkembanganya pemerintah menjual area yang disebut Land Kwitang Oost (Tanah Tinggi) dan Land Kwitang West (sisi barat sungai Tjiliwong). Di Kampong Kwitang, zending  mulai melakukan misi dan pada awalnya terdapat empat orang Tionghoa (lihat HC Millies, 1850). Dalam perkembangannya didirikan gereja Kwitang.

Pada tahun 1919 Land Kwitang West dibeli oleh Burgemeester Batavia senilai f150,000 (Bataviaasch nieuwsblad, 21-10-1919). Upaya pembelian ini oleh pemerintah kota diduga setelah Gemeente Batavia membeli sebelumnya Land Menteng tahun 1913 (untuk dibangun/dieksploitasi). Heusen & Mees menjual Land Kwitang Oost (Tanah Tinggi) seharga f70.000 (De Sumatra post, 10-12-1925).

Jatinegara: Awalnya Meester Cornelis

Buncit: Tan Boen Tjit di Mampang

Tunggu deskripsi lengkapnya


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar