Sabtu, 07 Desember 2019

Sejarah Universitas Indonesia (5): Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan; Cucu Notaris Anwar Makarim dan Anak Nono Lulusan UI


*Semua artikel Sejarah Universitas Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Kemarin Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim berada di kampus Universitas Indonesia (UI) di Depok. Tujuannya untuk menyambut (menghadiri pelantikan) Rektor UI yang baru Prof. Ari Kuncoro. Satu yang penting kehadirannya adalah menyatakan bahwa mahasiswa diberikan kemerdekaan untuk belajar dan penggeraknya adalah dosen.

Het nieuws van den dag voor Ned.-Indie, 08-03-1940
Dalam pidatonya ‘tanpa naskah’ Menteri Nadiem Makarim membukanya sebagai berikut: ‘Yang terhormat Bapak-Ibu yang hebat di depan saya, terutama Bu Ani (Menkeu Sri Mulyani), terima kasih sudah mengundang saya disini. Saya seperti Prof Ari, ada naskah pidato langsung saya buang karena saya ingin gunakan kesempatan untuk menjadi sesi kerja pertama selama lima tahun ke depan. Pertama, saya harus bilang bahwa saya bukan alumni UI. Tapi orang tua saya, bapak, ibu, dan seluruh keluarga saya om-om dan tante semua, eksklusif alumni UI. Jadi saya sebenarnya produk UI juga dan saya merasa tidak bisa mencapai seperti ini kalau tanpa UI. Jadinya ini sesuatu yang spesial saya bisa hadir di sini’.

Siapa Nadiem Makarim sudah banyak ditulis. Seperti pengakuannya: ‘Saya bukan alumni UI, tetapi saya merasa tidak bisa mencapai seperti ini kalau tanpa UI’. Ayah dan ibu dari Nadiem Makarim adalah alumni UI. Siapa Ayah dan Ibu Nadiem Makarim juga sudah banyak ditulis. Ayah Nadiem Makarim adalah Nono Makarim seorang aktivis pers mahasiswa (lulusan UI). Yang belum banyak ditulis adalah tentang riwayat kakeknya, seorang Notaris bernama Anwar Makarim. Oleh karena itu perlu kiranya menyusun keseluruhan sejarah keluarga Makarim. Untuk itu mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Stambuk (silsilah) Nadiem Makarim (perkiraan)
Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Anwar Makarim, Kakek Nadiem Makarim: Seorang Notaris?

Anwar Makarim adalah kakek Nadiem Makarim. Anwar Makarim disebut di dalam Wikipedia sebagai seorang notaris ternama. Pada era kolonial Belanda hanya sedikit jumlah notaris yang ada. Notaris pertama non Eropa/Belanda adalah Raden Soewandi (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie edisi 26-07-1920). Disebutkan Raden Soewandi dinyatakan lulus ujian kelas satu notaris. Pada tahun yang sama (1920) juga dilaporkan RM Wiranto lulus kelas satu notaris (lihat De Preanger-bode, 97-09-1920). Notaris ketiga pribumi adalah Raden Kadiman lulus notaris kelas satu tahun 1921 (lihat De Preanger-bode, 10-07-1921). Notaris keempat adalah Soedja. Sejauh ini belum ditemukan informasi kapan Soedja lulus ujian notaris kelas satu.

Het nieuws van den dag voor N-Indie edisi 26-07-1920
Tampaknya tidak mudah untuk lulus notaris. Ini terlihat ketika Raden Soewandi ikut ujian kelas tiga (kelas utama) pada tahun 1923, dari 28 peserta ujian hanya delapan orang notaris yang lalus, termasuk Raden Soewandi (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 12-09-1923). Ujian yang dilaksanakan di Batavia ini termasuk yang lulus adalah AE Prosee di Medan dan Mr. H van Everdingen di Soerabaja. Mas Soedja van Chirebon dinyatakan lulus ujian notaris kelas dua pada tahun 1923 (Bataviaasch nieuwsblad, 01-09-1923). RM Wiranto termasuk yang lulus ujian notaris kelas tiga (Groot Notaris Examen) diantara 10 orang yang lulus (Bataviaasch nieuwsblad, 01-10-1925). Raden Kadiman baru tahun 1927 berhasil lulus untuk ujian notaris kelas tiga (Bataviaasch nieuwsblad, 01-10-1927). Disebutkan Raden Kadiman di Bandoeng.

Notaris kelima pribumi dalam hal ini adalah Hasan Harahap gelar Soetan Pane Paroehoem yang lulus ujian notaris kelas satu pada tahun 1927. Pada tahun 1929 Soetan Pane Paroehoeman dinyatakan lulus ujian notaris kelas dua, salah satu diantara empat orang yang lulus dari lima kandidat (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 10-08-1929).

Soetan Pane Paroehoem dilaporkan surat kabar De Sumatra post, 15-08-1935 telah lulus ujian notaris kelas tiga (kelas utama). Posisi Soetan Pane Paroehoem saat itu juga adalah wakil sekretaris kota (gemeente) Pematang Siantar. Juga disebutkan bahwa dengan ini sekarang semua bagian ujian telah berhasil dilewati olehnya sehingga dia dapat selanjutnya mendapat gelar notaris publik (Notaris Kan Voeren), suatu gelar notaris yang berhak untuk membuka praktek (kantor) notaris.

Hingga tahun 1940 di Indonesia (baca: Hindia Belanda) hanya terdapat sebanyak 49 notaris. Sebanyak enam orang pribumi dan satu orang Tionghoa. Pasca pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda, tujuh orang notaris pertama inilah yang tersedia di seluruh Indonesia. Mereka ini kemudian menjadi tulang punggung dalam pembuatan akte pendirian berbagai perusahaan, jajasan dan bentuk-bentuk perjanjian lainnya. Notaris Soewandi adalah pembuat akta pendirian Yayasan Universitas Indonesia di Djakarta tahun 1950, yayasan yang menyelenggarakan Universitas Indonesia (cikal bakal Univesitas Indonesia/UI); dan Hasan Harahap gelar Soetan Pane Paroehoem adalah pembuat akta pendirian Yayasan Universitas Sumatra Utara di Medan tahun 1951, yayasan yang menyelenggarakan Universitas Sumatra Utara (cikal bakal Universitas Sumatra Utara/USU).

Sejarah Pendidikan Anwar Makarim: Sekolah Dasar di Padang, Sekolah Menengah di Batavia, Lulus Akuntansi di Semarang

Anwar Makarim memulai pendidikan menengah di Batavia tahun 1930. Ini dapat dilihat dari daftar nama-nama yang mengikuti pendidikan di sekolah menengah Koningin Willem School (KWS) di Batavia (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 28-04-1930). Anwar Makarim bersama 12 siswa naik dari kelas satu ke kelas dua jurusan sipil (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 04-05-1931). Dalam daftar 12 siswa sipil ini termasuk Mohamad Sangkot Lubis. Siswa terbanyak yang naik kelas memilih jurusan mesin. Hanya beberapa siswa yang memilih jurusan pertambangan.

Bataviaasch nieuwsblad, 28-04-1930
Koning Willem School adalah sekolah berbahasa Belanda pertama yang didirikan yang penyelenggaraannya dimulai pada tahun 1860. Awalnya sekolah ini hanya dikhususkan untuk orang Eropa/Belanda, tetapi dalam perkembangannya mulai diterima dari golongan Timur Asing dan pribumi. Sekolah ini menyelenggarakan pendidikan tiga tahun (setingkat MULO) dan pendidikan lima tahun (setingkat HBS). Sekolah elit pertama ini, kini menjadi lokasi Gedung Perpustakaan Nasional di Jalan Salemba, Jakarta. Lulusan HBS sekolah ini dapat melanjutkan perguruan tinggi di Eropa/Belanda. Pada tahun 1875 didirikan HBS (Hoogere Burgerschool) di Soerabaja dan pada tahun 1877 didirikan HBS di Semarang. Pribumi pertama yang lulus HBS dan melanjutkan studi ke Belanda adalah Raden Kartono dari HBS Semarang pada tahun 1896. Raden Kartono adalah abang dari Raden Ajeng Kartini. Pada tahun 1911 di Batavia didirikan Prins Hendrikschool yang menyelenggarakan pendidikan seperti KWS.

Setelah menyelesaikan tingkat tiga di KWS pada tahun 1933, Anwar Makarim pindah ke sekolah Prins Hendrikschool. Pada tahun 1934 Anwar Makarim termasuk salah satu siswa yang naik kelas dari kelas tiga ke kelas empat (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 01-06-1934). Yang naik dari kelas empat ke kelas lima adalah Soemitro Djojohadikoesoemo.

Bataviaasch nieuwsblad, 01-06-1934
Beberapa siswa terdahulu di Prins Hendrikschool (PHS) yang kelak menjadi terkenal adalah Mohamad Hatta, Abdul Hakim Harahap dan Ida Loemongga. Mohamad Hatta setelah lulus MULO di Padang diterima tahun 1919 di PHS Afdeeling A yang lulus pada tahun 1922 dan kemudian melanjutkan studi ke Belanda (Mohamad Hatta kelak menjadi Wakil Presiden RI). Setahun sebelum Mohamad Hatta diterima, pada tahun 1918 Ida Loemongga Nasution setelah lulus ELS di Telok Betong, Lampong. Ida Loemongga Nasution yang mengambil jurusan IPA (Afdeeling B) mendapat akselerasi dan lulus empat tahun pada tahun 1922. Ida Lomongga mendaftar di STOVIA, tetapi hasil ujian masuknya excellent lalu direkomendasi studi kedokteran langsung ke Belanda. Ida Loemongga mendapat gelar dokter tahun 1927 di Utrecht dan pada tahun 1930 meraih gelar doktor (Ph.D) di bidang kedokteran di Amsterdam. Pada tahun 1930 Mohamad Hatta lulus sarjana ekonomi (Drs) di Rotterdam. Ida Loemongga Nasution adalah perempuan Indonesia pertama bergelar doktor (Ph.D). Pada tahun 1924 setelah lulus MULO di Padang, Abdul Hakim Harahap diterima di PHS (dan lulus tahun 1927). Abdul Hakim Harahap tidak melanjutkan studi ke Belanda tetapi mengambil kursus kepabeanan (kini Bea dan Cukai). Abdul Hakim Harahap kelak menjadi Gubernur Sumatra Utara tahun 1951 (sebelumnya menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri RI di Jogjakarta).  

Anwar Makarim lulus tahun 1936 (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 10-06-1936). Disebutkan dari 11 kandidat yang ujian sebanyak 10 siswa dinyatakan lulus di Afdeeling C, termasuk Anwar Makarim. Setahun sebelumnya Soemitro Djojohadikoesoemo lulus di Afdeeling A dan langsung melanjutkan studi ke Rotterdam (mengikuti jejak Mohamad Hatta). Sedangkan Anwar Makarim mengikuti jejak Abdul Hakim Harahap untuk langsung mengikuti pendidikan kursus tiga tahun di dalam negeri. Abdul Hakim Harahap mengikuti pendidikan kepabeanan (Bea dan Cukai), Anwar Makarim mengikuti pendidikan pembukuan (Akuntansi).

Nadiem Makarim dan Prabowo Soebianto
Kelak Anwar Makarim memiliki cucu bernama Nadiem Makarim yang menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Sementara Soemitro Djojohadikoesoemo memiliki anak bernama Prabowo Soebianto yang menjadi Menteri Pertahanan. Nadiem Makarim dan Prabowo Soebianto kini sama- sama anggota kabinet Presiden Jokowi. Ayah Prabowo Soebianto adalah kakak kelas kakek Nadiem Makarim di sekolah elit di Prins Hendrikschool (PHS) di Batavia pada era kolonial Belanda. Keren, bukan? Like father, like son.

Dalam penyelenggaraan ujian boekhouden (pembukuan) di Semarang tahun 1940, salah satu dari 13 yang dinyatakan lulus (dari 23 kandidat) adalah Anwar Makarim (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 08-03-1940).

Soerabaija handelsblad, 13-08-1940
Ujian notaris yang dilakukan pada tahun 1940 yang lulus diantaranya Anwar Masjhoer Loebis, Andoel Moerad, RM Soeprapto R Soetikno Sastrodinoto, Anwar Mahajoedin, Hassan Qalbi (lihat Soerabaijasch handelsblad, 13-08-1940). Penyelenggaraan ujian dua bidang ini tahun 1940 tampaknya merupakan yang terakhir pada era kolonial Belanda.

Anwar Makarim Aktif dalam Organisasi Persatoean Arab-Indonesia (PAI) di Pekalongan

Setelah lulus sekolah menengah di Prins Hendrikschool (PHS) di Batavia, Anwar Makarim langsung mengikuti program/kursus boekhouden yang dimulai tahun 1937. Di kota Pekalongan Anwar Makarim dipertemukan jodol dengan mempersunting gadis jelita bernama Salmah, anak seorang pengusaha kaya Arab-Indonesia (Soengkar). Di kota ini pula, anak Anwar Makarim lahir tahun 1939 yang diberi nama Nono. Kelak anak pertama Anwar Makarim lebih dikenal dengan nama Nono Anwar Makarim sebagai seorang aktivis.

Pada era kolonial Belanda, adanya hambatan jarak dan waktu, para lulusan yang ditempatkan di suatu kota kerap menemukan cintanya. Selain sudah selesai studi dan tengah mengawali karir pekerjaan, juga didukung oleh para orang tua, para pemuda berprospek ini menjadi incaran para gadis-gadis. Pola perkawinan cinta lokasi ini sangat lazim. Hal ini tidak dialami oleh Anwar Makarim, sebab orang tua Anwar Makarim sudah tingga (kembali) di Pekaloengan. Namun bagi yang lain dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Hal serupa ini dialami oleh seorang lulusan apoteker di Batavia, Ismail Harahap yang ditempatkan di Soerabaja tahun 1941 menemukan cintanya di lokasi. Ismail Harahap adalah ayah dari Ucok AKA.

Sebagai menantu seorang pengusaha kaya di Pekalongan, Anwar Makarim merasa tidak cukup dengan pendidikan yang ada, lalu mulai mengikuti kursus pembukuan (boekhouden).  Anwar Makarim sambil mengikuti program/kursus bidang ekonomi/perdagangan mulai turut membantu bisnis orang tua dan bisnis mertua di Pekalongan. Tentu saja kemahiran dalam pembukuan dapat mendukung dunia usaha. Pada tahun 1940 Anwar Makarim mengikuti ujian pembukuan (boekhouden) di Semarang (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 08-03-1940). Disebutkan dari 23 kandidat sebanyak 13 orang dinyatakan lulus ujian termasuk Anwar Makarim.

Sejarah perkembangan perguruan tinggi di Indonesia
Perguruan tinggi (Hoogeschool) saat itu hanya terdapat di beberapa kota. Fakultas Kedokteran (Geneeskundige Hoogeschool) di Batavia dan NIAS di Soerabaja, Fakultas Hukum (Rechthoogeschool) di Batavia, Fakultas Teknik (Technische Hoogeschool) di Bandoeng dan kedokteran hewan di Buitenzorg. Lulusannya bergelar sarjana. Untuk memenuhi kebutuhan pemerintah dan swasta, pemerintah membentuk kursus-kursus yang lulusannya mendapat sertifikat setingkat diploma pada masa ini. Semua fakultas-fakultas yang sudah ada awalnya diselenggarakan dalam bentuk kursus. Seperti disebutkan di atas Abdul Hakim Harahap lulus program/kursus kepabeanan tahun 1930 yang dibuka tahun 1927. Program/kursus bidang ekonomi/perdagangan terdiri dari dua area yakni Boekhouden (pembukuan) dan Handelcorresspondentie (Nederlandsche atau Engelsche). Program/kursus yang baru dibentuk tahun 1938 adalah program/kursus apoteker. Salah satu daru lulusan pertama kursus apoteker ini pada tahun 1941 adalah Ismail Harahap dan ditempatkan di Soerabaja. Ismail Harahap kelak dikenal sebagai ayah dari Ucok Aka Harahap (pionir musik rock Indonesia).

Sementara Anwar Makarim mulai aktif dalam dunia ekonomi/perdagangan di Pekalongan, istrinyu, Salmah Soengkar Makarim juga cukup aktif sebagai aktivis perempuan di Pekalongan, suatu organisasi perempuan yang berafiliasi dengan organisasi Persatoean Arab-Indonesia (PAI). Dalam konferensi perempuan PAI yang diselenggarakan di Pekaloengan, Salmah Soengkar Makarim membawakan makalah berjudul ‘Bestrijding van den vrouwenhande/Melawan perdagangan perempuan (lihat Soerabaijasch handelsblad, 18-08-1941). Kongres perempuan PAI di Pekalongan ini adalah kongres perempuan PAI yang kedua.

Pada tahun 1936 di Pekalongan diadakan kongres bagi para keturunan Arab. Hasil kongres ini membentuk organisasi kebangsaan yang diberi nama Persatoean Arab Indonesia (PIA). Kongres ini diinisiasi oleh Abdurrachman Baswedan yang terpilih sebagai ketua (lihat De Indische courant, 11-02-1936). Susunan pengurus pusat adalah sebagai berikut: AR Baswedan, sebagai ketua; Abdulkadir Assegaf, sebagai wakil ketua; dan A. Bajasut sebagai sekretaris. Untuk (satu-satunya) cabang Batavia kepengurusan adalah sebagai berikut: Hoesin bin Mohamad Alatas, sebagai ketua; AA Alaydroes, sebagai sekretaris, Achmad Afiff, sebagai bendahara dan untuk komisaris terdiri dari Oebeid Aboed, Anwar Makarim, Salim Basalamah dan Hoesin bin Aboebakar Alatas (lihat Overzicht van de Inlandsche en Maleisisch-Chineesche pers, 1936, no 7, 15-02-1936). Pada kelompok muda keturunan Arab juga dipersatukan untuk mendukung kesatuan Indonesia dengan membentuk organisasi pemudanya (lihat  De Indische courant, 06-07-1936). Dalam hal ini Abdurrachman Baswedan kelak dikenal sebagai kakek dari Anies Baswedan (Gubernur DKI Jakarta); Anwar Karim dikenal sebagai kakek dari Nadiem Makarim; Hoesin bin Mohamad Alatas (kakek buyut Nadiem Makarim dari pihak perempuan), Achmad Afif adalah adalah ayah dari Prof. Saleh Afiff atau kakek dari Dr. Adi Zakaria Afiff. Dalam hal ini Prof. Adi Zakaria Afiff adalah teman saya (mantan Dekan FEB dan mantan Wakil Rektor UI Bidang Keuangan, Logistik, dan Fasilitas 2014-2018)..

Pada tahun 1937 kembali PAI mengadakan kongres (lihat De Indische courant, 30-03-1937). Kongres yang diadakan di Soerabaja mengubah PAI menjadi partai politik yang mana dalam kongres ini menghasilkan tiga mosi, yaitu: 1. Dukungan untuk asosiasi dan kerja sama dalam perang melawan riba; 2. Permintaan kepada Pemerintah untuk membuka tiga sekolah Belanda-Arab (Hollandsch-Arabische) di Jawa, mirip dengan HAS di Solo; 3. Permintaan kepada Pemerintah untuk memisahkan kelompok orang Arab dalam Undang-Undang Pemilihan dari kelompok orang Cina (orang asing non-Belanda) dalam undang-undang pemilihan. Pada tahun 1938 diadakan kongres PAI yang ketiga di Semarang (lihat Soerabaijasch handelsblad, 02-02-1938). Dalam kongres ini juga kaum perempuan PAI juga berkongres. Pada kongres keempat PAI tahun 1939 yang diadakan di Chirebon sejumlah individu tampil sebagai pembicara antara lain: Mr. Satiman dengan tema Pendirian Sekolah Menengah Islam Islam; Hamid Algadri tentang Perbandingan Antara Penduduk Ali Cina, Penduduk Asli Arab, dan Penduduk Pribumi; Mohamad Abubakar tentang Gambaran Gerakan Pemuda di Hindia Belanda (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 02-05-1939). Sebagaimana diketahui pada tahun 1939 semua organisasi kebangsaan yang berhaluan Indonesia disatukan dalam supra organisasi GAPI (Gabungan Politik Indonesia) yang dipimpin oleh Muhammad Husni Thamrin, Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap dan Abikoesno Tjokrosoejoso. PAI termasuk didalamnya.

Pada akhir tahun 1941 mulai terjadi kegaduhan akibat adanya invasi Jepang ke Asia Tenggara. Pada awal tahun 1942 terjadi pendudukan militer Jepang di Indonesia (berakhir sudah era kolonial Belanda).

Anwar Makarim: Negara Pasoendan

Pada era pendudukan militer Jepang, keluarga Anwar Makarim pindah dari Pekalongan ke Djakarta. Boleh jadi perpindahan ini karena kurang kondusifnya ekonomi/perdagangan di Pekalongan dan membuka peluang yang lebih besar di Djakarta. Lebih-lebih Anwar Makarim dan istri sudah aktif berpartisipasi dalam (organisasi) politik.

Di Djakarta situasi dan kondisi cepat berubah. Jepang menyerah kepada sekutu. Pada tanggal 17 Agustus 1945 kemerdekaan Indonesia diproklamirkan. Namun tidak lama kemudian Belanda diberi jalan untuk berkuasa kembali oleh Inggris/Sekutu yang melakukan pelucutan senjata militer Jepang dan pembebasan para interniran Eropa/Belanda. Kehadiran Belanda/NICA mendapat perlawanan bangsa Indonesia. Namun diantara bangsa Indonesia ada yang membuka diri terhadap kehadiran Belanda/NICA. Di sejumlah daerah Belanda/NICA membentuk negara federal seperti Negara Sumatra Timur, Negara Jawa Timur dan Negara Pasoendan. Pendukung Negara Republik Indonesia (RI) hanya tersisa di sejumlah wilayah: Jogjakarta/sebagian Jawa Tengah dan Sumatra (minus Negara Sumatra Timur dan Negara Sumatra Selatan).

Pada tahun 1948 istri Anwar Makarim (Salmah Makarim) melahirkan di Djakarta. Namanya diberi Zacky. Pada saat kelahiran Zacky, usia Nono sudah 10 tahun. Kelak dua dua anak Anwar Makarim akan membawa namanya sebagai Nono (Anwar) Makarim dan Zacky (Anwar) Makarim.

Het dagblad Batavia, 11-06-1949
Pada tahun 1949 para eks anggoat PAI mendirikan asosiasi perdagangan yang disebut Perhimpunan Pedagang Arab (Aldjumiah Attidjarijah Alarabijah). Asosiasi baru ini diketuai oleh Abdulkadir Alsegaf (lihat .Het dagblad: uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 11-06-1949). Dalam struktur pengurus asosiasi ini Anwar Makarim menjabat sebagai anggota komisaris.

Setelah berdirinya Negara Pasoendan, dibentuk parlemen Pasoendan. Salah satu anggota parlemen Pasoendan adalah Anwar Makarim. Dalam konferensi BFO, beberapa orang anggota parlemen Pasoendan ditunjuk sebagai anggota penasehat delegasi Negara Pasoendan termasuk diantara mewakili kelompok minoritas yakni Drs. Van Zuylen, Drs. Tan Eng Oen dan Anwar Makarim (lihat Het dagblad : uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 06-07-1949). Dalam penentuan anggota parlemen RIS, Anwar Makarim termasuk salah satu anggota parlemen RIS mewakili Negara Pasoendan dari kelompok Arab (lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 24-12-1949). Sementara itu perwakilan RI dalam parlemen RIS termasuk diantaranya Hamid Algadrie.

Java-bode, 13-02-1950
Republik Indonesia Serikat (RIS) yang mulai diberlakukan pada tanggal 27 Desember 1949, meski namanya Republik Indonesia (RI)  plus negara-negara federal dan otonom (daerah), wilayah RI hanya tinggal sedikit. Namun demikian, para Republiken yang berada di wilayah federal memiliki suara dalam pembentukan parlemen RIS. Dalam pembentukan parlemen RIS terdiri dari komposisi berikut: Wilayah Republik Indonesia (RI); Wilayah Indonesia Timur, Wilayah Negara Pasoendan, Negara Djawa Timur, Negara Madoera, Negara Sumatra Timur, Negara Sumatra Selatan, Daerah Djawa Tengah, Daerah Bangka, Daerah Belitung, Daerah Riau, Daerah Istimewa Kalimantan Barat, Daerah Dayak Besar, Daerah Bandjar, Daerah Kalimantan Tenggara, Daerah Kalimantan Timur. Dalam komposisi ini juga termasuk perwakilan dari Sabang, Kotawaringin, Padang, kelompok Cina, kelompok Eropa dan kelompok Arab. Perwakilan dari setiap wilayah-wilayah terdiri dari berbagai fraksi, termasuk fraksi Indonesia dan fraksi kelompok-kelompok minoritas (IEV, Tionghoa dan Arab). Anggota parlemen RIS yang diumumkan Kementerian Informasi RIS (lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 13-02-1950) yang berasal dari Negara Pasoendan sebanyak 20 orang termasuk kelompok Tionghoa (Tan Eng Oen, Lie Kian Kiem, Tan Eng Djien) dan kelompok Arab (Anwar Makarim). Perwakilan RI sebanyak 50 orang termasuk diantaranya Mr. Mohamd Jamin, Mr. Iwa Kusumasumantri, O Rondonuwu, Mr. J Latuharhary, perwakilan Tionghoa (Mr. Siauw Giok Tjan dan Drs Yap Tjwan Bing)  dan perwakilan Arab (Hamid Algadrie).

Anwar Makarim dan Hamid Algadri tentu saja sudah saling mengenal. Mereka berdua di era kolonial Belanda (sebelum perang) sudah aktif di organisasi Persatoean/Partai Arab Indonesia. Pertemanan mereka boleh jadi sudah terbentuk lama. Hal ini karena mereka berdua pernah bersekolah di Prins Hendrikschool (PHS) di Batavia. Mereka berdua sama-sama naik kelas, dari kelas tiga ke kelas empat, sementarta yang naik ke kelas lima diantaranya Soemitro Djojohadikoesoemo dan F. Tamboenan (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 01-06-1934). Lantas apakah pertemanan ini akan lanjut kepada anak-anak mereka pada generasi selanjutnya? Kita lihat saja.

Nono Anwar Makarim dan Mochtar Lubis: Macan Pers

Sulit melacak dimana Nono (Anwar) Makarim bersekolah. Tentu saja anak-anak Anwar Makarim tidak lagi bersekolah di sekolah-sekolah Eropa/Belanda. Informasi pertama (data tertua) tentang Nono Makarim  yang tersedia menyebutkan bahwa Nono Makarim adalah salah satu pemimpin mahasiswa (lihat  Algemeen Handelsblad, 20-06-1967) dan redaktur majalah KAMI (lihat Limburgsch dagblad, 19-08-1968). Sumber lain menyebutkan Nona Makarim adalah mahasiswa Universitas Indonesia dan menjadi redaktur majalah KAMI sejak 1966.

KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) adalah suatu front mahasiswa, kelompok anti-komunis yang beranggotakan kaum muda (umumnya mahasiswa) yang dibentuk pada 27 Oktober 1965. Organisasi ini didukung oleh TNI-AD. Setelah terjadi demonstrasi ke Istana pada bulan Februari 1966, Presiden Sukarno melarang organisasi, tetapi tentu saja tetap berjalan. Majalah KAMI adalah organ pendukung KAMI yang mana sebagai redaktur adalah Nono Makarim. Pimpinan KAMI antara lain Cosmas Batubara, Akbar Tandjung, Abdul Gafur, Sofyan Wanandi dan David Napitupulu. Selain KAMI mahasiswa juga terbentuk front-front yang lain sepertia Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia (KASI) yang dipimpin oleh Adnan Buyung Nasution SH.

Pembentukan KAMI, penerbitan majalah KAMI adalah awal sejarah Nano Makarim. Ini mengingatkan kisah awal ayahnya, Anwar Makarim di Pekalongan. Sebagaimana telah dicatat di atas, Anwar Makarim memulai berpartisipasi aktif dalam berorganisasi di Pekalongan, suatu organisasi yang dibentuk tahun 1936 yang disebut Persatoean Arab Indonesia (PAI), Tidak hanya sang ayah yang aktif berorganisasi tetapi juga sang ibu Salmah Makarim, sebagai seorang perempuan yang menjadi pimpinan perempuan sayap PAI di Pekalongan. Darah aktivis pada orang tua (ayah dan ibu) kini muncul dalam diri Nono Makarim.

Tidak diketahui secara jelas mengapa majalah KAMI diterbitkan dan juga tidak begitu jelas mengapa nama Nono Makarim hadir (muncul ke permukaan). KAMI saat itu boleh dikatakan sebagai gerakan aktif mahasiswa anti komunis pasca G30 S/PKI. Tinjauan kristis di dalam berita dan artikel majalah KAMI yang dipimpin oleh Nono Makarim sempat dilarang oleh Presiden Soekarno. Namun KAMI tetap eksis bahkan setelah jatuhnya rezim Soekarno.    

Rezim Soekarno jatuh (orde lama) dan terbentuk rezim baru (Soeharto). KAMI, majalah KAMI dan Nono Makarim berada di lingkaran titik kritis itu. Posisi GPS Nono Makarim dalam radar politik masa itu sangat strategis (dari mana datang berlayar dan kemana harus mendayung. Dalam kiprahnya, majalah KAMI yang vis-a-vis Nono Makarim tidak pernah menjual hasil perjuangan dan juga tidak bersedia dibeli. Hal ini karena rezim baru juga secara halus mulai membatasi ‘gerakan’ perjuangan, termasuk eksistensi KAMI dan semangat Nono Makarim dan kawan-kawan. Ini bermula ketika pemerintah melalui Menteri Penerangan Laksda Boediardjo coba mulai menjerat pers dengan penerbitkan peraturan baru (Algemeen Handelsblad, 19-06-1969).

Disebutkan Menteri Penerangan telah menetapkan pengaturan untuk menentukan siapa yang diakui sebagai jurnalis Indonesia. Dalam aturan ini seorang jurnalis harus mematuhi kode etik jurnalistik, tidak terlibat dalam gerakan komunis dan kegiatan kontra-revolusioner lainnya. Untuk itu, jurnalis berkewajiban untuk menjadi anggota organisasi jurnalis Indonesia yang diakui oleh pemerintah (dalam hal ini PWI). Khusus kepada kepala editor, ketentuan berlaku telah aktif dalam jurnalisme selama setidaknya lima tahun. Ketika Menteri ditanyakan dijawab: ‘Ini adalah niat saya untuk menyempurnakan mekanisme kerja sama antara pers dan pemerintah. Saya menganggap asosiasi wartawan Indonesia PWI sebagai mitra yang solid bagi pemerintah. Itulah mengapa saya ingin mendorong wartawan Indonesia untuk bergabung dengan PWI’. Lalu pers menyela: ‘Kedengarannya agak berbeda, insentif dan kewajiban tidak identik’. Di dalam Peraturan Menteri dengan jelas menyatakan bahwa seorang jurnalis Indonesia berkewajiban untuk bergabung dengan asosiasi jurnalis. Kalau tidak, dia tidak akan diakui sebagai jurnalis. Dalam hal ini tujuan pers dan tujuan pemerintah (rezim baru) di dalam persimpangan jalan. Peraturan baru ini dianalogikan seakan bahwa seorang wartawan dan seorang pilot harus memiliki semacam sertifikat yang diakui pemerintah.

Sebagian jurnalis mulai gerah dengan aturan baru dalam pers ini. Keberatan terbesar jurnalis Indonesia adalah kewajiban untuk menjadi anggota asosiasi jurnalis PWI. Ketentuan ini dipandang sebagai kontraksi dari kebebasan pers yang baru diperoleh di Indonesia. Kebebasan bersatu diakui oleh konstitusi Indonesia. Di sisi lain, jurnalis Indonesia percaya bahwa mereka juga memiliki kebebasan untuk tidak bergabung dengan organisasi tertentu. Ketentuan wajib menteri dianggap sebagai pelanggaran, tidak hanya dari kebebasan pers tetapi juga dari hak-hak dasar demokrasi individu. Dua jurnalis Indonesia yang terkenal tampaknya bereaksi. Nama Mochtar Loebis dan Anwar Makarim termasuk dalam barisan jurnalis yang tidak menjadi anggota asosiasi jurnalis PWI.

Adam Malik, yang menjabat sebagai Menteri Luar Negeri, seorang mantan jurnalis ketika ditanya oleh pers, menjawab: ‘Tampaknya ada sesuatu yang salah dengan komunikasi antara pers dan pemerintah’, lebih lanjut Adam Malik: ‘Hanya di negara totaliter wartawan dibatasi. Misalnya, jika saya tidak diakui sebagai wartawan di Indonesia, saya selalu bisa menulis untuk surat kabar asing. Mengapa tidak ada konsultasi sebelumnya antara Menteri Penerangan dan PWI?’. Pertanyaan ini sangat membebani Menteri Boediardjo. Belum diketahui apakah menteri telah berkonsultasi dengan asosiasi jurnalis sebelum menyusun peraturannya yang menyinggung. Jika ini terjadi, pengurus pusat PWI secara bersama-sama bertanggung jawab atas peraturan menteri yang ditolak oleh pers. Langkah Menteri Boediardjo ini dianggap sangat serius oleh sebagian jurnalis Indonesia. Sebab dengan peraturan itu, pemerintah akan secara sewenang-wenang mendiskreditkan dengan mencoba menempatkan pers di jaket yang ketat.

Mochtar Lubis adalah jurnalis senior dan Nono Makarim adalah jurnalis junior. Dalam hal ini Mochtar Lubis adalah orang yan sudah selesai dengan dirinya, sedangkan Nono Makarim adalah bintang baru yang cukup bersinar,  Namun yang jelas diantara kedua mereka memiliki visi yang sama soal pers, antara Mochtar Lubis dan Nono Makarim sudah terbentuk estafet. Nono Makarim yang sejatinya masih berstatus mahasiswa (Universita Indonesia) tampaknya ‘dikawal’ oleh Mochtar Lubis.

Mochtar Lubis secara historis adalah ‘anak buah’ Adam Malik (meski lahir di tempat yang berbeda, kebetulan berasal dari kampong yang sama di Kotanopan, Tapanuli Selatan). Setelah sempat ditahan di penjara Padang Sidempoean 1934 soal politik, Adam Malik merantau ke Batavia dan kemudian pada bulan Desember 1937 Adam Malik cs mendirikan kantor berita Antara untuk menggantikan kantor berita Alpena yang didirikan Parada Harahap tahun 1925 yang dibantu oleh WR Supratman. Adam Malik sebagai Redaktur (wartawan muda, usia masih 17 tahun pada waktu itu). Tahun 1942 (era pendudukan Jepang) kantor berita Antara berkolaborasi menjadi kantor berita Domei. Ini sehubungan dengan permintaan trio kolaboratoe (Soekarno, Mohamad Hatta dan Parada Harahap). Parada Harahap jurnalis senior yang pernah mendirikan surat kabar Sinar Merdeka di Padang Sidempoean (1919-1922) dan pemilik surat kabar radikal Bintang Timoer di Batavia (1926-1936) yang menjadi koordinator media di era pendudukan Jepang meminta sejumlah jurnalis muda membantunya termasuk di dalamnya Adam Malik, Mochtar Lubis, Sakti Alamsjah Siregar BM Diah Harahap. Setelah Jepang takluk (bom Hirosima dan Nagasaki) kantor berita Antara eksis kembali (seperti semula) dan dilanjutkan oleh Adam Malik dan AM Sipahutar. Pada masa kepemimpinan Adam Malik di Antara, Mochtar Loebis masuk sebagai wartawan Antara. Namun tidak lama kemudian, posisi Adam Malik digantikan oleh Mochtar Lubis karena kesibukan Adam Malik sendiri dalam urusan republik. Pada saat Belanda datang kembali, situasi menjadi berubah. Kantor berita Antara lalu ditutup oleh Belanda/NICA (lihat De tijd: dagblad voor Nederland, 21-07-1947). Mochtar Lubis lalu bergabung ke grup media Merdeka pimpinan BM Diah Harahap saat majalah republik yang baru Masa Indonesia (The Times of Indonesia) dimana Mochtar Lubis sebagai redaktur. Namun dalam perkembangannya, Mochtar Lubis digeser menjadi editor kepala majalah bergambar Merdeka, group koran Merdeka. Namun tidak lama kemudian kantor berita Antara diizinkan kembali beroperasi Mochtar Lubis kiembali menjadi kepala editor dan kantor berita Antara akan melayani kembali koran republik Merdeka (lihat (lihat Het dagblad: uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 04-03-1948). Mochtar Lubis dan Adam Malik adalah estafet insan pers dari Padang Sidempoean yang telah dirintis Parada Harahap. Segera setelah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda, Mochtar Lubis mendirikan koran baru yang diberi nama Indonesia Raya yang sekaligus bertindak sebagai editor. Sementara itu kawan seperjuangannya Sakti Alamsjah dengan kawan-kawannya di Bandoeng mendirikan surat kabar Pikiran Rakjat (Uniknya Indonesia Raja dan Pikiran Rakjat memiliki motto yang sama: ‘Dari Rakyat, Oleh Rakyat dan Untuk Rakyat’. Singkat cerita: Adam Malik (kantor berita Antara) menjadi Menteri Luar Negeri, BM Diah (surat kabar Merdeka) menjadi Menteri Penerangan. Menteri Penerangan yang baru Boediardjo menggantikan posisi BM Diah. Itulah mengapa ketika Menteri Penerangan coba membatasi pers, Menteri Luar Negeri Adam Malik menjawab ketika dikonfirmasi oleh pers. Dalam hal ini Mochtar Lubis (Indonesia Raja) dan Nono Makarim (KAMI) juga ada yang mengawal.

Setelah soal pers mulai kondusif lagi, Nono Makarim mulai mengurangi beban tugasnya di harian KAMI. Nono Makarim tampaknya ingin segera menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Hukum, Universitas Indonesia. Pengganti kepala redaktur di harian KAMI adalah Ismi Hadad, usia 30 tahun (lihat Nieuwsblad van het Noorden, 19-10-1970). Dalam berita ini disebutkan harian KAMI bertiras 10.000 sebagai corong mahasiswa yang mana Ismi Hadad dibantu sebanyak 21 jurnalis tetap. Juga disebutkan Ismi Hadad akan menemui hambatan karena cara berpikir yang berbeda dari Jenderal Soemitro (wakil Komkamtib). Namun Nono Makarim dan Ismi Hadad merasa tidak perlu khawatir sebab di kampus UI telah lahir seorang junior baru yang lebih militan. Seperti sebelumnya disebutkan Ismi Hadah bahwa jurnalisme bukan hanya sebuah profesi, tetapi di atas semua itu adalah misi di garis depan demokrasi Indonesia (lihat Nieuwsblad van het Noorden, 19-10-1970).

Nono Makarim diantara kesibukannya, juga mendirikan suatu lembaga yang tidak terkait dengan gerakan mahasiswa. Lembaga tersebut menurut sumber pers Belanda adalah Instituut voor Research, Opvoeding en Informatie voor Sociale en Economische Zaken (lihat NRC Handelsblad, 18-09-1971). Lembaga ini tentu saja mirip apa yang disebut sebagai Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) yang didirikan pada tanggal 19 Agustus 1971. Untuk sekadar mengenang: Pada tahun 1991 saya lulus seleksi di LP3ES tetapi karena waktu yang bersamaan juga lulus seleksi di lembaga riset di Universitas Indonesia, saya harus pilih satu. Pendirian lembaga LP3ES ini oleh Nono Makarim boleh jadi terinspirasi dari pendirian Lembaga Bantuan Hukum (LBH) yang digagas oleh Adnan Buyung Nasution yang didirikan pada tanggal 28 Oktober 1970.

Nono Makarim berhasil menyelesaikan studinya dan meraih gelar sarjana hukum (SH) pada tahun 1973. Segera setelah lulus, Nono Makarim tampaknya ‘dikirim’ ke luar negeri ke Harvard. Namun mahasiswa tetaplah mahasiswa. Seorang mahasiswa dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia muncul ke permukaan yang bernama Hariman Siregar, kelahiran Padang Sidempoean yang terpilih sebagai ketua dewan mahasiswa (DEMA) Universitas Indonesia (1973).

Nieuwsblad van het Noorden, 19-10-1970
Dewan Mahasiswa Uiniversitas Indonesia bermula dan dibentuk tahun 1952. Saat itu fakultas-fakultas Universitas terdapat di Jakarta, Bogor dan Bandoeng. Lalu dibentuk dua kedewanan yakni Dewan Mahasiswa UI Jakarta (kedokteran, hukum, ekonomi dan sastra) (plus Bogor pertanian dan kedokteran hewan) dan Dewan Mahasiswa UI Bandoeng (teknik dan MIPA). Ketua Dewan Mahasiswa UI Jakarta (1952-1954) adalah Widjojo Nitisastro (Fakultas Ekonomi) dan Ketua Dewan Mahasiswa UI Bandoeng adalah Januar Hakim (Fakultas Teknik Sipil). Januar Hakim adalah anak dari Abdul Hakim Harahap yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Sumatra Utara, alumni Prins Hendrik School di Batavia, lulus 1927 (senior dari Anwar Makarim yang masuk 1930 dan Soemitro Djojohadikoesoemo yang masuk 1929). Widjojo Nitisastro adalah mahasiswa dari Soemitro Djojohadikoesoemo (yang saat itu menjadi dekan fakultas ekonomi UI).

Cikal bakal Dewan Mahasiswa UI sejatinya sudah terbentuk pada tahun 1947, Saat itu Universitas Indonesia masih bernama Universiteit van Indonesie. Ida Nasoetion (Departemen Sastra) dan G. Harahap (Departemen Publisistik) yang sama-sama kelahiran Padang Sidempoean menginisasi dan meresmikan organisasi mahasiswa dengan nama Perhimpunan Mahasiswa Universitas Indonesia yang disingkat PMUI pada tanggal 20 November 1947 (lihat Het dagblad :uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 05-04-1948). Pada awal organisasi mahasiswa ini didirikan anggotanya baru sebanyak 30 mahasiswa dan lambat laun sebelum ulang tahun yang pertama anggotanya sudah menjadi 100 mahasiswa (hanya memperhitungkan yang di Batavia). Ida Nasoetion adalah presiden pertama perhimpunan mahasiswa Indonesia. Sementara itu Jogjakarta, Lafran Pane, kelahiran Padang Sidempoean beberapa bulan sebelumnya telah mendirikan organisasi mahasiswa tanggal 5 Februari 1947 yang diberi nama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Lafran Pane kemudian menjadi Presiden pertama HMI.  

Last but not least: Organisasi mahasiswa Indonesia pertama didirikan pada tanggal 24 Oktober 1908 di Leiden. Organisasi ini digagas oleh Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan kelahiran Padang Sidempoean dan menjadi presiden pertama. Organisasi ini diberi nama Indische Vereeniging (Perhimunan Hindia). Pada tahun 1922 Dr. Soetomo dkk mengubah namanya menjadi Indonesiasche Vereeniging. Lalu terakhir pada era kepengurusan Mohamad Hatta dkk pada tahun 1924 namanya kembali diubah menjadi Perhimpoenan Indonesia (PI). Dalam hal ini, serba kebetulan pendiri organisasi mahasiswa berasal dari Padang Sidempoean (Tapanuli Selatan): Soetan Casajangan, Lafran Pane, Ida Nasution dan (tentu saja) Januar Hakim Harahap.

Sepulang dari studi, dan menyelesaikan master hukum di Harvard Law School tahun 1975, Nono Makarim pulang ke tanah air. Nono Makarim bekerja di Kantor Hukum Adnan Buyung Nasution di Djakarta. Sebagaimana diketahui bahwa Adnan Buyung Nasution selain lulusan UI juga adalah master dalam bidang hukum lulusan Uni. Melbourne tahun 1960. Boleh dikatakan duo praktisi hukum militan ini yang merupakan lulusan UI dan sama-sama master dari luar negeri.

Peristiwa Malari 1974
Sebagai seorang aktivis meski jauh di negeri orang, Nono Makarim terus memantau perkembangan gerakan mahasiswa di Indonesia. Selama Nono Makarim studi di Amerika Serikat (1973-1975), telah terjadi demonstrasi mahasiswa di Jakarta yang menyebabkan kerusuhan pada tanggal 15 Januari 1974. Peristiwa ini kini disebut peristiwa Malari (malapetaka lima belas Januari). Akibat peristiwa ini Jenderal Soemitro dicopot. Tentu saja ketua Dewan Mahasiswa UI, Hariman Siregar ditangkap dan ditahan, Sejumlah tokoh lainnya ditangkap dan ditahan termasuk Mochtar Lubis (redaktur Indonesia Raya) dan pengacara Adnan Buyung Nasution. Hariman Siregar di pengadilan 21 Desember 1974 divonnis hukuman penjara selama 6.5 tahun. Adnan Buyung Nasution dibebaskan pada bulan Oktober 1975..  

Dalam perkembangannya Nono Makarim kembali ke Amerika Serikat untuk melanjutkan studinya ke tingkat doktoral di Harvard Law School. Pada tahun 1978 Nono Makarim meraih gelar doktor (Ph.D) dengan disertasi berjudul Companies and Business in Indonesia. Nono Makarim, Ph.D kembali bekerja di kantor hukum Adnan Buyung Nasution.

Adnan Buyung Nasution tetaplah Adnan Buyung Nasution. Cara pandang kritisnya pada pemerintah tidak pernah surut. Akibat berbagai tekanan pemerintah terhadap sepak terjang Adnan Buyung Nasution dalam advokasi hukum mengungsi ke Belanda. Dalam kesempatan menyendiri ini di Belanda, Adnan Buyung mengikuti program doktoral dan berhasil gelar doktor (Ph.D) dalam bidang hukum pada tahun 1992 di Utrecht.

Orang Indonesia pertama peraih gelar doktor hukum adalah Mr. Gondokoesoemo dan RM Koesoema Atmadja tahun 1922. Lalu kemudian R Soegondo pada tahun 1923 serta menyusul Alinoedin Siregar gelar Radja Enda Boemi pada tahun 1925. Empat pertama doktor hukum ini lulus di Univ. Leiden. Orang Indonesia pertama Indonesia sendiri yang meraih gelar doktor (Ph.D) adalah Husein Djajadiningrat pada tahun 1913 di Univ. Leiden. Hingga tahun 1933 jumlah orang Indonesia yang meraih gelar doktor (Ph.D) di luar negeri baru sebanyak 26 orang dan hanya satu orang perempuan yakni Ida Loemongga Nasution di Utrecht.  Daftar lengkapanya adalah sebagai berikut: (1) Husein Djajadiningrat (Indologi, 1913); (2) Dr. Sarwono (medis, 1919); (3) Mr. Gondokoesoemo (hukum 1922); (4) RM Koesoema Atmadja (hukum 1922); (5) Dr. Sardjito (medis, 1923); (6) Dr. Mohamad Sjaaf (medis, 1923); (7) R Soegondo (hukum 1923); (8) JA Latumeten (medis, 1924); (9) Alinoedin Siregar gelar Radja Enda Boemi (hukum, 1925); (10) R. Soesilo (medis, 1925); (11) HJD Apituley (medis, 1925); (12) Soebroto (hukum, 1925); (13) Samsi Sastrawidagda (ekonomi, 1925); (14) Poerbatjaraka (sastra, 1926); (15) Achmad Mochtar (medis, 1927); (16) Soepomo (hukum, 1927); (17) AB Andu (medis, 1928); (18) T Mansoer (medis, 1928); (19) RM Saleh Mangoendihardjo (medis, 1928); (20) MH Soeleiman (medis, 1929); (21) M. Antariksa (medis, 1930); (22) Sjoeib Proehoeman (medis, 1930); (23) Aminoedin Pohan (medis, 1931); (24) Seno Sastroamidjojo (medis, 1930); (25) Ida Loemongga Nasution (medis, 1931); (26) Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia (sastra dan filsafat, 1933). Jumlah doktor terbanyak berasal dari (pulau) Djawa, yang kedua dari Residentie Tapanoeli. Cetak tebal adalah doktor-doktor asal Afdeeling (kabupaten) Padang Sidempoean, Tapanoeli Selatan.

Mereka yang disebut di atas semuanya mendapat gelar Ph.D di Belanda. Orang Indonesia terakhir yang meraih gelar Ph.D di Belanda Ong Eng Bie (ekonomi, Amsterdam, 1942), Soemitro Djojohadikoesoemo (ekonomi, Rotterdam, 1942) dan Masdoelhak Nasution (hukum, Utrecht, 1942) dan Tan Goan Po (ekonomi, Amsterdam, 1942),. Untuk sekadar diketahui dua yang pertama pernah menjadi menteri. Ong Eng Bie (kabinet Amir Sjarifoeddin Harahap) dan Soemitro Djojohadikoesoemo (kabinet Natsir). Soemitro Djojohadikoesoemo (ayah Prabowo Subianto) adalah kakak kelas Anwar Makarim (kakek Nadiem Makarim) di Prins Hendrik School Batavia. Masdoelhak Nasution, Ph.D adalah penasehat hukum Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohamad Hatta. Masdoelhak Nasution, Ph.D ditangkap saat Agresi militer Belanda 19 Desember 1948 di Jogjakarta dan ditembak/hukum mati oleh Belanda beberapa hari kemudian. Tan Goan Po bersama Soemitro Djojohadikoesoemo menjadi dosen di Fakultas Ekonomi, UI. Entah kebetulan, tiga Nasution sama-sama meraih gelar doktor (Ph.D) di Univ. Utrecht: Ida Loemongga Nasution, 1930; Masdoelhak Nasution, 1942; dan Adnan Buyung Nasution, 1992.

Setelah perang kemerdekaan dan pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda, sejumlah pemuda mulai merintis program doktoral di luar negeri. Dua orang pertama yang diberitakan berhasil meraih gelar doktor (Ph.D) di luar negeri yakni Arifin M. Siregar dan Widjojo Nitisastro. Arifin M. Siregar memulai tingkat sarjana di Economische Hoogeschool Rotterdam tahun 1953 (lihat Het Parool, 18-06-1954) dan kemudian melanjutkan studi tingkat doktoral (Ph.D) pada bidang ekoomi di Universität Münster, West Germany dan lulus tahun 1960. Drs. Widjojo Nitisastro berhasil meraih Ph.D di University of California at Berkeley pada bidang ekonomi tahun 1961. Tentu saja dalam fase inilah BJ Habibie meraih gelar Ph.D pada bidang teknik di Jerman.

Pada 1980 Nono Makarim mendirikan kantor hukum bersama Frank Taira Supit teman seperjuangannya ketika studi di Harvard. Kantor hukum mereka disebut Makarim & Taira S. Salah satu stafnya bernama Hotman Paris Hutapea.

Nono Makarim menikah dengan Atika Algadri. Nono Makarim dan Atika Algadri adalah ayah dan ibu dari Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada saat ini. Atika Algadri adalah anak dari Hamid Algadri. Ayah Nono Makarim (Anwar Makarim) dan Hamid Makarim (ayah Atika Algadri) sama-sama pernah sekolah di Prins Hendrik School Batavia. Pada era Perang Kemerdekaan, Anwar Makarim berada di wilayah Negara Pasoendan (di Bandoeng), dan Hamid Algadri berada di wilayah RI (Jogjakarta).

Hamid Algadri setelah lulus di sekolah Prins Hendrik School melanjutkan studi ke sekolah tinggi hukum (Rechtjoogeschool) di Batavia, 1936. Di sekolah hukum ini terdapat dua tokoh pemuda yakni Amir Sjarifoeddin Harahap (masuk pada tahun 1927) dan Mohamad Jamin. Pada Kongres Pemuda 1928 keduanya bertindak sebagai Sekretaris (Mohamad Jamin) dan Bendahara (Amir Sjarifoeddin Harahap). Oleh karena keduanya sangat aktif dalam partai politik, baru tahun 1937 Amir Sjarifoeddin Harahap lulus dan ditempatkan sebagai pengacara di Soekaboemi (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 11-12-1937). Dua tahun kemudian pada tahun 1939 Hamid bin Mohamad Algadri lulus ujian bagian kedua di Rechthoogeschool di Batavia (lihat De Indische courant, 10-08-1939). Pada pembentukan GAPI tahun 1939 Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap (partai Gerindo) duduk sebagai salah satu pimpinan. Hamid Algadri berpartisipasi sebagai perwakilan partai PAI (partai Persatoean Arab Indonesia).

Algemeen Indisch dagblad, 27-05-1947
Setelah Indonesia merdeka, pada saat Belanda/NICA kembali ke Indonesia, dibentuk kabinet parlementer (pada November 1945) yang mana dua matahari Soetan Sjahrir sebagai Perdana Menteri dan Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap sebagai Menteri Penerangan. Untuk membantu sekretariat Kementerian Penerangan, Mr Amir Sjarifoeddin Harahap meminta temannya Mr. Hamid Algadri sebagai kepala sekretariat Kementerian Penerangan. Ketika Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap diangkat sebagai Perdana Menteri (menggantikan Sjahrir) dan merangkap sebagai Menteri Pertahanan pada bulan Juli 1947 jabatan Kepala Sekretariat Kementerian Penerangan masih dijabat terus oleh Mr. Hamid Algadri. Dalam fase inilah Mr. Hamid Algadri juga aktif berpartisipasi dalam persiapan dan pelaksanaan konferensi Linggarjati yang dipimpin oleh Soetan Sjahrir dan konferensi Renville yang dipimpin oleh Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap. Pada bulan Januari 1948 kabinet Amir Sjarifoeddin Harahap berakhir (dan digantikan kabinet Mohamad Hatta), jabatan Mr. Hamid Algadri juga berakhir di pemerintahan. Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap dan Mr. Hamid Algadri memiliki masa jabatan yang sama di pemerintahan.

Provinciale Drentsche en Asser courant, 23-08-1949
Pada konferensi KMB di Den Haag yang dimulai pada tanggal 23 Agustus 1949 komunitas Arab akan disertakan. Disebutkan bahwa komunitas Arab memilih masuk di dalam delegasi Republik Indonesia. Komite Politik Kalangan Arab menominasikan nama Hamid Algadri (lihat Het dagblad: uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 16-07-1949). Sebagaimana diketahui bahwa ada empat delegasi ke KMB di Den Haag yakni delegasi RI, delegasi BFO (negara-negara atau daerah-daerah bentukan Belanda), delegasi Belanda dan delegasu UNCL. Rombongan Republik yang mana di dalamnya termasuk Hamid Algadri tiba di Belanda tanggal 22 (lihat Provinciale Drentsche en Asser courant, 23-08-1949). Dalam delegasi RI dari wilayah Tapanoeli dipimpin oleh Abdul Hakim Harahap. Salah satu dari delegasi RI dari ibukota Jogjakarta adalah Prof. Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia, Ph.D, setelah beberapa hari di Den Haag berangkat ke Amerika Serikat untuk menghadiri Sidang Umum PBB. Soetan Goenoeng Moelia adalah Menteri Pendidikan RI yang kedua (menggantikan Ki Hadjar Dewantara). Sepulang dari KMB, Abdul Hakim Harahap menjadi Wakil Perdana Menteri RI di Jogjakarta (21 Januari 1950-6 September 1950).

Algemeen Indisch dagblad : de Preangerbode, 19-10-1950
Hasil KMB tidak membuat nyaman. Para Republiken, terutama di Sumatra Timur terus memperjuangkan negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Lalu di Negara Sumatra Timur diadakan referendum yang dimenangkan oleh Republiken. Lalu pemerintah pusat mengadopsi NKRI dan membubarkan RIS pada tanggal 17 Agustus 1950. Pada tanggal 6 September kemudian Kabinet RI di Jogjakarta juga dibubarkan. Sementara itu diantara kalangan orang Arab masih terkotak-kota dalam tiga kelompok. Lalu ada upaya untuk menyatukannya menjadi satu federasi saja Arabittah Allawijjah (keturunan Nabi), Al Irshad (Indo Arab yang lahir di Indonesia) dan Alketirijjah (pecahan dari Al Irshad). Upaya ini berhasil yang mana semuanya menjadi warga RI (lihat Algemeen Indisch dagblad : de Preangerbode, 19-10-1950). Juga disebutkan bahwa saat ini terdapat empat perwakilan minoritas Arab yang ditunjuk pemerintah di parlemen yakni Hamid Algadri, Achmad bin Sjechan Bahmid, Sajid Bahreisj dan Abdurrachman Baswedan. Mereka berampat inilah yang cukup berperan mempersatukannya. Dalam kongres yang diadakan di Malang tanggal 21 hingga 26 Desember komunitas Arab sepakat membentuk federasi tunggal yang disebut Badan Konferensi Bangsa Indoncsia Turunan Arab (lihat De vrije pers: ochtendbulletin, 29-12-1950). Disebutkan susunan pimpinan adalah Hamid Algadri, Said Bahresj dan  Husain Basagih yang mana sebagai penasihat adalah AR Baswedan.  Satu resolusi yang dihasilkan dalam kongres tersebut adalah meminta Pemerintah untuk tidak memperlakukan apa yang disebut kelompok minoritas dengan cara khusus (dengan kata lain: diperlakukan sebagai bangsa Indonesia). Untuk sekadar catatan tambahan: Pada bulan Januari 1951 Abdul Hakim Harahap diangkat menjadi Gubernur Sumatra Utara (Tapanuli, Atjeh dan Sumatra Timur).

Het vrije volk: democ.-socialistisch, 10-08-1955
Hamid Algadri yang telah menjadi anggota parlemen sejak 1950 (Partai Sosialis Indonesia/PSI) pada Pemilu 1955 termasuk salah satu kandidat dari PSI (Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 11-03-1955). Namun sebelum pemilu yang akan diadakan pada bulan September 1955, Burhanuddin Harahap diangkat sebagai Perdana Menteri menggantikan Ali Sastro Amidjojo. Dalam susunan kabinet yang diumumkan oleh Buhanuddin Harahap (Masjumi) terdapat dua nama: Abdul Hakim Harahap dari Mashumi dan Hamid Algadri dari PSI (lihat Het vrije volk: democratisch-socialistisch dagblad, 10-08-1955). Dalam susunan kabinet Burhanuddin ini terdapat dua dari PSI, selain Hamid Algadri adalah Prof Soemitro Djojohadikoesoemo (dekan Fakultas Ekonomi UI). Namun dalam perkembangannya pilihan Mr. Burhanuddin Harahap ini tidak disetujui oleh partainya dan mengajukan nama Lukman Wiriadinata untuk menggatikan Hamid Algadri (lihat Het vrije volk: democratisch-socialistisch dagblad, 11-08-1955). Hamid Algadri yang ‘direkrut’ oleh Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap pada November 1945, gagal sudah sudah Hamid Algadri menjadi menteri. Burhanuddin Harahap coba mempertahankan Hamid Algadri namun tidak berdaya karena desakan partai Hamid Algadri sendiri (PSI yang nota bene dipimpin oleh Soetan Sjahrir). Meski demikian, Hamid Algadri terpilih sebagai anggota parlemen (dari PSI) pada Pemilu 1955. Karir politik Hamid Algadri belum tamat.

Satu pertanyaan yang masih tersisa adalah mengapa Nono Makarim sangat aktif berpartisipasi dalam perjuangan mahasiswa untuk melawan komunis dan menumbangkan rezim orde lama yang dipimpin oleh Presiden Soekarno. Lalu di tangan Nano Makarim, majalah/harian KAMI menjadi sangat powerful. Apakah karena pengaruh langsung atau tidak langsung dari Hamid Algadri?

Komunitas Arab telah memperjuangkan eksistensinya menuju terbentuknya Indonesia. Ini dimulai dengan pembentukan Persatoean Arab Indonesia yang kemudian bergeser menjadi partai politik. Pada saat dibentuk GAPI tahun 1939 Partai PAI ikut bergabung untuk menjadi Indonesia seutuhnya (berseberangan dengan Belanda). Dalam pembentukan BPUPKI golongan Arab terwakili melalui AR Baswedan. Dalam perang kemerdekaan, meski banyak anggota komunitas Arab yang terbuka kepada kehadiran Belanda/NICA namun tokoh Hamid Algadri yang 100 persen RI (Jogjakarta) menyebabkan marwah komunitas Arab-Indonesia tetap terjaga. Akhirnya pasca berakhirnya RIS dan terbentuknya NKRI, komunitas Arab menyatukan barisan dalam satu federasi. Hamid Algadri dan AR Baswedan sangat berperan.

Situasi cepat berubah. Ketika Perdana Menteri Burhanuddin Harahap mengangkat Hamid Algadri sebagai Menteri Kehakiman, muncul ketidak sepakatan. Akhirnya, oleh partainya sendiri (PSI) menganulir Hamid Algadri sebagai Menteri Kehakiman. Namun Hamid Algadri tidak putus asa dan terus berjuang dan akhirnya terpilih sebagai salah satu anggota parlemen hasil Pemili 1955. Meski Hamid Algadri mewakili PSI, sejatinya perwakilan dari komunitas minoritas (Tionghoa dan Arab) tetap mendapat jatah di parlemen. Pada Kabinet Ali Sastroamidjojo (yang menggantikan Kabinet Burhanuddin Harahap), jatah tersebut ingin dihapus. Lalu muncul interpelasi yang diinisiasi oleh Siauw Giok Tjhan (Baperki). Interpelasi ini juga mendapat dukungan kuat dari Masjumi. Hamid Algadri (PSI) menyindir pemerintah dengan menyatakan bahwa kelompok Arab telah lama dianggap sebagai kelompok minoritas (mendapat jatah, seperti dirinya menjadi anggota parlemen sebelum Pemilu 1955). Untuk mewakili kelompok ini, pemerintah harus memperhitungkan fakta bahwa mayoritas kelompok ini memiliki lebih banyak gagasan sosialis (lihat Algemeen Indisch dagblad : de Preangerbode, 01-11-1956). Dalam hal ini Hamid Algadri meminta pemerintah untuk memberi jatah kepada kelompok minoritas. Tampaknya partai PKI (pemenang keempat pemilu) yang bermain di belakang dengan kebijakan untuk menghapus jatah tersebut. Boleh jadi karena itu Hamdi Algadri menggarisbawahi dengan menyatakan bahwa sebagian besar kelompok minoritas Arab memiliki lebih banyak gagasan sosialis. Apakah pernyataan ini juga sekaligus untuk menyindir orang-orang di partinya sendiri PSI yang menganulir dirinya sebagai kandidat Menteri Kehakiman?

Hamid Algadri adalah tokoh Arab Indonesia yang sangat kuat. Tokoh yang kemudian berseberangan dengan partai PKI. Lantas apakah Nono Makarim telah mengidolakan tokoh Hamid Algadri? Hamid Algadri kelak menjadi mertua Nono Makarim.

Melacak Marga Makarim, Bermula di Chirebon: Sech Achmad dan Sech Oemar

Satu pertanyaan yang tersisa adalah siapa sesungguhnya Anwar Makarim, ayah dari Nano Makarim atau kakek dari Menteri Nadiem Makarim? Di Wikipedia disebut ayah Nano Makarim berasal dari Minangkabau. Lantas dimana kampongnya di West Sumatra? Mari kita lacak lebih lanjut.

Nederlandsch-Indisch handelsblad, 15-06-1832
Nama Makarim kali pertama diberitakan dalam berita kapal pada tahun 1832 (lihat Javasche courant, 22-05-1832). Disebutkan bahwa tanggal 14 Mei tiba di Semarang (kapal) Joeder Karim yang dinakhodai Sech Achmat Makarim dari Tagal. Kapal tersebut berangkat ke Pekalongan, Tagal dan Chirebon (Lihat Javasche courant, 05-06-1832). Lalu kemudian kapal yang dinakhodai Achmad Makarim berangkat dari Semarang pada tanggal 27 Mei menuju Chirebon (lihat Nederlandsch-Indisch handelsblad, 15-06-1832). Demikian seterusnya. Pada tahun 1834 muncul nama Abdulrahman Makarim, pemilik dengan rute kapal Chirebon-Tagal (lihat Javasche courant, 01-02-1834). Catatan: nama Achmad Makarim adakalanya dicatat sebagai Mohamad Makarim.

Keberadaan awal nama-nama (marga) Makarim di Hindia Belanda (baca: Indonesia) adalah pengusahan kapal, melayani perdagangan antar kota. Kapal Toop yang dinakhodai oleh Sech Achmat Makarim tiba di dari Riaou dan Singapoere (lihat Javasche courant, 14-01-1835). Disebutkan kapal Toop ini membawa 14 pikol gambir, ¼ Do kulit poeloesane, 5 ½ Do beng, lijnwaden dan 5 st tapijten.

Pada tahun 1838 diberitakan nama Sech Oemar bin Abdulla Makarim  di Chirebon (lihat Javasche courant, 27-06-1838). Siapa Sech Oemar? Apakah Sech Omar dan Sech Ahmad bersaudara kandung dan ayah mereka Abdullah Makarim? Kapal Sech Oemar adalah Joussoor tercatat tiba di Batavia dari Chirebon (lihat Javasche courant, 01-12-1841). Kapal Joussoor tiba di Soerabaja (lihat Javasche courant, 22-12-1841). Pada tahun 1842 kapal Atjat Torachman yang dinakohdai Sech Oemar dari Batavia ke Tagal dam Molukko (lihat Javasche courant, 13-08-1842). Demikian seterusnya.

Nama Makarim (Sech Ahmad dan Sech Oemar) pada dasarnya berbasis di Tjirebon. Kapal-kapal mereka tidak hanya di pantai utara Jawa tetapi juga sampai ke Riaou, Singapoera dan Maluku. Paling tidak sejauh ini terdapat dua garis Makarim: Sech Achmad bin Abdulrahman Makarim dan Sech Oemar bin Said Makarim. Nama Makarim tampaknya telah menjadi suatu marga. Sech Ahmad dan Sech Oemar tampaknya sudah pensiun dari dunia pelayaran. Pada tahun 1850 muncul nama Sech Mohamad bin Ali Makarim (lihat Samarangsch advertentie-blad, 01-06-1850). Sech Mohamad anak dari Ali Makarim tampaknya melanjutkan usaha pelayaran para pamanya (Sech Ahmad dan Sech Oemar).

Samarangsch advertentie-blad, 01-06-1850
Pada tahun 1854 kapal Cecilia yang dinakhodai Sech Makarim menuju Padang (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 05-01-1853). Kapal Cecilia ke Soerabaja (lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 22-01-1853). Hingga tahun 1860 Sech Makarim masih berlayar. Kapal Gana Salim yang dinakhodai Sech Makarim menuju Tegal, Semarang dan Soerabaja (lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 19-12-1860). Pada tahun 1861 kapal Gana Salim yang dinakhodai Sech Mohamad bin Ali Makarim dari Singapoera tiba di Batavia terus ke Indramajoe dan Tegal (lihat Samarangsch advertentie-blad, 01-02-1861). Demikian seterusnya.

Nama keluarga Makarim di dalam dunia pelayaran sudah tidak muncul lagi. Pada tahun 1866 salah satu onggota keluarga Makarim di (kampong) Darat menjual sejumlah properti di Semarang (lihat De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad, 29-10-1866). Sudah terlihat ada yang menjadi importir (lihat Bataviaasch handelsblad, 10-08-1867). Kembali anggota keluarga Makarim menjual properti di kampong Darat (lihat De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad, 27-09-1867). Kembali terjadi penjualan properti di Darta dan kampong Malajoe (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 11-03-1868).

De locomotief : Samarangsch, 28-07-1875
Tampaknya keluarga Makarim sudah ada yang tinggal di Batavia. Disebutkan bahwa tanggal 3 April 1868 telah meninggal dunia Abdul Karim bin Said Makarim dan dimakamkan di pekuburan di Batavia (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 30-05-1868). Abdul Karim bin Said Makarim besar dugaan adalah saudara Sech Oemar bin Said Makarim. Sementara itu ada keluarga Makarim yang tinggal di Pasoeroean, Sech Said Aboebakar Makarim (De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 26-10-1869). Dari namanya diduga Sech Said Aboebakar Makarim adalah anak dari Sech Oemar bis Said Makarim. Tampaknya Sech Said Makarim telah pindah dari Pasoeroean ke Batavia (lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 11-08-1870). Sech Said Aboebakar Makarim menjadi pengusaha di Batavia (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 19-01-1871), Di Batavia muncul nama Awab Makarim (lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 17-10-1872), Sech Oemar bin Said Makarim pada tanggal 17 meninggal dunia di Semarang (lihat De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad, 20-02-1875). Peninggalan almarhum akan dilelang yang dilaksanakan oleh Sech Hoessin bin Abdullah Makarim (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 02-04-1875). Properti yang dilelang tersebut ada sebanyak 10 item (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 07-06-1875). Juga properti almarhum yang berada di Pakalongan dan Chirebon akan dijual (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 28-07-1875).

Keluarga marga Makarim semakin menyebar di berbagai kota. Pada tahun 1877 terdeteksi kapal Djoedoel Karim yang dinakhodai oleh Sech Assim bin Ali Makarim di Semarang dengan rute Soerabaja (lihat  De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad, 14-05-1877), Ini menunjukkan bahwa keluarga Makarim masih ada yang meneruskan usaha pelayaran. Kapal Djoedoel Karim yang dinakhodai oleh Sech Assim bin Ali Makarim rutenya juga sampai ke Sumanap (lihat De locomotief, 12-11-1877). Beberapa keluarga masih ada yang tinggal di Chirebon.

Bataviaasch handelsblad, 27-07-1881
Dua anggota kelarga marga Makarim dinyatakan bangkrut pada tahun 1881 (lihat Bataviaasch handelsblad, 27-07-1881). Disebutkan menurut vonis Dewan Kehakiman di Batavia, mereka dinyatakan bangkrut, orang Arab Secb Achmad bin Abdullah Makarim dan Sech Abdullah bin Salim Makarim keduanya pedagang, yang tinggal di Gebang (Cheribon). Selanjutnya diberitakan bahwa properti Secha Fatma binti Oemar bin Said Makarim dilelang di Semarang (lihat De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad, 07-05-1885). Nama Sech Awab (bin Said) Makarim di Batavia dikabarkan telah meninggal (lihat Bataviaasch handelsblad, 26-05-1886). Sech Awab terbilang cukup kaya semasa hidup (di Batavia). Di Batavia disebutkan Sech Achmad Makarim yang beralamat di kampong Malajoe menyewakan rumahnya di Kortademsstraat 179 (lihat De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad, 28-03-1887) dan di Kerkhofstraat (lihat De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad, 04-01-1890). Pemilik toko di Pekodjan Sech Mohamad bin Ali Makarim (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 26-02-1891). Sech Mohamad bin Awab Makarim memiliki gudang di Batavia yang disewakan (lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 13-08-1891). Sech Mohamad bin Ali Makarim tinggal di Tanah Abang (lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 21-01-1892). Sech Mohamad bin Awab Makarim dinyatakan bangrut (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 09-12-1893). Sech Mohamad bin Awab Makarim membeli lahan di Batavia (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 16-02-1895). Di Soerbaja seorang keluarga Makarim berperkara (lihat Soerabaijasch handelsblad, 15-11-1895). Sech Mohamad bin Ali Makarim di Batavia (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 21-03-1899).

Pada tahun 1899 Mohamad Makarim dengan tiga anak berangkat ke Singapoera (lihat De Preanger-bode, 29-11-1899). Pada tahun 1904 tiga orang Makarim berangkat dari Batavia dengan kapal ss Koningin Wilhelmina dan turun di Padang (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 21-12-1904). Dalam manifest kapal ketiga Makarim tersebut adalah Sech Ali bin Mohamad Makarim, Sech Achmad bin Ali Makarim dan Sech Mohamad bin Abdoelah Makarim. Beberapa bulan kemudian Sech Salim bin Mohamad Makarim berangkat dari Batavia dengan kapal ss Mossel ke Padang (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 14-08-1905).

Het nieuws van den dag voor N-Indie, 21-12-1904
Hingga tahun 1905 Makarim yang terkenal di Batavia adalah Sech Mohamad bin Awab Makarim. Keluarga (marga) Makarim mulai menyebar ke Sumatra dan Singapoera. Paling tidak sudah ada empat orang keluarga (marga) Makarim di Padang. Pada bulan November 1905 kembali tercatat nama Sech Salim bin Mohamad Makrim dari Batavia dengan kapal ss Reael berangkat ke Padang (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 30-11-1905). Keluarga Makarim juga ada yang tinggal di Merauke (lihat De Preanger-bode, 07-12-1905).

Yang kerap bolak balik Batavia-Padang adalah Sech Salim bin Mohamad Makarim. Lantas muncul pertanyaan apakah Sech Salim bin Mohamad Makarim adalah ayah atau saudara/sepupu dari tiga Makarim lainnya yang ada di Padang? Dalam perkembangannya hanya satu nama Makarim yang kerap muncul di Padang yakni Sech Salim Makarim. Pada bulan November 1907 (Sech) Salim (bin Mohamad) Makarim diketahui berkunjung ke Kotaradja, Atjeh (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 13-11-1907).

Pada tahun-tahun dimana Sech Salim bin Mohamad Makarim mulai menetap di kota Padang, Dja Endar Moeda adalah tokoh terkenal di kota Padang. Dja Endar Moeda diketahui adalah seorang pensiunan guru. Setelah pulang haji dari Mekkah, Dja Endar Moeda menetap di kota Padang dan mendirikan sekolah (swasta( di kota Padang pada tahun 1895. Dja Endar Moeda banyak menulis buku, buku pelajaran sekolah dan buku umum termasuk novel. Pada tahun 1897 Dja Endar Moeda menjadi editor surat kabar berbahasa Melayu milik investor Eropa di Padang yakni Pertja Barat. Pada tahun 1900 Dja Endar Moeda diketahui telah mengakuisisi surat kabar Pertja Barat termasuk percetakannya. Dalam hal ini boleh dikatakan Dja Endar Moeda adalah orang pribumi pertama yang menjadi editor surat kabar (inestasi Eropa) dan juga orang pribumi yang memiliki percetakan. Pada 1900 ini Dja Endar Moeda mendirikan surat kabar yang baru berbahasa Melayu yakni Tapian Naoeli. Masih pada tahun 1900 ini Dja Endar Moeda menggagas didirikannya organisasi kebangsaan yang disebut Medan Perdamaian yang sekaligus menjadi direktur pertama. Pasca didirikannya Medan Perdamaian, Dja Endar Moeda mendirikan lagi satu majalah bulanan berbahasa Melayu yang diberi nama Insulinde. Pada tahun 1903 Dja Endar Moeda dan Dr. Abdul Rivai serta salah satu editor majalah bulanan Insulinde berangkat ke Belanda untuk membantu majalah bulanan yang terbit di Belanda yakni Bintang Hindia. Lalu Dja Endar Moeda kembali ke Padang, tetapi Dr. Abdul Rivai menjadi editor Bintang Hindia yang dibantu oleh Djamaloedin (editor majalah Insulide). Pada tahun 1903 ini Dja Endar Moeda menikahkah putrinya bernama Alimatoe’saadiah, lulusan sekolah guru Kweekschool di Fort de Kock dengan dokter muda yang ditempatkan di Padang. Dokter muda tersebut adalah Haroen Al-Rasjid Nasution (kelahiran Padang Sidempoean). Alimatoe’saadiah adalah perempuan pribumi yang bersekolah di sekolah Eropa (ELS) di Padang. Pada tahun 1903 Dja Endar Moeda menerbitkan buku kecil untuk pedoman bagi calon haji ke Mekkah yang diadopsi oleh pemerintah dan dicetak secara luas. Pada tahun 1905 Dja Endar Moeda kembali menerbitkan surat kabar baru yang kali ini berbahasa Belaanda di Padang. Pada tahun-tahun inilah Sech Salim Makarim terdeteksi keberadaannya di Padang. Pada tahun 1905 ini Soetan Casajangan berangkat studi ke Belanda. Mahasiswa pribumi pertama di Belanda baru satu orang yakni Raden Kartono (abang dari RA Kartini). Pada tahun 1907 Dja Endar Moeda terkena delik pers dan dihukum cambuk dan diusir dari kota Padang. Lalu Dja Endar Moeda menyerahkan bisnisnya kepada adiknya Dja Endar Bongsoe. Dja Endar Moeda hijrah ke Atjeh tahun 1907 dan menerbitkan suratkabar Pembrita Atjeh di Kotaradja dan masih pada tahun yang sama bersama Sech Ibrahim mendirikan organisasi Sjarikat Tapanoeli di Medan. Pada tahun inilah diketahui Sech Salim Makarim berada di Kota Radja. Pada tahun 1908 bulan Mei di Batavia didirikan organisasi kebangsaan yang disebut Boedi Oetomo dan pada bulan Oktober 1908 Soetan Casajangan mendirikan organisasi mahasiswa di Belanda yang disebut Indische Vereeniging (kelak tahun 1923 oleh Mohamad Hatta dkk mengubah namanya menjadi Perhimpoenan Indonesia). Pada tahun 1909 Dja Endar Moeda di Medan mendirikan surat kabar Pewarta Deli.

Saleh Harahap gelar Dja Endar Moeda, kelahiran Padang Sidempoean, alumni sekolah guru Kweekschool Padang Sidempoean pada tahun 1884. Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan adalah adik kelas Dja Endar Moeda di Kweekschool Padang Sidempoean. Cucu tertua Dja Endar Moeda (anak dari Dr. Haroen Al Rasjid dan Alimatoe’saadiah) bernama Ida Loemongga yang lahir tahun 1905 di Padang adalah perempuan Indonesia pertama bergelar doktor (Ph.D). Ida Loemongga Nasution adalah lulusan sekolah Prins Hendrik School di Batavia (1922) dan meraih gelar dokter di Univ. Utrecht tahun 1927 dan kemudian pada tahun 1930 meraih gelar doktor (Ph.D) di bidang kedokteran di Univ. Amasterdam. Cucu Dja Endar Moeda yang lainnya adalah Gele Haroen (adik dari Ida Loemongga) menyelesaikan sekolah hukum dengan mendapat gelar Meester (Mr) di Universiteit Leiden tahun 1936. Gele Haroen Nasution adalah Residen pertama Lampoeng (kini sedang diusulkan menjadi Pahlawan Nasional).   

Sech Salim Makarim tetap tinggal di Padang dengan bisnisnya yang terus berkembang. Sech Salim Makarim diketahui masih kerap ke Batavia yang diduga terkait kunjungan keluarga atau urusan bisnis.

Haagsche courant, 03-12-1912
Bukti bisnisnya sudah maju di Padang dapat diperhatikan pada tahun 1912 Sech Salim Makarim sudah menumpang kapal uap pelayaran internasional Batavia-Rotterdam (lihat Haagsche courant, 03-12-1912). Di dalam manifes kapal ss Willis tercatat sebagai Sech Salim bin Mohamad bin Ali Makarim dari Batavia turun di Padang.

Dalam perkembangannya nama Salim Makarim kemudian diketahui secara lengkap dengan nama Sech Salim bin Mohamad bin Abdullah bin Ali Makarim (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 01-08-1919). Pada masa itu ada kecenderungan semakin panjang nama seseorang (ketika menuliskan namanya) menunjukkan tingkat sosial yang lebih baik.

Het nieuws van den dag voor NI, 27-11-1902
Pada tahun 1919 di kota Padang diadakan Kongres Sumatranen Bond yang pertama. Dalam kongres ini hadir berbagai perwakilan dari seluruh Sumatra. Sejumlah nama yang teridentifikasi dalam kongres ini adalah Parada Harahap sebagai pimpinan delgasi dari Tapanolei. Parada Harahap adalah pendiri dan editor surat kabar berbahasa Melayu Sinar Merdeka di Padang Sidempoean. Dari kota Padang mewakili pelajar dipimpin oleh Mohamad Hatta (masih sekolah MULO). Ketua panitia kongres ini adalah Amir, Sementara sebagai pembina kongres ini adalah Dr. Abdul Hakim (Nasution), seorang anggota dewan kota (gemeenteraad) Padang yang juga menjadi ketua organisasi NIP di wilayah Pantai Barat Sumata (Sumatra’s Westkust). Organisasi National Indische Partij didirikan tahun 1912 oleh tiga serangkai (Dr. Tjipto, Ernest Douwes Dekker kelak dikenal sebagai Dr. Setiabudi dan Soewardi Soerjaningrat kelak dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara). Dr. Abdul Hakim dan Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo adalah sekelas di Docter Djawa School (STOVIA) sama-sama lulus tahun 1905. Dr. Haroen Al Rasijd, menantu Dja Endar Moeda adalah saudara kandung Dr. Abdul Hakim. Kelak pada awal tahun 1930 Dr. Abdul Hakim menjadi wakil wali kota (Locoburgemeester) Padang dan MH Thamrin sebagai Locoburgemeester Batavia (Dr.Abdul Hakim dan MH Thamrin adalah besanan; anak Dr. Abdul Hakim bernama Mr. Egon Hakim, lulusan sekolah hukum Belanda menikah dengan putri MH Thamrin). Untuk catatan tambahan: Pada tahun 1927 Parada Harahap menggagas didirikannya supra organisasi kebangsaan yang disebut PPPKI yang mana sebagai ketua adalah MH Thamrin dan sekretaris Parada Harahap (eks editor Sinar Nmerdeka di Padang Sidempoean dan pemilik surat kabar Bintang Timoer di Batavia).

Organisasi kebangsaan Sumatranen Bond (Sumatra Sepakat) kali pertama didirikan di Belanda pada bulan Januari 1917 di Utrect, Belanda atas gagasan mahasiswa kedokteran hewan Sorip Tagor Harahap. Sebagai ketua adalah Sorip Tagor Harahap, sekretaris adalah Dahlan Abdoellah dan bendahara adalah Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia. Salah satu anggota pengurus adalah Tan Malaka. Lalu pada bulan Desember 1917 di Batavia didirikan Jong Sumatra yang mana sebagai ketua T Mansoer dan wakil ketua Abdul Moenir Nasution yang mana salah satu anggota pengurus adalah Amir (ketua kongres di Padang 1919). Kelak nama-nama tersebut cukup dikenal. Dahlan Abdoellah menjadi Wali Kota Batavia di era Jepang (di Soerabaja sebagai wali kota Dr. Radjamin Nasution); Tan Malaka sebagai tokoh politik; Soetan Goenoeng Moelia sebagai Menteri Pendidikan kedua tahun 1945 (menggantikan Ki Hadjar Dewantara); Dr, Amir menjadi Wakil Gubernur Sumatra; Sorip Tagor Harahap lebih dikenal sebagai dokter hewan pertama Indonesia. Dr. Sorip Tagor kelairan Padang Sidempoean kini lebih dikenal sebagai kakek buyut Inez dan Risty Tagor serta Destri Astriani Tagor (istri Setya Novanto, mantan ketua DPR).    

Hingga tahun 1930 Sech Salim Makarim teridentifikasi masih tetap tinggal di Padang. Namun setelah itu, Sech Salim Makarim dan keluarga diduga telah pindah ke Batavia. Kepindahan itu diduga sehubungan dengan anaknya yang ketiga, Anwar Makarim sudah bersekolah di Batavia. Dua anaknya sebelum itu sudah lebih dahulu bersekolah di Batavia. Kepindahan ini juga diduga karena bisnis Salim Makarim juga ada di Batavia.

Namun bisnis Salim Makarim di Batavia tidak berkembang baik. Bisnis Salim Makarim mengalami kemunduran dan kemudian dinyatakan pailit pada tahun 1932 (lihat De Indische courant, 18-04-1932). Disebutkan oleh Raad van Justitie te Batavia salah satu diantara yang dinyatakan pailit adalah Sech Salim Makarim yang tinggal di kota Batavia (Batavia-stad) di kampong Laksa.

Boleh jadi Sech Salim tidak memiliki hoki dalam berbisnis di Batavia. Setelah bisnisnya dinayatakan pailit di Batavia, Sech Salim Makarim dan keluarga pindah ke Pekalongan. Tentu saja Pekalongan sangat dikenal Salim Makarim, karena sebelum memperluas bisnis di Padang, Salim Makarim diketahui pernah tinggal dan memiliki bisnis di Pekalongan (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 25-09-1919).

Marga Makarim di Padang

Marga Makarim yang ada di Padang adalah keturunan dari Sech Achmad bin Abdulrahman Makarim (yang bermula di Chirebon). Makarim terkenal di Padang adalah Sech Salim bin Mohamad bin Abdullah bin Ali Makarim. Sebagai pedagang, Salim Makarim kerap ke Batavia.

Orang Timur Asing (Tionghoa dan Arab) dan pribumi sejak awal tahun 1900 dapat disetarakan sebagai orang Eropa/Belanda. Mereka yang dapat disetarakan terutama orang yang telah memberi kontribusi bagi pemerintah Hindia Belanda maupun anak-anak mereka yang dianggap potensial dalam pendidikan dan pegawai pemerintah. Orang Jepang sebelum tahun 1900 sudah disetarakan dengan orang Eropa/Belanda. Untuk golongan pribumi gagasannya bermula ketika orang pribumi beragama Kristen disetarakan dengan orang Eropa/Belanda, tetapi karena ada protes, penyetaraan itu menjadi kriterianya hanya berdasarkan kedudukan sosial di mata pemerintah.
.
Pada tahun 1921 ada sebanyak lima orang anak dari keluarga marga Makarim di Padang yang disetarakan dengan Eropa/Belanda, yakni: Sech Salim Makarim, Sech Mohamad Makarim, Sech Ali Makarim, Sech Anwar Makarim dan Siti Moehani Makarim. Daftar yang disetarakan ini dituangkan dalam Staatsblad tahun 1921 No 333 (lihat Staatsblad van Nederlandsch-Indie voor..., 1921).

Staatsblad tahun 1921 No 333
Marga Makarim yang disetarakan dengan orang Eropa/Belanda ini adalah sebagai berikut: Sech Salim Makarim adalah nama Makarim yang datang ke Padang pada tahun 1905 (sementara Sech Mohamad Makarim datang ke Padang bersama Sech Ali Makarim pada tahun 1904 diduga adalah saudara Sech Salim Makarim). Sech Salim Makarim diduga adalah ayah dari Sech Mohamad Makarim, Sech Anwar Makarim dan Sech Ali Makarim? Last but not least: Siapa Siti Moehani Makarim? Apakah Siti Moehani adalah anak dari Sech Salim Makarim? (dengan kata lain: saudara perempuan dari Sech Mohamad Makarim, Sech Anwar Makarim dan Sech Ali Makarim?). Terakhir, siapa ibu dari empat anak dari Sech Salim Makarim ini? Hanya Nadiem Makarim yang bisa menjawabnya.

Sech Salim Makarim atau nama lengkapya Sech Salim bin Mohamad bin Abdullah bin Ali Makarim memiliki istri bernama Rika (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 27-04-1920). Disebutkan Rika telah mengadopsi nama (marga) Gamaria sehingga namanya menjadi Rika Gamaria. Pada saat Rika diizinkan untuk mengadopsi nama marga Gamaria juga diumumkan oleh pengadilan bahwa nama Si Kasima, istri dari PH de Schrijver mengadopsi nama marga van Engelen.

Nederlandsche staatscourant, 09-12-1918
Proses penabalan nama marga (family name) dari Rika ini bermula ketia ia mengajukannya kepada pemerintah pada tahun 1918 (lihat Nederlandsche staatscourant, 09-12-1918). Disebutkan nengikuti Artikel 3 Ordonansi 30 Juli 1883 (Indisch Staatsblad No. 192), diumumkan bahwa perempuan pribumi Rika, di Padang, telah meminta Gubernur Jenderal Hindia Belanda untuk memberinya nama keluarga ‘Gamaria’.

Seperti biasanya saat itu, nama seorang laki-laki yang menjadi ayah dijadikan nama keluarga (marga) dan disahkan oleh pengadilan Hindia Belanda. Penabalan nama family name Rika Gamaria ini mirip dengan tradisi di Tapanoeli yang mana jika perempuan yang akan menikah tidak memiliki marga dengan sendirinya ditabalkan nama marga untuk digunakannya (biasanya marga yang digunakan mengikuti marga dari ibu si calon pengantin). Dalam kasus ini, Rika sendiri mengajukan nama Gamaria sebagai nama keluarganya. Saat itu nama Gamaria adalah nama kapal Gamaria yang berpusat di (pelabuhan) Calcutta. Lantas apakah nama perempuan pribumi yang bernama Rika mengadopsi nama Gamaria. Nama Rika pada era itu tidak ditemukan pada nama perempuan pribumi, tetapi nama Rika banyak disebut untuk nama perempuan Eropa/Belanda dan India.

Bataviaasch nieuwsblad, 27-04-1920
Sejarah penabalan nama marga (family name) dimulai pada tahun 1883 yang mana pemerintah mengakomodir bagi pribumi untuk mendaftarkan nama untuk dijadikan menjadi nama keluarga dalam bentuk peraturan perundang-undangan yakni dikeluarkannya Ordonansi 30 Juli 1883 (Indisch Staatsblad No. 192). Pada tahun 1889 di Jogjakarta seorang pribumi mendaftarkan namanya menjadi nama keluarga (Nederlandsche staatscourant, 23-08-1889). Nama pribumi tersebut adalah seorang fotografer Kassian yang dalam sehari-hari menyebut dirinya dengan inisial Chepas dan menulis namanya dengan nama Kassian Chepas. Kemudian diketahui Kassian Chepas mengajukan namanya di Djokjokarta pada tanggal 14 Juni 1888 yang ditujukan kepada Gubernur Jenderal untuk dirinya dan putranya Sem dan Tarif agar disahkan memiliki nama keluarga Cephas. Permintaan ini kemudian dikabulkan (lihat Nederlandsche staatscourant, 31-12-1889). Setelah itu beberapa nama marga baru didaftarkan, termasuk nama marga Gamaria (keluarga Rika Gamaria, istri Sech Salim Makarim) pada tahun 1920.

Pada tahun 1927 diberitakan bahwa seseorang pejabat pemerintah Soetan Sjahboedin telah mendaftarkan nama ayahnya menjadi nama keluarga (Bataviaasch nieuwsblad, 16-12-1927). Selama ini yang bersangkutan menulis namanya dengan nama Soetan Sjahboedin Proehoeman yang mana Prohoeman adalah nama ayahnya. Berdasarkan keputusan pemerintah, kepada Soetan Sjahboedin Proehoeman diberikan nama keluarga (marga) Proehoeman, keluarganya dan keturunan lainnya yang dilisensikan dengan nama keluarga. Soetan Sjahboedin adalah abang dari Dr, Sjoeib Proehoeman (yang tengah mengikuti program doktoral di bidang kedokteran di Belanda). Soetan Sjahboedin Proehoeman dan Sjoeib Proehoeman adalah anak dari Radja Proehoeman Lubis dari Pakantan (Mandailing). Si Badorang gelar Radja Proehoeman adalah alumni Kweekschool Padang Sidempoean yang melanjutkan studi (kursua) kedokteran hewan di Buitenzorg dan lulus meraih dokter hewan pada tahun 1886. Setelah ditempatkan sebagai dokter hewan pemerintah dan berapa kali pindah tempat akhirnya pada tahun 1906 Radja Proehoeman dutempatkan di Padang Sidempoean. Ketika sekolah kedokteran hewan (Veeartsenschool) dibuka tahun 1907 di Buitenzorg, Radja Proehoeman membawa Sorip Tagor ke Buitenzorg untuk seleksi dan diterima. Lalu kemudian dua tahun berikutnya tahun 1909 Radja Proehoeman, anaknya sendiri membawa ke Batavia untuk seleksi dan diterima di STOVIA. Setelah lulus dan menjadi asisten dosen di Veeartsenschool Buitenzorg, Sorip Tagor tahun 1913 melanjutkan studi ke Belanda dan lulus dokter hewan di Utrecht tahun 1920 (dokter hewan Indonesia pertama). Sedangkan Sjoeeib Proehoeman lulus STOVIA tahun 1917. Setelah berdinas sebagai dokter pemerintah dan beberapa pindah, pada tahun 1926 melanjutkan studi kedokteran ke Belanda dan meraih gelar doktor (Ph.D) tahun 1930. Nama Proehoeman sudah ditabalkan sebagai marga baru dan diduga hal yang sama terjadi pada keluarga (Sorip)Tagor. Dalam hal ini nama family name Proehoeman dan Tagor merujuk pada marga Lubis (Proehoeman sebagai cabang dari marga Lubis) dan marga Harahap (Tagor sebagai cabang dari marga Harahap).


Mengapa Rika pada tahun 1918 mengajukan nama keluarga Gamaria diduga terkait dengan pesyaratan bagi keluarga (Salim) Makarim untuk disetarakan dengan Eropa/Belanda. Proses pengajuan ini lalu dikabulkan oleh pemerintah pada tahun 1920. Selanjutnya pada tahun 1921 keluar keputusan pemerintah bahwa keluarga Makarim (Salim, istrinya Rika dan empat anak-anak mereka) telah disetarakan dengan Eropa/Belanda. Pada masa ini nama family name (marga) Proehoeman dan Tagor masih eksis, sementara nama family name Gamaria tidak eksis (hanya muncul pada nama Rika saja).

Sech Achmad bin Ali Makarim yang datang ke Padang tahun 1904 terakhir diketahui berada di Penang (lihat De Sumatra post, 18-12-1928). Disebutkan Sech Achmad bin Ali Makarim bersama istri dengan kapal ss Kedah berangkat ke Penang.

Pada tahun-tahun di seputar tahun Kongres Pemuda ini, nama-nama Makarim yang menonjol adalah sebagai beikut. Awab Makarim seorang pengusaha dan aktivis yang menjadi salah satu pengurus Vereeniging ‘Allahdhibijah’ organisasi persatuan Arab yang sangat kuat di Soerabaja (lihat De Indische courant, 30-08-1926). Sech Salim bin Mohamad Makarim sebagai orang kaya di Batavia (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 19-03-1927). Sech Oesman  bin Mohamad Makarim sebagai seorang pengusaha di Batavia (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 02-03-1928). Namun yang tetap menjadi pertanyaan adalah siapa Rika alias Rika Gamaria? Yang jelas Rika Gamaria adalah istri dari Sech Salim Makarim. Lantas, siapa keluarga Rika, siapa ayahnya, siapa ibunya dan siapa saudara-saudaranya? Tentu saja kelaurga Rika bukan orang bisaya tetapi keluarga terhormat yang memiliki tradisi pendidikan di dalam keluarga. Sebab anak-anak Salim Makarim dan Rika Gamaria merupakan keluarga Arab yang terbilang awal dalam pendidikan Eropa (KWS/PHS di Batavia).

Pada 1929 salah satu anak Sech Salim Makarim (dan Rika Gamaria) yakni Ali Makarim termasuk yang lulus ujian masuk untuk sekolah Koningin Wilhelmina School di Batavia untuk tahun masuk 1930 (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 18-05-1929). Ali Makarim lulus seleksi di kota Padang.

Bataviaasch nieuwsblad, 18-05-1929
Sementara yang lulus di Kota Radja (kini Banda Aceh) adalah Mohamad Sangkot Loebis, sedangkan yang lulus di Palembang adalah Mohamad Isa (kelak menjadi Gubernur Sumatra Selatan). Seperti disebutkan di atas sebelumnya, Anwar Makarim dinyatakan lulus ujian masuk KWS pada tahun 1930 (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 28-04-1930). Pada tahun 1931 Anwar Makarim, Sangkot Loebis dan Achmad Saleh naik ke kelas dua (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 04-05-1931). Sementara yang naik ke kelas tiga adalah Ali Makarim dan Sech Mohamad Makarim, Raden Enoch dan Mohamad Isa. Raden Enoch kelak dikenal sebagai Gubernur Djawa Barat.

Ali Makarim diduga adalah anak kedua dari Sech Salim Makarim dan Rika Gamaria (diterima di KWS pada tahun 1929). Anak ketiga mereka adalah Anwar Makarim yang diterima di KWS tahun 1930. Pada tahun ketiga Anwar Makrim pindah ke Prins Hendrik School (PHS).

Bataviaasch nieuwsblad, 10-06-1936
Pada tahun ajaran 1931 diketahui Ali Makarim naik ke kelas dua dan Mohamad Makarim naik ke kelas tiga (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 04-05-1931). Juga disebutkan dalam berita ini terdapat keterangan mahasiswa STOVIA yang dinyatakan lulus dan mendapat gelar dokter (Indisch Arts), diantaranya adalah Daliloedin Loebis dan Johannes Leimena. Sementara yang berada di tahun ke tujuh diantaranya Gindo Siregar, Aboe Hanifah, Ali Besar Siregar dan Kasmir Harahap. Sedangkan yang berada di tahun ke enam diantaranya Soleiman Siregar, Pang Siregar, Mochtar, Rasidin, Slamet Iman Santoso dan Moewardi.

Dari keterangan ini dapat diduga bahwa Mohamad Makarim adalah anak pertama, Ali Makarim anak kedua dan Anwar Makarim anak ketiga. Anwar Makarim lulus di Prins Hendrik School (PHS) pada tahun 1936 (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 10-06-1936).

Jika anak pertama keluarga Salim Makarim adalah Mohamad Makarim yang masuk KWS pada tahun ajaran 1929, maka usia Mohamad Makarim sekitar 14 tahun (lulusan ELS tujuh tahun). Dengan mengurangkan usia Mohamad Makarim diduga Salim Makarim menikah dengan Rika pada tahun 1914. Jika usia Rika saat menikah sekitar 18 tahun, maka Rika lahir pada tahun 1896.   

Dengan demikian, jika merujuk pada garis keturunan ayah (marga Makarim), Nadiem Makarim lahir di Singapoera. Sementara ayahnya Nono Makarim lahir di Pekalongan. Sedangkan kakek Nadiem Makarim yakni Anwar Makarim diduga kuat lahir di Padang (anak dari Sech SalimMakarim).

Stambuk (silsilah) Nadiem MAKARIM
Gara-gara Menteri Pendidikan berkunjung ke UI dan membuang naskah, maka naskah artikel keluarga Makarim ini menjadi ada. Dengan adanya artikel sejarah keluarga Makarim ini kita lebih kenal dengan Menteri Pendidikan yang baru, Nadiem Makarim. Marga Makarim hanya ditemukan di Hindia (baca: Indonesia), tidak ditemukan di Timur Tengah atau tempat lain kecuali di Indonesia (baca: Hindia Belanda). Ini mengindikasikasikan bahwa marga Makarim lahir (muncul) di Indonesia. Dibandingkang dengan marga Baswedan, marga Makarim jauh lebih tua. Jika nama Baswedan muncul kali pertama di Hindia (baca: Indonesia) tahun 1879, nama Makarim muncul lebih awal hampir setengah abad pada tahun 1832. Seperti halnya nama Makarim, nama Baswedan juga hanya ditemukan di Indonesia (baca: Hindia).

Demikianlah sejarah asal usul keluarga Nadiem Nono Anwar MAKARIM. Nama yang begitu populer dalam minggu-minggu terakhir ini. Jika silsilah Nadiem Makarim ini dibuat dalam stambuk panjang maka namanya menjadi: Nadiem Nono Anwar Salim Mohamad Abdullah Ali MAKARIM.

Hamid Algadri (1950)
Satu hal yang sudah terjawab adalah relasi antara Nono Makarim dengan Hamid Algadri. Tentu saja masih ada satu pertanyaan lagi yang perlu ditanyakan, yakni mengapa Nono Makarim begitu dekat dengan Adnan Buyung Nasution dan Mochtar Lubis pada era transisi rezim orde lama dengan rezim orde baru. Ini bukan karena mereka berdua alumni UI. Jawaban ini diduga tidak dapat dijawab oleh Hotman Paris Hutapea. Tentu saja juga tidak bisa dijawab oleh Hariman Siregar (mantan ketua dewan mahasiswa UI). Yang pasti adalah ada garis continuum dalam cara berjuang (cara berpikir) sejak era Anwar Makarim hingga Nono Makarim dan Nadiem Makarim. Seperti kata pepatah: semua terhubung satu sama lain, tidak ada yang berjalan sendiri. Dalam hal ini, kita harus kembali ke awal dalam penabalan marga Gamaria, siapa sejatinya Rika, ibu dari Anwar Makarim?. Apakah kita tidak pernah berpikir orang tua Rika adalah ayah Mandailing dan ibu Minangkabau? Apakah  kita tidak pernah berpikir ayah Rika berasal dari kampung yang sama dengan ayah Mochtar Lubis dan Adnan Buyung Nasution? Pada era Sech Salim Makarim berada di Padang, hanya ditemukan dua penabalan marga (family name) yang disetujui pemerintah yakni Gamaria dan Proehoeman.

Jasmerah!


*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

2 komentar:

  1. Bung Akhir Matua Harahap yang baik, kita telah berhubungan lewat sejak bukan Oktober 2019, dan saya selalu mengagumi tulisan sejarah Anda. Juga kali ini saya membaca Sejarah Universitas Indonesia (5) tentang Nadiem Makarim, yang tidak henti-hentinya saya menggami tulisan Sejarah Anda yang didasarkan kepada dokumen yang akurat'tempo doeloe' dalam bahasa Belanda, sedangkan Anda baru dilahirkan tahun 1963, tiga tahun lebih muda dari anak saya alm, yang kata Anda mungkin mengenalnya, sewaktu Anda mengikuti kuliah Klimatologi di IPB dan anak saya alm. pada saat itu Asisten mata-kuliah itu. Saya senang sekali ada generasi-penerus kami yang tertarik ilmu sejarah dengan serius. Seyognya Departemen Sejarah FIB untuk menangkat Anda sebagai salah seorang stafnya, bahkan merenungkan untuk memberikan gelar Dr. h.c. dalam Sejarah kepada Anda. Anda telah menurus sejarah dari berbagai aspek segudang banyaknya! Salam tetap sehat dan tetap bersemangat!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih Prof. Somadikarta
      Semoga kita tetap sehat. Satu hal yang saya salut kepada Bapak, sudah usia tinggi, lebih dari 90 tahun masih aktif membaca dan menulis serta berbagi informasi. Saya akan mencontohnya.
      akhir mh

      Hapus