Sabtu, 04 Januari 2020

Sejarah Menjadi Indonesia (29): Sejarah Banjir Sedari Doeloe, Pemda Jangan Saling Bertengkar; Pelajari Sejarah Solusi Banjir


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Banjir di Jabodetabek pada tanggal 1 Januaru 2020 telah memicu antar pemerintah daerah (Pemda) saling menuding. Dampak banjir terparah berada di hilir di Jakarta, Bekasi dan Tangerang. Ujung-ujung dari saling tuding tersebut adalah wilayah Bogor yang disudutkan. Tentu saja Pemerintah Daerah Bogor tidak menerima begitu saja. Lantas dimana Pemerintah Pusat?  

Peta (solusi banjir) Jakarta, 1740
Sejarah banjir Jakarta, Bekasi dan Tengerang memiliki pola yang sama dengan sejarah banjir di Semarang, Surabaja, Padang dan kota-kota lainnya yang berada di pesisir pantai. Polanya tetap sejak tempo doeloe hingga ini hari. Banjir besar yang sekarang bukanlah yang terbesar, sejak lampau banjir besar sudah terjadi bahkan ketika kota-kota tersebut belum sepadat sekarang. Banjir dan dampak banjir adalah satu masalah, tetapi solusi penanganan masalah jauh lebih penting. Jika cara ini yang digunakan maka tidak akan saling menuding.

Banjir gede atau banjir bandang bukanlah soal hari ini. Banjir besar sudah sedari doeloe. Jadi jangan katakan banjir yang sekarang adalah banjir terbesar dalam sejarah. Sebab pernyataan serupa ini hanya sekadar menyembunyikan kesalahan perencanaan dalam solusi banjir. Dalam hal ini pemerintah daerah juga jangan dibiarkan bertengkar sendiri. Persoalan banjir antar pemda seharusnya pemerintah provinsi/pusat harus hadir. Ada yang hilang dalam sistem penanganan banjir dewasa ini jika dibandingkan tempo doeloe. Yang hilang tersebut adalah tidak terlihatnya lagi peran pemerintah provinsi/pusat dalam program-program pengendalian banjir sebagaimana dulu dipraktekkan pada era kolonial Belanda. Anda tidak yakin? Mari kita periksa sumber-sumber tempo doeloe bagaimana mereka mengantisipasi dan mengatasi potensi banjir sebelum benar-benar menadi banjir bandang.

Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Banjir Hilir Penanganan Simultan di Hulu

Sungai mengalir dari Bogor. Aliran sungai ini sudah berlangsung sejak jaman kuno tanpa henti hingga ini hari. Banjir juga sudah terjadi sejak kuno. Banjir sudah ada sebelum Jakarta, Bekasi dan Tangerang sepadat sekarang dan belum ada villa daerah (Puncak) Bogor.

Banjir di Bekasi, 01-01-2020
Lantas apa kesalahan Bogor di mata Jakarta, Bekasi dan Tangerang jika (masih) terjadi banjir sekarang? Apakah tiga kota di hilir ini pantas melontarkan tudingan ke Bogor? Toh juga air mengalir sejak tempo doeloe dan banjir juga sudah terjadi tempo doeloe. Lalu apakah semua masalah banjir di hilir pantas harus ditanggung semua Bogor yang berada di hulu? Bagi Bogor merasa tidak elok ketika misalnya di Jakarta membangun perumahan dan mengalami kebanjiran lalu Bogor diprotes karena membangun villa di Puncak. Perdebatan semacam ini bersifat kekanak-kanakan dan tidak proporsional dan tidak produktif. Lantas mengapa empat wilayah ini tidak disatukan (bersatu) dalam penanganan banjir sebagaimana yang pernah dilakukan era kolonial Belanda.

Sebelum mendeskripsikan sejarah solusi banjir, ada baiknya dikutip terlebih dahulu ringkasan (data) banjir di tiga kota di hilir pada tanggal 1 Januari 2020. Data yang disajikan tersebut menggambarkan sebaran banjir yang mengindikasikan tingginya luapan air menurut waktu (lihat https://www.kompas.com tanggal 01/01/2020 pukul 10.30).

Sejarah Solusi Banjir

Tunggu deskripsi lengkapnya


*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar