Jumat, 03 Januari 2020

Sejarah Jakarta (74): Sejarah Bukit Duri di Benteng Meester Cornelis, Stasion Kereta Jadi Dipo; Apakah Sejak dari Dulu Banjir?


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini
 

Bukit Duri sesungguhnya tidak hanya soal banjir sungai Ciliwung. Bukit Duri juga tidak pula hanya SMA Negeri 8. Sesungguhnya Bukit Duri bahkan sudah terkenal sejak tempo doeloe. Di Bukit Duri terdapat stasion kereta api mewah yang kini diubah dan lebih dikenal sebagai Dipo Bukit Duri. Tidak hanya itu, di Bukit Duri juga tempo doeloe terdapat sebuah benteng besar yang disebut Fort Meester Cornelis.

Peta 1824
Bukit Duri pada masa ini adalah sebuah kelurahan di kecamatan Tebet, Jakarta Selatan. Pada masa lampau kampong Boekit Doeri bertetangga dengan kampong Malajoe, kampong Bali dan kampong Manggarai. Dengan memperhatikan nama-nama kampong tetangga, apakah kampong Boekit Doeri kampong orang Doeri? Satu lagi, apakah di kampong Boekit Doeri benar-benar terdapat sebuah bukit? Jika iya, tentu tidak akan ada banjir di bukit.

Banyak pertanyaan tentang Bukit Duri. Namun hanya satu soal yang masih tersisa pada masa ini yang belum tuntas dijawab, yakni mengapa sering banjir. Apakah Bukit Duri sejak tempo dulu sudah sering banjir akibat meluapnya sungai Ciliwung? Lantas apakah ada hubungan banjir Bukit Duri dengan benteng Meester Cornelis dan stasion kereta api Mester Cornelis. Untuk menambah pengetahuai, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*. Foo udara 1943

Benteng Meester Cornelis dan Stasion Kereta Api di Boekit Doeri

Pada tahun 1872 kembali terjadi banjir besar di Batavia, tidak hanya sungai Tjiliwong juga sungai Kroekoer (lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 31-01-1872). Disebutkan sungai Tjiliwong pada tanggal 25 Desember meluap sehingga semua penduduk di kampong Kramat mengungsi, sementara wijk Bidara Tjina terendam air, sedangkan di tempat lainnya terjadi genangan air di sebagian dari kampong Melajoe Besar, kampong Melajoe Ketjil, Kebon Manggis, Boekit Doeri dan Matraman. Seluruh area di tempat-tempat tersebut ketinggian air mencapai 3 hingga 4 kaki.

Boekit Doeri (Peta 1866)
Berita ini menunjukkan bahwa banjir ini cukup tinggi sekitar satu meter. Area banjir yang terjadi pada tanggal 25 Desember 1872 bersesuaian dengan banjir yang terjadi pada tanggal 1 Januari 2020. Tinggi air yang terjadi kurang lebih sama meski berbeda waktu lebih dari satu abad. Nama kampong Boekit Doeri sendiri belum teridentifikasi pada Peta 1824. Pada Peta 1866 sudah terindetifikasi nama kampong Boekit Doeri namun belum terbentuk jalan (jalan yang dimaksud kini jalan Bukit Duri Tanjakan).

Dari laporan banjir ini penjara Meester Cornelis tidak ada indikasi banjir meski jaraknya terbilang begitu dekat dengan sungai Tjiliwong. Penjara berada di sisi timur sungai sementara kampong Boekit Doeri berada di sisi barat sungai Tjiliwong. Dari laporan ini juga tidak ada keterangan dengan stasion Meester Cornelis di Boekit Doeri terendam air.

Java-bode, 21-05-1870
Rencana pembangunan kereta api Batavia-Buitenzorg muncul kali pertama tahun 1864. Namun cukup lama tertunda dan malahan lebih dahulu pembangunan jalur Semarag-Kedong Djati yang mulai diperasikan pada tahun 1869. Segera setelah jalur Semarang ini beroperasi baru realisasi pembangunan jalur Batavia-Buitenzorg di realisasikan yakni dengan pembebasan lahan pada tahun 1870 (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 21-05-1870). 

Atah jalur rel kereta api di Boekit Doeri (Peta 1887)
Dalam berita tersebut disebutkan sehubungan dengan pembangunan rel kereta api dari Batavia ke Buitenzorg oleh pemerintah dilakukan pengambilalihan lahan atas nama perusahaan kereta api Belanda milik swasta dari perbatasan kota hingga pinggiran batas Meester-Cornelis yakni ke arah tenggara land Parapatan, Menteng dan Tjikeni, melalui lahan Pegangsaan dan land Matramau dan Kampong Mangong; lebih jauh di dua cabang, satu berbelok ke timur di atas lahan yang disebut area Boekit-Doeri ke sungai Tjiliwong di seberang pasar Meeter Cornelis passar, dan yang kedua dengan tikungan ke arah selatan melalui area Boekit-Doeri,  area Klein Kampong Malajoe dan land Groot Kampung Malajoe, Kebon Baroe, Tandjong-Lenkong, Lekon-Dalem dan Tjikoko, kemudian dengan satu rawa di barat daya Pangadegan, melalui Pabean-Chilauw dan Bangka, area Kampong Djati dan Kaïi Bata, land Tjondet, Ragoenan dan Tandjong West kemudian melalui area Tanah Agong ke perbatasan selatan Afdeeling Meester Cornelis.

Sungai Tjiliwong dan jembatan kampong Malajoe (1900)
Sebelum pembebasan lahan ini pada tahun 1869 sudah terlebih dahulu dibangun jembatan di atas sungai Tjiliwong yang diletakkan diantara pasar Meester Cornelis dengan area Boekit Doeri (dekat penjara Meester Cornelis). Pembangunan jaur kereta api Batavia-Buitenzorg ini dilakukan dua tahap. Tahap pertama dari Batavia ke Meester Cornelis yang selesai pada tahun 1871 dan tahap kedua dari Meester Cornelis ke Buitenzorg. Secara keseluruhan jalur Batavia-Buitenzorg baru tersambung dan mulai dioperasikan pada bulan Januari 1873. Ini berarti stasion Boekit Doeri belum lama selesai dibangun ketika terjadi banjir pada tahun 1872. Untuk sekadar catatan jembatan di atas sungai Tjiliwong di Matraman (jalan Tambak) sudah teridentifikasi pada Peta 1866 sebagai jembatan yang terbuat dari kayu. Jembatan pasar Meetser Cornelis-Boekit Doeri dibangun dengan bahan kayu. Sungai Tjiliwong, 1880 Sungai Tjiliwong, 1900 Peta 1887

Banjir dan Stasion Kereta Api di Boekit Doeri

Pionir di Meester Cornelis (kini Jatinegara) adalah Kornelis, karena itu kemudian area di tenggara kota (stad) Batavia ini disebut Meester Cornelis. Penamaan area serupa ini dari nama orang ada beberapa seperti area Struiswijk (Salemba), Rustenburg (Tjawang) dan Pluit (dari Flujt). Nama-nama tempat yang bersumber dari pedalaman (Soenda) memiliku ciri khusus seperti Tji (Tjipinang), Babakan, Paroeng dan Lebak. Tentu saja ada nama lain yang diintroduksi baru sesuai asal komunitasnya seperti nama kampong Bali, kampong Djawa dan kampong Malajoe. Nama-nama komunitas diduga kuat terkait dengan nama (Meester) Kornelis dan keberadaan benteng. Meester Cornelis mempekerjakan orang pribumi yang didatangkan sebagai budak sementara benteng dijaga pasukan pribumi pendukung militer VOC/Belanda,

Eks Fort Meester Cornelis di Berlan yang sekarang (Peta 1910)
Pada era VOC/Belanda Kornelis membuka lahan di sisi timur hulu sungai Tjiliwong. Area ini kemudian disebut (land) Meester Cornelis. Pada era VOC tersebut, untuk mendukung benteng (fort) Noorwijk (kini di area masjid Istiqlal) dan benteng Padjadjaran (kini di area istana Bogor) dibangun beberapa benteng yakni benteng Meester Cornelis (kini di Berlan), benteng Tandjoeng (kini Pasar Rebo), benteng Sampoera (kini Serpong), benteng Bekasi (kini Muara Gembong) dan benteng Tandjoeng Poera (kini di Karawang). Benteng-benteng ini dijaga oleh pasukan pribumi pendukung militer VOC/Belanda yang dipimpin oleh seorang sersan Belanda. Pasukan pribumi berasal dari daerah Jawa, daerah Bali, daerah Melajoe dan daerah Celebes.

Fort Meester Cornelis, 1770 (Insert peta benteng 1764)
Benteng Meester Cornelis ini awalnya berada di sisi timur sungai Tjiliwong dekat Salemba/Matraman (tepatnya kini di kampong Berlan). Lalu kemudian setelah berkembang area di arah hulu benteng baru dibangun. Pada tahun 1795 terjadi pendudukan Prancis dan menduduki benteng-benteng VOC termasuk benteng Meester Cornelis yang baru. Setelah VOC/Belanda dinyatakan bangkrut, kerajaan Belanda membentuk Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1900. Pada era Gubernur Jenderal Daendels (1808-1811) terjadi pendudukan Inggris dimana terjadi pertempuran sengit di dua benteng Meester Cornelis (benteng lama dan benteng baru). Setelah Pemerintah Hindia Belanda berkuasa kembali sejak 1816 benteng Meester Cornelis di Matraman dianggap tidak layak lagi lalu ditinggalkan dan di sekitarnya dibangun garnisun militer. Benteng yang baru yang diperkuat menjadi tumpuan (di belakang benteng ini kelak diseberangnya terbentuk kampong Boekit Doeri). Dalam hal ini benteng Meester Cornelis harus dibedakan antara benteng era VOC/Belanda dan benteng era Pemerintah Hindia Belanda.

Pasukan pribumi pendukung militer VOC ini banyak yang tidak kembali (sejak era VOC bahkan pada era Pemerintah Hindia Belanda) dan lebih memilih menetap di sekitar benteng dengan membuka lahan pertanian. Itulah yang menjadi sebab munculnya nama-nama kampong di sekitar benteng Meester Cornelis seperti kampong Djawa, kampong Malajoe, kampong Bali dan kampong Manggarai.

Orang-orang Tionghoa menyusul datang kemudian dan membentuk perkampongan sendiri. Perkampongan (kampement) utama orang-orang Tionghoa di Meester Cornelis adalah di Bidara Tjna. Perkampongan Bidara Tjina ini diduga meuncul setelah terjadinya peristiwa pembantaian orang Cina di Batavia pada tahun 1740. Sejak inilah muncul komunitas orang Cina di sejumlah tempat yang jauh dari Batavia seperti di Meester Cornelis, di dekat Depok dan di Tangerang.

Tiga komunitas pertama yang muncul sejak era VOC/Belanda adalah kampong Djawa, Malajoe, dan Bali. Perkampungan Djawa terbentuk di sisi barat sungai Tjiliwong (di seberang benteng Meester Cornelis yang pertama). Sementara perkampongan Malajoe terbentuk di selatan benteng dan lebih ke selatannya terbentuk perkampoengan Bali. Dalam perkembanganya perkampongan Malajoe meluas ke seberang sungai Tjiliwong yang dikenal sebagai kampong Malajoe Ketjil. Sebaliknya dalam perkembangan lebih lanjut perkampongan Djawa meluas ke seberang sungai Tjiliwong di bekas benteng lama (area Berlan yang sekarang). Dalam perkembangan inilah kemudian muncul nama kampong Boekit Doeri.

Diantara kampong Djawa dan kampong Malajoe Ketjil di sisi barat sungai Tjiliwong terbentuk perkampongan yang baru. Tiga nama kampong yang terpenting adalah kampong Poelo, kampong Tanah Rendah dan kampong Boekit Doeri. Dua nama kampong yang pertama muncul sesuai dengan tipologi area yang mana kampong Poeloe berada diantara lingkaran sungai Tjiliwong (seakan sebuiah pulau) dan di selatannya area yang lebih rendah disebut kampong Tanah Rendah.

Sebagai bahasa pengantar (lingua franca) bahasa Malajoe menjadi penting dalam penamaan nama-nama tempat yang baru ini. Nama kampong Poelo dan kampong Tanah Rendah menggunakan bahasa Malajoe. Dua kampong yang berada di selatan kampong Djawa ini diduga perluasan komunitas di kampong Djawa. Sementara itu di utara kampong Malajoe Ketjil yang berbatasan dengan kampong Tanah Rendah muncul nama kampong Boekit Doeri. Kampong baru ini diduga perluasan komunitas Malajoe dari kampong Malajoe Ketjil (sisi barat sungai) dan komunitas Malajoe dari kampong Malajoe Besar (sisi timur sungai).

Kampong Boekit Doeri berada tepat di seberang benteng (fort) Meester Cornelis. Seperti disebutkan di atas, nama kampong Boekit Doeri belum diidentifikasi pada Peta 1824 dan teridentifikasi secara jelas pada Peta 1866. Lantas timbul pertanyaan mengapa nama kampong baru tersebut dengan nama Boekit Doeri? Apakah area itu sebagai suatu bukit?

Nama kampong disebut Boekit Doeri diduga kuat karena berada di area (per)bukit(an). Seperti disebutkan sebelumnya, di utara kampong Boekit Doeri adalah kampong Tanah Rendah yang dalam hal ini altitud (dpl) kampong Boekit Doeri lebih tinggi dari kampong Tanah Rendah. Dari arah kampong Tanah Rendah, perkampongan di selatan ini tampak lebih tinggi. Sementara dari sisi timur sungai (yang lebih curam) di area Meester Cornelis jika melihat area ke seberang di sisi barat sungai seakan berada di ketinggian karena di bawah berada sungai Tjiliwong yang mendaki ke arah perkampongan Boekit Doeri. Sebaliknya kampong Malajoe Ketjil di selatan yang berada di sisi barat sungai Tjiliwong yang lebih rendah terlihat ke perkampongan Boekit Doeri lebih tinggi. Lalu yang terakhir di sebelah barat perkampongan Boekit Doeri terdapat area yang lebih rendah persawahan yang airnya bersumber dari kanal buatan, yang airnya bersumber dari Setu Babakan di Lenteng Aging (kanal ini berada di sisi barat jalan Saharjo yang sekarang. Dengan demikian area perkapongan Boekit Doeri memang secara tipologi adalah suatu perbukitan (bukit yang ketinggiannya rendah). Oleh karena itu secara alamiah di area Boekit Doeri tidak terdapat aliran sungai (kecil). Adanya aliran air yang tampak sekarang terutama di wilayah Sawo Kecik (juga wilayah yang berdekatan dengan Tebet di selatan dan wilayah Manggarai di utara) bukanlah sungai tetapi suatu kanal yang dialirkan dari kanal di sebelah barat (jalan Saharjo yang sekarang) dan juga kanal-kanal yang dibangun baru sebagai kanal drainase. Kanal-kanal ini tampak dalam. Untuk sekadar catatan tambahan bahwa nama kampong Manggarai merujuk pada komunitas orang Manggarai (akan dibuat artikel tersendiri). Sementara itu, nama Tebet diduga area orang Malajoe (di kampong Malajoe Ketjil) yang mengusahakan perikanan air tawar/ Kolam-kolam ikan ini dalam bahasa Malajoe disebut ‘tebat’ yang bergeser menjadi nama area/kampong yang disebut ‘Tebet’. Setelah dibangunnya kanal irigasi dari Setoe Babakan di Serengseng tahun 1830an area Tebet dan Manggarai termasuk yang dikembangkan sebagai areal persawahan. Kanal irigasi ini didistribusikan dari kanal di sekitar Tugu Cawang yang sekarang melalui area kampong Tebet terus ke Boekit Doeri/Manggarai yang kemudian diteruskan ke sungai Tjiliwoing di stasion Manggarai yang sekarang. Kanal ini menjadi batas antara kelurahan Bukit Duri dan kelurahan Manggarai yang sekarang (jalan Lapangan Ros Kali dekat Jalan Tebet Utara I di Lapangan Ross).

Area Boekit Doeri yang sejak dari doeloe mengalami banjir bukanlah wilayah Boekit Doeri yang berada di ketinggian tetapi area Boekit Doeri yang berada di wilayah yang lebih rendah yang berdekatan dengan sungai Tjiliwong yang di arah utara berbatasan dengan kampong Tanah Rendah dan di selatan berbatasan dengan kampong Malajoe Ketjil. Perkampongan Boekit Doeri yang mengambil nama dari suatu tipologi bukit berada di sekitar jalan Bukit Duri Tanjakan. Oleh karena itulah jalan yang menanjak dari stasion kereta api Meester Cornelis ke perkampongan Boekit Doeri tempo doeloe disebut jalan Boekit Doeri Tandjakan (downtown dari kampong Boekit Doeri).

Tentu saja saya sedikit lebih paham area Bukit Duri ini karena saya pernah tinggal cukup lama di kawasan Lapangan Ros Bukit Duri pada pertengahan 1990an hingga munculnya krisis pada tahun 1998. Selama saya tinggal di wilayah ini (termasuk area stasion Tebet) tidak pernah kebanjiran, sementara yang kerap dilanda banjir adalah wilayah-wilayah yang disebut sebelumnya berdekatan dengan sungai Tjiliwong (di sebelah utara, timur dan selatan jalan Bukit Duri Tanjakan).  

Tunggu deskripsi lengkapnya

Perkembangan Lebih Lanjut di Boekit Doeri

Tunggu deskripsi lengkapnya


*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar