Jumat, 05 Maret 2021

Sejarah Papua (3): Sejarah Merauke Selatan Papua, Jayapura Utara; Merauke Lebih Tua dari Jayapura, dari Sabang sampai Merauke

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Papua dalam blog ini Klik Disini 

Kota Jayapura boleh saja menjadi ibu kota Provinsi Papua dan kota paling besar di pulau Papua. Namun kota Merauke yang berada di selatan Papua nyatanya lebih populer dari Kota Jayapaura. Nama Merauke sudah sejak lama dijadikan nama lagu: Dari Sabang Sampai Merauke. Lagu ini kerap dijadikan sebagai lagu wajib karena itu sering dinyanyikan. Itulah nama Merauke. Kota yang lebih tua dari Kota Jayapura.

Pada masa ini nama Merauke menjadi nama kabupaten di Provinsi Papua dengan ibu kota di Merauke. Ini mengindikasikan nama tempat Merauke dijadikan nama wilayah (kabupaten). Pembentukan kabupaten Merauke dilakukan seiring dengan wilayah Papua yang tetap diduduki Belanda berintegrasi dengan Republik Indonesia tahun 1963 (dengan nama Provinsi Irian Jaya dengan ibu kota di Jayapura). Sejak itu, kota Merauke tumbuh dan berkembang menjadi kota yang ramai seperti yang sekarang.

Bagaimana sejarah awal kota Merauke? Seperti disebut di atas kota Merauke lebih tua dari kota Jayapura. Lalu apa pentingnya sejarah awal kota Merauke? Tampaknya sejarah awal kota Merauke kurang terinformasikan. Oleh karena nama Merauke dan kota Merauke sudah sejak lama begitu penting, maka kurang terinformasikan sejarah awal kota menjadi alasan yang kuat untuk menarasikan sejarah Merauke lebih lengkap dan akurat. Bagaiana awalnya kota terbentuk? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Nama Merauke Lebih Tua dari Jayapura

Sejarah Merauke pada dasarnya tercatat tidak sengaja dalam arti tidak ada informasi sebelumnya hingga menjadi berita heboh pada tahun 1900. Ini bermula suatu kejadian dimana pelaut Inggris di pantai selatan Papua dirampok dan sejumlah warga di Papua Inggris Morehead diserang penduduk pantai selatan Papua Belanda. Inggris menuntut para pelaku ditangkap dan diekstradisi (ke Australia-Inggris). Tuntutan itu menyebabkan Pemerintah Hindia Belanda sangat sibuk dan segera mengirimkan dua kapal (perang) untuk ekspedisi ke Zuidkust Nederland Nieuw Guienea (lihat De Sumatra post, 06-11-1900).

Kapal perang H Ms Serdang dari Soerabaja segera ke Ternate dan mampir ke Fakfak untuk menjemput Controleur (Asisten Residen) West en Zuidkust Nieuw Guinea JA Kroesen. Kapal H Ms Sumatra dari Soerabaja berangkat ke Thursday Island (Australia-Inggris) dan bertemu dengan kapal Serdang. Dari kota dagang di selatan Papua ini dua kapal ini dengan sejumlah warga Australia-Inggris berangkat ke pantai selatan Papua-Belanda. Pendaratan pertama dilakukan di sungai Amberuke (kini Kumbe) untuk mebangun kamp dan kemudian dilakukan pendaratan di Ajer Masoe[k] untuk membangun kamp (Ajer Masoe adalah nama asli dari Merauke). Dari kamp ini dilakukan penyelidikan ke pedalaman. Controleur JA Kroesen, sebagai pejabat pemerintah tertinggi di kawasan, sambil penyelidikan melakukan berbagai observasi wilayah. Pada tahun 1901 muncul usulan untuk memecah afdeeling dengan membentuk onderafdeeling Zuidkust Nieuw Guinea dengan ibu kota (etablisseent) di Merauke berdasarkan laporan yang ditulis oleh JA Kroesen di Fakfak 24 Januari 1901 atas kunjungan ke Zuidkust dan wilayah Inggris di Thursday Island selama bulan Oktober-Desember 1900 dalam ekspedisi (lihat De nieuwe courant, 14-09-1901).

Kota (kampong) Merauke, paling tidak pada tahun 1905 sudah memiliki sebuah garnisun (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 07-02-1905). Ini mengindikasikan sudah banyak populasi Eropa/Belanda di Merauke. Adanya garnisun menunjukkan posisi sebuah ibukota wilayah dimana pusat pemerintahan (kolonial Belanda) berada. Tentara dari garnisun ini juga kerap mendampingi para ilmuwan dalam ekspedisi geologi dan botani ke pedalaman.

Di Merauke berkedudukan seorang Controleur. Di kota ini juga sudah ada (tempat) penginapan dan klinik kesehatan yang dipimpin oleh seorang dokter. Orang-orang Eropa/Belanda dan pendatang lainnya melakukan perdagangan dengan orang-orang orang Papua. Kapal antar kota (pelabuhan) yang sering mengunjungi kota ini adalah kapal uap Falcom dan Flamingo yang membawa penumpang dan surat-surat. Pelayaran cukup intens antara Ambon dan Merauke dan sebaliknya via Tual. Dalam hal pembangunan terutama untuk konstruksi banyak kuli didatangkan dari Tual dan sekitarnya. Juga ada rute pelayaran ke Timor di Koepang. Kehidupan di Kota Merauke disebutkan memiliki harapan.

Kota Merauke lambat laun semakin penting. Hal ini karena sejak awal 1920-an Tanah Merah di Boven Digoel telah dijadikan sebagai tempat tahanan politik (Digoeler). Area tahanan ini jauh di pedalaman dan terasing. Pada tahun 1927 sudah ada populasi tahanan di Tanah Merah sekitar 3.000 orang. Jumlah ini pada masa itu bukan populasi kecil, boleh jadi satu-satunya kota terpadat di Papua, bahkan lebih padat daripada kota Merauke sendiri.

Kapan nama Merauke muncul kali pertama tidak begitu jelas, namun dalam laporan JA Kroesen 1901 sudah disebut nama Merauke. Namun yang jelas di pantai barat Papua, pada Peta 1840 sudah diidentifikasi nama benteng (Pemerintah Hindia Belanda) yakni Fort Dubus (benteng yang dibangun sejak 1828). Pulau besar di arah tenggara dari benteng yang menempel ke daratan diidentifikasi sebagai pulau Frederik Hendrik Eiland (sekarang Pulau Yos Sudarso). Di arah tenggara pulau inilah kemudian muncul nama Merauke (setelah ekspedisi 1900).

Untuk meningkatkan status kesehatan di Merauke, sejak 1931 ditempatkan seorang dokter di Merauke. Dokter pertama di Merauke adalah Dr Pamenan Harahap (lihat Regerings-almanak voor Nederlandsch-Indiee, 1933). Dokter baru di tempat yang baru (kali pertama petugas kesehatan ada).

Pamenen Harahap kelahiran Padang Sidempoean adalah lulusan sekolah kedokteran di Batavia, STOVIA pada tahun 1931 (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 29-08-1931).  Dr Pamenen Harahap ditempatkan di rumah sakit pemerintah CBZ di Semarang (lihat De locomotief, 02-10-1931). Setahun kemudian, dari Semarang Pamenan Harahap ditemptakan di Merauke (lihat De locomotief, 20-10-1932).

Tunggu deskripsi lengkapnya

Pertumbuhan dan Perkembangan Kota Merauke

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar