Minggu, 24 April 2022

Sejarah Menjadi Indonesia (550): Pahlawan Indonesia-Tuntutlah Ilmu Itu Meski Jauh ke Negeri Tiongkok;Era Kenabian di Nusantara

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Seperti apa era kenabian di Nusantara? Tentulah sudah ada peradaban yang tinggi juga dan navigasi pelayaran perdagangan yang intens antar pulau di Nusantara. Era kenabian dalam hal ini diringkas sejak hijrabnya Nabi Muhammad SAW ke Madinah (620 M) sebagai tahun pertama penanggalan Islam. Dalam konteks ini (pada tahun-tahun kenabian) ada satu hadis yang menyatakan ‘Tuntutlah ilmu itu walau jauh ke negeri Cina’.

Muhammad (570-632 M)) adalah seorang nabi dan rasul terakhir bagi umat Muslim. Muhammad sama-sama menegakkan ajaran tauhid untuk mengesakan Allah sebagaimana yang dibawa nabi dan rasul sebelumnya. Lahir di Mekkah, Beranjak remaja, Muhammad bekerja sebagai pedagang. Diriwayatkan dalam usia ke-40, Muhammad didatangi Malaikat Jibril dan menerima wahyu pertama dari Allah. Tiga tahun setelah wahyu pertama, Muhammad mulai berdakwah secara terbuka, menyatakan keesaan Allah dalam bentuk penyerahan diri melalui Islam sebagai agama yang benar. Muhammad menerima wahyu berangsur-angsur hingga wafat. Praktik atau amalan Muhammad diriwayatkan dalam hadis, dirujuk oleh umat Islam sebagai sumber hukum Islam kedua setelah Al-Quran. Muhammad bersama pengikut awal mendapati berbagai bentuk perlawanan dan penyiksaan dari beberapa suku Mekkah. Seiring penganiayaan yang terus berlanjut, Muhammad membenarkan beberapa pengikutnya hijrah ke Habsyah, sebelum Muhammad memulai misi hijrah ke Madinah pada tahun 622 M. Peristiwa hijrah menandai awal penanggalan Kalender Hijriah dalam Islam. Di Madinah, Muhammad menyatukan suku-suku di bawah Piagam Madinah. Setelah delapan tahun bertahan atas serangan suku-suku Mekkah, Muhammad mengumpulkan 10.000 Muslim untuk mengepung Mekkah. Serangan tidak mendapat perlawanan berarti dan Muhammad berhasil mengambil alih kota dengan sedikit pertumpahan darah. Ia menghancurkan berhala-berhala. Pada tahun 632 M, beberapa bulan setelah kembali ke Madinah usai menjalani Haji Wada, Muhammad jatuh sakit dan hingga akhirnya wafat. Muhammad meninggalkan Semenanjung Arab yang telah bersatu dalam pemerintahan tunggal Islam dan sebagian besar telah menerima Islam. (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah Tuntutlah Ilmu Itu Meski Jauh ke Negeri Tiongkok? Seperti disebut di atas, Nabi Muhamma SAW pernah menyatakan saran serupa itu (hadis). Mengapa harus ke Tiongkok? Bagaimana situasi dan kondsisi saat itu di Nusantara (baca: Indonesia)? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Pahlawan Indonesia - Tuntutlah Ilmu Itu Meski Jauh ke Negeri Tiongkok: Era Kenabian di Nusantara

Catatan dinasti Tiongkok Min Shu yang dikompilasi pada akhir abad ke-16 berdasarkan sumber-sumber kuno oleh Ho Ch'iao-yüan menyatakan T'u-shu Chi-ch'êng, Chih-fang-tien, bab 1052, halaman 5a bahwa antara tahun 618 dan 626 empat orang pengikut Muhammad membawa Islam di Tiongkok. Dari laporan Tiongkok terserbut disebutkan satu orang mengajar di Canton, satu orang  di Yang-chow, dan dua orang lainnya di Ch'üan-chow.

Makam Islam tertua ditemukan di Barus, Tapanuli Tengah pada tahun 672 M atau tahun 48 Hijriyah. Nabi Muhammad SAW meninggal di Medinah pada tahun 632 M. Tahun hijriyah pertama adalah tahun 622 M. Makam tua di Barus mengindikasikasikan tahun yang begitu dekat dengan tahun-tahun kenabian (semasih Nabi Muhammad masih hidup). Tahun makam tua di Barus ini dapat dibandingkan dengan tahun prasasti Kedukan Bukit (682 M).  

Sementara itu di dalam P'an-yü-hsien-chih bab 53 halaman la menyatakan bahwa ketika navigasi pelayaran perdagangan dibuka pada dinasti T'ang, Mohammed (beragama) Muslim adalah Raja di Medinah. Ini mengindikasikan bahwa pada saat itu di Tiongkok sudah diketahui bahwa raja (Islam) yang beribukota  di Madinah adalah Muhammad. Hal ini sebaliknya juga nama Muhammad sudah mengetahui bagaimana pedagang-pedagang Arab telah mencapai Tiongkok. Boleh jadi laporan-laporan pedagang Arab melalui lautan ini yang diketahui oleh Nabi Muhammad sehingga menantang penduduk bahwa menuntut ilmu itu wajib, bahkan jika harus ke Tiongkok.

Sebagaimana diketahui turunnya ayat pertama (Al Quran) di gua Hira pada tahun 610 M. Nabi Muhammad sendiri lahir di Mekkah tahun 570 M, menikah pada usia 25 tahun dengan Khadijah. Pernah menjadi hakim di kota Mekkah pada usian 35 tahun. Muhammad menerima wahyu pertama 610 pada usia 40 tahun. Pada tahun 622 Nabi Muhammad dan pengikut pindah dari Mekkah ke Madinah (sebagai awal tahun Hijriyah). Jika dibandingkan catatan Tiongkok di atas, empat orang Muhammad sudah berada di Canton pada tahun 618 (sebelum hijrah).

Tunggu deskripsi lengkapnya

Era Kenabian di Nusantara: Mempelajari Pengetahuan hingga ke Sumber-Sumber Sejarah di Tiongkok

Relevan dengan hadis yang disebut di atas tentang tuntutlah ilmu walau jauh ke Tiongkok,dalam Al Quran juga ada yang mengindikasikan tentang keberadaan Barus. Disebutkan dalam QS 76: 5 bahwa Dan orang-orang yang taat akan minum dari gelas, sejenis minuman yang campurannya adalah kapur [barus].

Dalam hubungannya perdagangan antara Arab dan Tiongkok dalam navigasi pelayaran perdagangan melalui pelabuhan Barus di pantai barat Sumatra.suatu pelabuhan kuno dari mana kapur barus (kamper) diekspor. Dalam catatan Eropa abad ke-2, Ptolomeus menyebutkan sentra produksi kamper berada di Sumatra bagian utara. Pada catatan Eropa yang berasal dari abad ke-5 sudah disebut secara tegas bahwa kamper diekspor dari pelabuhan yang disebut Barus. Ini mengindikasikan bahwa kamper dan kota Barus sudah dikenal sebelum pedagang-pedagang Arab dapat mencapai pantai timur Tiongkok di Kanton.

 

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar