Kamis, 01 September 2022

Sejarah Jambi (10): Bangko di Merangin, Mengapa Prasasti di Karang Berahi? DAS Batanghari, Hulu di Bangko Hilir di Bangka


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jambi dalam blog ini Klik Disini 

Nama Bangko dan nama Merangin pada masa ini sudah dikenal luas. Namun di wilayah hulu daerah aliran sungai Batanghari ini diduga kuat sudah dikenal pada zaman kuno, ini sehubungan dengan ditemukan prasasti berasal dari abad ke-7. Nama Bangko sendiri mirip dengan nama pulau Bangka di timur hilir sungai Batanghari. Apakah ada hubungan Bangko dan Bangka di zaman kuno dimana di dua wilayah ditemukan prasasti yang sama-sama berasal abad ke-7.


Kabupaten Merangin adalah salah satu kabupaten yang berada di provinsi Jambi. Ibu kota kabupaten Merangin berada di (kecamatan) Bangko. Pada ahun 1946 dibentuk provinsi Sumatra Tengah ditetapkan menjadi provinsi, daerah Keresidenan Jambi yang terdiri dari Kabupaten Batanghari dan Kabupaten Merangin. Pada tahun 1957  dibentuk Provinsi Jambi (terdiri dari: Kabupaten Batanghari, Kabupaten Merangin dan Kabupaten Kerinci). Dalam perjalanan \Kabupaten Merangin (wilayahnya saat ini adalah Kabupaten Merangin, Kabupaten Sarolangun, Kabupaten Bungo, dan Kabupaten Tebo) yang beribu kota di Bangko, kemudian ibu kota dipindahkan ke Muara Bungo. Kabupaten Sarolangun Bangko tahun 1965, pusat pemerintahan ditempatkan di Bangko. Tahun 1999 berdiri sendiri Kabupaten Merangin, dan Kabupaten Sarolangun. Kabupaten Sarolangun beribu kota di Sarolangun dan Kabupaten Merangin beribu kota di Bangko. Di Kabupaten Merangin terdapat beberapa sungai yakni Batang Tembesi, Batang Merangin, Batang Tabir. Pada masa lalu daerah ini merupakan pendukung Kerajaan Melayu Jambi namun mempunyai pemerintahan sendiri dibawah tiga depati. Tahun 1906 Pemerintahan Hindia Belanda membentuk dan membagi wilayah Kewedanaan Bangko dalam beberapa Marga, dimulai pada tahun 1916. Wilayah Merangin merupakan Subdivisi Bangko dibawah Devisi Jambi yang masuk Keresidenan Palembang. Keresidenan Jambi dibentuk kemudian. (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah nama Bangko di kabupaten Merangin? Seperti yang disebut di atas, nama Bangko mirip nama (pulau) Bangka. Nama Bangko terhubung dengan nama Merangin. Do wilayah Merangin terdapat prasasti berasal dari abad ke-7. Lalu bagaimana sejarah nama Bangko di kabupaten Merangin? Seperti disebut di atas, dari sejarah candi inilah sejarah Jambi mulai dinarasikan. Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Nama Bangko di Kabupaten Merangin; Pulau Bangka dan Bagaimana Ada Prasasti Berasal Abad ke-7 di Karang Berahi

Sejarah zaman kuno, tidak hanya menarik, tetapi juga memahaminya penuh tantangan. Data yang minim menyebabkan sejarah zaman kuno menjadi samar-samar. Situasi menjadi lebih buruk karena dalam penyelidikan sejarah, ada sejumlah peneliti sejarah seakan mennggunakan  pepatah lama: ‘jika hilang di tempat gelap, carilah di tempat terang’. Dalam hal ini bagian barat Sumatra (bagian barat Jambi) sejarahnya lebih gelap dibandingkan sejarah bagian timur Sumatra (bagian timur Jambi). Apakah dalam hal ini, pepatah lama tersebut telah menjadi kebenaran sejarah?


Sejarah zaman kuno (pulau) Sumatra, faktanya bermula di bagian barat Sumatra. Tepatnya di sepanjang daerah pegunungan Bukit Barisan. Secara geomorfologis, pulau Sumatra telah jauh menjadi lebih luas sekarang dibandingkan kondisi zaman kuno. Pulau Sumatra meluas ke arah (pantai) timur karena adanya proses sedimentasi jangka panjang. Faktor penting dalam hal ini adalah sungai-sungai yang berhulu di pegunungan. Seiring dengan meluasnya daratan ke pantai timur, sungai-sungai tersebut juga semakin memanjang. Oleh karenanya muncul navigasi pelayaran perdagangan sungai. Lalu bagaimana dengan navigasi perjalan perdagangan zaman kuno? Jelas tidak melalui sungai. Besar kemungkinan melalui jalan darat di pegunungan. Jalur lalu lintas perdagangan darat zaman kuno tersebut diduga kuat melalui Jalan Trans Tengah Sumatra. Rutenya dari selatan dimulai dari Lampong, Martapura, Muara Enim. Lahat, Lubuklingai, Sarolangun, Bangko hingga Solok dan seterunya hingga Indrapuri (Aceh). Jalan kuno (jalan trans-tengah Sumatra) adalah titik-titik tengah ke pantai barat dan ke pantai timur saat itu. Jalan trans-timur Sumatra adalah jalan baru (sementara jalan trans-barat Sumatra belum sepenuhnya tersambung). Dalam konteks jalu zaman kuno ini, pantai timur Sumatra tidak jauh dari jalan trans-tengah Sumatra yang sekarang. Dengan kata lain Bangko di kabupaten Merangin dan Sarolangun di kabupaten Sarolangun terbilang cukup dekat dengan pantai timur (tidak sejauh sekarang yang seakan jauh berada di pedalaman, dari arah pantai timur).    

Satu yang terpenting dalam konteks zaman kuno ini di (wilayah) Jambi yang sekarang, apakah nama Bangko dan nama Sarolangun nama-nama kuno? Juga dapat ditambahkan apakah nama  Kerinci adalah nama kuno? Pertanyaan ini dapat diperluas, apakah nama (pulau) Bangka merujuk pada nama Bangko? Apakah nama Sarolangun merujuk pada nama sungai. Dalam bahasa India (selatan), aro=aru=ara=sungai). Tiga wilayah terjauh di provinsi Jambi tersebut (Kerinci, Bangko dan Saroloangun) seakan mengundang pertanyaan misteri? Dalam hal inilah kita berbicara bahwa sejarah zaman kuno tidak hanya menarik tetapi juga sangat menantang.


Beberapa petunjuk awal tentang data sejarah yang dapat dihubungkan dengan wilayah pedalaman Sumatra di wilayah (provinsi) Jambi antara lain, ditemukannya prasasti kuno yang diduga berasal dari abad ke-7 di Karang Berahi, kabupaten Merangin (tidak jauh dari Bangko); dan ditemukannya teks tua di Tanjung Tanah di kabupaten Kerinci.

Prasasti yang ditemukan di Karang Berahi, Bangko/Merangin, pada dasarnya mirip satu sama lain (copy paste) antara prasasti di Kerang Berahi dengan prasasti yang ditemukan di Telaga Batu (Palembang), Kota Kapur (Bangka) dan Pasemah (Lampung). Apakah keempat prasasti ini dibuat sejaman abad ke-7? Yang mendahului prasasti-prasasti tersebut di zaman kuno yang sama adalah prasasti Kedoekan Boekit (682 M) dan prasasti Talang Tuwo (684 M). Prasasti Kota Kapur sendiri diyakini bertarih 686 M. Jika empat prasasti yang mirip satu sama lain tersebut berasal dari zaman yang sama, lantas apakah tempat-tempat tersebut (ditemukan prasasti) mengindikaasikan navigasi pelayaran?


Sebagai tempat-tempat yang terhubung pada zaman yang sama dalam konteks navigasi pelayaran perdagangan zaman kuno, lalu apakah Karang Berahi dulunya di zaman kuno adalah wilayah pesisir? Pertanyaan ini kurang lebih sama bahwa Kota Kapur di pulau Bangka awalnya di pantai (barat pulau Bangka), Telaga Tuwo berada di suatu pulau di muara sungai Musi dan Pasemah di Lampung berada di garis pantai/laut.

Jika garis pantai zaman kuno lebih ke timur, katakanlah di Muara Tembesi, Palembang dan Pasemah (serta pulau Bangka) lantas mengapas prasasti abad ke-7 tersebut justru ditemukan di Karang Berahi (Bangko/Merangin)?

Tunggu deskripsi lengkapnya

Pulau Bangka dan Bagaimana Ada Prasasti Berasal Abad ke-7 di Karang Berahi: Geomorfologi Hulu Daerah Aliran Sungai Batanghari

Seperti di bagian lain pulau Sumatra, secara geomorfologis, wilayah Sumatra bagian selatan, di sebelah barat adalah pegunungan (Bukit Barisan) dan do sebelah timur adalah dataran rendah. Sebelum terbentuknya dataran rendah (alluvial) tersebut, terdapat banyakk pulau-pulau besar dan pulau-pulau kecil. Pulau-pulabu besar antara lain pulau Bangka dan pulau Pegunungan Tigapuluh. Di sebelah timur laut Karang Berahi terdapat bagian daratan Sumatra (berupa tanjong). Besar dugaan pada zaman kuno, tempat ditemukan prasasti di Karaang Berahi adalah sisi dalam suatu teluk (Bangko sendiri berada di belakang pantai).  


Pulau Bangka awalnya adalah suatu pulau yang lebih beras. Bentuk pulau Bangka pada masa ini lebih kecil karena ada proses abrasii. Di pantai barat inilah ditemukan prasasti di Kota Kapur. Sementara itu tempat ditemukan prasasti di Kedukan Bukit adalah suatu pulau diantara pulau Bangka dan daratan Sumatra. 

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar