Sabtu, 15 Oktober 2022

Sejarah Bangka Belitung (46): Depati Amir, Pahlawan Nasional Asal Bangka Belitung; Mengapa Diasingkan ke Koepang, 1851?


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bangka Belitung dalam blog ini Klik Disini  

Pahlawan Indonesia sangat banyak jumlahnya. Namun pahlawan Indonesia di Bangka Belitung baru satu yang ditabalkan dengan gelar Pahlawan Nasional, Depati Amir. Perjuangan Depati Amir di pulau Bangka dalam hubungannya dengan perselisihan dalam pertambangan timah di pulau Bangka tahun 1851. Pada fase ini cabang Pemerintah Hindia Belanda dibentuk di Belitung (cabang Pemerintah Hindia Belanda di Bangka sendiri dimulai tahun 1822). Apakah ada hubungan perlawanan Depati Amir di Bangka dengan kehadiran perusahaan tambang swasta di Belitung?


Depati Amir (lahir di Mendara, Bangka, 1805 - meninggal di Air Mata, Kota Lama, Kupang, 28 September 1869), salah satu pahlawan nasional. Depati Amir aktif melawan penjajahan Belanda di Bangka memiliki kepentingan terhadap aktivitas tambang timah. Karena perlawanannya akhirnya ia diasingkan. Namanya kini diabadikan di Bandar Udara Depati Amir dan Stadion Depati Amir, Pangkal Pinang. Pada tahun 2018, ia dianugerahi gelar pahlawan nasional. Depati Amir seorang putra bangsawan Bangka, Depati Bahrin. Amir pernah memimpin masyarakat menumpas perompak di sekitar perairan Bangka. Pada tahun 1830, Amir diangkat menjadi depati, kepala atau atau beberapa kampung. Depati Bahrin sebelumnya memimpin Kampung Mendara dan Mentadai. Perjuangan Depati Amir bermula dari urusan keluarganya dengan Belanda. Saat itu, Belanda mulai membuat parit-parit tambang timah di Pulau Bangka dan berkongsi dengan Depati Bahrin untuk mengeruk timah di tanah miliknya, namun tidak memenuhi kewajibannya membayarkan hasil tambangnya. Hal itu menyulut Depati Amir mengajukan tuntutan kepada perusahan Belanda. Tuntutan Depati Amir terdengar oleh Residen Bangka F van Olden. Residen menilai tindakan Depati Amir dapat menyulut pergolakan. Lalu, pemerintah mengutus pejabat-pejabat penting untuk menangkapnya, namun gagal. Pada 7 Januari 1851, Depati Amir berhasil ditangkap. Penangkapan itu dapat terjadi karena Belanda berhasil menyuap 7 orang panglima dan 36 pasukan Depati Amir yang sedang kesulitan logistik. Amir tertangkap dalam kondisi sakit. Pada 11 Februari 1851, Depati Amir dikirim ke tempat pengasingan di Kupang, Timor (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah Depati Amir, Pahlawan Nasional asal Bangka Belitung dan mengapa diasingkan ke Koepang 1851? Seperti disebut di atas, banyak pahlawan Indonesia di Bangka dan Belitung, tetapi sejatah ini baru Depati Amir yang ditabalkan dengan gelar Pahlawan Nasional. Lalu bagaimana sejarah Depati Amir, Pahlawan Nasional asal Bangka Belitung dan mengapa diasingkan ke Koepang 1851? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Depati Amir, Pahlawan Nasional Asal Bangka Belitung; Mengapa Diasingkan ke Koepang 1851?

Berita resmi pemerintah (Hindia Belanda) dipublikasikan surat kabar di Batavia, Javasche courant, 22-01-1851. Disebutkan Depati Amir di Bangka ditangkap pada tanggal 7 Januari 1851. Dengan demikian, berakhir sudah perlawanan yang dilancarkan Depati Amir dengan pengikutnya dalam menentang otoritas Pemerintah Hindia Belanda di (residentie) Bangka.


Pada fase ini ada dua peristiwa lain di wiklayah yang berbeda yang juga terkait dengan penentangan otoritas Pemerintah Hindia Belanda. Di daerah hulu daerah aliran sungai Musi di (district) Ampat Lawang, Radja Tiang Alam menentang otoristas Pemerintah Hindia Belanda di (residentie) Palembang. Radja Tiang Alam dikejar militer. Sementara itu di Palembang, seorang kapten Amerika. Gibson ditangkap karena membuat kerusuhan. Di dalam kapalnya ditemukan surat berbahasa Melayu, yang ditandatanganinya sendiri. Isi surat itu bekerjasama sama dengan Sultan Djambi untuk menetang otoritas Pemerintah Hindia Belanda di Moeara Kompeh (daerah aliran sungai Batanghari; di hilir kota Djambi). Oleh karena itu dibawa ke Batavia dan dijebloskan ke bui sambal menunggu jaksa menyusun tuntutan di pengadilan. Namun sebelum waktu pengadilan, Kapten Gibson melarikan diri (dan kembali ke Amerika di Virginia).

Tunggu deskripsi lengkapnya

Mengapa Depati Amir Diasingkan ke Koepang, Timor 1851? Ir Sokarno Diasingkan di Ende, Flores 1934

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar