*Untuk melihat semua artikel Sejarah Surakarta/Solo dalam blog ini Klik Disini
Pers sudah lama di Indonesia (baca: sejak
Hindia Belanda). Ada pers (berbahasa) Belanda dan ada pers berbahasa Melayu
(baca: bahasa Indonesia) dan bahasa daerah. Diantara per berbahasa Belanda dan
berbahasa Melayu/Daerah kemudian terbentuk pers pribumi (sepenuhnya di bawah
control stakeholder pribumi). Dalam konteks inilah kita membicarakan kongres
pers di Indonesia dan secara khusus Kongres Pers di Soerakarta yang diadakan
tahun 1939. Sarikat jurnalis pribumi sendiri sudah terbentuk jauh sebelumnya.
Monumen Pers Nasional adalah museum khusus pers nasional Indonesia di Surakarta. Koleksinya meliputi teknologi komunikasi dan teknologi reportase, seperti penerbangan, mesin ketik, pemancar, telepon, dan kentongan besar. Museum ini didirikan tahun 1978. Kompleks monumen antara lain terdiri atas gedung societeit lama, dibangun 1918, dan digunakan untuk pertemuan pertama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Monumen Pers Nasional memiliki koleksi yang terdiri dari lebih dari satu juta koran dan majalah serta berbagai benda bersejarah yang terkait dengan pers Indonesia. Bangunan dulunya bernama "Societeit Sasana Soeka". Pada tahun 1933, Sarsito Mangunkusumo dan sejumlah insinyur lainnya bertemu di gedung ini dan merintis Solosche Radio Vereeniging, radio publik pertama yang dioperasikan pribumi. Pada tanggal 9 Februari 1946, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dibentuk di gedung ini. Tanggal 9 Februari 1956, dalam acara perayaan sepuluh tahun PWI, menyarankan pendirian yayasan yang akan menaungi Museum Pers Nasional. Yayasan ini diresmikan tanggal 22 Mei 1956. Nama "Monumen Pers Nasional" ditetapkan tahun 1973 dan lahannya disumbangkan ke pemerintah tahun 1977. Museum ini resmi dibuka tanggal 9 Februari 1978. Museum ini dikelola oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Bagian depan ruang depan dihiasi pahatan kepala tokoh-tokoh dalam sejarah jurnalisme Indonesia, termasuk Tirto Adhi Soerjo, Djamaluddin Adinegoro, Sam Ratulangi, dan Ernest Douwes Dekker. Diorama kedua memperlihatkan pers di era kolonial, termasuk surat kabar pertama era VOC Memories der Nouvelles (1615) dan surat kabar Bataviasche Nouvelles (1744), dan surat kabar bahasa Jawa pertama, Bromartani (1855) (Wikipedia)..
Lantas bagaimana sejarah Kongres Pers di
Surakarta, 1939? Seperti disebut di atas, kongres pers di Surakarta adalah
kongres pers pribumi, suatu stakeholder pers yang berada di bawah control
orang-orang Indonesia. Dalam hubungan ini garis continuum dari Sarikat Jurnalis
Pribumi (Perdi) hingga Persatoean Wartawan Indonesia (PWI). Lalu bagaimana
sejarah Kongres Pers di Surakarta, 1939? Seperti kata ahli sejarah tempo
doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan
wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.





