Jumat, 17 Desember 2021

Sejarah Menjadi Indonesia (299): Pahlawan Indonesia di Ambon GA Siwabessy: Dokter Nederlandsch Indische Artsenschool (NIAS)

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Satu lagi pahlawan Indonesia berasal dari Saparua adalah GA Siwabessy. Pahlawan Saparua yang terbilang dari generasi lebih muda dibanding pahlawan yang disebut sebelumnya. Lantas apakah masih ada generasi berikutnya? Kita lihat nanti. GA Siwabessy sendiri memulai pendidikan tinggi di sekolah kedokteran NIAS di Soerabaja. Seperti halnya Dr J Leimena, Dr GA Siwabessy terhitung cukup lama menangani kementerian kesehatan.

Prof. Dr. Gerrit A. Siwabessy (19 Agustus 1914-11 November 1982) pernah menjadi Menteri Badan Tenaga Atom Nasional (1964) dan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (1966-1978). Gerrit Augustinus Siwabessy lahir di negeri Ullath, pulau Saparua, Enoch Siwabessy, ayahnya adalah seorang petani cengkih yang meninggal dunia ketika Gerrit baru berusia satu tahun. Setelah meninggalnya ayahanda dari Gerrit, ibunya kemudian menikah lagi dengan seorang dari Ambon Yakub Leuwol, seorang guru sekolah dasar. Hal ini memungkinkan Gerrit menjalani pendidikan dasar dan menengah dengan baik. "Beta selalu menyertai tuan guru Leuwol yang berturut-turut ditempatkan sebagai guru di Larike, Tawiri, dan Lateri," tulis Siwabessy dalam memoarnya. Pada 1931, Siwabessy berhasil menyelesaikan pendidikannya di sekolah MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di kota Ambon. Kemudian Siwabessy meneruskan pendidikan di sekolah kedokteran NIAS (Nederlandsch Indische Artsen School) di Surabaya. Di NIAS Siwabessy, sesuai nama marganya dipanggil kawan-kawannya dengan julukan Upuleru, yang dalam bahasa Maluku Tengah artinya “dewa”. (Wikipedia).

Lantas bagaimana sejarah Pahlawan Indonesia GA Siwabessy? Seperti disebut di atas, GA Siwabessy menempuh pendidikan tinggi di Soerabaja, yang berbeda dengan seniornya di Batavia, Bandoeng dan Belanda. Lalu bagaimana sejarah GA Siwabessy? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Pahlawan Indonesia Asal Ambon GA Siwabessy: Dokter Nederlandsch Indische Artsenschool Soerabaja

GA Siwabessy diterima di sekolah kedokteran di Soerabaya, Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS) tahun 1931. Pada tahun 1932, GA Siwabessi lulus ujian dari kelas satu naik ke kelas dua (lihat De Indische courant, 24-05-1932). Disebutkan di NIAS hasil ujian berikut: Lulus dari kelas satu naik ke kelas dua antara lain GA Siwabessy, Hadrian Sinaga, Roebiono, Pengara Hoetagaloeng, Han Soen Hoo. M. Harijoto, Liem Khoen Go dan Serikondar Nainggolan. Pada tahun 1933 terdapat nama Mohamad Nawir yang naik kelas dari kelas tiga ke kelas empat (lihat De Indische courant, 22-05-1933)

Di atas mereka yang naik ke kelas tiga antara lain Djafar Siregar, Lie Seng Tong, RVF Kaunang, Ph Napitoepoeloe dan Teng Keng Hong; naik ke kelas empat antara lain JP Mangindaan dan Shahboedin; naik ke kelas lima antara lain Nn JA Gerungan, Willer Hoetagaloeng, Soetono, The Bing Tjo, KA Staa dan Amir Hoesin Siagian; naik ke kelas enam antara lain Koempoelan PanĂ©, Soemito, SJH Usmany dan AL Tendean; naik ke kelas tujuh antara lain Artodibjo, Bambang Soetarso, Liem Wie Lian dan  Njo Tjiang Khing. Catatan: Amir Hoesin Siagian menjadi menantu Wali Kota Soerabaja Radjamin Nasution dan Willer Hoetagaloeng menjadi dokter pribadi Jenderal Soedirman.

Pada tahun 1934 GA Siwabessy lulus ujian dari kelas tiga ke kelas empat (lihat De Indische courant, 09-06-1934). Ini mengindikasikan GA Siwabessy lancar-lancar saja studinya. Dalam list yang nai ke kelas empat selain terdapat nama Hadrian Sinaga, Roebiono, P Hoetagaloeng, M. Harijoto dan Serikondar Nainggolan serta Liem Khoen Go, juga ada nama Ibnoe Soetowo (tetapi tidak ada lagi nama Han Soen Hoo). Dalam hal ini Ibnoe Soetowo pernah menunda atau tinggal kelas, demikian juga Han Soen Hoo mungkin tinggal kelas atau menunda. Pada kelas di atasnya tidak terdapat nama Mohamad Nawir. Catatan: kelak pada era perang kemerdekaan Dr Willer Hoetagaloeng dan Dr Ibnoe Soetowo dua diantara angkatan pertama akademi militer Indonesia di Djogjakarta yang dipimpin Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo yang lulus dengan pangkat Overste (Letnan Kolonel). Pada tahun 1938 Mohamad Nawir menjadi kapten timnas sepak bola ke Piala Dunia di Prancis (Mohamad Nawir yang juga dikenal Achmad Nawir lulus dari NIAS mendapat gelar dokter tahun 1939)..

Sejarah sekolah kedokteran di Hindia Belanda sudah sejak lama. Ini bermula pada pendirian sekolah kedokteran Docter Djawa School di Batavia tahun 1851, Pada tahun 1902 sekolah ini (Docter Djawa School) ditingkatkan statusnya dari tujuh tahun menjadi sembilan tahun dengan nama baru STOVIA (siswa yang diterima pribumi lulusan ELS). Dalam perkembanganya lama studi menjadi sebelas tahun (tiga tahun persiapan dan delapan tahun tingkat medik). Pada periode ini di Soerabaja dididirikan sekolah kedokteran yang baru tahun 1913 yang diberi nama NIAS (siswa yang diterima lulusan MULO termasuk Eropa.belanda dan Cina/Arab). Pada tahun 1927 STOVIA ditingkatkan menjadi fakultas Geneeskundige Hoogeschool/GHS (mahasiswa yang diterima lulusan HBS lima tahun dan AMS enam tahun dari semua golongan). Lama studi di GHS sembilan tahun, sementara di NIAS lama studi delapan tahun. Lulusan GHS disebut Arts (setara dokter Eropa) sedangkan lulusa NIAS gelarnya disebut Indisch Arts (tidak setara Eropa). Di NIAS kemudian dibentuk sekolah kedokteran gigi STOVIT (sekolah kedokteran gigi yang pertama). Angkatan pertama dan lulusan pertama diantaranya R Moestopo (yang juga bersama Ibnoe Soetowo dan W Hoetangaloeng masuk akademi militer dengan pangkat Overste). R Moestopo dengan pangkat terakhir Mayor Jenderal adalah pahlawan Indonesia yang telah ditabalkan sebagai Pahlawan Nasional.

Pada tahun 1935 GA Siwabessi dkk di Soerabaja membentuk komiter untuk mengadakan pertemuan di Soerabaja untuk mempersiapkan konferensi semua pemuda Ambon se-Jawa (lihat Soerabaijasch handelsblad, 26-01-1935). Dalam pertemuan ini dibentuk Panitia Persiapan Jawa Timur sebagai pendahulu. Panitia yang terbentuk ini terdiri dari J Oesmany sebagai ketua, GA Siwabessy sebagai sekretaris, FA Lokollo sebagai bendahara dan KA Staa dan A Pattiradjawane sebagai komisarisa. Panitia pendahuluan Jawa Timur di Soerabaja ini akan menghubungi rekan-rekan mereka di Jawa Tengah dan Jawa Barat untuk membentuk kepanitian serupa.

GA Siwabessy naik dari kelas empat ke kelas lima (lihat De Indische courant, 15-06-1935). Teman-temannya yang lain juga nai kelas termasuk Ibnoe Soetowo. Pada kelas tertinggi dari kelas 7T (teoritis) ke kelas 7P (praktek) masih ada nama-nama Nn JA Gerungan, Willer Hoetagaloeng, Soetono dan KA Staa, tetapi tidak ada nama The Bing Tjo dan Amir Hoesin Siagian. Nama Amir Hoesin Siagian disebut sebelumnya lulus ujian bagian pertama Indisch Arts (lihat De Indische courant, 17-01-1935). Pada tahun 1946 GA Siwabessy naik ke kelas enam (lihat De Indische courant, 16-06-1936). Semua teman sekelas yang disebut di atas juga naik kelas. Pada tahun 1937 GA Siwabessy naik ke kelas tujuh  (lihat De Indische courant, 24-06-1937).

GA Siwabessy tahun 1939 naik dari kelas 7T ke kelas 7P (lihat De Indische courant, 19-06-1939). Tampaknya GA Siwabessy mengulang atau tinggal kelas tahun sebelumnya. Seharusnya sudah lulus ujian akhir tahun ini. Pada tahun ini yang lulus ujian akhir dan mendapat gelar doktrer adalah Achmad Nawir (kapten timmas ke Piala Dunia di Prancis tahun 1938). Yang sama-sama naik kelas 7P adalah Raden Roebiono yang sebelumnya pernah tinggal kelas/menunda). Nama-nama teman lama GA Siwabessy Hadrian Sinaga dan Pengara Hoetagaloeng tidak ada (mungkin sudah lulus ujian akhir, karena nama keduanya tidak ditemukan kelas yang lebih rendah).

GA Siwabessy lulus ujian bagian pertama Indisch Arts pada bulan September 1940 (lihat De Indische courant, 02-10-1940). Dalam berita ini juga disebutkan nama Liem Khoen Go (kelahiran Malang) dan M. Harijoto (kelahiran Madioen) telah lulus ujian akhir dengan mendapat gelar Indisch Arts. Keduanya sama-sama masuk dengan GA Siwabessy di NIAS pada tahun 1931. Pada kelas 7P baik ujian bagian pertama maupun ujiang bagian kedua Indisch Arts tidak lagi bersmmaan satu sama lain sebagimana dii kelas-kelas yang lebih rendah.

Kapan GA Siwabessy lulus di NIAS dan mendapat gelar Indisch Arts tidak terinformasikan, Yang terinformasikan adalah bahwa GA Siwabessy menikah di Tjepoe yang akan diadakan pada tanggal 15 Februari 1942 (lihat Soerabaijasch handelsblad, 10-02-1942). Disebutkan nama calon pengantinya adalah Reny Poetiray. Dalam pengumuman pernikahan ini disebut status GA Siwabessi sebagai kandidat dokter.

Sebagaimana diketahui bahwa sejak pertengahan bulan Desember 1941 serangan bom militer Jepang sudah terjadi di Tarempa dan Pontianak. Pada saat itu di Tarempa (Natuna) Dr Amir Hoesin Siagian bertugas. Istrinya (purti Wali Kota Soerabaja) dari Tandjoeng Pinang menulis surat ke Soerabaja tentang kejadian kota Tarempa sudah hancur dan mereka sudah diungsikan ke Tandjoeng Pinang. Surat tersebut dimuat di surat kabar Soera Oemoem di Soerabaja yang dilansir surat kabar Soerabaja, Indische Courant, 08-01-1942. Setelah itu serangan semakin meluas di seluruh Hindia Belanda dan kemudian memasuki Laut Jawa dan akhirnya militer Jepang memasuki pulau Jawa yang kemudian Pemerintah Hindia Belanda menyerah pada tanggal 8 Maret 1942 di Soebang. Dalam hubungan ini, besar kemungkinan GA Siwabessy tidak berhasil menyelesaikan studinya meski tinggal sedikit lagi.

GA Siwabessy telah memberikan gelar dokter (Dr) pada namanya sebagaimana dapat dibaca pada berita duka tentang meninggal temannya pada bulan Juni 1948 yang dimuat pada surat kabar Nieuwe courant, 09-06-1948. Dalam berita itu, Dr GA Siwabessy tinggal (beralamat di kota Malang). Pada bulan Desember 1948 keluarga GA Siwabessy sudah tinggal (beralamat) di Djakarta/Batavia (lihat Het dagblad: uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 18-12-1948).

Tunggu deskripsi lengkapnya

Dr GA Siwabessy dan Dr Leimena

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar