Minggu, 30 Januari 2022

Sejarah Menjadi Indonesia (386): Pahlawan-Pahlawan Indonesia dan Oei Tjoe Tat, UI: Generasi Muda Tionghoa di Dunia Politik

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Oei Tjoe Tat adalah generasi muda orang Tionghoa. Oei Tjoe Tat diangkat sebagai menteri pada era Presiden Soekarno. Oei Tjoe Tat tidak sempat menyelesaikan sekolah hukum Recgthoogeschool pada era Hindia Belanda karena pendudukan militer Jepang tetapi masih bisa diselesaikannnya pada era perang kemerdekaan di wilayah pendudukan Belanda/NICA. Pada era pengakuan kedaultan Indonesia, Oei Tjoe Tat terjun ke dunia politik.

Oei Tjoe Tat (26 April 1922 – 26 Mei 1996) semasa hidupnya adalah seorang politikus. Karier politiknya dimulai semenjak lulus dari Universiteit van IndonesiĆ« (sekarang Universitas Indonesia) di Batavia pada tahun 1948. Ia terpilih wakil presiden Partai Demokrat Tionghoa Indonesia (PDTI) pada tahun 1953, bergabung dalam Badan Permusjawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki) pada tahun 1954 dan sejak tahun 1960 aktif dalam Partai Indonesia (Partindo) serta menjadi salah satu pengurus pusatnya. Pada tahun 1963 ia diangkat menjadi Menteri Negara, dan kemudian sempat menjadi salah satu anggota Kabinet Dwikora yang dijuluki sebagai Kabinet 100 Menteri. Setelah peristiwa Gestok tahun 1965 Oei ditahan oleh pemerintah Orde Baru dan dipenjarakan selama 10 tahun, tanpa melalui proses pengadilan sampai tahun 1976. Pada tahun 1976 Oei akhirnya dikenai tuduhan terlibat dalam Gestok, tetapi tuduhan itu tidak pernah terbuktikan. Akhirnya Oei dibebaskan dari tahanan pada tahun 1977. Memoirnya yang berjudul Memoar Oei Tjoe Tat: Pembantu Presiden Soekarno diterbitkannya pada usianya yang ke-73 untuk memperingati pesta emas hari pernikahannya. Namun pada September 1995, atas anjuran Fosko '66 (Forum Studi dan Komunikasi '66), buku ini dilarang beredar oleh pemerintah Indonesia di bawah Presiden Soeharto. (Wikipedia).

Lantas bagaimana sejarah Oei Tjoe Tat? Seperti disebut di atas, pendidikannya di fakultas hukum disela oleh pendudukan militer Jepang. Lalu bagaimana sejarah Oei Tjoe Tat? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Pahlawan-Pahlawan Indonesia dan Oei Tjoe Tat, UI: Generasi Muda Tionghoa Dalam Dunia Politik

Pada tahun 1935 Oei Tjoe Tat lulus ujian masuk di sekolah menengah HBS-AMS Semarang (luhat De locomotief, 27-05-1935). Pada tahun 1936 Oei Tjoe Tat lulus ujian transisi di afdeeling HBS naik dari kelas satu ke kelas dua (lihat De locomotief, 29-05-1936). Pada tahun 1937 naik dari kelas dua ke kelas tiga (lihat Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indie, 29-05-1937). Pada tahun 1939 naik dari kelas empat ke kelas lima (lihat. De locomotief, 26-05-1939).

Oei Tjoe Tat terbilang lancar studinya. Sekolah HBS-AMS Semarang terbagi dua afdeeling yakni HBS lima tahun dan AMS enam tahun. Syarat masuk lulusan sekolah dasar berbahasa Belanda (ELS, HIS atau HCS). Oet Tjoe Tat di afdeeling HBS. Perbedaan skor nilai ujian masuk (akademik dan bahasa Belanda) menggolongkan siswa HBS (5 tahun) dan AMS (6 tahun). Afdeeling AMS Semarang hanya menyelenggarakan AMS tiga tahun (setingkat MULO) yang dapat dilanjutkan ke AMS lain seperti di Jogjakarta, Malang, Bandoeng atau Batavia. Tidak diketahui sejak kapan penyelenggaraan AMS ini di Semarang dilakukan, tetapi penyelenggaraan HBS sudah sejak lama (dibuka tahun 1875). Pribumi pertama lulus dari HBS Semarang adalah Raden Kartono (abang RA Kartini) tahun 1896 (yang kemudian melanjutkan studi ke Belanda). Di luar sekolah, Oei Tjoe Tat aktif berorganisasi sebagai pengurus Hsing Chung Hui sebagai ketua di sektor HBS Semarang (lihat De locomotief, 05-04-1939).

Akhirnya Oei Tjoe Tat lulus ujian akhir di HBS Semarang tahun 1940. Oei Tjoe Tat kemudian melanjutkan studi ke fakultas hukum Rechthoogeschool di Batavia. Tidak diketahui apa alasan Oei Tjoe Tat memilih studi hukum (Hindia) di Batavia. Yang jelas saat itu tidak bisa melanjutkan studi ke Belanda (diduduki militer Jerman, komunikasi terputus dengan Indonesia). Siswa-siswa Tionghoa sudah banyak yang studi di Rechthoogeschool (RHS) dan bahkan sudah ada yang lulus. Sebagaimana diketahui selain fakultas hukum yang ada, juga ada fakultas teknik (THS Bandoeng), fakultas kedokteran (GHS juga di Batavia).

Rechthoogeschool (RHS) dibuka sejak tahun 1924. Salah satu mahasiswa yang diterima pada tahun 1924 ini adalah Lie Tjong Tie (tetapi kemudian transfer ke Belanda) dan Marsaid (wakil ketua panitia Kongres Pemuda 1928). Pada tahun 1940 ini yang lulus ujian transisi RHS antara lain yang lulus ujian kandidat pertama Chairoel Anwar Mochtar, R Winardi, Mohamad Amin, Ong Tjing Tjiat, dan R Oedjek Natakoesoemah (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 01-06-1940). Dalam perkembangannya diketahui Chairoel Anwar Mochtar Nasoetion transfer studi ke Belanda. Seperti kita lihat nanti pasca pengakuan kedaulatan Indonesia (sejak 27 Desember 1949) CA Mochtar Nasoetion menjaadi wakil Indonesia dalam pendirian maskapai GIA di Belanda.

Pada tahun 1941 Oei Tjoe Tat lulus ujian kandidat pertama (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 31-05-1941). Namun tidak lama kemudian studi Oei Tjoe Tat terhenti karena kampus ditutup karena terjadi penduduk militer Jepang dimana Pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 8 Maret 1942 menyerah kepada Kerajaan Jepang.

Universiteit van Indonesie didirikan pada tahun 1940 dan dibuka tanggal 1 Oktober. Salah satu fakultasnya adalah  Fakultas Seni dan Filsafat (Faculteit der Letteren en Wijsbegeerte). di Universitas Indonesia (Universiteit van Indonesie). Perkuliahan awal pada tanggal 4 Desember 1940. Salah satu mahasiswa di fakultas ini adalah Ida Nasoetion, seorang esais muda. Ida Nasoetion lulusan sekolah elit KW III Batavia HBS lima tahun pada pertengahan tahun 1940.  Ida Nasoetion lulus ujian prealiminary (kelas satu) di Faculteit der Letteren en Wijsbegeerte (lihat Soerabaijasch handelsblad 28-08-1941). Seperti Oei Tjoe Tat, Ida Nasoetion juga kuliahnya terhenti. Rechthoogeschool di Batavia adalah bagian yang terpisah dari Unibersiteit van Indonesia (belum bergabung). Hal itulah mengapa jadwal perkuliahannya berbeda. Pada tanggal 29 April 1943 Fakultas Sastra dan Filsafat melakukan aktivitas kembali. Namun karena dosen-dosen sebelumnya adalah orang Belanda, kini mereka pulang ke Negeri Belanda atau diinternir, maka aktivitas perkuliahan tidak berjalan semestinya. Lagi pula jumlah mahasiswa yang ada hanya dapat dihitung dengan jari. Hal itu juga yang terjadi di kampus Oei Tjoe Tat.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Mr Oei Tjoe Tat: Menteri Era Presiden Soekarno

Sejak kedatangan kembali Belanda/NICA, perang terus terjadi antara tentara Belanda (KNIl) dan pasukan gerilyawan/republik (TRI), pada tanggal 21 Januari 1946 kampus Universiteit Indonesie dibuka kembali dengan status Nood Universiteit (Universitas Darurat). Fakultas hukum Rechthoogeschool pada era Hindia Belanda, pada era perang ini dilebur menjadi bagian dari Nood University.

Dalam situasi perang pembukaan Nood Universiteit tidak dengan sendirinya membuat kandidat mahasiswa tertarik. Namun situasi membuat sikap kandidat berubah. Ada kebijakan baru saat perang karena sulitnya ekonomi dan pembiayaan bagi angkatan 1940 dan 1941 uang kuliah akan digratiskan (lihat Het dagblad : uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 12-11-1946). Ini dari sudur Belanda/NICA semacam politik membujuk. Pada saat dibuka 'Universitas Darurat' terdiri dari delapan fakultas (faculteit) dan selusin lembaga (institute) yang semua di bawah naungan Universitas Indonesia (lihat Het nieuws: algemeen dagblad, 24-10-1947). Fakultas yang ada terdiri dari Fakultas Kedokteran (faculteiten der geneeskunde) di Batavia, Fakultas Kedokteran Hewan (faculteiten der dierengenees kunde) dan Fakultas Pertanian (faculteit van landbouw wetenschap) di Bogor; Fakultas Hukum (faculteiten der rechts), Fakultas Ilmu Sosial (faculteiten der sociale weten), Fakultas Sastra dan Filsafat (faculteit der letteren en wijsbegeerte); Fakultas Matematika dan IPA (faculteit der exacte wetenschap) dan Fakultas Teknik (faculteit van technische wetenschap) di Bandoeng; Lembaga/institut pendidikan jasmani (instituut voor lichamelijke) di Bandung, Lembaga kedokteran gigi dental institute (tandheelkundig instituut) di Soerabaija; dan pelatihan meteorologi di Bandoeng.

Seperti halnya Ida Nasoetion, dibukanya universitas darurat Nood Universiteit, Oei Tjoe Tat kembali mendaftar, Oleh karena kampusnya yang dulu telah dilebur dengan Nood Universiteit maka perkuliahan Oeo Tjoe Tat ditansfer )tidak memulai dari nol lagi, tetapi meneruskan). Pada bulan Desember 1947 Oei Tjoe Tat lulus ujian doktoral pertama (lihat Nieuwe courant, 24-12-1947).

 

Dengan dimulainya otonomi di kampus, Ida Nasoetion bersama G. Harahap dari jurusan jurnalistik menggagas dan mendirikan perhimpunan mahasiswa di Universiteit van Indonesia. Dengan kawan-kawan yang lain, Ida Nasoetion meresmikan organisasi mereka dengan nama Perhimpunan Mahasiswa Universitas Indonesia yang disingkat PMUI pada tanggal 20 November 1947. Pada awal organisasi mahasiswa ini didirikan anggotanya baru sebanyak 30 mahasiswa. Organisasi ini kemudian lambat laun sebelum ulang tahun yang pertama anggotanya sudah menjadi 100 mahasiswa (hanya memperhitungkan yang di Batavia). Ida Nasoetion adalah presiden pertama perhimpunan mahasiswa Indonesia. 

Oei Tjoe Tat juga aktif diorganisaso. Ida Nasoetion di organisasi di dalam kampus. Oei Tjoe Tat organisasi di luar kampus, bukan Hsing Chung Hui tetapi organisasi yang baru Sin Ming Hui. Hal ini dapat dilihat pada iklan yang dimuat pada Het dagblad: uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 14-01-1948. Disebutkan Sin Mung Hui bidang (afdeeling sosial ekonomi) membuka kursus perdagangan (handelscursussen) f 60 per peserta kursus dengan empat jam seminggu. Pengasuh antara lain Dr Acc Teng Sioe Tjian, Mr Lie Kian Kim, Oei Tjoe Tat dan Ir DS Tan.

Belum genap satu semester Ida Nasoetion menjabat persiden PMUI, kabar buruk telah datang menimpanya. Koran De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 03-04-1948 melaporkan Ida Nasoetion hilang. Dalam berita itu dinyatakan sebagai berikut: ‘seorang esais Indonesia berumur 26 tahun, Ida Nasution hilang. Selama delapan hari penyelidikan tetap sejauh ini tanpa hasil. Mereka (Ida dan kawan-kawannya) berangkat pada tanggal 23 Maret di pagi hari dengan kereta api ke Buitenzorg, dimana mereka menghabiskan hari di sekitar Masing, Tjiawi’. Sementara itu, koran Het dagblad : uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 05-04-1948 memberitakan sebagai berikut: ‘Sejak 23 Maret, seorang mahasiswa Indonesia Ida Nasution menghilang. Pada tanggal itu mereka ke Tjigombong untuk menghabiskan beberapa waktu di danau Tjigombong (kini, danau Lido). Namun, Ida Nasoetion yang akan kembali pada hari yang sama, tetapi hilang entah dimana. Apakah diculik?’. Kemungkinan besar Ida Nasoetion diculik intel/NICA karena Ida Nasoetion kerap menulis tentang hal merdeka. Ida Nasoetion dan Chairil Anwar sama-sama pengasuh di rubrik kesesastraan di majalah Siasat.

Tidak diketahui kapan Oei Tjoe Tat di Rechthoogeschool (RHS). Yang jelas Liem Kiam Peng diberitakan sudah menyebut namanya dengan gelar Mr (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 31-03-1950). Beberapa bulan kemudian Oei Tjoe Tat juga sudah menambah gelar di depan namanya (lihat Nieuwe courant, 09-05-1950). Disebutkan, Mr Oei Tjoe Tat, pada pemerintahan RIS (Republik Indonesia Serikat), telah ditunjuk dan diangkat menjadi pejabat urusan Cina Chinese Zaken oleh Staf C. van de Militaire Gouverneur van West-Java di Djakarta.

Perlu dicatat disini bahwa Mr Oei Tjo Tat lulusan UI, tetapi harus dibaca Inoversiteit van Indonesia. Artinya apa? Seperti disebut di atas diawali Nood Unibersiteit pada awal perang. Lalu kemudian namanya diubah menjadi Universiteit van Indonesia (sesuai nama yang pernah ada sebelum pendudukan Jepang). Pasca pengakuan kedaulatan Indonesia (setelah 27 Desember 1949) Universiteit van Indonesia menjadi universitas Republik Indonesia Serikat (RIS) yang dipimpin oleh Ir Soerachman. Saat inilah Oei Tjoe Tat menyelesaikan studinya di fakultas hukum Universiteit van Indonesia. Lalu pada tanggal 17 Agusrus 1945 Presiden Soekarno membubarkan RIS dan keesokan harinya diproklamasikan NKRI. Pada bulan September 1950 secara resmi nama Universiteit van Indonesia diubah menjadi Universitas Indonesia sehubungan dengan dibentuknya Jajasan Universitas Indonesia sebagai payung (badan pengelolanya). Ir Soerachman digantikan oleh Prof. Dr Soepomo. Sejak ini nama Universitas Indonesia (hingga ini hari).

Tunggu deskripsi lengkapny

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar