Minggu, 18 Januari 2026

Sejarah Jepang (5): Orang Portugis, Orang Belanda dan VOC di Jepang; Awal Bermula Orang Portugis di Indonesia di Hindia Timur


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jepang dalam blog ini Klik Disini

Orang Portugis merupakan bangsa Eropa pertama yang mencapai Jepang, mendahului Belanda sekitar lebih dari setengah abad. Orang Portugis pertama kali tiba di Jepang pada tahun 1543 ketika sebuah kapal yang membawa pedagang (termasuk António Mota dan Francisco Zeimoto) terhempas badai dan terdampar di Pulau Tanegashima. 


Sejarah Portugis di Jepang dimulai pada tahun 1543, ketika para penjelajah Portugis menjadi orang Eropa pertama yang tiba di sana. Kedatangan mereka membawa pengaruh signifikan dalam perdagangan, persenjataan, dan agama Kristen, meskipun interaksi ini akhirnya berakhir dengan pengusiran mereka dari negara tersebut. Para penjelajah Portugis mendarat di pulau selatan Jepang, Tanegashima, secara tidak sengaja setelah kapal jung mereka terdampar. Pedagang dan saudagar Portugis segera menyadari peluang perdagangan yang menguntungkan di Jepang dan mulai menjalin hubungan. Sejak tahun 1571, Portugis mendirikan pos dagang permanen di Nagasaki dan menikmati monopoli perdagangan tanpa saingan selama sekitar 68 tahun. Dampak terbesar awal adalah pengenalan senjata api (senapan lontak) ke dalam peperangan Jepang, yang secara signifikan mengubah taktik militer di era Sengoku (periode perang sipil). Misionaris Spanyol Fransiskus Xaverius, yang terkait dengan upaya Portugis, tiba di Jepang pada tahun 1550 dan mulai menyebarkan agama Katolik, yang didukung oleh beberapa penguasa daerah untuk keuntungan politik dan ekonomi (AI Wikipedia). 

Lantas bagaimana sejarah Orang Portugis, Orang Belanda dan VOC di Jepang? Seperti disebut du atas, orang Eropa pertama mencapai (wilayah) Jepang adalah orang Portugis. Itu semua bermula dengan Orang Portugis di Indonesia, Hindia Timur. Lalu bagaimana sejarah Orang Portugis, Orang Belanda dan VOC di Jepang? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*. 

Orang Portugis, Orang Belanda dan VOC di Jepang; Awal Mula Orang Portugis di Indonesia, Hindia Timur

Orang pertama Eropa menyebut nama Jepang adalah seorang Venesia Marco Polo (lihat buku The Travels of Marco Polo). Marco Polo, pelaut pertama yang sejak pertengahan abad ke-13 menamai kepulauan Jepang dengan nama Zipangu atau Gipangu (yang berasal dari pengucapan Tionghoa untuk nama Jepang). Orang Venesia berikutnya, Nicolò de' Conti (1395–1469) melakukan perjalanan selama 25 tahun di Asia pada awal abad ke-15 nama hanya sampai di Asia Tenggara seperti Sumatra. Seperti kita lihat nanti, Mendes Pinto, seorang Portugis tiga abad kemudian menyebut nama Jepang. 


Banyak literatur tentang Jepang, tetapi tidak ada yang mendeskripsikan secara keseluruhan sejarah Jepang. Buku-buku tentang sejarah Jepang baru muncul kemudian, diantaranya: HH van Kol. 1921. Oud en Nieuw Japan: Grepen uit het leven. WL en J Brusse’s. CC Krieger. 1939. De geschiedenis van Japan. Drukker/Uitgever De Haan. Buku tertua yang menyinggung tentang Jepang adalah The voyages and adventures of Fernand Mendez Pinto, a Portugal, during his travels for the space of one and twenty years in the Kingdoms of Ethiopia, China, Tartaria, Cauchinchina, Calaminham, Siam, Pegu, Japan yang ditulis oleh Fernão Mendes Pinto tahun 1583 diterbitkan di Lisbon tahun 1614 (tiga puluh satu tahun setelah kematian penulisnya). Buku tersebut menjadi lebih popular setelah diterbitkan di London, 1653. Dalam hal ini dapat ditambahkan disini Sino-Portuguese trade from 1514 to 1644: A synthesis of Portuguese and Chinese sources oleh Tʿien-Tsê Chang, disertasi dalam bidang sastra dan filsafat di Universitas Leiden, 22 Desember 1933; La découverte de la Chine par les Portugais au XVIème siècle et la cartographie des Portulans oleh Albert Kammerer dan Paul Pelliot, 1944 (Drukker/Uitgever Brill). 


Orang Eropa pertama yang tiba di Jepang adalah pelaut Portugis pada tahun 1543, yang secara tidak sengaja mendarat di Pulau Tanegashima (Tanixuma) setelah kapal mereka tersesat karena badai. Mereka adalah tiga orang Portugis, yaitu Antonio da Mota, Fransisco Zeimoto (Diogo Zeimoto), dan Antonio Peixoto, yang memperkenalkan senjata api (harquebus) kepada masyarakat Jepang. Kisah ketiga Portugis itu ditulis Mendes Pinto dalam bukunya.


Semua itu bermula, pada tahun 1511 pelaut Portugis menaklukkan Malaka. Lalu pada tahun tersebut tiga kapal Portugis melanjutkan pelayaran ke Maluku melalui pantai timur Sumatra bagian selatan, pantai utara Jawa, pulau-pulau Nusa Tenggara hingga mencapai Amboina. Pada tahun 1516, pelaut Portugis sudah ada yang mencapai Canton dan membuka pos perdagangan di muara sungai Canton. Namun orang-orang Poertugis diusir pada tahun 1519. Pada tahun-tahun ini pelaut Spanyol mencap[ai Filipina dari Amerika Selatan melalui lautan Pasifik. Pada tahun 1524 pelaut Portugis memuka pos perdagangan di Brunai. 

Pada tahun 1539, saat Mendes Pinto tiba di Malaka datang utusan Raja Aru Aquarem Dabolay (Daulay?) dari Sumatra dengan Balon (Solu Bolon?). Komandan Malaka mengutus Mendes Pinto ke Aru Batak Kingdom (lihat Bab-6 Mendes Pinto). Pada saat ini Kerajaan Aru tengah mempersiapkan perang melawan Atjeh karena dua anak Raja (yang juga keponakan Aquarem Dabolay) dibunuh oleh orang Atjeh di Jagur (Nagur?) dan Lingua (Lingga?). 


Mendes Pinto disambut Raja Aru dengan mengadakan pesta besar yang dirayakan dengan Hoboys, Drum, Terompet, dan Simbal, bersama dengan ansambel vokal yang sangat baik yang disusun sesuai dengan melodi Harpa, Lute, dan Viol. Kerajaan Aru Batak Kingdom disebut Pinto memiliki pasukan dengan kekuatan 15.000 orang, yang mana sebanyak 8.000 orang Batak dan selebihnya adalah orang-orang yang didatangkan dari Menangkabau, Luzon, Indragiri, Jambi dan Borneo. 

Mendes Pinto dari Malaka dan Kerajaan Aru di Sumatra melanjutkan pelayarannya ke Jawa dan kembali ke Malaka sebelum kemudian ke Timur Jauh (lihat Bab-77 Mendes Pinto). Mendes Pinto menulis: ‘tanggal 1 April tahun seribu lima ratus lima puluh lima (1555), kami berangkat dari Malaka via Sinkapoer, Patana, Lugor dan Siam, melintasi Selat Cuy, untuk pergi ke Pulho Cambim. Kami bertemu dengan tiga kapal Portugal yang datang dari Sunda. Kapten kapal Portugal berpendapat bahwa dengan kapal yang kami tumpangi mengatakan bahwa tidak mungkin kami dapat melakukan perjalanan selama itu di kapal tersebut seperti perjalanan ke Jepang. Kami segera menaiki kapal Portugal milik Francisco Toscano yang akan ke Canton. Pelayaran melalui daratan Kerajaan Champaa, dan tiba di sebuah pulau bernama Pullo Champeiloo, di Selat Cauchenchina. 


Singkatnya tiba di Kepulauan Canton (dimana koloni Portuguis berada). Di dalam koloni ini terdapat tiga ribu orang, di antaranya dua belas ratus orang Portugis, dan sisanya orang Kristen dari berbagai bangsa. Sebagian besar perdagangan ini berupa batangan perak Jepang. Setelah kami tiba di Pelabuhan Lampacau, seperti yang telah saya nyatakan sebelumnya, kami tidak dapat bertemu dengan kapal mana pun yang menuju Jepang; sehingga kami terpaksa menghabiskan satu tahun lagi di pelabuhan ini, dengan rencana pada bulan Mei berikutnya, yang sepuluh bulan lagi, untuk melanjutkan pelayaran kami seperti yang telah kami putuskan. Saya menyadari bahwa tidak ada harapan untuk pergi ke Jepang tahun ini, baik karena musimnya telah berlalu, maupun karena ketidaknyamanan lain yang terjadi, kami terpaksa tinggal di pulau ini sampai waktu yang tepat bagi kami untuk melakukan perjalanan ke sana. Akhirnya, kami sampai di Kota Fucheo, yang telah sering saya sebutkan, yang merupakan ibu kota Kerajaan Bungo, tempat orang-orang Kristen terkemuka di seluruh Jepang sekarang berkembang; Setelah meninggalkan kota ini, keesokan paginya sekitar pukul sembilan saya tiba di tempat bernama Fingau, yang mungkin berjarak seperempat liga dari Benteng Osquy; Di sana saya mengirim salah satu orang Jepang yang saya bawa untuk memberi tahu Kapten tempat itu bahwa saya telah tiba, 

Mendes Pinto telah mencapai Jepang. Seperti disebut di atas, orang Eropa pertama yang tiba di Jepang adalah pelaut Portugis pada tahun 1543, yang secara tidak sengaja mendarat di Pulau Tanegashima (Tane-ga-shima) setelah kapal mereka tersesat karena badai. Mereka adalah tiga orang Portugis, yaitu Antonio da Mota, Fransisco Zeimoto, dan Antonio Peixoto, yang memperkenalkan senjata api (harquebus) kepada masyarakat Jepang. Kehadiran Mendes Pinto di Jepang kira-kira satu dekade setelah pelaut Portugis berada di Jepang. Hal itulah mengapa Mendes Pinto mengetahui petualangan tiga Portugis awal di Jepang. 


Keluarga Ashikaga memerintah Jepang sebagai shogun selama beberapa abad (1358–1565). Lalu digantikan Oda Nobunaga berusaha menyatukan otoritas negara dalam satu orang dan mengakhiri konflik dengan dan antara keluarga feodal. Ia mengakhiri perang saudara yang telah menghancurkan negara dan dengan giat melakukan pekerjaan reorganisasi, dibantu oleh Jenderal Hideyoshi, yang melanjutkan pekerjaan ini setelah kematian Nobunaga yang tragis pada 22 Juni 1582 (lihat CC Krieger. 1939). Delapan tahun kemudian, Hideyoshi menjadi penguasa de facto Jepang, setelah melakukan beberapa kampanye melawan daimyo yang kuat. Ia akhirnya berhasil menyatukan mereka dalam sebuah kampanye melawan Korea, yang segera ditaklukkan oleh Jepang (1592). Namun, ketika Tiongkok ikut campur, tentara terpaksa mundur. Rencana untuk kampanye kedua digagalkan oleh kematian Hideyoshi (1598). Ia digantikan oleh putranya, Hideyori. Meskipun berasal dari keluarga biasa, Hideyoshi, melalui kecerdasannya yang tajam dan keterampilan militernya yang hebat (ia kadang-kadang disebut Napoleon Jepang), berhasil memperoleh kekuasaan tertinggi di negara itu dan dengan demikian mewujudkan cita-cita Oda Nobunaga. Meskipun demikian, ia terus memperlakukan keluarga kekaisaran dengan sangat terhormat dan selalu memastikan bahwa kaisar memiliki pendapatan yang cukup untuk istananya. Periode Tokugawa. Hideyori digulingkan oleh Tokugawa Leyasu (1542-1616), seorang ahli militer yang terampil, tak tertandingi sebagai negarawan dan diplomat, yang upayanya, seperti para pendahulunya, sepenuhnya terfokus pada persatuan Jepang dan sentralisasi total. Ia menyadari bahwa tidak mungkin untuk mematahkan tradisi masyarakat Jepang dan karena itu berusaha untuk menjadikan feodalisme sebagai organisasi yang disahkan dengan mengatur hubungan kekuasaan antara para daimyo. Selain itu, ia menciptakan pemisahan yang tajam antara berbagai golongan masyarakat. Para daimyo yang melawan ditaklukkan dan harta benda mereka dibagikan kepada para pengikut setia. Para pengikut dibuat mengerti dengan cara yang paling tegas bahwa mereka bergantung pada kehendak tuan mereka. Para daimyo diwajibkan untuk secara teratur hadir di istana shögun (sankin ködai) di Edo. Meskipun ia turun takhta pada tahun 1605 demi putranya, Hidetada, ia tetap berperan aktif dalam pemerintahan dan secara pribadi memimpin pengepungan Kastil Osaka (1614-1615). 

Setelah kontak pertama dengan Portugis pada tahun 1542, Portugis mendarat di pulau Tane-ga-shima, perdagangan yang ramai berkembang dengan pemukiman Portugis (Macau, Goa, dll.). Penyebaran agama Kristen dimulai oleh seorang Pastor Yesuit, Francis Xavier, yang pada tahun 1549 menginjakkan kaki di Kagoshima bersama dua imam lainnya dan tinggal di Jepang selama lebih dari dua tahun. Mereka menemukan pelindung dalam diri Oda Nabunaga. Para Yesuit dengan cepat meningkatkan jumlah pengikut mereka, meskipun ide-ide Barat tidak memengaruhi kehidupan nasional sejauh yang telah memengaruhi agama-agama Tiongkok. 


Karena takut akan pengaruh yang berlebihan dari para pengikut berpangkat tinggi, Hideyoshi mengeluarkan dekrit pada tahun 1587 yang mengusir para Yesuit Portugis dari Jepang. Tidak ada upaya serius yang dilakukan untuk menegakkan keputusan ini. Perselisihan antara para Yesuit Portugis dan para biarawan Fransiskan Spanyol yang baru tiba, serta kekhawatiran bahwa misionaris asing akan menjadi pendahulu agresi asing, menyebabkan Hideyoshi melarang agama Kristen. Enam pendeta Fransiskan dan tiga pendeta Yesuit menjadi korban penganiayaan yang terjadi kemudian. Setelah itu, para misionaris dibiarkan sendiri lagi, dan Leyasu awalnya memperlakukan mereka dengan toleransi karena takut merugikan perdagangan. 

Pada tanggal 19 April 1600, kapal Belanda pertama yang mencapai Jepang, bernama Liefde, kandas di pantai Bungo dekat Nagasaki. Kapal ini merupakan bagian dari armada lima kapal, yaitu Blijde Bootschap, Trouwe, Hoope, 't Gelove, dan Liefde, yang dipersiapkan oleh seorang pedagang Rotterdam pada tahun 1598. Hanya Liefde, yang sebelumnya bernama Erasmus sebelum memulai perjalanan melalui Selat Magellan, yang mencapai Jepang. Beberapa tahun sebelumnya, sebuah patung kayu yang dipuja sebagai dewa ditemukan di sebuah kuil di Jepang, yang setelah diperiksa, terbukti sebagai patung Erasmus. Sejak itu telah terbukti bahwa itu adalah lambung kapal dagang Liefde yang terdampar. Di antara para awak kapal yang selamat adalah nakhoda Will Adams, seorang Inggris, yang dipekerjakan oleh Lesayu karena pengetahuan dan pengalamannya yang luas dalam pembuatan kapal. Orang Jepang kemudian membangun kapal mereka sendiri, San Bonaventura, yang menyelesaikan pelayaran ke Meksiko. Tak lama setelah Belanda, Inggris juga mencapai kepulauan Jepang. 


Tunggu deskripsi lengkapnya

Awal Mula Orang Portugis di Indonesia, Hindia Timur: Awal Mula Orang Spanyol di Hindia Timur dan Kehadiran Orang Belanda

Peradaban Eropa di Jepang sudah lama terpapar melalui orang-orang Portugis. Senjata mesiu adalah yang paling fenomenal. Sejumlah kosa kata Portugis masuk ke dalam bahasa Jepang. Dalam konteks inilah kemudian para misionaris dan pedagangan Portugis di Jepang mulai menulis bahasa Jepang. 


Orang Belanda sendiri melakukan ekspedisi pertama yang dipimpin Cornelis de Houtman tahun 1595. Di Madagaskar Frederik de Houtman menyusun kamus bahasa Melayu-Bahasa Belanda. Pelayaran Belanda dilanjutkan dan mencapai Indonesia di pulau Enggano tahun 1596 dan kemudian tiba di Banten. Pelayaran ke Maluku tertunda dan hanya berakhir hingga di Bali (dan kemudian kembali ke Belanda awal tahun 1597). Sejak itu ekspedisi Belanda semakin intens. Seperti disebut di atas, kontak pertama orang Belanda dengan orang Jepang tidak disengaja. Itu terjadi pada tanggal 19 April 1600, kapal "Liefde" yang terpisah dari skuadron yang menuju Maluku akibat badai hebat, terdampar di Jepang dekat Oita dengan 24 awak (sisa dari 110 orang saat meninggalkan Belanda!), di mana kapal tersebut disita, para penumpang diterima di darat. Ekspedisi Belanda lainnya dipimpin oleh Oliver Noort yang mencapai Filipina di teluk Manila Oktober 1600 (dua kapal, Mauritius dan Eendracht); pada tanggal 14 Desember, kapal-kapal Van Noort dihadang oleh armada Spanyol; dan kemudian berbalik lalu singgah di Broenai pada tahun 1601 (lihat peta Borneo oleh Oliver Noort, 1601). Cornelis de Houtman kembali melakukan ekspedisi tahun 1599, namun Cornelis de Houtman terbunuh di Atjeh tahun 1601. Frederik de Houtman (yang juga adik dari Cornelis de Houtman) tertangkap. Selama penahanan di Atjeh,  Frederik de Houtman  menyelesaikan kamusnya. Selepas dibebaskan, buku kamus bahasa Melayu-Belanda karya Frederik de Houtman  diterbitkan di Amsterdam pada tahun 1603.

Pada tahun 1604 di Paris, penerbit Dondery Dupre menerbitkan karya seorang Portugis P Rodriguez dengan judul Elemens de la Grammaire Japanaise par P Rodriguez; traduits du Portugais  sur de Mauscrit de la Bibliotieque du Roi, et soihneusement collationnes avee la Grammaire public par le memem Auteur a Nagasagi en 1604 (lihat Leydse courant, 15-12-1828). 


Rodriguez, 'Grammatica Japonica,' ditulis dalam bahasa Portugis dan tidak dicetak dalam aksara Eropa, ini tidak diragukan lagi adalah karya yang edisi ringkas dan disempurnakannya telah dibayangkan dan ditulis oleh Rodriguez, tetapi tidak dipromosikan ke percetakan; Manuskripnya, yang masih ada di Bibliothèque du Rol, Paris. Seperti halnya, kamus bahasa Melayu oleh Frederik de Houtman adalah kamus yang pertama ditulis orang Belanda dan kamus P Rodriguez adalah kamus bahasa Jepang pertama yang ditulis orang Portugis. Orang Eropa pertama menyusun kamus bahasa Melayu adalah seorang Italia dari Venesia, Antonio Pigafetta (1491–1534). Pigafetta turut dalam pelayaran Spanyol dari Eropa melalui Amerika Selatan dan lautan Pasifik hingga mencapai Filipina dan Maluku pada tahun 1519, Kamus tersebut telah diterjemahkan dan diterbitkan di Paris (1811). 


Seperti disebut di atas, pelaut-pelaut Portugis terdapat di Jepang pada tahun 1543 di Pulau Tanegashima (Tane-ga-shima). Namun kemudian yang menjadi pusat (pos) perdagangan Portugis berada di wilayah Bungo dengan ibu kota Fucheo (lihat Mendes Pinto, 1555). Lantas dimana kota Fucheo di wilayah (kerajaan) Bungo berada? 


Pada tanggal 19 April 1600, salah satu kapal Belanda bernama Liefde, terdampar di pantai Bungo. Kapal "Liefde" yang terpisah dari skuadron yang menuju Maluku akibat badai hebat, terdampar di Jepang dekat Oita dengan 24 awak (sisa dari 110 orang saat meninggalkan Belanda!), di mana kapal tersebut disita, para penumpang diterima di darat. Pendaratan ini tidak jauh dari pos perdagangan Portugis di wilayah Bungo. Peta wilayah Bungo (1660) 

Ketika orang Belanda pertama kali tiba di Jepang, mereka tidak menggunakan bahasa Belanda melainkan bahasa Portugis sebagai media komunikasi mereka dengan orang Jepang. Bahasa Portugis pada saat itu merupakan bahasa perantara perdagangan di Timur Jauh. Ini dapat dibaca pada sumber-sumber yang ada seperti Buku Harian Richard Cocks, seorang Agen Inggris di Hirado 1613-1623 (lihat Jan Compagnie in Japan, 1600-1817 oleh Kapten CR Boxer, 1936). Seorang Portugis, P Rodriguez menulis buku tatabahasa Jepang di Nagasaki pada tahun 1604. Ini mengindikasikan bahwa (kota) Nagasaki sudah eksis. Kota Nagasaki ini berada di wilayah (kerajaan) Bungo. Lalu apakah kota Fucheo adalah kota Nagasaki? Dalam Peta 1660 nama lain Bungo adalah Cikoko.


Secara toponimi, ada sejumlah nama di Jepang mirip dengan bahasa Melayu. Naga-saki dimana kata naga sudah dikenal dalam bahasa Melayu. Nama wilayah Bungo mirip dengan kosa kata bunga atau bungo; demikian juga dengan nama tempat di Tangerang, Banten sebagai Cikokol. Demikian juga dengan nama pulau Tanegashima (Tane-ga-shima) dimana kosa kata tanah dalam bahasa Melayu mirip dengan Tena atau Tana. Seperti disebut di atas, Frederik de Houtman menulis kamus bahasa Melayu di (pulau) Madagaskar di pantai timur Afrika. Dalam Peta Portugis (1592) diidentifikasi nama Merina dimana kota Antananarivo didirikan sekitar tahun 1625 dan kemudian menjadi ibu kota kerajaan suku Merina. Dalam konteks nama Antananarivo mirip dengan Tana di Jepang. Nama Merina atau Marina mirip dengan “ina” dalam bahasa Batak sebagai ibu. Secara umum bahasa Malagasi masuk keluarga bahasa Austronesia (nusantara). Kelompok bahasa Malagasi di pulau Madagaskar hanya terdiri satu bahasa (lihat Vragen van den dag; Populair tijdschrift op het gebied van staathuishoudkunde en staatsleven, natuurwetenschappen, uitvindingen en ontwikkelingen, aardrijkskunde, geschiedenis en volkenkunde, kolonien, handel en nijverheid, enz. jrg 10, 1895). Menurut Cousins, ada sepuluh dialek, diantaranya dialek Hova, yang dituturkan oleh penduduk provinsi tengah Merina, adalah yang paling beradab. Biasanya, ketika seseorang berbicara tentang bahasa Malagasi, yang ia maksud adalah dialek Merina. Dalam artikel Prof Mr C van Vollenhove dengan mengutip sumber dari Alfred Grandidier disebutkan orang Indonesia datang ke Madagaskar tahun 1550. Dalam peta-peta Portugis banyak nama tempat di Indonesia seperti di Jawa dengan diawali Tana seperti Tanara (di Banten). Peta Madagaskar (1592) 

Dalam Peta 1660, selain nama Nagasaki juga diidentifikasi nama kota Firando di suatu pulau (pulau Firando). Pada masa ini, Firando dikenal dengan nama Hirado di wilayah (prefektur) Nagasaki. Sedangkan pelaut Belanda terdampar di tempat yang kini dekat dengan pantai Usuki di Prefektur Oita (tetangga prefektur Nagasaki). Wilayah Oita ini dulunya masuk wilayah (kerajaan) Bungo. Satu yang masih misteri adalah dimana letak nama kota Fucheo di wilayah (kerajaan) Bungo semasa awal Portugis? 


Dalam Peta 1660 diidentifikasi pulau Bungo atau Cikoko dan pulau Tonsa. Pulau Bumgo ini pada masa ini dikenal sebagai pulau Kyushu dan pulau Tonsa dikenal sebagai pulau Shikoku. Pulau terbesar di Jepang adalah pulau Honshu. Peta pembagian wilayah (prefektur) di pulau Bungo dan oukau Tonsa (1662). Prefektur setingkat provinsi di Indonesia pada masa ini. Dalam Peta 1662 ini Prefektur Bungo berada di pantai timur pulau Bungo dimana dulunya terdampar kapal Belanda pada tahun 1601. 

Kebijakan sakoku-seisaku atau “kebijakan negara tertutup” oleh Shogun Tokugawa ketiga, Iemitsu, yang berpuncak pada pengusiran orang Portugis (1639) dan pemindahan orang Belanda dari Firando ke Dejima (1641). Sebelumnya, pada tahun 1624 pabrik Inggris ditutup. Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) menjadi penghubung antara Jepang dan dunia luar, karena sejak tahun 1634 dan seterusnya, semua kontak dengan negara lain diputus, kecuali dengan Tiongkok dan Belanda. Hanya segelintir orang Belanda yang diizinkan untuk tetap tinggal, dijaga dan diisolasi di pulau tersebut. Lantas apa yang menyebabkan Portugis diusir dan hanya Belanda yang dimungkinkan tetap berada di Jepang? 


Sejak VOC memindahkan pos perdagangan dari Amboina (Maluku) ke Jawa di Batavia tahun 1619, kekuatan Belanda secara konsisten semakin kuat. Sultan Agung (dari kerajaan Mataram) mencoba menyerang Batavia pada tahun 1628 namun gagal. Militer VOC kemudian mulai kembali mempersiapkan diri untuk mengusir Portugis. Sebagaimana sebelumnya, pelaut-pelaut Belanda pada tahun 1605 menaklukkan Portugis dan merebut benteng di Amboina. Lalu kemudian pelaut Belanda pada tahun 1612 mengusir Portugis di Solor dan Koepang (dan orang Portugis bergeser ke bagian timur yang kini menjadi wilayah Timor Leste). Dengan melemahnya kekuatan Portugis di Maluku dan Nusa Tenggara, VOC pada tahun 1619 dipindahkan ke Batavia. Sehubungan dengan pengusiran Portugis dari Jepang, tampaknya VOC mempercepat pengusiran Portugis dari Malakan dan Kamboja. Pada tahun 1641 VOC berhasil mengusir Portugis dari Malaka dan dari Kamboja. Tamat sudah Portugis di Hindia Timur. 

Lantas mengapa muncul kebijakan baru Jepang mengusir Portugis tahun 1639 dari Jepang tetapi tetap mempertahankan Belanda tahun 1641? Fakta bahwa Portugis sangat kuat di pantai timur Tiongkok dan bahkan hingga Formosa. Ada kekhawatiran Jepang terhadap kekuatan Portugis. Lalu mengapa mempertahankan Belanda (dengan cara terbatas)? Belanda tidak terlalu kuat di Timur Jauh. Dipertahankannya Belanda di Jepang, boleh jadi sebagai upaya untuk tetap membuka diri pada perdagangan luar negeri tetapi keamanan Negara dikendalikan: mengusir Portugis dan membatasi Belanda hanya berada di pulau kecil di teluk Nagasaki (Dejima). Dalam hal ini: Jepang dan Belanda sama-sama memiliki musuh yang sama: Portugis). 


Lantas bagaimana dengan Inggris, Prancis dan Spanyol? Yang jelas Spanyol sudah nyaman di Filipina. Setelah menutup perdagangan Inggris di Jepang (juga seiring dengan kebijakan baru Jepang), lnggris ingin menguasai sepenuhnya Tiingkok. Prancis lebih memilih di wilayah yang tersisa di Indochina. Inggris akhirnya menguasai perdagangan di Tiongkok tanpa menggangu keberadaan Portugis di Macao (sisa Portugis sebagaimana di Timor bagian timur). 

Bangsa Portugis berada di Jepang selama kurang lebih 96 tahun, terhitung sejak kedatangan pertama tahun 1543 hingga pengusiran tahun 1639). Itu bukan waktu yang singkat, hampir satu abad. Masa keemasan Portugis di Jepang terjadi pada masa 1543–1614, suatu periode dimana Portugis mendominasi perdagangan yang dikenal sebagai Perdagangan Nanban yang berbasis di Nagasaki sejak tahun 1571 (dari desa nelayan kecil menjadi pusat perdagangan besar). Pada masa inilah penyebaran agama Kristen (Yesuit) berkembang pesat. 


Pengusiran Portugis dari Jepang tahun 1639 tidak semata-mata karena kekuatan Portugis di Timur Jauh, tetapi juga kecurigaan terhadap penyebaran agama Kristen dan keterlibatan mereka dalam pemberontakan lokal (seperti Pemberontakan Shimabara 1637–1638). Pengusiran resmi tahun 1639 sebagai bagian dari kebijakan isolasi Negara Jepang (Sakoku). Seperti disebut di atas, isolasi dimana hanya satu pintu dibuka bagi (perdagangan) Belanda di Dejima. 

Setelah lebih dari satu abad, riwayat Portugis sangat tragis: tidak hanya tamat di Jepang, juga tamat di Hindia Timur dan kemudian tamat pula di Tiongkok. Namun bagaimanapun, Portugis sejak 1543 di Jepang banyak memberi kontribusi dalam peradaban baru. Satu yang pertama dan terpenting adalah orang Portugis memperkenalkan senjata api (mesiu) bagi orang Jepang dan terus memasoknya dalam waktu yang panjang. 


Nama Nagasaki sudah terinformasikan setidaknya pada tahun 1603. Saat Jepang melakukan kebijakan isolasi pada tahun 1641, orang-orang Belanda yang hanya diizinkan di Jepang, dimana mereka dipindahkan dari Firando ke Dejima, suatu pulau buatan, yang mana pulau ini dihubungkan dengan jembatan batu ke sisi daratan. Juga disebut pemindahan Belanda dari Firando ke Dejima, dimaksudkan untuk memberikan bantuan kepada penduduk Nangasaki, yang sejak pengusiran Spanyol dan Portugis semakin jatuh miskin (lihat Leydse courant, 28-11-1825). Disebutkan pulau Dejima, awalnya tempat Portugis memiliki bangunan mereka, yang orang Belanda mengejek sebagai penjara bawah tanah mereka. Catatan: Firando pada masa ini dikenal sebagai Hirado yang letaknya berada di pulau Hirado (di barat laut Nagasaki). Lukisan: pulau Dejima, pos perdagangan Belanda di teluk Nagasaki. 

Kota Nagasaki, seperti disebut di atas, dibangun sejak tahun 1571 dari desa nelayan kecil menjadi pusat perdagangan besar yang terus tumbuh dan bekembang. Kota ini tampaknya belum dikenal pada saat Mendes Pinto berada di Fucheo, ibukota wilayah (kerajaan) Bungo. Dalam Peta 1660 di atas, ibu kota (prefektur) Bungo diidentifikasi di pantai yang berlawanan dengan kota Nagasaki yang pada masa ini terletak di wilayah Prefektur Oita. Orang Eropa pertama di Jepang adalah orang Portugis, juga sebenarnya Spanyol termasuk yang terawal di Jepang. 


Seperti disebut di atas, pada tahun 1641 Jepang mengusir Portugis dan Spanyol dari Jepang. Kontak pertama orang Spanyol sendiri di Jepang terjadi pada tahun 1549 melalui kehadiran para misionaris Katolik Spanyol yang sudah memiliki basis kuat di Filipina. Misionaris Yesuit asal Spanyol, San Francisco Javier, tiba di pulau Bungo (kini pulau Kyushu) untuk menyebarkan agama Kristen. Ia mendirikan koloni Katolik pertama di Jepang. Kelompok Fransiskan Spanyol tiba di Jepang untuk menyusul keberhasilan misi Yesuit, meskipun awalnya Jepang lebih terbuka terhadap perdagangan daripada agama. Melalui rute Manila-Acapulco, kapal-kapal Spanyol mulai berdagang secara tidak langsung dengan Jepang  (sejak 1565). Kapal-kapal dagang Jepang juga sering mengunjungi Manila untuk menukar barang dengan pemerintah Spanyol Baru. Sebuah kapal galion Spanyol bernama San Felipe karam di pantai Jepang. Insiden ini memicu ketegangan yang berujung pada eksekusi 26 martir Kristen di Nagasaki pada tahun 1597. 

Kehadiran orang Portugis dan kemudian Spanyol di Jepang, tidak hanya mengubah peradaban senjata orang Jepang, juga telah meningkatkan keberanian Jepang keluar dari negaranya. Orang Jepang mulai mengadopsi Jung Tiongkok sebagai alat transportasi laut Jepang untuk mengarungi lautan lebih jauh. Ilmu pengetahuan Jepang yang selama ini berasal dari Tiongkok melalui (orang) Korea, dengan kapal Jung Tiongkok orang Jepang sudah langsung ke Tiongkok.  


Pada bulan Oktober 1600, pelaut Belanda yang dipimpin Olivier van Noort tiba di Filipina dengan dua kapal, Mauritius dan Eendracht. Ekspedisi tersebut berlayar ke sisi tenggara pulau Luzon dan memasuki teluk yang sekarang disebut Teluk Albay. Setelah mendapatkan beberapa perbekalan di sana, kapal-kapal tersebut melanjutkan perjalanan perlahan menuju Manila. Dalam perjalanan ke sana, mereka menjarah beberapa desa dan menangkap sebuah jung Tiongkok, yang kemudian berhasil melarikan diri. Setelah tiba di Manila pada bulan November, armada tersebut tetap berada di depan teluk Manila untuk mencoba menangkap kapal-kapal yang datang. Pada awal Desember, mereka menangkap sebuah jung Jepang, dari mana mereka mendapatkan beberapa perbekalan dan jangkar kayu. Mereka membayar barang-barang tersebut dan membiarkan kapal itu lewat. Pada tanggal 14 Desember, kapal-kapal Olivier van Noort dihadang oleh armada Spanyol. Pada lukisan disamping ini, menunjukkan seorang samuarai Jepang, mengenakan pakaian sutra yang dihiasi bunga. Ia membawa busur dan pedang yang, menurut deskripsi van Noort, dapat membelah manusia menjadi dua. Di sebelahnya terdapat rakyat jelata Jepang, yang oleh van Noort disamakan dengan orang Polandia karena jubah panjang mereka. Mereka berkepala botak kecuali rambut panjang di leher mereka. Olivier van Noort menggambarkan mereka sebagai orang berkulit cokelat, bertubuh tinggi, dan terampil dalam perang, di mana mereka menggunakan busur, tombak, dan pedang, sementara mereka sedang belajar menggunakan senjata api, yang dipasok oleh Portugis. 

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. Forthcoming: “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar