Sabtu, 02 Juli 2022

Sejarah Menjadi Indonesia (687): Minyak - Geomorfologi Wilayah Brunai Kalimantan Utara; Negara Kaya - Kemiskinan Penduduk

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Negara Brunai sangat-sangat kaya raya. Pajak gratis, pendidikan gratis. Sumber kemakmuran Brunai berasal dari minyak dan gas bumi. Meski negara kecil, produksi minyak Brunai terbilang dalam empat puluh negara produsen minyak. Sebenarnya bagaimana terbentuknya minyak bumi?  Bagaimana pula geomorfologi wilayah Brunai dan apa hubungannya dengan minyak di Brunai?

Hari Sabtu dan Minggu, 23 - 24 April 2022, KBRI Indonesia di Brunai dalam rangka Ramadan dan Idul Fitri 1443 membagi-bagikan bantuan kebutuhan bahan pokok (sembako) bagi para warga Indonesia, termasuk Pekerja Migran Indonesia (PMI) dan Warga Brunei yang kurang mampu. Tercatat 200 WNI dan 50 WN Brunei menerima bantuan sembako yang berisi beras, gula, mi instan, minyak goreng, dan sarden kaleng. Bantuan paket sembako merupakan donasi dari Duta Besar RI Bandar Seri Begawan dan Atase Ketenagakerjaan KBRI Bandar Seri Begawan. Selain bantuan kepada WNI, bantuan juga diberikan kepada WN Brunei kurang mampu dan santunan kepada anak yatim di daerah Telisai, Tutong. Bertempat di Masjid Kampong Telisai, terdapat 28 orang dari keluarga kurang mampu dan 16 anak yatim yang menerima bantuan dari KBRI. Hal ini dilakukan merupakan perwujudan solidaritas antara Indonesia dan Brunei Darussalam. (KBRI Bandar Seri Begawan).

Lantas bagaimana sejarah minyak dan geomorfologi wilayah negara Brunai? Seperti disebut di atas, negara Brunai adalah negara makmur dengan sumber utama minyak. Apakah semiua minyak di bumi Brunai telah mendapat berkah bagi yang lain? Lalu bagaimana sejarah minyak dan geomorfologi wilayah negara Brunai? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Minyak dan Geomorfologi Wilayah Brunai di Kalimantan Utara; Negara Kaya - Kemiskinan Penduduk

Seperti di wilayah lain, sejarah Brunai hari ini, haruslah dilihat awal sejarah Brunai pada masa lampau. Wilayah Brunai pada zaman dulu telah berbeda pada masa kini (perhatikan peta-peta di atas). Dalam hal ini, kita harus berbicara geomorfologi wilayah Brunai. Dimana letak (kota) Bandar Sri Begawan masih berupa perairan (luat), dimana kemudian terbentuk proses sedimentasi jangka panjang sehingga terbentuk daratan dimana kota Bandar Sri Begawan berada sekarang. Bandingkan Peta 1601 dan peta satelit masa kini.

Salah satu peta tertua Brunai yang dapat diperhatikan pada masa ini adalah peta yang dibuat oleh Oliver Noort pada tahun 1601. Oliver Noort adalah pimpinan ekspedisi Belanda kedua setelah sebelumnya ekspedisi Belanda dipimpin oleh Cornelis de Houtman (1595-1597). Peta 1601 ini diduga kuat peta yang disaling oleh Oliver Noor dari peta-peta Portugis. Pelaut Portugis yang mengunjungi Brunai kali pertama pada tahun 1524. Peta tertua pulau Kalimantan adalah peta yang dibuat oleh Ptolomeus pada abad ke-2 sebagai Peta Taprobana. Dalam peta Taprobana ini tidak ditemukan nama Broenai. Broenai tampaknya adalah nama tempat (kota) baru, namun sudah eksis pada era Portugis. Kota Broenai diduga kuat adalah kota pelabuhan yang dibangun oleh pedagang-pedagang dari Tapanoeli (pantai timur Sumatra) dimana dalam catatan Mendes Pinto 1537 memiliki hubungan yang kuat antara Kerajaan Aroe di pantai timur Sumatra dengan Broenai. Nama Broenai diduga merupakan reduksi nama Baroemoen Panai.

Paaa Peta 1601 wilayah Seria dan Belait serta Tutong berada di dalam teluk sebagai perairan/laut. Sementara wilayah Serawak (yang membelah Brunai bagian barat dan Brunai bagian timur) yang sekarang pada waktu itu adalah sebuah tanjung. Tofografi tanjung tersebut pada masa ini berada di antara sungai Limbang (di sebelah barat) dan sungai Batang Trusan. Dua sungai inilah kemudian mencari jalan menuju laut dimana pada akhirnya kedua sungai membentuk teluk Brunai yang sekarang.

Sungai Limbang berhulu di gunung Murud (wilayah Dayak), sedangkan sungai Batang Trusan berhulu di gunung Pagon. Nama Limbang diduga berasal dari Tapanoeli, Limbong/Limbang dan juga nama Batang sebagai sungai di Tapanoeli (trusan adalah bahasa Melayu terusan/hilir). Kota Limbang diduga adalah kuta kuno yang berada diantar jarak terdekat sungai Limbang dan sungai Batang (trusan). Dalam hal ini nama (kota0 Limbang menjadi nama sungai dan sungai yang berada di di sebelah timur disebut sungai Batang (bahasa Tapanoeli batang=sungai). Limbang di ujung tanjung dan Brunai di dalam teluk adalah dua kota kuno di (kawasan) Brunai yang sekarang. Satu kota kuno di arah timur adalah Kinabalu (Inabalu, ina-balu, bahasa di Tapanoeli adalah ibu yang suami telah meninggal/janda). Sedangkan dua kota kuno di arah barat adalah Bintulu dan Sibu. Nama Bintulu diduga merujuk pada nama Bintuju dan nama Sibu merujuk pada nama Siabu di Tapanoeli). Hal ini menjadi sesuai dengan yang dicatat Mendes Pinto (1537) bahwa Kerajaan Aroe Batak Kingdom memiliki 15.000 pasukan yang mana delaman ribu tentara berasal dari Batak, sisa berasal dari Indragiri, Jambi, Broenai dan Luzon.

Kota Labuan yang sekarang adalah pulau yang sudah eksis sejak lama.  Pada Peta 1601 kota Brunai berada di bagian dalam teluk (sebagai pelabuhan terpenting saat itu). Nama pelabuhan Brunai iinilah yang mengambil nama pulau, yang oleh para pelaut Portugis disebut Borneo (merujuk pada Broenai). Nama Brunaii (sebagai nama asli) sendiri kemudian menjadi nama wilayah (merujuk pada kerajaan/kesultanan).

Pertanyaannya: Dimana posisi GPS kota kuno Broenai? Berdasarkan Peta 1601 dan geomorfologi wilayah Brunai, pada masa lampau Brunai adalah nama tempat (kota) dimana kerajaan berada (kerajaan Brunai). Kota Brunai ini tampaknya telah hilang (ditinggalkan) karena tidak strategis lagi karena ada proses sedimentasi jangka panjang yang membentuk daratan baru. Kota kuno Brunai ini haruslah kini berada di pedalaman. Namun demikian nama Brunai tetap eksis sebagai nama wilayah atau nama kerajaan.

Lantas dimana area eksploitasi minyak/gas di wilauah Brunai yang sekarang? Sebagaimana diketahui ladang-ladang minyak/gas Brunai pada masa ini berada di area/kawasan Seria, Ampar (dan Pantai Berkas). Seperti dideskripsikan di atas, tiga kawasan minyak/gas Brunai yang sekarang pada masa lampau adalah perairan/laut (teluk/laut).

Minyak bumi adalah hasil dari peruraian (dekomposisi) materi tumbuhan dan hewan di suatu daerah yang subsidence (turun) secara perlahan. Daerah tersebut biasanya berupa laut, batas lagoon (danau) sepanjang pantai ataupun danau dan rawa di daratan. Sedimen diendapkan bersama-sama dengan materi tersebut dan kecepatan pengendapan sedimen harus cukup cepat sehingga paling tidak bagian materi organik tersebut dapat tersimpan dan tertimbun dengan baik sebelum terjadi pembusukan. Pada kondisi sirkulasi dan reduksi tertentu akumulasi hidrokarbon banyak ditemukan pada bagian air laut dalam. Waktu berjalan terus secara geologis dan daerah pengendapan semakin terbenam ke dalam permukaan bumi yang lebih dalam, karena bertambahnya berat oleh sedimen sedimen dan material yang menimbun di atasnya, atau karena gaya gaya tektonik yang menimbulkan efek subsidence. Material organik terbenam semakin dalam sehingga mengalami tekanan dan suhu yang semakin tinggi. Proses tersebut akan menimbulkan perubahan perubahan kimiawi dari material organik tersebut. Perubahan material ini merupakan cikal bakal terbentuknya campuran bahan hidrokarbon yang komposisinya sangat kompleks, baik hidrokarbon yang berupa cairan maupun yang berbentuk gas. Kenaikan suhu terhadap kedalaman rata rata di dunia ini sekitar 20 - 55 derajat celsius per kilometer. Di Sumatra sendiri dapat mencapai kurang lebih sekitar 100 °C/km. Sedangkan habitat minyak baru akan terbentuk pada suhu sekitar 65 - 150 °C yang biasanya berada pada kedalaman 1.5 – 3 km. Pada kedalaman 3 – 6 km batuan reservoar akan lebih didominasi oleh gas daripada minyak. Untuk kedalaman yang lebih dalam lagi suhu akan menjadi lebih tinggi sehingga gas akan menjadi lebih tinggi sehingga gas akan mengalami dekomposisi lebih lanjut. Pada umumnya, minyak bumi biasanya terendapkan dalam batuan sedimen berpori baik yang memiliki nilai porositas 45% (reservoar yang sangat baik). Karena semakin lama batuan tersebut terendapkan dan tertimbun material di atasnya, maka batuan tersebut akan terkompaksi dan hal ini mengakibatkan nilai porositasnya berkurang. Minyak, gas, dan air akan terkumpul atau tersimpan di ruang pori pori dari batuan berpori tersebut. Oleh karena tekanan gravitasi, maka fluida tersebut bergerak di dalam batuan perlahan-lahan. Batuan yang dapat meloloskan fluida disebut sebagai batuan yang permeabel. Permeabilitas batuan dapat memisahkan gas, minyak, dan air secara fisis, yaitu akibat perbedaan densitasnya. Minyak dan gas yang berdensitas lebih ringan daripada air akan bergerak naik sampai ke permukaan sebagai rembesan atau terperangkap di dalam jebakan lalu berhenti terakumulasi sampai perangkap itu penuh.(Wikipedia)

Tunggu deskripsi lengkapnya

Geomorfologi Wilayah Brunai: Sebaran Kemakmuran di Kalimantan Utara

Menyak/gas yang terbentuk di wilayah Brunai yang sekarang, dahulunya adalah wilayah perairan/laut (teluk) dimana sungau Limbang bermuara. Dengan asumsi tidak ditemukan tanda-tanda peristiwa vulkanik di masa lampau tidak ditemukan di Brunai, maka proses pengendapan massa padat di teluk berasal dari pedalaman (wilayah Dayak) melalui sungai besar sungai Limbang. Massa padat ini berupa vegetasi hutan yang diduga karena aktivitas manusia atau dampak yang ditimbulkan peristiwa geologi (tektonik, longsor dan sebagainya).

Secara geomorfologi, wilayah negara (kerajaan Brunai) yang sekarang berada di wilayah dataran rendah, suatu daratan baru yang terbentuk karena proses sedimentasi jangka panjang, Di dalam teluk/laut yang dalam inilah di masa lampu terjadi proses pengendapan massa padat vegetasi dan hewan (fosil) tertimbun yang kemudian disusul dengan endapan-endapan massa padat lainnya seperti lumpur dan batuan yang ke atas membentuk daratan dan ke dalam terbentuk minyak/gas. Massa padat itu secara geografis berasal dari pedalaman. Lantas apakah dalam hal ini dapat dikatakan bahwa penduduk di wilayah Dayak yang melakukan aktivitas di masa lampau, tetapi pada masa kini penduduk di Brunai yang mendapat keuntungan berupa minyak/gas?

Tunggu deskripsi lengkapnya

Geomorfologi Wilayah Brunai: Sebaran Kemakmuran di Kalimantan Utara

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar