Selasa, 12 Juli 2022

Sejarah Menjadi Indonesia (707): Alam Dayak Pulau Kalimantan;Taprobana Borneo Kalimantan dan Ibu Kota Negara Nusantara


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Ada alam Minangkabau di Sumatra, ada pula alam Melayu di semenanjung Malaya. Alam Minangkabau hanya diartikan sebatas wilayah atas (darat) dan wilayah rantau (pantai/muara sungai). Alam Melayu di Semenanjung, akhir-akhir ini diartikan sebagai Alam Nusantara dari Madagaskar hingga Maori termasuk Sumatra, Jawa, nusa tenggara dan Papua yang oleh karenanya disebut serumpun (meski berbeda-beda ras) dan candi Borobudur dan situs gunung Padang sebagai kekayaan peradaban (alam) Melayu. Tentu saja ada yang bereaksi dan menolak klaim itu. Bagaimana dengan alam Dayak? Tidak dikaitkan dalam hubungan politis tetapi lebih pada hubungan manusia (Dayak) dengan alam (tanah air) itu sendiri.


Suku Dayak adalah suku bangsa atau kelompok etnik yang mendiami pedalaman pulau Kalimantan. Kata "daya" serumpun dengan misalnya kata "raya" dalam nama "Toraya" yang berarti "orang (di) atas, orang hulu". Berdasarkan bukti-bukti arkeologis yang ditemukan di Gua Niah (Sarawak) dan Gua Babi (Kalimantan Selatan), penghuni pertama Kalimantan memiliki ciri-ciri Austro-Melanesia, dengan proporsi tulang kerangka yang lebih besar dibandingkan dengan penghuni Kalimantan masa kini yang mendiami Pulau Kalimantan (Brunei, Malaysia yang terdiri dari Sabah dan Sarawak, serta Indonesia yang terdiri dari Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Selatan). Ada 3 suku pokok atau 5 suku asli Kalimantan yaitu Melayu, Dayak, Banjar, Kutai, dan Tidung. Menurut sensus Badan Pusat Statistik Republik Indonesia tahun 2010, suku bangsa yang terdapat di Kalimantan Indonesia dikelompokkan menjadi 3 suku pokok yaitu: suku Dayak Indonesia (268 sub etnik/sub suku di Indonesia), Suku Melayu, dan suku asal Kalimantan lainnya (non Dayak & non Melayu). Dahulu, budaya masyarakat Dayak adalah budaya maritim atau bahari. Hampir semua nama sebutan orang Dayak mempunyai arti sebagai sesuatu yang berhubungan dengan "perhuluan" atau sungai, terutama pada nama-nama rumpun dan nama kekeluargaannya. Ada yang membagi orang Dayak dalam enam rumpun antara lain: rumpun Klemantan alias Kalimantan, rumpun Iban, rumpun Apokayan yaitu Dayak Kayan, Kenyah dan Bahau, rumpun Murut, rumpun Ot Danum-Ngaju dan rumpun Punan. Namun secara ilmiah, para linguis melihat 5 kelompok bahasa yang dituturkan di pulau Kalimantan dan masing-masing memiliki kerabat di luar pulau Kalimantan: "Barito Raya" (33 bahasa, termasuk 11 bahasa dari kelompok bahasa Madagaskar, dan Sama-Bajau termasuk Suku Dayak Paser. "Dayak Darat" (13 bahasa), termasuk bahasa Rejang di Bengkulu. "Borneo Utara" (99 bahasa), termasuk bahasa Yakan di Filipina serta satu suku yang berdiri dengan nama sukunya sendiri yaitu Suku Tidung. "Sulawesi" dituturkan 3 suku Dayak di pedalaman Kalbar: Dayak Taman, Dayak Embaloh, Dayak Kalis disebut rumpun Dayak Banuaka. "Dayak Melayik" dituturkan: Dayak Meratus/Bukit (alias Banjar arkhais), Dayak Iban (dan Saq Senganan]] (Malayic Dayak), Dayak Kendayan (Kanayatn). Beberapa suku asal Kalimantan beradat Melayu yang terkait dengan rumpun ini sebagai suku-suku tersendiri yang berdiri mandiri ataupun suku Melayu itu sendiri yaitu Suku Banjar, Suku Kutai, Suku Melayu Berau, Suku Melayu Sambas, dan Suku Melayu Kedayan.(Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah Alam Dayak Pulau Kalimantan? Seperti disebut di atas, pulau Kalimantan adalah pulau dimana pendudukan asli Daya bermula dan berkembang hingga terbentuknya (kaum) Melayu. Pulau Kalimantan sendirii menjadi penting karena memiliki sejarah yang panjang sejak nama pulau Taprobana, Borneo, Kalimantan hingga Ibu Kota Negara Nusantara di Indonesia. Lalu bagaimana sejarah Alam Dayak Pulau Kalimantan? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Alam Dayak Pulau Kalimantan; Taprobana, Borneo, Kalimantan hingga Ibu Kota Negara Nusantara

Sejak era Portugis, keberadaan orang Dayak di pedalaman Kalimantan hanya samar-samar diketahui. Pedagang-pedagang Portugis hanya bertransaski dagang dengan dengan penduduk di wilayah pantai (yang umumnya orang Melayu). Orang-orang Melayu yang melakukan transasksi dagang dengan orang Dayak, dimana orang Dayak membawa barang dagangan dai hulu ke hilir sungai, yang sebaliknya membawa barang industri ke pedalaman. Lalu dalam perkembangannya orang Melayu menjemput bola ke pedalaman yang memunculkan koloni-koloni Melayu di antara Melayu di pantai dan orang Dayak di pedalaman. Hanya orang Melayu yang memahami orang Dayak, pedagangan Portugis tidak mau tahu dan karena itu catatan tentang orang Dayak kurang terdokumentasikan.


Orang Eropa pertama mengunjungi pulau Kalimantan adalah pelaut Portugis pada tahun 1524 di (pelabuhan) Broenai. Sejak itu dalam peta-peta Portugis pulau Kalimantan menjadi pulau Borneo (merujuk dari Broenai). Orang-orang Portugis yang kerap megunjungi pantai-pantai sekeliling pulau Borneo dan adakalnya dikunjungi oleh pedagang-pedagang Spanyol yang telah membuka koloni di pulau-pulau di Borneo. Orang Belanda baru mencapai pulau Borneo pada tahuh 1601, suatu ekspedisi kedua Belanda yang dipimpin oleh Oliver Noort. Setelah Belanda/VOC membuat koloni pertama di Banjarmasing, kemudian menyusun pedagang-pedagang Inggris mencapai Borneo di Bandjarmasin. Namun selama sekitar dua abad setelah kehadiran Eropa di pantai-pantai Borneo tidak tercatat bagaimana orang Dayak di pedalaman.

Pulau Kalimantan/Borneo baru mendapat perhatian kembali pada era Pemerintah Hindia Belanda. Hal ini setelah terbentuk cabang pemerintahan Hindia Belanda di pantai selatan (Bandjarmasin) dan di pantai barat Kalimantan di Pontianak. Dua kerajaan ini terbilang cukup kuat pada masa itu. Oleh karena bagian pedalaman tidak diketahui, lalu pada tahun 1824 pemerintah Hindia Belanda mengirim satu ekspedisi ke pedalaman Kalimantan yangc dipimpin Gerg Muller yang dimulai dari Pontianak muara sungai Kapuas hingga mencapau pantai timur melalui sungai Mahakam. Sejak inilah mulai diketahui tentang penduduk orang Dayak di pedalaman.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Alam Dayak Pulau Kalimantan: Rumah Bagi Orang Dayak Masa ke Masa

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar