Sabtu, 08 Januari 2022

Sejarah Menjadi Indonesia (343): Pahlawan-Pahlawan Indonesia en HJ van Mook Letnan Gubernur Jenderal; Orang Indo or Indonesia


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

HJ van Mook tidak lagi bisa mengatakan dirinya seorang Belanda, tetapi sebaliknya sungat sulit baginya mengatakan dirinya seorang Indonesia. Hal ini karena HJ van Mook adalah seorang Indo. Sebagai orang Indo, HJ van Mook berperilaku diantara orang Belanda dan Indonesia. Dalam narasi sejarah Indonesia masa kini, nama HJ van Mook adalah nama yang dibenci orang Indonesia, tetapi apakah HJ van Mook benar-benar seperti yang dialamatkan kepadanya. Tentulah ada sisi negatif HJ van Mook, tetapi apakah ada sisi positif HJ van Mook dari sisi bangsa Indonesia? Nah. Itu dia!

Hubertus Johannes van Mook atau HJ van Mook (30 Mei 1894 – 10 Mei 1965) adalah Letnan Gubernur-Jenderal Hindia Belanda (NICA) yang menjabat setelah pendudukan Jepang. HJ van Mook lahir di Semarang, ayahnya Matheus Adrianus Antonius van Mook, berangkat ke Hindia tak lama setelah menikahi Cornelia Rensina Bouwman 1893. Di Hindia, ayahnya menjadi inspektur/penilik SR di Surabaya, Kedua orangtuanya sebagai pengajar. HJ van Mook menganggap Hindia dan dirinya sebagai Orang Hindia. Setelah lulus HBS Soerabaja, van Mook studi ke Belanda. Awalnya teknik di Delft dan tahun 1914 masuk dinas ketentaraan sukarela dan melanjutkan studi tentang Indonesia di Leiden tahun 1916 dan lulus tahun 1918. Hj van Mook kembali ke Hindia dan menjadi inspektur mengurusi distribusi pangan di Semarang. Tahun 1921 menjadi penasihat urusan pertanahan di Yogyakarta. Tahun 1927 menjadi asisten residen urusan kepolisian di Batavia. Tahun 1930-an menjadi ketua departemen urusan ekonomi. Tanggal 20 November 1941 van Mook diangkat menjadi Menteri Koloni. Awal 1942 van Mook menjadi Wakil Gubernur-Jenderal dan berusaha mendapatkan dukungan militer dari Amerika Serikat untuk pengadaan persenjataan melawan Jepang, Saat Jepang mendarat di Jawa, van Mook mengungsi ke Australia, sementara Gubernur-Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer ditawan Jepang, lalu dibawa ke Manchuria dan baru dilepaskan bulan September 1945. Pada tahun-tahun akhir Perang Pasifik van Mook yang berada di Australia tetap menyandang pangkat Wakil Gubernur Jenderal dan setelah dibebaskan diangkat menjadi Duta Besar Belanda di Prancis. Pangkat van Mook tetap Wakil Gubernur Jenderal tetapi secara de facto dia melakukan tugas sebagai Gubernur Jenderal. Dia menjabat dari tanggal 14 September 1944 sampai 1 November 1948. Pada tahun 1949 van Mook menjadi profesor tamu di Universitas California dan pada tahun 1951 van Mook bekerja di PBB sebagai pakar pengembangan kawasan. Sejak 1960 van Mook menetap di L'Isle-sur-la-Sorgue, Prancis sampai akhir hayatnya, 1965. (Wikipedia).

Lantas bagaimana sejarah HJ van Mook? Seperti disebut di atas, HJ van Mook adalah seorang Indo, bahkan menganggap dirinya orang Hindia (baca: Indonesia) daripada seorang Belanda. Mengapa bisa? Puncak karinya sebagai Letnan Gubenur Jenderal Hindia Belanda bahkan hingga masa perang kemerdekaan Indonesia. Lalu bagaimana sejarah HJ van Mook? Tentulah sudah banyak ditulis. Namun mengapa perlu ditulis lagi? HJ van Mook lahir dan besar di Hindia, hanya semasa kuliah di Belanda dan kembali ke Hindia. Dalam hal ini mempelajari sejarah HJ van Mook juga adalah mempelajari sejarah Indonesia juga. Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Pahlawan-Pahlawan Indonesia dan HJ van Mook: Letnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda

HJ van Mook muda bukan siapa-siapa. Hanya berasal dari keluarga biasa. Ayahnya seorang guru, terakhir dinas di Soerabaja dan pensiun tahun 1912 (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 01-10-1912). Disebutkan atas permintaan sendri, dengan hormat dari Dinas Nasional, guru yang diangkat dengan pangkat kelas satu untuk pendidikan dasar umum Eropa, MAA van Mook, dengan ketentuan bahwa pemberhentian ini terhitung mulai berlaku pada tanggal 9 September 1912.

Pasangan guru muda Matheus Adrianus Antonius van Mook datang ke Hindia pada tahun 1893 dengan kapal Prinses Wilhelmina berangkat dari Amsterdam pada tanggal 26 Agustus 1893 (lihat Algemeen Handelsblad, 26-08-1893) dan ditempatkan di Semarang. Anak pertama mereka Hubertus Johannes van Mook (HJ van Mook) lahir di Semarang 30 Mei 1894. Pada tahun 1900 MAA van Mook statusnya sebagai guru kelas satu sekolah dasar umum diperbarui oleh Departemen Sipil terhitung sejak 3 Maret 1900 (lihat Soerabaijasch handelsblad, 26-02-1900). Pada tahun 1904 MAA van Mook diberi cuti setahun ke Eropa karena sudah mengabdi cukup lama (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 28-03-1904). Ini mengindikasikan setelah 10 tahun di Hindia melihat kampong halaman lagi di Mook, Belanda dengan membawa anak yang lahir di Hindia (lihat Het nieuws van den dag : kleine courant, 11-05-1904), HJ van Mook tentu ini untuk kali pertama ke Belanda, pada saat umurnya memasuki 10 tahun (masih di sekolah dasar). HJ van Mook ke Belanda bagai orang desa melancong ke kota. Pada tahun 1906 MAA van Mook ditempatkan di Soerabaja sebagai guru matematika dan bahasa Belanda di Hoogere Burgerschool (HBS) te Soerabaja (lihat Soerabaijasch handelsblad, 13-06-1906). MAA van Mook dan keluarga baru kembali ke Hindia bulan Maret 1906 (lihat Algemeen Handelsblad, 09-03-1906). Besar dugaan selama di Belanda, MAA van Mook mengambil akta guru MO yang bisa mengajar di HBS. Sekarang HJ van Mook anak Semarang menjadi anak Soerabaja. Pada tahun 1909 MAA van Mook dipindahkan ke Semarang sebagai guru di HBS Semarang (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 27-01-1909). HJ van Mook yang sudah sekolah di HBS Soerabaja terus melanjutkannya, meski orang tua sudah pindah kembali ke kampong halamannya di Semarang. Pada tahun 1911 MAA van Mook kembali dipindahkan ke HBS Soerabaja sebagai guru Matematika dan bahasa Belanda (lihat De locomotief, 08-09-1911).  Sang ayah dan HJ van Mook berada di sekolah yang sama. Seperti telah disebut di atas, MAA van Mook pensiun pada tahun 1912.

Setelah setahun sangaayah (MAA van Mook) pensiun sebagai guru HBS di Soerabaja, HJ van Mook lulus di HBS Soerabaja pada bulan Mei 1913. Dimana orang tua HJ van Mook menjalani masa pensiun sebagai guru tidak terinformasikan, apakah di Soerabaja atau di Semarang. Yang jelas HJ van Mook pada bulan September 1913 ini berangkat ke Belanda dengan menumpang kapal ss Prinses Juliana (lihat De nieuwe vorstenlanden, 06-09-1913). Disebutkan dalam manifes kapal ini kapal ss Prinses Juliana berangkat dari Batavia pada tanggal 3 Septermber dengan tujuan akhir Amsterdam yang mana salah satu penumpangnya adalah HJ van Mook. Dari ratusan penumpang, semua orang Belanda kecuali mepat orang dengan nama Alway Said Aboebakar bin Moh. bin Abdullah Alhabsi, Sech Achmad bin Abdullah Albatri, Sech Abdullah bin Awab Makarim dan Sech Moh. bin Achmad Askar [Sech Abdullah bin Awab Makarim adalah paman dari ayah Nadiem Makarim].

Pada saat HJ van Mook berangkat ke Belanda, Soetan Casajangan baru tiba di Batavia dari Belanda. Soetan Casajangan adalah mahasiswa pribumi kedua studi di Belanda sejak tahun 1905.  Saat itu baru satu mahasiswa pribumi yakni Raden Kartono (abang dari RA Kartini, alumnis HBS Semarang tahun 1896). Pada tahun 1908 ketika mahasiswa pribumi berjumlah sekitar 20an, Soetan Casajangan mendirikan organisasi mahasiswa yang diberi nama Indische Vereeniging dan sebagai ketua Soetan Casajangan dan sekretataris Raden Soemitro. Pada tahun 1909 Soetan Casajangan lulus ujian mendapat akte guru LO dan kemudian pada tahun 1911 lulus ujian mendapat akta guru MO (setara sarjana pendidikan). Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan adalah seorang guru lulusan sekolah guru Kweekschool Padang Sidempoean tahun 1887. Setelah cukup lama di Belanda, Soetan Casajangan pada bulan Juli 1913 kembali ke tanah air dan ditempatkan sementara di sekolah ELS Buitenzorg lalu kemudian diangkat menjadi direktur Kweekschool Fort de Kock. Pada tahun ini tiga calon mahasiswa berangkat ke Belanda yakni Sorip Tagor Harahap alumni sekolah kedokteran hewan Veeartsenschool di Buitenzorg dan guru muda Dahlan Abdoellah dan guru Ibrahim Datoek Tan Malaka (keduanya lulusan Kweekschool Fort de Kock). Sorip Tagor Harahap kelahiran Padang Sidempoean, kelak dikenal sebagai ompung (kakek) dari artis Risty/Inez Tagor..

Sejak keberangkatan ke Belanda, HJ van Mook tidak terinformasikan. HJ van Mook diketahui pada tahun 1916 lulus ujian persiapan di Universiteit te Leiden (lihat Nieuwe Rotterdamsche Courant, 10-06-1916). Disebut di Universiteit te Leiden HJ van Mook lulus ujian persiapan pada bidang dinas administrasi Nederlandsch Indie (studi Indologi).

Dahlan Abdoellah lulus ujian Onderwij Hulp Akte pada bulan Juni 1915 di Leiden (Haagsche courant, 05-06-1915). Pada tahun 1916 diadakan Kongres Pendidikan Hindia (lihat Algemeen Handelsblad, 24-03-1916). Dalam kongres hampir semua yang hadir orang Belanda yang diketuai oleh JH Abendanon. Dalam kongres ini turut hadir Dahlan Abdoellah, Raden Mas Suardhy Soejaningrat dan Dr. DA Rinkes, penasihat untuk urusan pribumi. Pada bulan Juni 1916, Sorip Tagor lulus ujian kandidat dokter hewan di Rijksveeartsenijschool, Utrecht (lihat Algemeen Handelsblad, 19-06-1916). Kepengurusan Indisch Vereeniging tahun 1916 diketuai oleh Raden Loekman Djajadiningrat. Dalam kepengurusan ini Dahlan Abdoellah duduk sebagai archivaris (Nieuwe Rotterdamsche Courant, 10-08-1916). Pada tanggal 1 Januari 1917, Sumatra Sepakat resmi didirikan dengan nama ‘Soematra Sepakat’. Dewan terdiri dari Sorip Tagor (sebagai ketua); Dahlan Abdoellah, sebagai sekretaris dan Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia sebagai bendahara. (Salah satu) anggota komisaris (benama) Ibrahim Datoek Tan Malaka. Tujuan didirikan organisasi ini untuk meningkatkan tarap hidup penduduk di Sumatra. Pada bulan September 1917, Sorip Tagor dipromosikan dari tingkat tiga ke tingkat empat (lihat Algemeen Handelsblad, 23-09-1917).

Di Leiden HJ van Mook sudah barang tentu kerap bertemu mahasiswa-mahasiswa pribumi yang sama-sama berasal dari Hindia. Selain mahasiswa pribumi telah memiliki wadah organisasi mahasiswa Indisch Vereeniging, di Leiden juga ada asosiasi mahasiswa Indologi. Pada tahun 1917 diadakan kongres mahasiswa Hindia yang bersamaan dengan peringatan lustrum ketiga asosiasi mahasiswa Indologi (lihat Algemeen Handelsblad, 24-11-1917, Disebutkan Indisch Studenten Congres, kemarin pagi Kongres Mahasiswa Hindia dibuka di Leiden dalam rangka peringatan lustrum ketiga (15 tahun) Asosiasi Mahasiswa-Indologis (Studenten-Indologenvereeniging) yang didirikan pada tahun 1902.

Dalam kongres ini juga diundang mahasiswa-mahasiwa golongan Belanda, Cina dan pribumi. Disebutkan di Auditorium Universitas sepenuhnya diisi dengan peserta konferensi (yang secara konsisten terdiri dari mahasiswa yang terdaftar di universitas Belanda). Disebutkan saat ini Masyarakat Hindia adalah; Chineesebc Vereeniging Chungwa Hui; de vereeniging van Indologlsche studenten van het Utreehtsch Studentencorps ‘Van Verre’; de vereeniging Onze Koloniën te Delft; de Studjentenafdeeling van de Vereeniging Oost en West (Leiden); de vereeniging Koempoelan Tani Djawi (Wageningen); en de onderafdeelingen Tropische Land- en Boschbouw van de Studentcnvcreeniging te Wageningen. Sebagai ketua kongres adalah HJ van Mook yang juga menjadi presiden serikat membuka pertemuan...(tiba giliran) Dahlan Ahdoellah sebagai pembicara mewakili Indisch Vereeniging: ‘Kami, Indonesiers adalah elemen utama di Belanda, rakyat Hindia, dan karena itu kami memiliki hak untuk memiliki lebih dari sebelumnya dalam pemerintahan nasional. Indisch Vereenigingner lebh tua dari yang lainnya...’. Dahlan Abdoellah mengurai di awal tentang kehidupan awal di Hindia hingga datangnya Belanda.

HJ van Mook meski baru satu tahun sebagai mahasiswa Indologi, tetapi kapasistasnya sudah menjadi ketua sarikat Indologi dan presidium kongres. Ini mengindikasikan HJ van Mook memiliki kemampuan berorganisasi yang baik.

Ketua Indische Vereeniging pada periode 1917-1918 adalah Dahlan Abdoellah. Pada tahun 1918 Indische Vereeniging menerbitkan majalah sebagai organ dari Indische Vereeniging yang diberi nama Hindia Poetra. Edisi pertama muncul pada bulan Juni 1918 yang dipimpin oleh Raden Mas Suardhy Soejaningrat (lihat Algemeen Handelsblad, 21-06-1918). Raden Mas Suardhy Soejaningrat kelak lebih dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara yang menjadi Menteri Pendidikan Ri pertama (yang kemudian digantikan oleh Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia sebagai Menteri Pendidik RI yang kedua).

HJ van Mook lulus ujian akhir di Universiteit te Leiden pada tahu 1918 (lihat Het vaderland, 12-06-1918). Disebutkan di ujian akhir universitas di Leiden bidang Nederlandsc Indie Administrative Dienst (Indologi) HJ van Mook (tinggal di Den Haag). HJ van Mook kemudian dingakat sebagai pegawai pemerintah di Hindia (lihat Nederlandsche staatscourant, 03-08-1918). Disebutkan berdasarkan Resolusi Menteri Koloni, tanggal 31 Juli 1918, Afdeeling ke-9 No 2, HJ van Mook, di Leiden, telah ditempatkan di bawah pemerintahan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, untuk diangkat disana di negara itu sebagai pejabat administrasi untuk (wilayah) Jawa dan Madoera.

Sementara itu, pada tahun 1918 ini juga kembali diadakan kongres mahasiswa di Belanda disebut Congres van het Indonesisch Verbond van Studeerenten (lihat De Maasbode, 31-08-1918). Sejumlah mahasiswa Belanda, Tionghoa dan pribumi yang berasal dari Hindia berbicara. Dahlan Abdoellah kembali berbicara. Di dalam kongres ini isu pendidikan tinggi kembali mendapat porsi. Isu kurangnya insinyur dan dokter di Hindia. Satu hal lain nama Indonenesier menjadi lazim diucapkan untuk menyebut penduduk di Hindia. Dalam kongres ini tidak terinformasikan apakah HJ van Mook menghadirinya. Tapi tampaknya tidak, karena HJ van Mook harus segera melengkapi berbagai administrasi sehubungan dengan pengangkatannya sebagai pegawai pemerintah di Hindia. Dalam kongres ini juga turut berbicara (bertanya): Zain Rasad (Landbouwonderwij); Sorip Tagor (Utrecht); Goenawan Mangoenkoesoemo, dan S. Sastrawidagda. Saat dimana seorang pembicara mengatakan ‘kami ingin membebaskan diri, tidak hanya dalam politik, tetapi juga di bidang pendidikan dan ekonomi’ disambut dengan tepuk tangan. Sorip Tagor, Dahlan Abdoellah dan Zain Rasad, tiga diantara pengurus Sumatra Sepakat yang didirikan tahun 1917 (De Sumatra post, 31-07-1919). Catatan: Dahlan Abdoellah diangkat sebagai asisten dosen bersama Samsi Sastrawidagda di Universiteit Leiden (lihat Nederlandsche staatscourant, 29-08-1917). Dahlan Abdoellah untuk bahasa Melayu dan Samsi untuk bahasa Jawa. Mas Samsi dan Dahlan Abadoellah lulus ujian Melayu dan Etnografi di ‘sGravenhage (Bataviaasch nieuwsblad, 27-12-1915). Samsi lulus di Handelseconomie di Rotterdam (De Tijd : godsdienstig-staatkundig dagblad, 29-06-1918). Dahlan Abdoellah dan Samsi diangkat kembali sebagai asisten dosen tahun 1918 (lihat De Preanger-bode, 05-10-1918). Jabatan ini pernah dilakukan oleh Soetan Casajangan pada tahun 1911. Soetan Casajangan diangkat sebagai guru bahasa Melayu di Handelschool dan merangkap sebagai asisten dosen Prof Charles A. van Ophuijsen di Universiteit Leiden. Handelschool ini menjadi cikal bakal Nederlandsch Handelshoogeschool di Rotterdam (dimana tahun 1922 Mohammad Hatta studi). CA van Ophuijsen adalah mantan guru Soetan Casajangan di Kweekschool Padang Sidempoean. Dahlan Abdoellah dan Samsi Sastrawidagda diangkat kembali sebagai asisten dosen  Melayu dan Jawa (Bataviaasch nieuwsblad, 02-10-1919). Kelak Samsi Sastrawidagda menjadi pengajar di sekolah Taman Siswa yang didirikan Ki Hadjar Dewantara yang dengan Ir Sioekarno dkk mendidikan Perhimpoenan Nasional Indonesia (PNI) di Bandoeng pada tahun 1927 yang pada saat itu HJ van Mook menjadi salah satu pejabat di province West Java. 

HJ van Mook segera kembali ke kampong halaman di Hindia. Ini dapat dilihat dari daftar penumpang kapal Nieuw Amsterdam yang akan berangkan ke Batavia (lihat De Telegraaf, 11-10-1918). Dalam manifest kapal disebut nama HJ van Mook bersama istri di kelas pertama. Kapan HJ van Mool menikah tidak terinformasikan. Pilihan kelas utama perlayaran ke Hindia besar dugaan sekaligus sebagai bulan madu di tengah lautan? Di Hindia, HJ van Mook ditempatkan di Semarang (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 09-01-1919). Disebutkan Direktur BB diangkat untuk ambtenaar administrasi di BB wilayah Jawa dan Madoera di Residentie Semarang sebagai Controleur, HJ van Mook. Ini seakam kembali HJ van Mook ke tempat kelahirannya di Semarang.

Pada tahun 1919 ini Soetan Casajangan, direktur sekolah guru Kweekschool di Ambon dipromasikan menjadi asisten Direktur Urusan Pribumi Dr Niewenhuis di Batavia. Jabatan ini dapat dikatakan jabatan tertinggi yang dapat dicapai oleh seorang pribumi. Dr Nieuwenhuis adalah seorang ahli ernografi dan bahasa yang andal yang memulai karir di Hindia melakukan ekspedisi ke wilayah hulu sungai Mahakam pada tahun 1900. Ketika Soetan Casajangan telah mencapai puncak karis sebagai pegawai pemerintah (dari golongan pribumi), HJ van Mook baru memulai karir dari tingkat yang paling rendah sebagai Controleur. Jabatan Controleur biasanya di lingkungan Direktur BB adalah sebagai pejabat di tingkat Onderafdeeling. Namun dalam hal ini HJ van Mook tidak terinformasikan di onderafdeeling mana di Residentie Semarang.

Pada tahun 1921 HJ van Mook dipindahkan sebagai Controleur dari Residentie Semarang ke Residentie Djogjakarta (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 20-04-1921). Pada tahun 1922 HJ van Mook sebagai Controleur ditugaskan dengan fungsi pengawasan di bagian sekretaris Residentie Djogjakarta (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 18-07-1922). Setelah mengabdi cukup lama selama sembilan tahun HJ van Mook diberi cuti satu tahun ke Eropa pada tahun 1927.

HJ van Mook berangkat ke Belanda bersama istri dan satu orang anak (lihat De locomotief, 11-04-1927). HJ van Mook dan keluarga kembali ke Hindia pada bulan Maret 1928 (lihat De locomotief, 28-03-1928).

Sepulang cuti dari Eropa, HJ van Mook ditempatkan di wilayah provinsi West Java (lihat Nieuwe Rotterdamsche Courant, 01-04-1928). Disebutkan terhitung mulai hari yang bersangkutan menerima tugas bekerja sebagai asisten resident di wilayah provinsi West Java, HJ van Mook yang diharapkan kembali dari cuti luar negeri, ambtenaar dengan pangkat terakhir Controleur kelas satu BB di wilayah Java en Madoera.

Ini mengindikasikan HJ van Mook telah mendapat kenaikan pangkat dari Controelur kelas-1 menjadi asisten resident. Controleur dimulai dari kelas-3. Pangkat asisten residen menjadio pejabat di wilayah Afdeeling (sedangkan Controleur di tingkat onderafdeeling). Catatan: sejak 1920 Jawa dan Madoeran dibentuk menjadi tiga province (West, Midden dan Oost). Gubernur province West Java di Batavia. Province terdiri dari Residentie diantaranya Batavia, Bantam dan Preanger..

Di Batavia HJ van Mook sebagai pembicara pada kursus singkat yang diadakan Bataviaasch Studenten-Corps yang bekerjasama dengan Ned. Ind. Oud-studentenfonds pada bulan Agustus (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 30-06-1928). Disebutkan HJ van Mook assistent-resident, membawakan makalah dengan topik ‘Vergelijkingen tusschen de Philippijnen en Nederlandsc Indië’.

Topik ini tentulah sangat dipahami oleh HJ van Mook karena dia pernah menjabat sebagao ketua asosisai mahasiswa Indologi di Belanda dan mengikuti kongres pendidikan Hindia di Belanda tahun 1917. HJ van Mook menulis artikel dengan judul ‘Het conflict en de Volksraad’ yang dimuat dalam jurnal Kolonie Studiën edisi April 1929 (lihat

Pada periode Volksraad 1931-1935 HJ van Mook diangkat sebagai anggota Volksraad (lihat Deli courant, 15-05-1931). Disebutkan efektif sejak tanggal 15 Juni telah diangkat sebagai anggota Volksraad diantaranya HJ van Mook, HJ van Mook, penjabat pengawas di Kantor Komisaris Pemerintah untuk Reformasi Administratif, di Batavia. Catatan: Anggota Volksraad ada yang ditunjuk dan diangkat pemerintah dan ada juga yang melalui jalur pemilihan menurut dapil. HJ van Mook termasuk yang ditunjuk.  

Tunggu deskripsi lengkapnya

Dr HJ van Mook: Orang Indo atau Indonesia?

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar