Selasa, 02 Agustus 2022

Sejarah Menjadi Indonesia (749): Bangali di Pantai Timur India dan Geomorfologi; Awal Penyebaran Hindoe/Boedha ke Nusantara


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Dulu, pernah saya baca artikel yang membahas terbentuknya permukaan bumi yang sekarang. Disebutkan Afrika telah menjauhi Amerika Latin karena adanya proses pergeseran permukaan bumi; Dalam pergeseran ini Afrika sempat terbentur dengan Eropa dan Jazirah Arab. Juga disebutkan (benua) India bergeser yang menubruk daratan Asia yang menjadi asal mula terbentuknya pegunungan Himalaya. Jika melihat peta bumi sekarang, terkesan ada benarnya. Namun penjelasan serupa itu harus diperhatikan terlalu sederhana (kekanak-kanakan).


Jika Eropa adalah sebuah benua, maka India juga dapat dikatakan sebagai sebuah benua/daratan luas. Dalam hal bagaimana terbentuknya (permukaan) bumi di masa purba sulit dijelaskan. Namun bagaimana permukaan bumi terjadi perubahan luas (wilayah) dapat dijelaskan. Secara geomorfologis permukaan bumi berubah dapat disebabkan oleh karena adanya abrasi dan adanya sedimentasi jangka Panjang. Perubahan secara geomorfologis ini dapat diperkuat dengan dukungan analisis geografi, sebaran flora dan fauna, penyebaran populasi penduduk serta elemen-elemen peradaban yang lainnya. Juga secara historis dapat diperkuat dengan teks dan benda-benda kepurbakalaan dan peta-peta yang ada. Kemajuan teknolog informasi dapat mempercepat pengumpulan data dan informasi pendukung lainnya./

Lantas bagaimana sejarah geomorfologi Bangladesh dan Pantai Timur India? Seperti disebut di atas, dalam penyelidikan masa ini banyak aspek yang dapat mendukung untuk menjelaskan sejarah dan perubahan permukaan bumi. Lalu bagaimana sejarah geomorfologi Bangladesh dan Pantai Timur India? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Geomorfologi Bangladesh di Pantai Timur India; Penyebaran Awal Agama Hindoe/Boedha ke Nusantara

Sangat beruntung negara Bangladesh yang sekarang, karena memiliki sungai besar, dimana dua sungai besar bertemu yakni sungai Gangga dan sungai Brahmputra yang ke hilir disebut sungai Padma yang betermu dengan sungai Meghna. Diantara sungai Padna dan sungai Meghna inilah berada kota Dhaka yang sekarang.


Dalam peta-peta kuno yang disalin oleh pelaut-pelaut Portugis kota Dhaka yang sekarang masih berada di pantai/pesisir. Dalam peta tersebut di pantai timur (India) digambarkan sungai Padma di sebelah barat dan sungai Meghna di sebelah timur. Dua sungai besar ini langsung bermuara ke laut sendiri-sendiri. Sungai besar lainnya adalah sungai Indus di pantai barat. Sungai ini berhulu di Himalaya dan bermuara  ke pantai barat di sekitar Guzarat (kini menjadi perbatasan India dan Pakistan). Dari nama sungai Indus inilah kemudian India mendapatkan nama (sebutan orang dari arah barat dari Persia/Arab/Eropa). Penulis-penulis dan para kartografi Portugis mengidentifikasi sungai Indus itu dengan nama sungai Indo (nama yang kelak akan digunakan untuk nama Indonesia).

Di pantai timur India, sebelum terbentuk kota Dhaka, sudah sejak lama eksis Kota Calcutta, suatu kota yang berada di wilayah pesisir/pantai. Di hulu sungai Gangga terdapat kota (New) Delhi. Dalam hal ini, wilayah Bangladesh yang sekarang, sejatinya pada masa lampau adalah wilayah yang penting, tidak hanya terdapat pertemuan dua sungai besar, tetapi dari wilayah ini dapat dijangkau hingga jauh ke pedalaman di New Delhi melalui jalur sungai Gangga.


Tingginya aktivitas di pedalaman di daerah aliran sungai besar ini, maka massa padat yang terbawa mengendap di hilir yang kemudian terbentuk daratan baru dimana dua sungai besar ini bertemu dengan membentuk sungai yang lebih besar menuju laut. Pembentukan daratan baru di muara sungai-sungai besar adalah tipikal untuk wilayah-wilayah yang subur seperti sungai Mekong di Kamboja, sungai Irawadi Burma dan sungai Bangkok di Siam/Thailand. Peta 1683

Seperti halnya Kota Goa di pantai barat yang dibentuk oleh orang Portugis, Kota Calcutta di pantai timur India dibangun oleh orang Inggris. Dari kota Calcutta inilah orang-orang Inggris hingga sampai ke suatu tempat di hulu sungai Gangga di pedalaman yang kemudian disebut dengan kota New Delhi. Sebelum Inggris membuat koloni di Calcutta, Inggris sudah terlebih dahulu membentuk koloni di Madras (yang pusat Angkatan laut Inggris di Asia). Sementara orang-orang Belanda membentuk koloni di Ceylon (menggantikan 

Calcutta adalah kedudukan Gubernur Jenderal Inggris semacam VOC/Belanda di Batavia. Kekuatan Angkatan laut ditempatkan di Madras yang menjadi semacam penjaga untuk menekan Belanda di wilayah pantai selatan India dan pantai barat. Setelah Inggris menguasai seluruh India, Inggris yang sudah berkoloni di Bengkulu, lalu pada tahun 1779 skuadron Inggris dipindahkan ke Bengkulu. Jika masa lampau Belanda menekan Portugis, selanjutnya Inggris yang terus menekan Belanda. Adanya orang-orang Punjab, Bengale dan tantara Gurkha di Hindia Timur/Hindia Belanda karena Inggris.

Calcutta sendiri baru dijadikan Inggris sebagai koloni pada tahun 1690. Sementara wilayah ini sebelumnya berada di bawah yurisdiksi Belanda/VOC. Pada peta Francois Valentijn Peta 1726 wilayah Bengale masih berada di bawah yurisdiksi Belanda dimana kota Dhaka terdapat bendera Belanda. Sementara Kota Calcutta terus berkembang yang kemudian sebagai kota utama di India (semasa Inggris). Wilayah Bangladesh sendiri terus meluas ke arah hilir karena proses sedimentasi jangka panjang terus berlangsung. Pada Peta 1755 di Decca masih diidentifikasi bendara Belanda.


Calcutta atau Kalkuta  kemudian berubah menjadi Kolkata salah satu kota pelabuhan penting di India yang merupakan ibu kota Benggala Barat. ditaklukkan Benggala pada 1756. Seperti kita lihat nanti Kolkata pernah menjadi ibu kota India antara 1833 sampai 1912. Nama Kolkata sendiri ada yang berpendapat berasal dari Kôlikata, nama Bengali dari salah satu dari tiga desa yang mendahului kedatangan Inggris, di daerah di mana kota itu akhirnya didirikan, dua desa lainnya adalah Sutanuti dan Govindapur. Pada masa ini Kolkata berada di dalam Delta Gangga bagian bawah di India timur sekitar 75 km di barat perbatasan internasional dengan Bangladesh, ketinggian kota adalah 9-15 m. Bendera Belanda di kota yang kemudian New Delhi pada Peta 1722

Sementara itu, Dhaka sendiri sudah diiudentifikasi oleh Valentijn pada Peta 1726 dimana  di Decca terdapat bendera Belanda/VOC (nama lama Dhaka). Kota ini terletak di pinggir sungai Buriganga, di jantung kawasan penghasil yute terbesar di dunia. Komoditas yang diperdagangkan di Dhaka antara lain beras, yute, gula dan teh. Sektor manufakturnya memproduksi tekstil,  Dhaka dahulu merupakan ibu kota Kekaisaran Mughal. Pada saat itu, Dhaka dikenal dengan nama Jahangir Nagar sebagai bentuk penghormatan bagi Kaisar Jahangir. Dhaka baru dikuasai oleh Inggris pada 1765.  Wilayah ini dikenal berada di teluk Benggala.


Kelak pada era Pemerintah Hindia Belanda, saat mana perkembunan tembakau meluas di Tanah Deli, banyak tenaga kerja didatangkan dari Punjab dan Bengali. Pada tahun 1947 Dhaka menjadi ibu kota Pakistan Timur (Islamabad). Setelah terbentuknya negara Bangladesh pada 1971 Dhaka menjadi ibu kota negara (pengaruh Pakistan menghilang). Kota Dhaka berada di wilayah tengah Bangladesh, tepat berada di sisi timur bantaran Sungai Buriganga, di bagian dataran rendah dan datar dari delta sungai Gangga, yang hingga ini hari daerahnya rawan terendam banjir di musim penghujan. Calcutta Peta 1747

Kehadiran Inggris di Bengale sejak 1765 telah mengubah situasi dan kondisi di India. Kota Calcutta menjadi ibukota Inggris dan cepat berkembang. Sejak ini pos Belanda di hulu sungai Gangga dijadikan kota baru dengan nama New Delhi. Wilayah Bengale menjadi wilayah yang terpenting di India (era Inggris) dimana sebelumnya wilayah yang penting pada era Belanda/VOC di Ceylob, Malabar dan Coromandel (di wilayah Bengale dan daerah aliran sungai Gangga hanya pos-pos perdagangan Belanda/VOC.


Keberadaan Pakistan di timur India (Pakistan Timur) merupakan rangkaian sejatah yang lama sejak penyebaran pengaruhu Islam di Nusantara. Ini dimulai jauh sebelum kehadiran orang-orang Eropa (Portugis) yang kemudian disusul Belanda dan lalu terakhir Inggris. Kota tua Islam di India berada di pantai barat di Guzarat (Arab/Persia) dan Goa (Moor/Portugis).

Tunggu deskripsi lengkapnya

Sejarah Awal Agama Hindoe/Boedha di India: Interaksu Populasi India dan Nusantara di Zaman Kuno

Apa yang bisa dipahami secara geomorfologi di wilayah Bengale (kini Bangladesh) sejak zaman kuno hingga kehadiran orang Eropa terutama Portugis dan Belanda adalah wilayah dengan keutamaan sungai besar sungai Gangga. Sungai Gangga ini sungai besar yang hulunya di pegunungan Himalaya yang melalui New Delhi. Pada Peta 1722 di New Delhi kedlaman sungai Gangga bahkan lima meter atau lebiih, suatu sungai yang dalam jika dibandingkan jauhnya lokasi ini ke muara di laut (wilayah Bengale). Dalam tradisi religi sungai Gangga begitu penting bagi penduduk India. Dalam hal inilah sungai Gangga memiliki sejarah tersendiri di India, sungai besar yang sudah dikenal sejak zaman kuno hingga era Belanda (Decca/Dhaka) yang kemudian disusul Inggris (Calcutta).


Sejarah agama Buddha mulai dari [abad ke-5 SM] sampai sekarang dari lahirnya sang Buddha Siddharta Gautama. Menurut tradisi Buddha, tokoh historis Buddha Siddharta Gautama dilahirkan dari suku Sakya pada awal masa Magadha (546–324 SM), di sebuah kota, selatan pegunungan Himalaya yang bernama Lumbini. Sekarang kota ini terletak di Nepal sebelah selatan. Di bawah sebuah pohon bodhi, ia berkaul tidak akan pernah meninggalkan posisinya sampai ia menemukan Kebenaran. Pada usia 35 tahun, ia mencapai Pencerahan. Pada saat itu ia dikenal sebagai Gautama Buddha, atau hanya "Buddha" saja, sebuah kata dalam Sanskerta yang berarti "ia yang sadar" (dari kata budh+ta). Untuk 45 tahun selanjutnya, ia menelusuri dataran Gangga di tengah India (daerah mengalirnya sungai Gangga dan anak-anak sungainya), sembari menyebarkan ajarannya kepada sejumlah orang yang berbeda-beda. Sementara itu, Hinduisme (di Indonesia disebut agama Hindu) merupakan kepercayaan dominan di Asia Selatan, terutama di India dan Nepal. Hinduisme diklaim sebagian orang sebagai "agama tertua" di dunia yang masih bertahan hingga kini. Para ahli dari Barat memandang Hinduisme sebagai peleburan atau sintesis dari berbagai tradisi dan kebudayaan di India, dengan pangkal yang beragam dan tanpa tokoh pendiri. Pangkal-pangkalnya meliputi Brahmanisme (agama Weda Kuno), agama-agama masa peradaban lembah Sungai Indus, dan tradisi lokal yang populer. Sintesis tersebut muncul sekitar 500–200 SM, dan tumbuh berdampingan dengan agama Buddha hingga abad ke-8. Dari India Utara, "Sintesis Hindu" tersebar ke selatan, hingga sebagian Asia Tenggara. Peta 1695 sebelum terbentuk delta Gangga/Bengale (wilayah Bangladesh sekarang)

Sungai Gangga menjadi penting, tidak hanya karena sungai besar, tetapi di wilayah hulu di selatan pegunungan Himalaya agama Hindoe/Boedha awalnya berkembang. Dalam hal ini hulu sungai Gangga dan sungai Indus di pedalaman India menjadi awal peradaban agama Hindoe/Boedha. Di wilauah hilir sungai Gangga ini kemudian kelak terbentuk wilayah baru (Bengale/Bangladesh).

Tunggu deskripsi lengkapnya

Sejarah Awal Agama Hindoe/Boedha di India: Interaksu Populasi India dan Nusantara di Zaman Kuno

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar