Kamis, 22 September 2022

Sejarah Bangka Belitung (2): Maras, Suku Tertua di Bangka dan Gunung Tertinggi di Bangka; Kegiatan Adat Maras Taun Belitung


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bangka Belitung dalam blog ini Klik Disini 

Di pulau Bangka terdapat suku Maras. Konon, disebutkan Orang Maras adalah suku tertua di pulau Bangka. Bagaimana nama Maras dihubungkan dengan populasi penduduk asli di pulau Bangka, tidak terinformasikan, Yang jelas di pulau Bangka gunung tertinggi disebut gunung Maras. Sementara itu di pulau Belitung ada adat Orang Melayu yang disebut Maras Taun. Apakah nama Maras ini tekait satu sama lain?


Gunung Maras adalah gunung yang terletak di Pulau Bangka, tepatnya di Desa Rambang, Kecamatan Riau Silip', Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Jarak Gunung Maras dengan Kota Sungailiat sekitar 70 km, sedangkan dari Kota Belinyu sekitar 33 km. Gunung Maras merupakan satu-satunya gunung yang berada di Pulau Bangka. Sementara itu, di pulaiu Belitung penduduk asli adalah Melayu. Berdasarkan ciri-ciri bahasa, asal usul dan adat istiadatnya, orang Belitung dapat digolongkan dalam kelompok besar suku bangsa Melayu, sehingga identitas mereka lebih tepat disebut sebagai Melayu Belitung. Orang Melayu Belitung sendiri menyebut diri mereka Urang Belitong. Salah satu tradisi menarik yang sampai saat ini masih eksis di Kabupaten Belitung, yaitu tradisi upacara adat maras taun. Maras taun adalah ucapan syukur atas limpahan rezeki dari hasil panen bagi para petani padi ladang di Pulau Belitung dengan cara se-dekah pada kekuatan alam ketika masyarakat masih menganut kepercayaan animisme. Maras, mempunyai pengertian kegiatan membersihkan duri kecil yang terdapat pada tanaman. Sedangkan, Taun mempunyai arti Tahun. Jadi, secara sederhana maras taun berarti pemotongan tahun, dari tahun yang lama ke tahun yang baru, dan atau disebut juga Selamatan Kampung yang dipimpin oleh dukun kampung bersama masyarakat (lihat Pemaknaan dan Nilai dalam Upacara Adat Maras Taun di Kabupaten Belitung. 2022. Tri Rahma Juniarti dkk).

Lantas bagaimana sejarah Maras, suku tertua di Bangka, Maras gunung tertinggi di Bangka? Seperti disebut di atas nama Maras tidak hanya nama suku, juga nama gunung di Bangkan dan maras juga digunakan di pulau Belitung sebagai kegiatan adat yang disebut Maras Taun. Lalu bagaimana sejarah Maras, suku tertua di Bangka, Maras gunung tertinggi di Bangka? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.Peta gunung di Bangka (tertinggi Maras)

Maras, Suku Tertua di Bangka, Maras Gunung Tertinggi di Bangka; Kegiatan Adat Maras Taun di Belitung

Seperti dikutip di atas, suku Maras adalah suku tertua di pulau Bangka. Bagaimana menjelaskannya? Suatu populasi disebut Maras diduga merujuk pada nama gunung di pulau Bangka (gunung Maras). Gunung ini dapat dikatakan gunung tertinggi di pulau Bangka (700 m). Gunung Maras ini seakan berada di pedalaman pulau, tetapi dapat diakses dari pantai utara pulau memasuki teluk besar yang memanjang ke pedalaman. Besar dugaan pada masa lampau gunung Maras ini tepat berada di pesisir pantai di ujung teluk ke arah selatan.


Secara geomorfologis, gunung Maras, di lerengnya sebelah timur diduga adalah pantai di dalam suatu suatu teluk yang memanjang ke pedalaman. Ke dalam teluk ini sejumlah sungai bermuara seperti sungai Layang, sungai Sangiang dan sungai Temera. Berdasarkan Peta 1897 teluk ini telah mengalami penyempitan karena terbentuknya perluasan daratan akibat sedimentasi jangka Panjang. Sungai-sungai yang bermuara ke teluk membawa massa padat dari pedalaman berupa lumpur dan sampah vegetasi. Sungai Layang yang berhulu di pegunungan granit telah memimpin sungai-sungai lainnya menemukan jalan diantara rawa-rawa yang terbentuk hingga mencapai garis pantai teluk yang baru di arah utara. Lalu dalam perkembangannya di muara sungai Layang yang baru di teluk terbentuk pulau sedimentasi yang disebut pulau Tinam (masih eksis hingga ini hari). Kini gunung Maras seakan jauh berada di belakang pantai teluk (teluk Klabat), tetapi awalnya gunung tersebut tepat berada di pantai teluk.

Besar dugaan di masa lampau di lereng gunung Maras terdapat suatu kota, suatu pusat peradaban awal di pulau Bangka. Lokasinya sangat strategis, bisa diakses dari laut, berada di pinggir teluk (di bagian dalam) yang aman dari musuh (ada jalur escape ke pedalaman maupun ke pegunungan di gunung Maras). Kota ini boleh jadi disebut kota Maras, yang mana nama gunung mengambil nama tempat/kota Maras. Namun yang menjadi pertanyaan, siapa populasi awal ini di kota Maras di lereng gunung Maras di ujung teluk Klabat tidak diketahui secara jelas.


Tipologi kawasan populasi (mirip kota Maras), yang diduga berasal dari zaman kuno cukup banyak di wilayah Indonesia sekarang ini. Diantaranya adalah teluk Bima di pulau Sumbawa dimana di ujung teluk terbentuk Kota Bima; Teluk Tual di pulau Kei Kecil (Maluku Tenggara) dimana terbentuk kota Tual; di pantai barat Sulawesi ditemukan di teluk Donggala dimana di ujung teluk terbentuk Kota Palu; kota Ambon terbentuk di teluk Amboina; dan lainnya. Bagian dalam teluk-teluk tersebut dimana terbentuk kota-kota merupakan pusat peradaban awal di Kawasan/pulau.

Oleh karenanya jika suku Maras dianggap sebagai suku tertua penduduk asli pulau Bangka, secara geomorfologi sangat masuk akal. Sebab, satu-satunya wilayah yang paling strategis di pulau Bangka dalam pembentukan peradaban awal hanya ditemukan di lereng gunung Maras. Tidak hanya aman dari ancaman luar, juga memiliki sumber ekonomi yang berasal dari pertambangan timah di wilayah hulu di pedalaman. Kota Maras yang dulu berada di tepi danau Klabat, dalam perkembangannya kota Maras masih dapay diakses dari laut/danau melalui sungai Layang.Boleh jadi masa peradaban di lerengan gunung Maras ini sudah berlangsung sejak lama. Ribuan tahun yang lalu, bahkan hingga kini dimana populasi mengidentifikasi/diidentifikasi sebagai suku Maras.


Nama Maras sendiri diduga adalah nama kuno. Tidak hanya nama tempat, tetapi juga penanda navigasi pelayaran perdagangan di zaman kuno (nama gunung yang dapat diolihat dari jauh). Secara toponimi juga nama Maras dapat dikatakan nama kuno, yang nama Maras banyak ditemukan di India (era Hindioe/Boedha). Boleh jadi kotas Maras ini sudah terbentuk jauh sebelum terbentuk Kota Kapur di pantai barat pulau Bangka (dimana kini ditemukan prasasti yang berasal dari abad ke-7).

Tunggu deskripsi lengkapnya

Kegiatan Adat Maras Taun di Belitung: Suku Melayu di Belitung

Wilayah Maras (kini desa Berbura, kecamatan Riau Silip, kabupaten Bangka), gunung dan pusat peradaban awal di pulau Bangka, diduga peradaban semakin berkembang dengan terbentuknya kota-kota baru seperti kota Muntok, kota Sungai Liat dan kota Pangkal Pinang. Kota-kota besar di pulau Bangka (bagian utara) ini, berada di lingkaran radar peradaban awal di pulau Bangka yang dulunya berpusat di Maras.


Pada zaman kuno, Maras berkiblat ke utara sepanjang danau Klabat. Namun pada masa kini, Kawasan Maras di yang masuk wilayah desa Berbura di kecamatan Raiu Silip lebih berorientasi ke pantai timur di Sungai Liat. Perkembangan jalan darat pada era Hindia Belanda diduga menjadi factor yang mengubah orientasi wilayah kea rah Sungai Liat (kini menjadi ibukota kabupaten Bangka). Desa Berbura terbentuk sebagai gabungan kampong-kampong yang memiliki dialek Bahasa dan adat yang sama di sekitar gunung Maras. Yakni kampong Bernai dan kampong Buhir yang masuk desa Riau dan kampong Rambang yang masuk desa Pangkal Niur.

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar