Senin, 19 Agustus 2019

Sejarah Tangerang (24): Mengapa Husein dan Hilman Memihak Belanda/NICA di Batavia? Keluarga Djajadiningrat di Banten


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Tangerang dalam blog ini Klik Disini

Pada tanggal 17 Agustus 1945 dilakukan proklamasi kemerdekaan Indonesia yakni merdeka dari penjajahan. Atas bantuan Sekutu/Inggris, sebagian wilayah NKRI kembali dikuasai oleh penjajah, Belanda/NICA. Bangsa Indonesia yang terus mengobarkan semangat kemerdekaan hanya tersisa Banten, Jogjakarta, sebagian Jawa Tengah serta Sumatra minus Sumatra Selatan dan Sumatra Timur (lihat peta).

Republik Indonesia (merah) dan BFO Belnada/NICA (putih)
Pemerintah RI di Djakarta terpaksa mengungsi ke Jogjakarta. Pemerintah Kabupaten Tangerang juga terpaksa mengungsi ke Banten. TNI yang berada di wilayah yang dikuasai Belanda/NICA juga dipaksa harus menyingkir ke wilayah sisa RI. Sementara itu, sebagian penduduk yang berada di wilayah penguasaan Belanda/NICA bekerjasama dengan Belanda/NICA, sebagian yang lain status quo (pro-RI). Penduduk yang bekerjasama dengan Belanda/NICA kemudian membentuk negara sendiri-sendiri. Muncullah negara-negara baru seperti Negara Pasundan, Negara Jawa Timur, Negara Sumatra Selatan dan Negara Sumatra Timur. Di negara-negara baru, yang boleh dikatakan bentukan Belanda/NICA dibentuk pemerintahan termasuk pembentukan pemerintah di distrik federal Batavia. Pemerintah Belanda/NICA kemudian mewujudkan aliansi negara-negara federal (non-RI) dengan membentuk federasi (BFO). Lalu yang terakhir: Kerajaan Belanda mengakuai kedaulatan Indonesia dalam bentuk federasi (BFO plus RI) yang disebut Republik Indonesia Serikat. Dalam hal ini, sejatinya kerajaan Belanda tidak pernah mengakuai Republik Indonesia (RI). Wilayah RI hanya tersisa Banten, Jogjakarta, sebagian Jawa Tengah serta Sumatra minus Sumatra Selatan dan Sumatra Timur.

Lantas mengapa Husein Djajadiningrat dan Hilman Djajadiningrat tidak ikut rombongan pemerintah RI hijrah ke Jogjakarta, atau paling tidak pulang kampung ke wilayah RI di Banten? Bukankah Husein Djajadiningrat dan Hilman Djajadiningrat adalah tokoh Banten yang tiada duanya saat itu? Mengapa Prof. Dr. Husein Djajadiningrat tetap berada di wilayah federal Batavia dan bekerjasama dengan Belanda/NICA dan ikut membentuk pemerintahan federal serta mendapat posisi Menteri Pengajaran, Kesenian, dan Ilmu Pengetahuan (Opvoeding, Kunsten en Wetenschappen)? Bagaimana dengan Hilman Djajadiningrat? Semua tentu ada jawabannya. Mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Kebinet van Mook (Het dagblad, 09-03-1948)
Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Keluarga Djajadiningrat

Tunggu deskripsi lengkapnya


*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar