Senin, 29 Maret 2021

Sejarah Australia (8): Papua Nugini Jerman, Persahabatan Belanda dan Jerman; Australia Rampas Wilayah Papua Nugini dari Jerman

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Australia dalam blog ini Klik Disin

Wilayah utara Papua Nigini dikuasai Jerman sejak 1884. Dalam berbagai tulisan disebut bahwa pada tahun 1914, saat berlangsungnya Perang Dunia (di Eropa), Australia memaksa Jerman dan merebut Papua Nugini. Sejak itu, kontrol terhadap wilayah Papua Nugini (di timur batas Hindia Belanda) sepenuhnya berada di tangan Australia, Lantas mengapa Australia menduduki  wilayah yurisdiksi Jerman di Papua Nugini? Hal itu karena Inggris dan Jerman di Eropa sedang berseteru, Australia sendiri saat itu, yang memang koloni Inggris, adalah salah satu anggota persemakmuran Inggris.

Setelah sejak lama Papua Nugini berada di bawah administrasi Pemerintah Australia, pada tahun 1972, Michael Somare menginisiasi Papua Nugini menjadi pemerintahan sendiri pada tanggal 1 Desember 1973. Dua tahun kemudian, pada tanggal 16 September 1975 Papua Nugini mendapatkan kemerdekaannya dan segera bergabung dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pada tahun 1977 dalam pemilihan umum nasional Michael Somare menjadi Perdana Menteri. Sementara itu, wilayah barat Papua Nugini, sudah sejak lama menjadi bagian dari wilayah (Pemerintah) Hindia Belanda. Namun saat Belanda mengakui kedaulatan Indonesia (Hindia Belanda) tahun 1949, wilayah Papua tetap disandera Belanda. Situasi dan kondisi ini membuat pemimpin Republik Indonesia (setelah bulan Agustus 1950 RIS dibubarkan) Presiden Siekarno menegaskan akan membebaskan wilayah Papua dari tangan Belanda. Upaya itu baru dapat terwujud pada tahun 1963. Pengentasan kolonialisme di wilayah Papua bagian barat (Provinsi Irian Barat, Indonesia) menyebabkan para pemimpin di Papua Nugini memperjuangkan kemerdekaannya dari Inggris (Australia).

Lantas bagaimana sejarah Jerman di wilayah Papua (Nova Guinea)? Yang jelas pada saat wilayah Papua Nugini (bagian utara) dikuasai Jerman hubungan Belanda (Pemerintah Hindia Belanda) dengan Jerman sangat baik. Hal itu bisa jadi karena faktor kedekatan geografis Belanda dan Jerman di Eropa. Sementara hubungan Belanda dan Inggris terbilang pasang-surut sejak lama. Lalu bagaimana sejarah Papua Nugini jatuh ke tangan Australia (Inggris)? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Wilayah Papua Nugini, Persahabatan Belanda dan Jerman

Pada awal tahun 1914, hawa perang di Eropa sudah terasa. Satu hal pokok yang dibicarakan seperi di Belanda, Inggris, Jerman dan Prancis adalah masalah persenjatan dalam masalah politik (lihat La gazette de Hollande, 14-01-1914). Tidak lama kemudian pada bulan Juli (28 Juli) konflik ini dibuka dengan invasi Austria-Hongaria ke Serbia, diikuti invasi Jerman ke Belgia, Luksemburg dan Prancis; dan serangan Rusia ke Jerman. Terjadilah Perang Dunia di Eropa (yang kini disebut Perang Dunia I). Dampaknya terasa di Asia Tenggara sebagaimana komentar pers Inggris yang dikutip di Belanda.

Dalam situasi perang di Eropa, suatu kekhawatiran muncul dalam suatu artikel pada surat kabar Singapore Free Press yang terbit di Singapoera tentang Jerman dan Belanda soal Hindia Belanda (lihat La gazette de Hollande, 27-11-1915). Isunya adalah soal apakah Jerman akan mengambilalih Hindia Belanda (baca: Indonesia) dari Belanda. Artikel ini kemudian mendapat komentar dari pers Inggris yang dikutip surat kabar Belanda berbahasa Inggris (La gazette de Hollande). Boleh jadi isu ini menguat di Asia Tenggara karena Jerman memiliki koloni di Papua Nugini, sementara Belanda di Eropa, meski cenderung netral tetapi sangat lemah, dapat diduduki oleh Jerman. Hal ini tentu, jika terjadi demikian, akan ada gangguan stabilitas di kawasan. Pers Inggris menulis: ‘Belanda adalah tetangga Inggris di Semenanjung Malaya: Perubahan kepemilikan Hindia Belanda tidak akan ditoleransi untuk sesaat, bahkan jika Pemerintah Belanda yang malang dipaksa oleh force majeure untuk melaksanakan instrumen diplomatik yang mendukung pemindahan wilayah tersebut. Inggris akan segera memutuskan bahwa Hindia Belanda akan tetap, seperti sekarang, di bawah pemerintahan Belanda, di bawah bendera Belanda, bahkan mungkin — dengan asumsi lagi bahwa yang terburuk datang menjadi yang terburuk — bahwa Ratu Wilhelmina mungkin diusir dari Den Haag. Dutch to All Time’.

Dalam komentar pers Inggris, posisi Hindia Belanda akan tetap aman, meski Jerman menguasai Belanda di Eropa, Inggris di Semenanjung akan ikut menjaganya, karena menurut pandangan orang Inggris, Belanda di Hindia Belanda adalah tetangga yang baik. Dari komentar pers Inggris itu terungkap justru yang terganggu selama ini (secara psikologis) adalah Australia dan Selandia Baru terhadap eksistensi Jerman di Papua Nugini.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Australia Rampas Wilayah Papua Nugini dari Jerman

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar