Kamis, 22 April 2021

Sejarah Filipina (15): Relasi Internasional Filipina Spanyol dan Batavia Belanda; Sejak Era VOC hingga Era Hindia Belanda (1942)

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Filipina dalam blog ini Klik Disini

Satu sejarah penting tentang masa lampau adalah sejarah hubungan antar berbagai tempat di Hindia Timur. Terbentuknya batas-batas yurisdiksi sejak kehadiran orang Eropa menyebabkan wilayah Hindia Timur terpisah-pisah (yang menjadi cikal bakal negara-negara masa kini di Asia Tenggara). Satu sejarah yang penting adalah hubungan antara Filipina-Spanyol dan Indonesia-Belanda. Namun dalam hal ini hanya dibatasi hubungan ibu kota Indonesi-Belanda di Batavia (kini Jakarta) dengan berbagai tempat di Filipina.

Batas-batas yurisdiksi di Hindia Timur pada era Portugis-Spanyol belumlah begitu jelas (masih sangat cair). Batas-batas yurisdiksi mulai mengerucut sejak kebijakan VOC berubah pada tahun 1665 dari kontak perdagangan yang longgar di (kota-kota) pantai menjadikan penduduk asli (pribumi) sebagai subjek. Ini setelah terusirnya Portugis dari Hindia Timur. VOC Belanda berhasil mengusir Portugis dari Malaka tahun 1642 dan kemudian dari Cambodia tahun 1643 (saat mana Abel Tasman menyelidiki Australia). Portugis lalu hanya tersisa di Makao dan pulau Timor bagian timur (kini Timor Leste). Kebijakan baru VOC Belanda ini juga seiring dengan terusirnya Spanyol dari Ternate (dan Manado) yang hanya terkonsentrasi di wilayah Filipina (yang sekarang). Sejak 1665 batas-batas yurisdiksi Belanda (VOC) di Hindia Timur (kini Indonesia) semakin jelas dengan Spanyol (kini Filipina) dan Portugis (kini Timor Leste). Invasi Inggris dari India (yang berpusat di Calcutta) ke pantai Sumatra pada tahun 1779 (mengkooptasi Bengkoelen) menjadi distorsi batas antara Belanda dengan Spanyol. Sejak Bengkoelen dan Australia (1777), pengaruh Inggris semakin meluas ke Semenanjung dan Borneo (utara). Sejak 1824 (Traktat London 1824) batas-batas yurisdiksi antara Belanda khususnya dengan Inggris semakin jelas (tukar guling Bengkoelen dan Malaka). Batas-batas yurisdiksi ini juga semakin diperjelas antara Belanda dan Inggris dengan Spanyol di Filipina dan antara Belanda dengan Portugis (di Timor) dan Inggris (Australia).

Lantas bagaimana sejarah hubungan internasional antara berbagai tempat di Filipina dengan Indonesia (baca: Hindia Timur atau Hindia Belanda) Belanda di Batavia? Tentu saja topik ini belum pernah ditulis. Namun sejarah tetaplah sejarah apapun aspeknya yang dalam hal ini dapat dikatakan aspek hubungan internasional. Apa pentingnya sejarah hubungan internasional masa lampau. Jelas bahwa hubungan internasional antara Indonesia dan Filipina masa kini berawal dari masa lalu. Lalu bagaimana sejarah hubungan Batvia dengan tepat-tempat di Filipina? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Batavia Sejak Era VOC: Manila dan Kota-Kota Lain di Filipina (Spanyol)

Posisi VOC Belanda di Ternate semakin menguat. Sementara properti Spanyol dalam benteng masih ada di pulau Tidore. Besar dugaan bahwa telah terjadi semacam perjanjian antara VOC dengan Spanyol untuk membebaskan wilayah kekuasaan kesultanan Ternate (yang berada di pihak Belanda). Wilayah Ternate termasuk Manado dan sebagian wilayah pulau Mindanao. Hal itulah sejak 1659 orang-orang Spanyol di wilayah (kesultanan) Ternate berangsur-angsur keluar wilayah (ke wilayah Filipina-Spanyol). Pada tahun 1661 pedagang-pedagang VOC sudah beraktivitas di (pulau) Manado (lihat Daghregister, 15 Februari 1661).

Volume perdagangan cangkang penyu (schildpadbhoorn) dari  pedagang-pedagang VOC di Manado hanya kecil, tetapi pedagang-pedagang VOC banyak bermasalah dengan (pedagang-pedagang) Spanyol. Pada era Gubernur Jenderal G. Maetsuycker (1653-78) mengambil langkah mengusir Spanyol dari (pulau) Manado. Pemerintah VOC kemudian merelokasi dan membangun pos perdagangan di muara sungai Tondano dan kemudian membangun benteng di dekat pos tersebut pada tahun 1657. Tampaknya alasan Peerintah VOC ingin mengusir Spanyol dari Manado karena ingin menguasai sepenuhnya pulau Celebes. Orang-orang Spanyol yang terakhir keluar dari wilayah Ternate pada bulan Mei 1663. Fase ini mengindikasikan orang Spanyol di Tidore dan orang Belanda di Manado overlap. Dari situasi dan kondisi ini terkesan hubungan antara Spanyol dan VOC tidak dalam berselisih pada era transisi ini.

Namun yang pasti bagaimana hubungan Spanyol dan VOC Belanda baik pada fase transisi maupun setelah orang-orang Spanyol berada di wilayah yurisdiksi Spanyol (di Filipina) tidak begitu jelas. Hubungan antara Spanyol dan VOC kembali dicatat dalam Daghregister 7 Februari 1665 yang mana sebuah misi dari Gubernur Spanyol di Manila datang menemui Gubernur Jenderal VOC di Batavia.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Hubungan Filipina dan Batavia: Sejak Era Amerika Serikat (1898)

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar