Minggu, 11 Juli 2021

Sejarah Menjadi Indonesia (80): Peta Bali dan Orang Bali; Menyatu ke Jawa atau Bali Dipisahkan oleh Selat Sejak Zaman Kuno?

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog Klik Disini

Sejak adanya, peta Bali terpisah dengan peta Jawa. Namun ada yang berpendapat bahwa dulunya pulau Bali menyatu dengan Jawa yang dijembatani oleh suatu daratan sempit. Hal ini didasarkan bahwa karena topologi iklim di pulau Bali dan pulau Jawa mirip. Demikian juga adanya persamaan havitat dimana flora dan fauna hidup. Adanya harimau Bali yang mirip dengan harimau Jawa memperkuat argumentasi itu. Lantas apakah pulau Bali pernah menyatu dengan pulau Jawa? Lalu mengapa Bali disebut pulau?

Pada masa ini dikenal luas pulau Samosir. Lantas apakah pernah ada pulau Samosir di zaman lampau? Faktanya tidak. Sebab wilayah Samosir yang seakan berada di tengah danau Toba, sejatinya pada era Hindia Belanda masih menyatu dengan daratan (pulau) Sumatra. Namun untuk pengembangan wilayah dan peningkatan lalu lintas perdagangan di perairan danau Toba, daratan yang menyambungkan daratan Sumatra dengan daratan di tengah danau dipotong dengan membuat kanal. Terputus sudah Samasir dari daratan Sumatra. Pulau Samosir terbentuk. Apakah kisah serupa pulau Samosir yang menjadi kisah masa lampau pulau Bali? Tentu saja sulit dibuktikan. Hanya faktor-faktor kemiripan di Bali dan di Jawa yang dijadikan argumentasi pernah menyatu

Lantas apa bagaimana sejarah peta Bali? Lalu apakah orang Bali berbeda dengan orang Jawa? Nah itu dia. Orang Jawa mengidentifikasi diri sebagai Jawa dan orang Bali mengidentifikasi diri sebagai Bali. Sebagaimana faktor-faktor geografi, tentu saja ada persamaan yang terbentuk antara orang Bali dengan orang Jawa. Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Peta Bali Zaman Kuno

Tunggu deskripsi lengkapnya

Orang Bali dari Masa ke Masa

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar