Minggu, 25 Desember 2022

Sejarah Madura (57):Ruslan Wongsokusumo - Parada Harahap; Badan Penyelidik Usaha - Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Madura dalam blog ini Klik Disini  

Di dalam berbagai tulisan disebut Roeslan Wongsokoesoemo. lahir pada 15 Oktober 1901 di Madura. Setelah lulus sekolah dasar berbahasa Belanda HIS mengikuti ujian pegawai negeri sipil Kleinambteaar Examen pada 1918. Roeslan Wongsokoesoemo pernah bekerja di Post Teleegraf en Telefoondienst di Soerabaja. Kelak, tahun 1945 Roeslan Wongsokoesoemo dan Parada Harahap menjadi anggota BPUPKI. Namun sejarah Roeslan Wongsokoesoemo kurang terinformasikan.

 

Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan disingkat BPUPK adalah badan yang dibentuk oleh pemerintah pendudukan Jepang. pada 1 Maret 1945. Akan tetapi badan ini baru benar-benar diresmikan pada tanggal 29 April 1945. Badan ini dibentuk sebagai upaya mendapatkan dukungan dari bangsa Indonesia dengan menjanjikan bahwa Jepang akan membantu proses kemerdekaan Indonesia. BPUPKI beranggotakan 67 orang yang diketuai oleh Dr. Radjiman Wedyodiningrat dengan wakil ketua Ichibangase Yoshio (orang Jepang) dan Raden Pandji Soeroso. Di luar anggota BPUPKI, dibentuk sebuah Badan Tata Usaha (semacam sekretariat) yang beranggotakan 60 orang. Badan Tata Usaha ini dipimpin oleh Raden Pandji Soeroso dengan wakil Mr. Abdoel Gafar Pringgodigdo dan Masuda Toyohiko (orang Jepang). Tugas dari BPUPKI sendiri adalah mempelajari dan menyelidiki hal-hal yang berkaitan dengan aspek-aspek politik, ekonomi, tata pemerintahan, dan hal-hal yang diperlukan dalam usaha pembentukan negara Indonesia merdeka. Pada tanggal 7 Agustus 1945, Jepang membubarkan BPUPKI dan kemudian membentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dengan anggota berjumlah 21 orang, sebagai upaya untuk mencerminkan perwakilan dari berbagai etnis di wilayah Hindia-Belanda, terdiri dari: 12 orang asal Jawa, 3 orang asal Sumatra, 2 orang asal Sulawesi, 1 orang asal Kalimantan, 1 orang asal Sunda Kecil (Nusa Tenggara), 1 orang asal Maluku, 1 orang asal etnis Tionghoa (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah Roeslan Wongsokoesoemo dan Parada Harahap? Seperti disebut di atas keduanya adalah anggota BPUPKI, namun Roeslan Wongsokoesoemo sejarahnya kurang terinformasikan. Setali tiga uang dengan Parada Harahap, tetapi di dalam blog ini telah ditulis narasi sejarah Parada Harahap secara lengkap. Lalu bagaimana sejarah Roeslan Wongsokoesoemo dan Parada Harahap? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Roeslan Wongsokoesoemo dan Parada Harahap; Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPKI)

Roeslan Tjakraningrat harus dibedakan dengan Roeslan Wongsokoesoemo. Roeslan Tjakraningrat lahir tanggal 17 Oktober 1913 di Bangkalan yang merupakan putra RAA Tjakraningrat. Kita sedang membicarakan Roeslan Wongsokoesoemo. Tidak seperti disebut di atas, setelah lulus sekolah dasar berbahasa Belanda HIS mengikuti ujian pegawai negeri sipil Kleinambteaar Examen pada 1918 dan ditempatkan di kantor PTT di Soerabaja. Yang benar adalah Roeslan lulus Klein Ambteaar kemudian ditempatkan di kantor PT en T sebagai Inlandsch klerk di Soerabaja. Pada tahun 1916 Roeslam dipindahkan dari Soerabaja ke kantor Tandjoeng Pandan (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 15-04-1916).


Pengembangan pos sudah sejak lama di Hindia Belanda, efektifnya pada era Gubernur Jenderal Daendels bersamaan dengan pembangunan trans-Java antara Batavia-Panaroekan. Sementara pengembangan telegraaf di Tandjoeng Pandan baru dimulai pada tahun 1859 sehubungan dengan kebutuhan Pemerintah Hindia Belanda menghubungkan Batavia dan Singapoera melalui Moentok (Bangka). Akan tetapi hubungan telegraaf ke Tandjoeng Pandan baru dimulai tahun 1902 (lihat De Sumatra post, 27-09-1902). Pengembangan telegraaf di Tandjoeng Pandan dalam rangka memperluas jaringan telegraaf dari Palembang ke Pontianak melalui Moentok, Pangkal Pinang (Bangka) dan Tandjoeng Pandan (Belitoeng). Dalam perkembangannya jawatan Post en Telegraaf Dients menjadi Post, Telegraaf en Telephone (PTT) yang berpusat di Bandoeng.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPKI): Siapa Roeslan Wongsokoesoemo?

Pembentukan organisasi Sarikat Madoera semakin mantap. Sebelumnya organisasi yang ada adalah Madoereezen-Bond. Dalam hal ini Sarekat Madoera adalah pemekaran (sempalan). Gagasan pembentukan Sarekat Madoera semakin mengerucut (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 31-01-1925). Disebutkan dengan meningkatnya ketidakpuasan di kalangan penduduk Madura mungkin akan mengarah pada pembentukan 'Sarekat Madura' minggu depan pada pertemuan yang akan diadakan di Semarang. Sarekat Madoera akhirnya berhasil dididirikan di Semarang tanggal 15 Februari 1925. Roeslan Wongsokoesoemo duduk sebagai sekretaris.


Susunan pengurus pusat (sementara) adalah Soekaris sebagai ketua, Roeslan-Wongsokoesomo sebahgai sekretaris dan OS Mertowidjojo sebagai bendahara. AD/ART Sarikat Madoera menyatakan perkumpulan bernama Sarikat-Madoera dan memilih domisili dimana ketua pengurus pusat dipilih. Cabang di tempat-tempat yang beranggotakan sedikitnya 12 orang. Departemen-departemen dipercayakan kepada dewan departemen. Maksud dan tujuan perkumpulan: (1) Untuk memupuk dan menanamkan rasa persaudaraan dan solidaritas diantara para anggota dan selanjutnya mendorong mereka untuk selalu berbuat baik untuk kepentingan perkumpulan; (2) Mengurus pendidikan dan latihan, kesehatan, pertanian, perdagangan dan industri, bahasa Madura. dll.; (3) Memberikan bantuan dan dukungan kepada anggota yang secara tidak sengaja jatuh ke dalam kesulitan.

Pada bulan Februari Sarikat Madoera mengadakan pertemuan umum (Kongres) di Bangkalan (lihat De nieuwe vorstenlanden, 19-02-1926). Pertemuan didahului hari Jumat di rumah bendahara Departemen Bangkalan S Yoedokoesoemo di Bangkalan yang diwakili oleh cabang-cabang sebagai berikut: Soerabaja sebanyak 170, Kamal sebanyak 91, Gili Barat sebanyak 35, Kota Bangkalan 32, Afdeeling Bangkalan 11 dan Afdeeling Pamekasan 300. Dari pengurus pusat diwakili ketua: Soekaris, sekretaris: Roeslan-Wongsokoesomo, dan bendahara: OS Mertowidjojo.


Pada hari Sabtu, sebanyak 14 anggota kongres berangkat ke makam "Aer Mata" di Aroesbajasche. Pada sore hari diadakan rapat tertutup. Semua departemen hadir kembali, serta perwakilan dari "Jornalisten Bond Azia", Asosiasi "Langan Tjipto"; Mohamadiah Bangkalan dan Sarikat-Postel. Pada hari Minggu pagi diadakan rapat umum di gedung sekolah "Institut Malar-Pattra” di Bangkalan. Rapat dihadiri lebih 300 orang, antara lain hadir perwakilan PKI seksi Soerabaja, Sarikat Rajat Soerabaja, SPPL Soerabaja, Sarikat Postel Soerabaja dan Kongres Nasional Madura Bangkalan. Selanjutnya seluruh cabang Sarikat Madoera hadir. Dalam rapat umum ini Roeslan-Wongsokoesomo juga naik mimbar, sekretaris, memberikan ikhtisar tentang keputusan pertemuan sebelumnya dan laporan kemajuan asosiasi. Selanjutnya, tiga wanita pribumi memperoleh kesempatan berbicara Ibu Yoedo, Ibu Soeto dan Ibu Soekaris. Pada Minggu malam pertemuan umum dilanjutkan di Bangkalan. Kurang lebih ada 200 orang yang hadir. Hanya menggunakan bahasa Madura dalam pertemuan ini.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPKI): Siapa Roeslan Wongsokoesoemo?

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar