*Lihat juga Youtube Channel disini: Poestaha Depok
**Untuk melihat semua artikel Sejarah Amir Sjarifoeddin di blog ini Klik Disini
Dalam narasi sejarah masa kini, Amir Sjarifoeddin Harahap dipersepsikan
sebagai tokoh yang bersifat kontroversi. Apakah itu benar? Kenyataannya, apa
yang dinarasikan tentang Amir Sjarifoeddin Harahap pada masa ini berbeda dengan
dengan data sejarah (dokumen dan arsip) sezaman. Mengapa bisa begitu? Singkatnya:
Dalam hal inilah mengapa sejarah Amir Sjarifoeddin Harahap perlu ditulis
kembali. Mari kita mulai dari artikel pertama.
Amir Sjarifoeddin Harahap lahir 27 April 1907 adalah seorang politikus dan wartawan Indonesia yang menjabat sebagai Perdana Menteri kedua Indonesia dari tahun 1947 hingga 1948. Amir lahir dalam keluarga bangsawan Sumatra dan menempuh pendidikan di Universitas Leiden. Di Leiden, ia menjadi anggota dewan asosiasi mahasiswa Gimnasium di Haarlem dan terlibat dalam organisasi mahasiswa Batak Jong Batak. Ia kembali ke Indonesia karena masalah keluarga tetapi melanjutkan pendidikannya di Rechts Hogeschool di Batavia. Kakeknya, Sutan Gunung Tua, adalah seorang jaksa di Padang Sidempuan. Ayahnya, Baginda Soripada Harahap, juga adalah seorang jaksa di Medan. Selama bersekolah di Belanda, Amir mempelajari filsafat Timur dan Barat di bawah pengawasan Theosophical Society. Amir menikmati pendidikan di ELS atau sekolah dasar Belanda di Medan pada tahun 1914 hingga selesai Agustus 1921. Atas undangan saudara sepupunya, T.S.G. Mulia yang baru saja diangkat sebagai anggota Volksraad dan belajar di kota Leiden sejak 1921 (Wikipedia)
Lantas bagaimana sejarah Amir Sjarifoeddin Harahap bersifat kontroversi dalam narasi sejarah masa kini? Seperti disebut di atas, Amir Sjarifoeddin Harahap bukan orang biasa, tetapi memiliki banyak peran penting dalam perjalanan bangsa hingga mencapai kemerdekaan. Akan tetap sejarahnya banyak yang tidak terinformasikan, dari narasi yang ada saat ini terkesan simpan siur. Lalu bagaimana sejarah Amir Sjarifoeddin Harahap bersifat kontroversi dalam narasi sejarah masa kini? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.
Apakah Sejarah Amir Sjarifoeddin Bersifat Kontroversi? Mari Kita
Telusuri Sejarahnya Sejak Awal
Tunggu deskripsi lengkapnya
Mari Kita Telusuri Sejarah Amir Sjarifoeddin Sejak Awal: Lahir di Medan, 1907, Lulus Sekolah Dasar Eropa ELS di Sibolga dan Langsung Melanjutkan Studi ke Belanda 1921
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Klub Como 1907”; Forthcoming “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com


Tidak ada komentar:
Posting Komentar