Sabtu, 23 April 2022

Sejarah Menjadi Indonesia (548): Pahlawan Indonesia dan Penulisan Narasi Sejarah di Indonesia; Isu Tolak Fakta dan Kreasi Data

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Begitu banyak narasi sejarah Indonesia yang ditulis keliru. Paling tidak tulisan-tulisan yang dapat dibaca di internet, termasuk tulisan-tulisan pada laman Wikipedia. Mengapa itu terjadi? Sudah barang tentu bermula pada peneliti sejarah. Namun itu tentu saja tidak sepenuhnya kesalahan para peneliti. Akan tetapi sumber kesalahan itu pada dasarnya pada sumber data: ketidaklengkapan data dan kesalahan data sendiri.

Sejarah adalah narasi fakta dan data. Lalu dimana letak perlunya analisis. Pertama menganalisis data itu sendiri, apakah data itu lengkap atau data itu salah. Dalam hal ini analisis data diperlukan untuk memverifikasi dan menkonfirmasi data dengan fakta. Analisis data berarti memperbandingkan data yang ada untuk menentukan mana yang paling sesuai menjelakan fakta. Kedua, menganalisis antara satu data dengan data yang lain. Analisis ini berupaya untuk melihat apakah ada relasinya. Analisis relasi ini dapat dilakukan secara vertikal (perbedaan waktu) maupun secara horizontal (perbedaan tempat). Analisis antara data dalam hal ini juga dapat digunakan untuk memperidiksi data yang sesuai diantara kedua data. Analisi antar data ini juga dapat diperluas dengan memperediksi data di depannya atau data di belakangnya. Untuk memperkuat narasi fakta dan data diperlukan analisis yakni untuk mengevaluasi data dan untuk memperkaya narasi.   

Lantas bagaimana sejarah Penulisan Narasi Sejarah di Indonesia? Seperti disebut di atas, dalam penulisan sejarah Indonesiasi banyak terdapat kesalahan. Akan tetapi itu menjadi tuga kita semua untuk memperbaikinya. Lalu bagaimana sejarah Indonesiasi di Australia? Yang jelas yang terjadi sekarang adalah Australia yang meng-Indonesia. Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Pahlawan Indonesia dan Penulisan Narasi Sejarah di Indonesia: Isu Tolak Fakta dan Kreasi Data

Tunggu deskripsi lengkapnya

Penulisan Narasi Sejarah di Indonesia: Upaya Mempertinggi Mutu Sejarah

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar