Kamis, 19 Mei 2022

Sejarah Menjadi Indonesia (599): Pahlawan Indonesia – Pelaut Indonesia Sejak Zaman Kuno; Canton, Taiwan, Maori, Madagaskar

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Gambaran pelaut Indonesia temp doeloe hingga kini boleh jadi kurang lebih sama. Pelaut-pelaut Indonesia di zaman kuno terekam dalam catatan Eropa, Tiongkok, prasasti dan candi. Dalam perkembangannya muncul teknologi navigasi dan bentuk-bentuk kapal. Salah satu bentuk kapal Indonesia adalah pinisi yang mengacu pada jenis sistem layar (rig), tiang-tiang, layar dan konfigurasi tali. Kapal pinisi terkenal di Makassar. Sejak dari doeloe, Indonesia sebagai kepulauan, tradisi melaut terdapat di seluruh Indonesia.

Indonesia merupakan negara ketiga terbesar di dunia setelah China dan Filipina sebagai penyuplai pelaut di kapal asing. Kementerian Perhubungan mencatat ada 1,2 juta pelaut Indonesia yang bekerja di kapal asing perikanan maupun kapal asing niaga. "Dari data Kementerian Perhubungan ada 1,2 juta orang pelaut kita bekerja di kapal niaga atau kapal perikanan luar negeri," kata Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim dan Energi, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Basilio Dias Araujo dalam Konferensi Pers Virtual terkait Isu Perlindungan Pelaut, Jakarta, Rabu (17/2/2021). ILO mencatat Indonesia merupakan penyuplai pekerja perikanan terbesar di dunia. Mereka bekerja di laut bebas maupun bekerja di negara setempat sebagai pelaut residen (Liputan6.com, 17 Feb 2021).

Lantas bagaimana sejarah pelaut Indonesia sejak zaman kuno? Seperti disebut di atas, tradisi melaut sudah ada sejak zaman kuno, yang menghubungkan antara satu daratan dengan daratan lainnya, antara satu pulau dengan pulau lainnya. Bahkan pelaut Indonesia sudah mencapai Canton, Taiwan, Maori, Madagaskar. Lalu bagaimana sejarah pelaut Indonesia sejak zaman kuno? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe..

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Pahlawan Indonesia – Pelaut Indonesia Sejak Zaman Kuno: Berlayar hingga Canton, Taiwan, Maori, Madagaskar

Tunggu deskripsi lengkapnya

Pelaut Indonesia Sejak Zaman Kuno: Era Pinisi hingga Masa Kini

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar