*Untuk melihat semua artikel Sejarah Soetan Casajangan di blog ini Klik Disini
Organisasi kebangsaan Indonesia pertama telah didirikan di Padang pada tahun 1900 yang dipimpin Dja Endar Moeda. Di Medan pada tahun 1905 di Medan didirikan Sjarikat Tapanoeli sebagai tempat berhimpun dan wadah pergerakan bagi tokoh-tokoh bumiputera. Para pemuda Sjarikat Tapanoeli mendirikan klub sepak bola (Tapanoeli Voetbalclub). Organisasi kebangsaan di Medan ini kemudian mendirikan NV Sjarikat Tapanoeli yang menjadi badan usaha dalam penerbitan surat kabar Pewarta Deli (1909). Sejarah Mahasiswa di Indonesia
Adriaan van Ophuijsen (disingkat Ch.A. Ophuijsen; 31 Desember 1854 – 19 Februari 1917) adalah seorang linguis Belanda kelahiran Solok. Ia berperan dalam perumusan Ejaan van Ophuijsen yang digunakan di Hindia Belanda sebelum digantikan dengan Ejaan Republik. Ophuijsen juga gemar mempelajari bahasa berbagai suku di Hindia Belanda. Pada tahun 1896, Ia ditugaskan oleh Pemerintah Belanda untuk menstandardisasikan aksara Latin untuk bahasa Melayu dengan dibantu oleh Nawawi Soetan Makmoer dan Moh. Taib Sultan Ibrahim sehingga van Ophuijsen berhasil menyusun Kitab Logat Melajoe pada tahun 1901. Buku tersebut kelak menjadi pedoman tata bahasa yang kemudian dikenal dengan nama Ejaan van Ophuijsen dan secara resmi diakui pemerintah kolonial pada tahun 1901. Pada tahun 1879 menerbitkan buku berjudul Kijkjes in Het Huiselijk Leven Volkdicht (Pengamatan Selintas Kehidupan Kekeluargaan Suku Batak) dan Maleische Spraakkunst (Tata Bahasa Melayu). Pemerintah kolonial kemudian mengangkatnya menjadi guru besar ilmu bahasa dan kesusasteraan Melayu di Universitas Leiden pada 1904 (Wikipedia)
Lantas bagaimana sejarah Soetan Casajangan berangkat ke Belanda 1903 studi keguruan? Seperti disebut di atas, organisasi kebangsaan Indonesia pertama telah didirikan di Padang pada tahun 1900. Dalam konteks inilah Soetan Casajangan berangkat studi ke Belanda 1903 dan kemudian mendirikan Perhimpunan Hindia (Indisch Vereeniging) tahun 1908. Lalu bagaimana sejarah Soetan Casajangan berangkat ke Belanda 1903 studi keguruan? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Deepublish
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah, melainkan hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah tercatat dalam dokumen sejarah.
Soetan Casajangan Berangkat Studi ke Belanda; Guru Charles Adrian van Ophuijsen Diangkat Sebagai Profesor di Universitas Leiden
Clockener Brousson dengan kapal Koning Willem II tiba di Padang (artikelnya yang ditulis di Padang tanggal 2 April 1903). Clockener Brousson telah bertemu banyak dengan raja surat kabar Sumatra di Padang, Dja Endar Moeda (yang sangat fasih berbahasa Belanda). Clockener Brousson dengan kapal Koning Willem I berangkat dari Padang ke Batavia tanggal 15 April (artikelnya yang ditulis di Batavia tanggal 18 April 1903).
Clockener Brousson dan Dja Endar Moeda tampaknya sepakat dalam beberapa hal. Kedua belah pihak sama-sama saling mendukung bisnis satu sama lain. Dja Endar Moeda di Padang akan mempromosikan dan menjadi agen surat kabar Bintang Hindia yang dipimpin Clockener Brousson di Amsterdam. Dja Endar Moeda juga sebelum kedatangan Clockener Brousson sudah menjadi kontributor untuk Bintang Hindia. Salah satu tulisan Dja Endar Moeda yang diterbitkan di Bintang Hindia adalah tentang pedoman perjalanan haji ke Mekkah. Pedoman haji ini sudah pernah diterbitkan tahun 1900 (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 14-11-1900). Dalam kerangka kedatangan Clockener Brousson, Dja Endar Moeda kemudian juga akan membantu Bintang Hindia di Amsterdam dengan meminta dua temannya guru yang akan melanjutkan studi ke Belanda dan Dja Endar Moeda sendiri kemudian akan menyusul (berkunjung) ke Amsterdam (lihat artikel Dr AA Fokker di Algemeen Handelsblad, 16-07-1903).
Kesepakatan Dja Endar Moeda dan Clockener Brousson tampaknya telah mempercepat keberangkatan dua guru untuk berangkat ke Belanda sekaligus dapat membantu surat kabar Bintang Hindia yang dipimpin Clockener Brousson di Amsterdam. Saat ini, Bintang Hindia di Amsterdam hanya digawangi oleh Dr Abdoel Rivai (yang dibantu para kontributor di berbagai tempat). Dua guru yang akan berangkat ke Belanda tersebut adalah Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan, guru di Padang Sidempoean dan guru Baginda Djamaloedin di Padang.
Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan, lulus dari sekolah guru (kweekschool) Padang Sidempoean sekitar tahun 1890 dan menjadi guru sekolah di Padang Sidempoean. Soetan Casajangan adalah salah satu murid terbaik Charles Adrian van Ophuijsen. Dua tokoh wilayah Angkola, kakeknya Patoean Soripada meninggal di Mekkah pada tahun 1879, sementara ayahnya Maharadja Soetan meninggal dunia di Padang Sidempoean tahun 1888. Soetan Casajangan telah mempersiapkan diri belajar bahasa Belanda di Padang Sidempoean dari guru SA Bartatra (lihat Sumatra-bode, 29-03-1902). Sebagaimana diketahui sejak 1885 bahasa Belanda tidak lagi diajarkan di sekolah guru di Hindia. Baginda Djamaloedin lulus dari sekolah guru (kweekschool) Fort de Kock tahun 1897 dan menjadi guru sekolah di Padang. Baginda Djamaloedin di Padang juga menjadi asisten Dja Endar Moeda dalam mengelola majalah Insulinde yang diterbitkan di Padang. Majalah Insulinde terbit pertama di Padang 1 April 1901 (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 25-03-1901). Catatan: Abdul Rivai lulusan Docter Djawa School di Batavia tahun 1895; Dja Endar Moeda lulus dari sekolah guru (kweekschool) Padang Sidempoean tahun 1885. Setelah mengabdi jadi guru selama delapan tahun (antara lain di Batahan dan Singkil), tahun 1893 Dja Endar Moeda berangkat haji ke Mekkah. Sekembalinya dari Mekkah Dja Endar Moeda memilih tinggal di Padang dan membuka sekolah swasta dan sejak 1895 menjadi editor surat kabar Pertja Barat (surat kabar ini telah diakuisisinya). Dja Endar Moeda adalah salah satu murid terbaik Charles Adrian van Ophuijsen.
Pada bulan Agustus 1903, Soetan Casajangan dan Baginda Djamaloedin berangkat dari Padang dengan kapal uap menuju Amsterdam (lihat Sumatra-bode, 17-08-1903). Sebelum berangkat, sudah barang tentu, Soetan Casajangan (dan Dja Endar Moeda) di Padang mengunjungi mantan guru mereka Charles Adrian van Ophuijsen yang menjabat sebagai Inspektur Pendidikan Pribumi di Pantai Barat Sumatra yang berkantor di Padang (jabatan yang terus dipegangnya sejak dipromosikannnya Charles Adrian van Ophuijsen sebagai direktur sekolah guru Padang Sidempoean menjadi Inspektur Pendidikan Pribumi. Sebagaimana diketahui Charles Adrian van Ophuijsen pada tahun 1901 menerbitkan buku tata bahasa Melayu dan pada tahun 1902 telah diadopsi pemerintah untuk digunakan di seluruh sekolah di Hindia. Setiba di Belanda, Soetan Casajangan dan Baginda Djamaloedin dijemput oleh Dr Abdoel Rivai di pelabuhan Amsterdam.
Di Belanda, selain Dr Abdoel Rivai sudah ada sejumlah orang Indonesia yang lebih awal tiba di Belanda. Raden Kartono (abang RA Kartini) setelah lulus sekolah menengah (HBS) di Semarang tahun 1896, langsung melanjutkan studi ke Belanda di Politeknik Delft. Namun dalam perkembangannya Raden Kartono pindah ke Leiden yang lebih memilih bidang studi bahasa dan sastra. Yang benar-benar sudah mengikuti studi (kuliah) di Belanda adalah Raden Kartono. Pada tahun 1903 Raden Kartono lulus ujian kandidat dalam bidang bahasa dan sastra kepulauan Hindia Timur (lihat Algemeen Handelsblad, 30-06-1903). Disebutkan di Leiden, lulus ujian kandidat in de taal en letterkunde van den Oost-lndischen Archipel, RM P Sosrokartono’.
Di Padang, tidak ada angin dan tidak ada awan, tiba-tiba CA van Ophuijsen mendapat pesan telegram dari Menteri Koloni Idenberg di Belanda (lihat De locomotief, 28-01-1904). Disebutkan seorang calon guru besar. Menteri Idenburg meminta nasihat dari Pemerintah Hindia Belanda tentang penunjukan Inspektur Pendidikan Pribumi CA van Ophuijsen di Padang sebagai profesor di Leiden, menggantikan lektor yang memasuki pensiunan Klinkert. Baik pemerintah maupun inspektur tidak keberatan.
Ketika ayahnya sebagai Residen di Palembang, CA van Ophuijsen dikirim ke Belanda untuk studi. Setelah menyelesaikan akademi kesehatan, ditempatkan di angkatan laut yang akan bertugas di Hindia. Namun Pemerintah Hindia Belanda mengangkatnya sebagai pegawai negeri dan ditempatkan di Panjaboengan, afdeeling Padang Sidempoean, residentie Tapanoelie tahun 1876 sebagai ontvanger. Anehnya, di Panjaboengan sebagai besar penduduk bisa membaca yang membuat Charles muda tertarik bahasa dan sastra Batak. Beberapa kali Charler mengirim tulisannnya ke majalah di Batavia. Saat mana Gubernur Jenderal berkunjung ke Panjaboengan dan Padang Sidempoean, mengeluhkan kurang guru di berbagai tempat. Charles bersedia menjadi guru dan kemudian mempersiapkan diri diantara tugas-tugasnya sebagai PNS. Suatu komite ujian guru dibentuk di Padang dimana Charles diundang dan kemudian dinyatakan lulus sebagai guru. Bertepatan tahun 1879 pembukaan sekolah guru di Padang Sidempoean, Charles ditempatkan sebagai guru bahasa Melayu di sekolah guru Probolinggo. Tidak lama setelah menikah di Probolinggo dengan seorang gadis Belanda sebagai guru TK, tidak lama kemudian keluar berslit tahun 1881 dimana CA van Ophuijsen dipindahkan ke sekolah guru Padang Sidempoan. Tentu saja Charles tersenyum. Suatu kesempatan lagi untuk meneliti bahasa dan sastra Batak dan tentu saja bahasa Melayu. Pada tahun 1881 ini langsung ke Padang Sidempoean. Tiga tahun kemudian diangkat menjadi direktur sekolah guru Padang Sidempoean. Singkat kata: sejak menjadi Inspektur Pendidikan Pribumi di Padang, CA van Ophuijsen terus melakukan studi bahasa dan sastra Batak dan Melayu hingga ditunjuk Meneteri Koloni menjadi guru besar bahasa Melayu di Universiteit te Leiden (1904). Catatan: Panjaboengan adalah kampong halaman Sati Nasoetion alias Willem Iskander pribumi pertama studi ke Belanda (1857) dan setelah menadapat akta guru bantu kembali ke tanah air dan mendirikan sekolah guru di Tanobato, dekat Panjaboengan pada tahun 1862. Pada tahun1874 sekolah tersebut ditutup karena Pemerintah menunjuk Willem Iskander untuk membimbing tiga guru muda dari Tapanoeli, Soerakarta dan Bandoeng studi ke Belanda. Willem Iskander yang juga diberi beasiswa untuk mendapatkan akta guru kepala di Belanda diproyeksikan akan menjadi direktur sekolah guru di Padang Sidempoean yang akan dibuka 1879. Namun setelah menyelesaikan studi dan mendapatkan akta, Willem Iskander meninggal di Belanda tahun 1876 sebelum keberangkatannya kembali ke tanah air.
CA van Ophuijsen segera
bergegas. Hanya ada sekali kesempatan. Rumah CA van Ophuijsen di Kampong Djawa,
Padang akan dilelang (Sumatra bode, 06-02-1904). Ini mengindikasikan CA van
Ophuijsen akan meninggalkan Hindia dan mungkin tidak akan kembali lagi. CA van
Ophuijsen adalah kelahiran Sumatra, ayahnya pertama kali diangkat sebagai
pejabat sebagai Controleur di Natal (Residentie Tapanoeli) 1853-1855.
Het vaderland, 20-02-1904: ‘Pesan resm. Berdasarkan beslit tanggal 10 memutuskan mulai tanggal 1 April 1904, HO Klinker, atas permintaannya, diberikan pemberhentian dengan hormat sebagai Lektor di Rijks Universiteit te Leiden (Universitas Leiden) dan diangkat Profesor di faculteit der letteren en wijsbegeerte (Fakultas Seni dan Filsafat) Universitas Leiden, untuk mengajar bahasa dan sastra Malaju dan linguistik umum dari kepulauan Hindia, Ch A van Ophuijsen, inspektur pendidikan pribumi di Padang’.
CA van Ophuijsen akan berangkat tanggal 11 Maret (lihat Sumatra-bode, 29-02-1904). Disebutkan kapal ss Sindoro dari Padang dengan tujuan akhir Rotterdam. Dalam manifes kapal terdapat nama inspektur Ch A van Ophuijsen dengan istri dan seorang putri.
Berita CA van Ophuijsen yang segera menjadi guru
besar di Leiden, tentu saja membuat Soetan Casajangan sumringah di Belanda. Di
Padang, Dja Endar Moeda mengantarkan CA van Ophuijsen ke palabuhan Telok
Bajoer. Sudah barang tentu pula Soetan Casajangan akan menyambut kedatangan
gurunya di pelabuhan Amsterdam. Demikianlah guru tetap guru. Sama-sama pernah
belajar dan mengajar di Padang Sidempoean. De Noord Brabanter, 20-05-1904:
‘Kemarin sore, Ch A Ophuijsen menjabat sebagai profesor di Fakultas Seni dan
Filsafat di Universitas Leiden di Auditorium Agung Gedung Akademi dengan
ceramah tentang “Puisi Rakyat Melayu”. Setelah menunjukkan dalam pidato yang
jenaka dan sangat menghibur, yang diikuti dengan minat oleh banyak hadirin,
bahwa bahasa Melayu baru-baru ini dipraktikkan dengan keberhasilan praktis yang
luar biasa oleh banyak orang Belanda yang terpelajar, juga memberi gambaran
yang sangat rinci tentang sejumlah produk sastra rakyat dalam bentuk terikat
dari masa lalu dan masa kemudian dalam bahasa yang dilaporkan’. Besar
kemungkinan Soetan Casajangan hadir.
Di Padang, senior mereka Dja Endar Moeda telah menambah surat kabarnya, tidak berbahasa Melayu, tetapi berbahasa Belanda dengan nama "Sumatraasch Nieuws (lihat Soerabaijasch handelsblad, 13-06-1905). Dengan demikian sudah ada empat surat kabar di bawah pimpinan Dja Endar Moeda, yang mana sebelumnya surat kabar Pertja Barat, surat kabar Tapian Na Oeli dan majalah Insulinde.
Dua guru asal Sumatra, Soetan Casajangan dan Baginda Djamaloedin di Belanda memilih bidang yang berbeda. Soetan Casajangan melanjutkan studi keguruan di Haarlem dan Baginda Djamaloedin memilih sekolah pertanian di Wageningen (lihat Sumatra-bode, 04-10-1905).
De Sumatra post, 08-11-1905: ‘Kami mendapat informasi bahwa seorang guru asli Tapanoeli, bernama Soetan Kasajangan Soripada, yang telah lama tinggal di Belanda, telah berkomitmen untuk mengikuti kelas di Sekolah Tinggi Keguruan di Haarlem guna memperoleh sertifikat mengajar, sehingga ia dapat kembali ke Hindia dan mencari posisi mengajar di sini lagi’. De Sumatra post, 28-02-1906: ‘Surat kabar Pertja Timor melaporkan bahwa Soetan Kasajangan Soripada, mantan guru di sekolah pribumi di Tapanoeli, dan saat ini anggota dewan redaksi Bintang Perniagaan di Amsterdam, telah memutuskan untuk mengikuti Sekolah Tinggi Keguruan di Haarlem. Ia berharap dapat menyelesaikan studinya dalam satu hingga dua tahun’.
Soetan Casajangan di Haarlem menyelesaikan studinya tahun 1907 (lihat Algemeen Handelsblad, 23-05-1907). Disebutkan Soetan Cajasangan lulus ujian pada tanggal 22 Mei di Haarlem dan mendapat akte LO (Lager Onderwijs). Akta guru untuk mengajar sekolah dasar Eropa ini (seperti sekolah ELS), sudah ada yang pernah memperolehnya di masa lalu, yang pertama Willem Iskander (1876) dan JH Wattimena (1884). Lantas apakah Soetan Casajangan sudah cukup puas dengan akta LO dan kembali ke tanah air?
De nieuwe vorstenlanden, 24-06-1907: ‘Di antara mereka yang mengikuti ujian pendidikan dasar dengan sopan santun di Haarlem, nama asli Hindia, Soetan Casajangan Saripada, juga muncul. Bapak Saripada juga merupakan penduduk asli Hindia; berasal dari Tanah Batak, di Batoe Na Doea, di Residentie Tapanoeli di Samatra. Bertubuh kecil dan ramping, dengan temperamen Hindia yang baik yang membuat pinggangnya agak kaku, dengan sopan santun yang ramah, Bapak Saripada memberikan kesan yang menyenangkan. Bagaimana ia bisa mengikuti ujian pendidikan dasar di Belanda? Saripada adalah kepala sekolah di Hindia, tetapi memiliki kesempatan untuk menguasai bahasa Belanda dengan baik. Sejak tahun 1884, bahasa Belanda tidak lagi diajarkan di sekolah guru (kweekschool) di Hindia. Karena itu, ia memutuskan untuk pergi ke Belanda, menentang keberatan keluarganya, yang percaya bahwa sebagai penduduk asli, seseorang tidak dapat memperoleh posisi yang biasanya dipegang untuk orang Eropa. Tetapi Soripada tetap gigih, berharap bahwa, setelah mendapatkan akta ini, ia akan diangkat sebagai guru senior di sekolah guru pribumi (kweekschool). Ia menghabiskan tiga tahun di Belanda, satu setengah tahun di antaranya di Haarlem, dan ia berbicara dengan penuh rasa syukur tentang para direktur dan guru di sekolah guru (kweekschool) negeri, yang telah melatihnya untuk perjalanan tersebut. Ia menantikan kunjungan dari Menteri Koloni, yang dapat memberikan persetujuannya dan menyetujuinya, lalu berangkat, kemungkinan dalam waktu dua tahun, kembali ke Hindia, tempat ia harus meninggalkan istri dan dua anaknya, meskipun ia sangat merindukan untuk bertemu mereka lagi. Bapak Soripada, yang berusia 31 tahun, berasal dari kalangan bangsawan asli dan namanya adalah Soetan. Ia berbicara dengan memuji pendidikan dalam negeri, tetapi sangat disayangkan bahwa masih terlalu sedikit pendidikan di daerah tersebut. Oleh karena itu, ia didesak untuk meninggalkan negara tempat ia dilahirkan, bertentangan dengan nasihat keluarganya dan meninggalkan keluarga, untuk membuka jalan menuju karier yang lebih baik di negeri asing. Dapat dikatakan bahwa pemerintah tidak akan menyia-nyiakan energi ini. Lebih jauh lagi, perubahan hidup tersebut tidak merugikannya. Sambil tertawa, ia bercerita, di Belanda, tempat ia bekerja dengan sangat hati-hati dan penuh pertimbangan, bahwa ia jatuh sakit parah di Belanda, bahkan sampai benar-benar jatuh sakit karena demam, yang sebelumnya sangat dideritanya di Batoe Na Doea’.
Baginda Djamaloedin (bersama RM Soemardji Widjojosiwajo, asal Trenggalek, Kediri) menyelesaikan studinya (dua tahun) di Wageningen (Rijks-Landbouwschool) pada bulan Juli 1907. Lalu apakah Baginda Djamaloedin sudah cukup puas dengan akta sekolah pertanian dua tahun dan kembali ke tanah air? Yang jelas, Soetan Casajangan melanjutkan studi keguruan ke tingkat yang lebih tinggi untuk mendapatkan akta guru MO (akta guru kepala) di kampus yang sama di Haarlem (Rijkskweekschool).
Tunggu deskripsi lengkapnya
Charles Adrian van Ophuijsen Diangkat Sebagai Profesor di Universitas Leiden; Soetan Casajangan Ingin Menyatukan Bangsa di Belanda
Dja Endar Moeda pernah menyatakan bahwa pendidikan dan jurnalistik sama pentingnya, sama-sama mencerdaskan bangsa. Tidak lama setelah mengakuisisi surat kabar Pertja Barat, Dja Endar Moeda pada tahun 1900 menerbitkan satu surat kabar baru yang diberi nama Tapian Na Oeli. Motto baru surat kabar Pertja Barat adalah “Oentoek Sagala Bangsa”. Dalam konteks inilah kemudian, Dja Endar Moeda di Padang pada tahun 1900 Dja Endar Moeda mendirikan organisasi kebangsaan (bersifat nasional) yang diberi nama Medan Perdamaian. Seperti disebut di atas, pada tahun 1901 Dja Endar Moeda menerbitkan majalah pembangunan pertanian dan industri yang diberi nama Insulinde. Majalah Insulinde dalam hal ini menjadi organ/corong Medan Perdamaian.
De Sumatra post, 27-01-1903: ‘Pendapat Dja Endar Moeda bahwa pendidikan dasar anak pribumi harus diperluas, kurikulumnya disesuaikan dengan sekolah-sekolah Belanda/Eropa. Anak-anak pribumi juga memerlukan kemahiran berbahasa Inggris dan matematika. Usul Dja Endar Moeda ini sudah pernah diutarakan kepada CA van Ophuysen, Inspektur Pendidikan Pribumi Pantai Barat yang diteruskan ke Directeur voornoemd aangeboden lalu ke Gubernur Jenderal di Padang dan ke Menteri Koloni di Batavia. Namun menurut Direktur, ‘proposal’ Dja Endar Moeda itu diabaikan pusat dan kemungkinan hanya dapat direalisasikan di empat tempat di Jawa saja. Menurut Direktur, Jawa masih pusat perhatian pada bagian dari Pemerintah, dan wilayah kita (pantai barat) hanya dianggap sebagai bagian luar saja. Bahkan menurut Direktur, pusat masih keberatan meski pelaksanaannya dilakukan satu di luar Jawa’. Organisasi kebangsaan Medan Perdamaian didirikan di Padang 1900 (lihat Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 20-02-1900).
Setelah keberangkatan dua guru Soetan Casajangan dan Baginda Djamaloedin melanjutkan studi ke Belanda pada akhir tahun 1903, Dja Endar Moeda di Padang kemudian terkena delik pers tahun 1905. Tentu saja berita itu dapat dibaca para juniornya di Belanda. Dja Endar Moeda dihukum cambuk dan diusir dari kota Padang.
Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 30-11-1905: ‘Delik pers di Pengadilan Padang dimana dua orang redaktur dijatuhkan hukuman pada 24 Juli tahun ini. Si Saleh galar Dja Endar Moeda, alias Hadji Mohamad Saleh, (menyebut nama Dja Endar Moeda sebagai demikian) editor koran berbahasa Melayu ‘Pertja Barat’ dan mendapat hukuman cambuk dan mengakibatkan cedera. Sementara, K Baumer, editor dan penerbit ‘Sumatraasch Nieuwsblad’ (berbangsa Belanda) hanya didenda f15’.
Lantas apakah Dja Endar Moeda menyerah begitu saja, lalu pulang kampong ke Padang Sidempoean? Dja Endar Moeda hijrah ke kota Medan. Bisnis Dja Endar Moeda di pantai barat Sumatra (Padang dan Sibolga) ditangani oleh adiknya Dja Endar Bongsoe yang juga pensiunan guru. Guru-guru memiliki caranya sendiri-sendiri dalam berjuang untuk bangsa. Guru Soetan Casajangan dan guru Baginda Djamaloedin terus berjuang di Belanda untuk sukses dalam pendidikan masing-masing. Guru tetaplah guru. Dja Endar Moeda meski sudah pension, namun di dunia nyata Dja Endar Moeda tetap sebagai guru, bukan guru di ruang kelas, tetapi guru untuk bangsanya sendiri di seluruh Hindia.
Surat kabar Pertja Barat dipimpin oleh editor Dja Endar Bongsoe. Sedangkan surat kabar berbahasa Belanda Sumatraasch Nieuwsblad dengan mengangkat editor baru bernama CA van Deutekom (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 03-07-1906). Dja Endar Moeda bersiap-siap untuk mengasingkan diri dari Padang. Bisnis Dja Endar Moeda juga ada di Sibolga dan Medan dalam bidang percetakan. Percetakan Dja Endar Moeda di Medan bahkan telah mendirikan klub sepak bola bernama Letterzetter Voetbal Club (1903).
Kasus delik pers kembali menimpa Dja Endar Moeda. Namun yang memiliki kasus bukan dirinya, tetapi editornya CA van Deutekom. Kasus ini terjadi bulan September 1906. Setelah kasus delik pers yang kedua ini, Dja Endar Moeda menutup Sumatraasch Nieuwsblad di Padang (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 25-03-1907) dan Dja Endar Moeda mulai mengembangkan bisnisnya ke Kotaradja dan menerbitkan surat kabar Pembrita Atjeh.
Orang Mandailing dan Ankola sudah semakin banyak di Medan. Pada tahun 1907 untuk mengimbangi pedagang Cina, para pengusaha Mandailing dan Ankola membentuk Sjarikat Tapanoeli yang dipimpin oleh Hadji Dja Endar Moeda dan wakilnya Hadji Ibrahim. Sarikat ini pada tahun itu membentuk klub sepakbola yang diberi nama Tapanoeli Voetbal Club dan mempelopori diadakannya kompetisi Deli Voetbal Bond. Catatan: Mohamad Yacoub pada tahun 1880an pindah ke Medan dan bekerja di toko Huttenbach & Co, salah satu toko pertama Eropa di Medan. Mohamad Yacoub kemudian membuka usaha dan melakukan haji ke Mekah. Sejak kepulangan Mohamad Yacoub dari tanah suci namanya lebih dikenal sebagai Hadji Ibrahim. Sebelum ada djaksa pribumi di Medan, sudah terlebih dahulu ada djaksa di Leboehan Deli. Djaksa tersebut dipindahkan dari Tapanoeli bernama Si Ripin gelar Soetan Mantri (1887). Pada tahun 1893 seorang djaksa ditempatkan di Medan (djaksa pribumi pertama). Djaksa tersebut bernama Sjarif Anwar gelar Soetan Goenoeng Toea yang memulai karir sebagai djaksa di Sipirok, afdeeling Angkola Mandailing 1875 (mantan murid Nommensen ini sebelumnya menjadi penulis di kantor Asisten Residen di Padang Sidempoean).
Dja Endar Moeda tidak pernah
patah arang dalam berjuang. Dja Endar Moeda bolak balik antara kota Medan
(Sumatra Timur) dengan Kotaradja (Atjeh) dalam urusan bisnis dan perjuangan
bangsa. Nun, jauh di Belanda, junior Dja Endar Moeda yang tengah berjuang untuk
pendidikan yang lebih tinggi, Soetan Casajangan mulai menyingsingkan lengan
baju untuk membentuk persatuan dengan menyatukan semua anak bangsa (Indonesia) di
Belanda.
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Klub Como 1907”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia di Jepang”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com


Tidak ada komentar:
Posting Komentar