*Untuk melihat semua artikel Sejarah Dr Tjipto di blog ini Klik Disini
Setiap organisasi yang didirikan di Hindia Belanda harus memiliki izin (beslit) dari pemerintah. Namun syarat utamanya adalah isi statuta (AD) sudah lolos pemeriksaan. Statu Indisch Partij ditolak pemerintah. Akibatnya Indisch Partij dianggap terlarang. Lalu bagaimana kehadiran Soewardi Soerjanigrat di Indisch Partij? “Als ik een Nederlander was. Model Bisnis Era Teknologi Informasi
Soewardi berasal dari keluarga Pakualaman. Setelah lulus ELS ia melanjukan ke sekolah kedokteran di STOVIA, tetapi tidak diselesaikan. Sejak berdirinya Boedi Oetomo (BO) tahun 1908, ia aktif di seksi propaganda. Soewardi juga menjadi anggota organisasi Insulinde, organisasi multietnik yang didominasi kaum Indo yang memperjuangkan pemerintahan sendiri di Hindia Belanda. Ketika Douwes Dekker mendirikan Indische Partij, Soewardi juga ikut diajak. Partai yang berdiri pada 6 September 1912 itu bagi Soewardi sangat berguna karena tidak membedakan golongan, agama, ras, dan suku. Ketika pemerintah Hindia Belanda berniat mengumpulkan sumbangan dari warga, termasuk pribumi, untuk perayaan kemerdekaan Belanda dari Prancis pada 1913, timbul reaksi kritis dari kalangan nasionalis, termasuk Soewardi. Ia kemudian menulis "Een voor Allen maar Ook Allen voor Een" atau "Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga". Namun kolom KHD yang paling terkenal adalah "Seandainya Aku Seorang Belanda" (judul asli: "Als ik een Nederlander was"), dimuat dalam surat kabar De Expres pimpinan DD, 13 Juli 1913 (Wikipedia)
Lantas bagaimana sejarah statuta Indische Partij ditolak Pemerintah? Seperti disebut di atas, setelah statuta Indische Partij ditolak Pemerintah muncul nama Raden Mas Soewardi Soerjanigrat. Bagaimana dengan brosurnya berjudul “Als ik een Nederlander was”? Lalu bagaimana sejarah statuta Indische Partij ditolak Pemerintah? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Pengantar Studi Kelayakan Bisnis
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah, melainkan hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah tercatat dalam dokumen sejarah.
Statuta
Indische Partij Ditolak Pemerintah; Raden Mas Soewardi Soerjanigrat “Als ik een
Nederlander was”
Seperti disebut sebelumnya, Ernest Douwes Dekker mimiliki kisah hidup sendiri, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo juga memiliki kisah hidupnya sendiri. Lantas bagaimana Ernest Douwes Dekker dan Dr Tjipto Mangoenkoesoemo berada di “perahu” yang sama. Lalu bagaimana kemudian Raden Mas Soewardi Soerjanigrat berada di belakang keduanya?
Pada tahun 1903, sepulang dari Afrika Selatan, Ernest Douwes Dekker yang menjadi tentara sukarelawan untuk Transvaal (orang-orang Boer keturunan Belanda), terinformasikan sebagai koresponden di Batavia untuk surat kabar yang terbit di Semarang De Locomotief (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 16-06-1903). Di sekolah kedokteran Batavia, Docter Djawa School, Tjipto Mangoenskoesoem, Abdoel Hakim Nasoetion, Abdoel Karim Harahap dan lainnya lulus ujian transisi naik dari kelas tiga ke kelas empat tingkat medic. Sementara salah satu siswa yang diterima di tingkat persiapan adalah RM Soewardi (lihat De locomotief, 07-11-1903). RM Soewardi pada tahun 1904 lulus ujian transisi naik dari kelas satu ke kelas dua di tingkat persiapan (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 07-11-1904). Pada rahun 1905 Tjipto Mangoenskoesoem dkk lulus ujian akhir menjadi dokter. Tjipto Mangoenskoesoem dan Abdoel Hakim Nasoetion ditempatkan di rumah sakit kota Batavia (kini RSCM). Dr Tjipto Mangoenkoesoemo harus berpisah dengan kawan lamanya Dr Abdoel Hakim Nasoetion. Pada tahun 1906 Tjipto Mangoenkoesoemo oleh Geneeskundigen Dienst (Jawatan Layanan Medis) dipindahkan dari Batavia ke Amoentai (lihat Soerabaijasch handelsblad, 25-09-1906). Dr Abdoel Hakim Nasoetion dipindahkan ke kampong halamannya di Padang Sidempoean. Namun dalam perkembangannya, pada tahun 1907 Dr Tjipto Mangoenkoesoemo mengundurkan diri sebagai dokter pemerintah (dan kemudian membuka praktek dokter sendiri). Pada tahun 1907 ini di Stovia, RM Soewardi naik dari kelas tiga tingkat persiapan ke kelas satu tingkat medik (lihat De locomotief, 10-10-1907). Yang juga satu kelas dengan RM Soewardi adalah Abdoel Rasjid Siregar, Mohamad Joesoef, Mohamad Sjaaf dan Raden Soesilo. Pada tahun 1907 ini juga Sardjito naik kelas dari kelas satu ke kelas dua tingkat persiapan (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 07-10-1907). Pada tahun 1909 RM Soewardi dan Abdoel Rasjid Siregar naik dari kelas satu ke kelas dua tingkat medik (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 15-09-1909). Sejak ini nama RM Soewardi tidak pernah terinformasikan lagi. Sementara Abdoel Rasjid Siregar masih terinformasikan pada tahun 1911 naik dari kelas tiga ke kelas empat tingkat medik (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 19-08-1911). Sebelumnya pada tingkat akhir yang lulus ujian menjadi dokter adalah Soetomo, Goenawan, JE Latumeten, Slamet, Mohamad Saleh, AB Andu, Goembrek dan Ramelan. (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 15-04-1911). Soetomo, Goenawan, Mohamad Saleh, Goembrek termasuk pendiri Boedi Oetomo di Batavia pada tanggal 20 Mei 1908. Goenawan sendiri adalah adik Dr Tjipto Mangoenkoesoemo. Pada Kongres Boedi Oetomo pertama yang diadakan pada akhir bulan September 1908 di Jogjakarta, bergabung organisasi Algemenen Javanen yan dipimpin oleh Dr Wahidin Soediro Hoesoedo dkk yang menjadi tuan rumah kongres. Dalam kongres terjadi “kudeta” dimana golongan senior menjadi pengurus utama dari pengurus pusat yang baru dibentuk (dengan kedudukan di Jogjakarta): Bupati Karanganjar sebagai ketua, Dr Wahidin sebagai wakil ketua dan para anggota pengurus antara lain Dr Tjipto Mangoenkoesoemo. Boedi Oetomo di Batavia hanya ditempatkan sebaga salah satu cabang dari Boedi Oetomo Pusat. Setelah itu, pada akhir tahun 1908 Boedi Oetomo cabang Batavia melakukan pertemuan umum (pertemuan propaganda). Dalam pertemuan umum ini juga turut dihadiri Ernest Douwes Dekker, seorang jurnalis di Batavia. Sementara itu, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo dari Demak mengirim ucapan selamat melalui telegram yang dibacakan wakil ketua Soewarno. Pada Kongres Boedi Oetomo kedua tahun 1909 di Jogjakarta, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo yang turut hadir menyatakan mengundurkan diri sebagai pengurus Boedi Oetomo karena pemikirannya berbeda dengan elit Boedi Oetomo. Pada tahun 1912 Raden Soetomo yang sebelumnya ditempatkan di Semarang kemudian dipindahkan ke Loeboek Pakam, Oostkust Sumatra (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 07-03-1912).
Nun jauh disana di Belanda, para anggota organisasi mahasiswa pribumi Indisch Vereeniging telah sangat intens memperjuangkan bangsanya sendiri. Pada tanggal 28 Maret 1911 Soetan Casajangan, pendiri (sekaligus ketua pertama) Indisch Vereeniging diundang oleh Vereeniging Moederland en Kolonien (para ahli dan praktisi Belanda yang mendukung politik etik di Hindia) untuk berpidato dihadapan para anggotanya. Saat ini yang menjadi ketua Indisch Vereeniging adalah Hoesein Djajadiningrat. Dalam forum yang diadakan itu, Soetan Casajangan, berdiri dengan sangat percaya diri dengan makalah 18 halaman yang berjudul: 'Verbeterd Inlandsch Onderwijs' (peningkatan pendidikan pribumi): Berikut beberapa petikan penting isi pidatonya:
Geachte Dames en Heeren! (Dear Ladies and
Gentlemen).
‘...saya selalu berpikir tentang pendidikan bangsa saya...cinta saya kepada ibu pertiwa tidak pernah luntur...dalam memenuhi permintaan ini saya sangat senang untuk langsung mengemukakan yang seharusnya...saya ingin bertanya kepada tuan-tuan (yang hadir dalam forum ini): ”Mengapa produk pendidikan yang indah ini tidak juga berlaku untuk saya dan juga untuk rekan-rekan saya yang berada di negeri kami yang indah. Bukan hanya ribuan, tetapi jutaan dari mereka yang merindukan pendidikan yang lebih tinggi...hak yang sama bagi semua...sesungguhnya dalam berpidato ini ada konflik antara 'coklat' dan 'putih' dalam perasaan saya (melihat ketidakadilan dalam pendidikan pribumi)’.
Soetan Casajangan kembali menyuarakan perjuangan peningkatan pendidikan pribumi dalam satu artikel yang dimuat dalam majalah/jurnal Het koloniaal weekblad; orgaan der Vereeniging Oost en West, jrg 11, 1911, No. 42, 19-10-1911. Judul artikelnya adalah “Opleiding van Inlandsche onderwijzers in Nederland” (Pelatihan Guru Pribumi di Belanda). Dalam artikel ini Soetan Casajangan juga mengutip isi makalahnya yang disampaikan pada forum Vereeniging Moederland en Kolonien pada tanggal 23 Maret 1911. Artikel ini ditulis tidak lama setelah kehadiran guru muda Sjamsi Widagda yang dikirim oleh (beasiswa) Boedi Oetomo di Jogjakarta yang dititipkan kepada Soetan Casajangan.
Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan lulus sekolah guru (kweekschool) Padang Sidempoean tahun 1889. Setelah mengajar selama 13 pensiun dini. Mengapa? Ingin melanjutkan studi keguruan ke Belanda. Setelah mempersiapkan diri dengan les privat bahasa Belanda dengan guru sekolah ELS di Padang Sidempoean, pada tahun 1904 Soetan Casajangan berangkat ke Belanda. Pada tahun 1907 Soetan Casajangan lulus ujian dengan ijazah akta guru LO di Haarlem. Pada tahun 1908 Soetan Casajangan menginisiasi pembentukan organisasi mahasiswa pribumi dan kemudian di kediamanannya yang dihadiri `15 mahasiswa dibentuk Indisch Vereeniging yang secara aklamasi diangkat Soetan Casajangan sebagai ketua dan sekretaris/bendahara RM Soemitro. Pada tahun 1909 Soetan Casajangan lulus ujian pendidikan guru tertetinggi dengan ijazah akta guru MO (sarjana pendidikan). Setelah lulus Soetan Casajangan diangkat sebagai guru bahasa Melayu di sekolah perdagangan Handelschool di Haarlem. Soetan Casajangan mengakhiri jabatannya di Indische Vereeniging pada tahun 1910 yang diserahterimakan kepada Dr Ph Laoh. Oleh karena tidak adanya bantu pemerintah dan juga orang-orang Belanda terhadap peningkatan kualitas guru-guru pribumi untuk studi ke Belanda, pada tahun 1911 Soetan Casajangan yang dibantu Abdoel Firman Siregar gelar Mangaradja Soangkoepon menginisiasi pendirikan Studiefonds (Dana Pendidikan bagi pelajar/mahasiswa pribumi).
Pada tanggal 24 Desember
1911 Indisch Vereeniging megadakan pertemuan umum di Den Haag. Hal ini karena sehubungan
dengan kepulangan Drs Hoesein Djajadinigrat ke tanah air. Dalam pertemuan yang
turut dihadiri Soetan Casajangan, pengurus Indische Vereeniging yang diketuai Drs
Hoesein Djajadinigrat diserahterimakan kepada pengurus baru yang dipimpin oleh Noto
Soeroto. Dalam pertemuan ini juga Noto Soeroto berbicara tentang ‘Pemikiran
Raden Adjeng Kartini’ sebagaimana di dalam buku yang disusun oleh JH Abendanon
yang belum lama diterbitkan.
Het vaderland, 16-02-1912: ‘Pemikiran Raden Adjeng Kartini’. Dengan senang hati saya membaca pidato Raden Mas Noto Soeroto tentang "Pemikiran Raden Adjeng Kartini" (disampaikan pada pertemuan tanggal 21 Desember 2011 untuk Indische Vereeniging). Seperti yang disebutkan dalam kata pengantar buku yang disusun oleh JH Abendanon, disebutkan buku ini adalah publikasi pertama Indische Vereeniging, yang juga akan diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa dan Melayu, agar semua warga negara di seluruh Hindia dapat memperhatikan pemikiran wanita terhormat itu, yang merasakan dengan sangat akurat dan mendalam apa yang kurang di Hindia, dan pada saat yang sama dengan sangat baik membedakan poin-poin dalam karakter nasional yang membutuhkan perbaikan atau modifikasi, atau yang perlu dikembangkan lebih lanjut ke arah yang benar. Justru pemikiran-pemikiran tersebut, yang berasal dari simpati dan empati salah satu warga negara yang paling terhormat, akan menjadi dorongan khusus bagi Hindia. Namun, beberapa detail kecil menarik perhatian saya. Judul, serta apa yang dinyatakan pada halaman 5 dan 6, mungkin menimbulkan kecurigaan bahwa "pemikiran" ini pada saat itu telah memberikan dorongan bagi pendirian Indische Vereeniging. Siapa pun yang sedikit familiar dengan sejarah Indisch Vereeniging akan tahu bahwa organisasi ini didirikan atas inisiatif Soetan Casajangan Soripada. Banyak juga yang membaca pidato yang disampaikan akan bertanya pada diri sendiri: "Apa yang telah dilakukan Indisch Vereeniging hingga saat ini dalam semangat Kartini?" "Apakah dia (Kartini) hanya mendapatkan dukungan dari para pemuda bangsanya sendiri setelah menyampaikan pidato ini?" Tidak, tentu tidak! Pemikirannya sudah mulai berpengaruh. Pada pertemuan tahunan terakhirnya, Boedi-Oetomo memutuskan untuk mengirim satu atau lebih guru ke Belanda, sehingga setelah menyelesaikan studi mereka, mereka dapat "bekerja dengan lebih produktif di negara mereka sendiri untuk mewujudkan cita-cita kita (Kartini)" (hlm. 23), dengan mengingat: "Berikan pendidikan dan pengasuhan kepada orang Jawa" (hlm. 23). Dan bukan hanya di Jawa, tetapi di seluruh Hindia Belanda, kebangkitan ini terlihat jelas. Saat ini, beberapa orang Batak dan Melayu sudah belajar di negara ini untuk membantu mewujudkan, setelah menyelesaikan studi mereka, cita-cita yang sangat diinginkan Kartini di tanah air mereka sendiri. “Berikan pendidikan dan pengasuhan kepada Hindia!” Tidak seorang pun dapat mengklaim, setelah membaca pidato yang disampaikan kepada “Vereeniging Moederland en Kolonien” oleh Soetan Casajangan Soripada, bahwa Hindia pada umumnya tidak merasakan dengan sangat jelas bahwa mereka kekurangan hal ini; dapat berpendapat bahwa pemikiran Kartini ini hanya dapat berfungsi sebagai untaian lampu bagi Indisch Vereeniging, dan saat ini tidak mewujudkan gagasan utama Pemuda Hindia; dapat berpendapat bahwa pemikiran ini belum dikaji secara menyeluruh. Saya ingin melihat referensi sederhana terhadap fakta-fakta ini, yang sudah dapat dipastikan, ditambahkan ke dalam pidato yang sangat simpatik tersebut. Terima kasih atas publikasinya: JACS. V’.
Di Indonesia (baca: Hindia), pada awal tahun 1912 terbit surat kabar baru berbahasa Belanda di Bandoeng, De expres. Surat kabar ini dipimpin sekaligus pemimpin redaksi EFE Douwes Dekker yang edisi pertama terbit hari Jumat, 01-03-1912. Sebelumnya tahun 1911, EFE Douwes Dekker sudah menerbitkan majalah Het Tijdschrift yang pada edisisi pertamanya juga dimuat artikel yang ditulis oleh Dr Tjipto Mangoenkoesoemo. Kemudian artikel Dr Tjipto Mangoenkoesoemo dimuat di surat kabar De expres edisi tanggal 5 Juni 1912.
De expres, 05-06-1912: ‘Catatan tentang “Jiwa Boedi Oetomo” karya Soemarsono. Nasionalisme Kita dan Kurangnya Kepercayaan Diri Kita. Tjipto Mangoenkoesoemo, Kepandjen, 2 Juni. Jika bukan tugas yang tidak menyenangkan, maka tentu bukan tugas yang tidak menyenangkan, saya melakukan ulasan singkat tentang ceramah oleh R Soemarsono, yang direproduksi secara lengkap dalam jurnal dari organ "BoediOetomo". Topik yang dibahas pembicara sangat penting, bahkan menyentuh inti gerakan Pemuda Jawa, dan oleh karena itu layak mendapat perhatian lebih dari biasanya dari pihak lokal. Terlebih lagi, bulan lalu, Mei, tepat empat tahun yang lalu, seruan pertama BOist terdengar *) semakin menjadi alasan untuk mengadakan retrospeksi singkat. Untuk tetap pada ceramah tersebut: karakter yang selalu dan masih diusung Boedi-Oetomo, menurut pendapat saya, belum digambarkan cukup tajam oleh R Soemarsono. Organisasi ini selalu memiliki kecenderungan nasionalis, dan hal ini, terlebih lagi, diungkapkan dalam statuta-nya. Namun, lebih dari sekadar nasionalisme murni, BO berutang kelahirannya pada "teori kemerosotan" yang saat itu sedang populer, yaitu motif ekonomi. Perlukah saya mengingatkan Anda bahwa pendirian serikat ini kurang lebih bertepatan dengan pembentukan Komisi Kesejahteraan Kecil, yang telah aktif selama beberapa waktu? Perlukah saya mengingat kembali bagaimana arahan dokter Radjiman, yang menunjukkan kepada serikat tersebut pentingnya pelestarian warisan nasional sebagai tugas yang tidak dapat diabaikan, tidak disukai oleh mereka yang berkumpul pada saat itu? "Argumen perut" saja dapat menunjukkan, jika dilihat kembali, keterbatasan yang bodoh dalam bidang kerja. Oleh karena itu, di atas segalanya, gerakan BO adalah gerakan yang bersifat ekonomi. Serikat ini selalu mempertahankan karakter ini. Dengan demikian, prinsip nasionalis kurang lebih tetap berada di latar belakang atau telah jatuh ke latar belakang; benih-benihnya belum berbuah: mungkinkah sebaliknya dengan bangsa seperti kita? Kelemahan terbesar kita, kehati-hatian yang berlebihan, telah menyebabkan hal ini. Lagipula, apa itu nasionalisme, dan tuntutan apa yang dapat diajukan kepada para pemimpin gerakan nasionalis? Setiap definisi itu sulit, dan saya tidak akan mencoba melakukannya. Namun—biarlah ini dikatakan dengan niat terbaik—seperti yang telah dijelaskan Soemarsono tentang konsep tersebut, menurut saya terlalu kabur, terlalu kurang tajam. Lagipula, tidak cukup hanya merasa menjadi bagian dari suatu bangsa. Nasionalisme yang sehat juga menuntut agar individu siap memberikan upaya terbaik mereka untuk membela warisan nasional—konsep ini diambil secara sangat luas!—atau untuk mengembangkannya. Dan dalam hal ini, BO telah gagal. Serikat pekerja telah mengabaikan aset nasional yang benar-benar nyata, ekspresi jiwa nasional, sastra, seni, dan kekhasan serta cita-citanya; jika dipertimbangkan dengan benar, hal itu tidak dilakukan kecuali untuk merugikan diri sendiri. Dengan melakukan hal itu, BO telah membiarkan satu cara yang sangat berharga tidak digunakan, yang dengannya mereka dapat membangkitkan kesadaran di antara kita untuk membentuk persatuan. Jika tidak, pekerjaan mereka bisa jauh lebih bermanfaat. Di sisi lain, BO telah—secara tidak perlu—membatasi diri sendiri, khususnya dengan membiarkan diri mereka terlalu diintimidasi oleh Pasal III RR yang sudah usang. Mereka tidak akan mampu menghindari "manuver politik" dalam jangka panjang, dan oleh karena itu akan jauh lebih baik bagi mereka jika mereka telah melakukannya sejak awal dan menyatakannya secara terbuka. Dengan asumsi bahwa ada interaksi antara "diri batin manusia" dan "keadaan eksternal," bahwa bukan hanya yang pertama memengaruhi yang terakhir, tetapi bahwa kondisi kehidupan kita juga membantu menentukan kehidupan spiritual kita, BO seharusnya juga sangat berhati-hati untuk meningkatkan "kedudukan hukum" kita. Setidaknya saya, tidak dapat menunjukkan jalan lain yang dapat mengarah pada tujuan tersebut dengan lebih cepat, yaitu emansipasi orang Jawa. Namun, hal itu berarti kita harus terjun ke bidang "politik", yang menurut Soemarsono, belum menjadi bidang yang kita kuasai, bahkan sekarang pun belum. Dalam hal ini, saya sangat berbeda pendapat dengan Soemarsono. Terus terang saja: dalam hal ini, bukan banyak orang yang menjadi fokus, tetapi keseluruhan. Menunjukkan kurangnya kepercayaan diri jika percaya bahwa bahkan sekarang, setelah empat tahun persiapan, para pemimpin masih belum mampu menjaga gerakan politik tetap berada di jalur yang benar. Saya akan berterus terang: menurut saya—hmm!—sangat bodoh bahwa tidak ada satu kata pun yang terdengar dari pihak BO mengenai usulan reorganisasi administrasi, upaya untuk mendapatkan pinjaman, dan lain-lain. (Asosiasi untuk sekolah-sekolah Belanda-Jawa adalah bentuk protes, tetapi, mengingat metodenya, sekali lagi tidak akan membuahkan hasil yang cukup). Mari kita bandingkan ini dengan tindakan luar biasa dari sesama warga negara kita di Minahassa ketika sekolah-sekolah misionaris mereka—catatan: orang Kristen!—akan didirikan, maka perbandingan tersebut tidak menguntungkan para pemimpin kita. Saya sepenuhnya menyalahkan para pemimpin, karena memang masalah ini sedang dibahas secara luas di kalangan masyarakat pribumi: namun, administrasi BO telah gagal untuk mengungkap hal-hal yang berlipat ganda ini. Ketika R Soemarsono mengumumkan bahwa ceramahnya ditujukan khusus untuk "mereka yang paling terpelajar dan peka terhadap garis keturunan", tentu saja karena percaya bahwa kelompok ini sudah sangat kecil, ia keliru: setidaknya di Malang kelompok tersebut terdiri dari jumlah orang yang jauh lebih besar daripada yang saya kira sebelumnya, dan tidak ada alasan mengapa hal itu tidak terjadi di tempat lain. Diskusi tentang ceramah tersebut di cabang BO Malang dari asosiasi tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka yang hadir dapat mengikuti poin demi poin Soemarsono. Carilah segala sesuatu dalam segala hal. Prinsip yang sama yang menyebabkan Soemarsono memandang rendah "banyak orang" telah diterapkan oleh BO. Mengingat karakter eksklusif saat ini, maksud saya kurangnya kepercayaan pada sesama manusia dan sesama anggota, Soemarsono menyebutkan "kemunafikan" dan "ketakutan" sebagai penyebab eksklusivisme. Kata "kemunafikan" itu kasar dan buruk, dan yang lebih penting, tidak pantas. Hanya satu pertanyaan: apakah Soemarsono bertindak munafik ketika, sebagai sekretaris seksi Buitenzorg, ia mengirimkan saya "non possumus" yang tidak sopan sebagai tanggapan atas usulan saya untuk meninggalkan eksklusivisme? Tidak, tentu tidak. Soemarsono telah berubah pikiran dalam tiga tahun itu—karena sudah lebih dari tiga tahun yang lalu, ketika saya menyebarkan prinsip yang sama, perlu diingat dengan sangat rendah hati—orang lain, para pendukungnya kemarin, mungkin tidak menyaksikan proses perubahan pikiran mereka, tetapi itu bukanlah kemunafikan. Dalam hal ini, R Soemarsono tidak adil dan tidak masuk akal. Eksklusivisme hanya berlandaskan pada ketakutan tertentu bahwa seseorang tidak akan memiliki suara dalam asosiasinya sendiri jika ia menerima orang Eropa; Oleh karena itu, kurangnya kepercayaan diri. Mohon maafkan saya atas pernyataan yang mementingkan diri sendiri ini: sebagai anggota BO, saya telah merenungkannya terlalu lama, dan kemudian, sebagai orang luar, telah berbicara dengan terlalu banyak rekan senegara tentang hal itu, untuk menolak hak saya sendiri untuk ikut berpendapat dalam masalah ini. Poin-poin penting juga diangkat dalam debat tersebut. Namun, pembahasan tentang hal ini membutuhkan artikel terpisah. *) Pada tanggal 20 Mei 1908, asosiasi sementara didirikan di Batavia oleh mahasiswa sekolah kedokteran. Red. Tjipto Mangoenkoesoemo’.
Artikel berjudul “Catatan tentang Jiwa Boedi Oetomo” merupakan tulisan Tjipto Mangoenkoesoemo yang pertama di surat kabar. Artinya tulisan itu akan dibaca public luas. Ada dua hal yang dapat dikelompokkan dari kandungan artikel tersebut yakni di satu sisi Tjipto Mangoenkoesoemo mencoba memberikan kritik kepada Boedi Oetomo, dan di sisi lain dari artikel tersebut terinfromasikan sebagai refleksi diri dari Tjipto Mangoenkoesoemo sendiri sebagai satu-satunya orang Jawa yang keluar dari pemikiran arus besar. Namun ada satu hal yang terkesan janggal yang mengundang pertanyaan: Tjipto Mangoenkoesoemo telah menerima orang Eropa, sesuatu yang dikritiknya terhadap ketakutan Boedi Oetomo.
Organisasi kebangsaan pertama yang didirikan di Padang pada tahun 1900, Medan Perdamaian yang dipimpin Hadji Saleh Harahap gelar Dja Endar Moeda bersifat multietnik, tetapi hanya sebatas orang pribumi saja. Namun Medan Perdamaian mengusung kerjasama (kemitraan) dengan orang-orang Eropa/Belanda. Demikian juga, dengan organisasi mahasiswa pribumi Indisch Vereeniging di Belanda yang digagas oleh Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan pada tahun 1908 bersifat nasional dengan anggota multietnik dengan menjalin hubungan baik (kemitraan) dengan orang Eropa/Belanda. Pada tahun 1912 ini yang menjadi ketua Indisch Vereeniging adalah RM Noto Soeroto (bukan anggota Boedi Oetomo; Noto Soeroto sendiri sudah di Belanda tahun 1907, sebelum Boedi Oetomo didirikan di Batavia tahun 1908).
Lantas mengapa pemikiran Dr Tjipto Mangoenkoesoemo bersifat anomali diantara orang-orang pribumi terpelajar? Tidak diketahui secara pasti. Dalam Kongres Boedi Oetomo pada tahun 1909 di Jogjakarta gagasan ini sudah diungkapkan Tjipto Mangoenkoesoemo. Tidak lama setelah kritik Tjipto Mangoenkoesoemo ditujukan kepada Boedi Oetomo, terinformasikan Tjipto Mangoenkoesoemo mendapat bintang (lihat Dagblad van Zuid-Holland en 's-Gravenhage, 13-07-1912). Disebutkan diberikan bintang Ridder in de Orde van Oranje Nassau kepada dokter pribumi di Malang; Mas. Tjipto.
Seperti disebut sebelumnya pada tanggal 25 Agustus 1912 Komite Indische Partij dari Bandoeng telah melakukan “kudeta” di Indische Bond di Batavia (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 28-10-1912). Sejak inilah Indisch Partij mulai terbentuk. Komite Indische Partij dari Bandoeng ini dipimpin oleeh Ernest Douwes Dekker yang juga sebagai pemimpin redaksi majalah Het Tijdschrift dan surat kabar De expres (keduanya terbut di Bandoeng).
Tidak terinformasikan mengapa Komite Indische Partij dari Bandoeng sangat berambisi untuk mendirikan partai di Hindia Belanda dengan cara melakukan kudeta di tubuh Indische Bond? Sementara itu terinformasikan dari Malang telah terbentuk Asosiasi Kartini dimana Dr Tjipto Mangoenkoesoemo tururt berpartisipasi. Sebagaimana diketahui buku RA Kartini yang disusun oleh JH Abendanon adalah buku pertama yang diterbitkan oleh Indisch Vereeniging di Belanda. Abang alm RA Kartini sendiri, yakni RM Kartono yang belum lama meraih gelar sarjana sastra di Leiden ((satu alamat dengan .Soetan Casajangan) saat ini masih di Leiden sebagai anggota Indisch Vereeniging.
Bataviaasch nieuwsblad, 04-09-1912: ‘Dari Dunia Jawa. Malang, 4 September. Hari ini, pertemuan Asosiasi Kartini berlangsung di sini. Agenda utama adalah pembahasan fase baru dalam gerakan Jawa, yang diperkenalkan oleh dokter pribumi Tjipto Mangoenkoesoemo. Pembicara menggambarkan Boedi Oetomo sebagai asosiasi prijaji, namun semangat asosiasi tersebut secara bertahap mulai terlihat di kalangan non-prijaji. Semangat ini diungkapkan dalam asosiasi Sarikat Islam. Dorongan langsung untuk pendirian organisasi ini adalah kerusuhan Tionghoa dan kebijakan Kristenisasi pemerintah. Namun, pertumbuhan yang terlalu cepat menyebabkan pembubarannya oleh administrasi internal, karena takut akan gangguan. Pembicara menyesalkan langkah ini; hal itu dapat dengan mudah menyebabkan tindakan terselubung di kalangan orang Jawa, yang akan jauh lebih buruk. Ia menganggap asosiasi Boedi Oetomo secara moral berkewajiban untuk membantu kaum Sarikat-Islam dengan membimbing mereka, dan dengan demikian menyediakan saluran yang baik untuk energi mereka. Adapun kekhawatiran terkait isu Islam: hal itu tidak mungkin terjadi jika pemerintah meninggalkan kebijakan Kristenisasi dan menghentikan pemberian hak istimewa kepada satu kelompok penduduk atas kelompok lainnya’.
Lantas mengapa tiba-tiba Dr Tjipto Mengoenkoesoemo terobsesi dengan pemikiran RA Kartioni setelah membaca buku RA Kartini yang disusun HJ Abendano yang diterbitkan Indisch Vereeniging? Yang jelas, atas dasar isi buku itu kemudian terbentuk Asosiasi Kartini di Malang dimana Dr Tjipto Mangoenkoesoemo berbicara gerakan Jawa (di luar yurisdiksi Boedi Oetomo). Tidak lama setelah itu terinformasikan Dr Tjipto Mangoenkoesoemo diangkat menjadi salah satu redaktur surat kabar De expres.
De expres, 24-10-1912: ‘Perluasan Tim Redaksi. Dengan senang hati kami menginformasikan kepada para pembaca bahwa kami akan segera menambahkan rekan kami, Dr Tjipto Mangoenkoesema, ke dewan redaksi kami. Para pembaca kami cukup mengenal pembawa obor Pemuda Jawa ini; mereka tahu bahwa beliau menguasai bahasa Belanda seperti sedikit orang Belanda lainnya mereka mengenalnya dari artikel-artikel di Expres dan Tijdschrift, yang menunjukkan perkembangan intelektual yang luar biasa; mereka telah belajar menghargai idealis ini — apa lagi yang akan kami sampaikan kepada publik tentang beliau? Melalui Dr Tjipto kami, Indiers (Orang Hindia), berharap dapat memperkuat hubungan kami lebih jauh lagi’.
Klaim De expres bahwa Dr Tjipto Mangoenkoesoemo akan menjadi raduktur telah membuat kehebohan di kalangan pribumi. Mengapa? Klaim itu seakan-akan Dr Tjipto Mangoenkoesoemo telah menyeberang kepada orang-orang Indo. Bagaimana duduk soalnya, banyak orang bertanya-tanya lebih-lebih dari kalangan Boedi Oetomo (yang menutup diri dari kalangan pribumi lainnya apalagi orang Eropa/Belanda). Lalu redaksi surat kabar De expres menjawab.
De expres, 01-11-1912: ‘Beberapa Pertanyaan. Dalam surat kabar harian Tjahaja Timoer, yang diterbitkan di Malang, kita membaca hal berikut: "Laporan di Expres bahwa Dr Tjiplo Mangoenkoesoemo akan diterima di dewan redaksi, surat kabar tersebut tidak sepenuhnya benar. Lagipula, sama sekali tidak pasti bahwa Dr Tjipto akan terjun ke dunia jurnalistik. Namun, ini adalah keinginan kuat Douwes Dekker. Seperti diketahui, Dr Tjipto adalah pembela kepentingan penduduk pribumi. Permintaan Bapak Douwes Dekker kepada Dr Tjipto adalah masalah yang sangat penting, masalah yang, oleh karena itu, memperjelas masa depan penduduk pribumi. Jika kebijakan Dr Tjipto salah, maka penduduk pribumi akan binasa; jika benar, penduduk pribumi akan selamat. Tetapi apa pun keadaannya: keberuntungan baik atau buruk, semuanya bergantung pada Karma manusia. Untuk saat ini, kami mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut kepada Expres: 1. Apa tujuan Iindische Partij, sehingga bertujuan untuk mendapatkan suara mayoritas dengan menerima penduduk pribumi ke dalam asosiasi tersebut? 2. Apa manfaatnya bagi penduduk pribumi ketika Indische Partij berupaya mendirikan sebuah Universitas dan menyamakan kedudukan sebagian besar penduduk pribumi dengan orang Eropa? Sejauh ini, saya akan membiarkan Dokter Tjipto menjawab pertanyaan kedua sendiri. Adapun pertanyaan pertama: merupakan koreksi yang luar biasa untuk mengatakan kepada saya bahwa saya tidak tahu apakah saya telah menghubungkan siapa pun dengan Express atau tidak. Tampaknya bagi saya Dokter Tjipto dan saya yang paling tahu’.
Namun kapan Dr Tjipto Mangoenkoesoemo memulai kegiatannya sebagai redaktur di bertugas di De expres (di Bandoeng) tidak terinformasikan. Fakta bahwa Dr Tjipto Mangoenkoesoemo saat ini masih berada di Kepandjen, Malang. Artikel yang dibuat sendiri oleh Dr Tjipto Mangoenkoesoemo yang dibuat di Kepandjen pada tanggal 30 Oktober 1912 kemudian dimuat di surat kabar De expres, 27-11-1912.
De expres, 27-11-1912: ‘Sepatah Kata Jujur dari Seorang Teman yang Jujur. Surat Terbuka kepada Warga Negara dari brosur kecil karya Tjipto. Saya tidak memberikan komentar selain pernyataan pendahuluan ini: bahwa dia yang ditempatkan di bawah saya, terikat pada jabatan editor saya, akan menjadi orang bebas (Red.). Pembaca yang terhormat! Posisi luar biasa yang akan saya alami sehubungan dengan Indische Partij (Partai Hindia) karena keadaan memaksa saya untuk beralih kepada Anda. Karena menurut pendapat saya, Anda berhak untuk mengetahui bagaimana saya berpikir dan merasa tentang masalah-masalah saat ini. Berhati-hatilah sebelumnya bahwa saya sama sekali tidak membayangkan bahwa pendapat pribadi saya mengenai organisasi besar itu akan berpengaruh, dan bukan pula niat saya untuk memengaruhi perasaan Anda mengenai partai tersebut. Tidak sama sekali! Sebaliknya, perlu dinyatakan secara tegas di sini bahwa semua yang saya katakan bersifat pribadi, bahwa saya tidak berbicara atas nama banyak orang atau atasan. Tetapi langsung ke intinya. Pada hari Senin, 28 Oktober 1912, saya berkesempatan melakukan perjalanan bersama pemimpin Indische Partij Douwes Dekker, ke Koetoardjo. Seperti yang dapat dipahami, percakapan dengan cepat beralih ke Indische Partij, dan terutama ke dasar-dasar yang menjadi landasan organisasi tersebut. Saat itu menjadi jelas bagi kami—seperti yang telah menjadi jelas bagi kami sebelumnya—bahwa, setidaknya secara prinsip, kami sepenuhnya sepakat satu sama lain. Indische Partij, yang melalui pemimpinnya akan berjuang untuk "kesetaraan hukum penuh" bagi semua penduduk Hindia, dan yang akan memasukkan "penyatuan pendidikan" sebagai salah satu agenda utamanya, dapat—setidaknya menurut pendapat saya yang rendah hati—menjadi badan yang tepat yang dapat diharapkan oleh rakyat kita dalam waktu dekat. Menanggapi pertanyaan dari Douwes Dekker yang, perlu disebutkan dalam kurung, telah saya hargai selama bertahun-tahun sebagai pembela hak-hak penduduk asli yang gigih—apakah saya mungkin ingin duduk di dewan utama asosiasi, saya menjawab negatif, dengan menyatakan bahwa pendapatnya yang memuji saya, bahwa saya akan menjadi salah satu pemimpin terkemuka di antara Pemuda Jawa, sangat jauh dari kebenaran. Saya hanya melihat kekecewaan di kedua belah pihak. Percakapan kemudian beralih ke subjek "pers". Pendapat saya adalah (dan tetap) bahwa dalam kebangkitan yang akan datang di antara penduduk asli, perhatian terbesar harus diberikan kepada persnya. Pendapat pribadi saya ini ditegaskan, sementara saya secara bersamaan ditanya apakah saya akan memiliki keberanian untuk mengabdikan diri pada perawatan bagian dari sarana perjuangan kita ini. Saya menjawabnya dengan yang, terlebih lagi, tidak dapat diharapkan sebaliknya dari saya, karena jurnalisme selalu memiliki daya tarik khusus bagi saya sejak dulu. Dalam kapasitasnya sebagai pemimpin redaksi Expres, Bapak Douwes Dekker menawarkan saya tempat di kantornya, di mana saya kemudian akan memiliki kesempatan, di bawah bimbingannya, untuk melatih diri dalam profesi tersebut. Jawaban saya atas tawaran ini kurang lebih mengelak, atau lebih tepatnya ragu-ragu. Singkatnya, saya menyimpan kekhawatiran bahwa perbedaan asal usul mungkin akan menyebabkan gesekan di kemudian hari. Bagaimanapun, saya merasa perlu untuk memperingatkan Dekker dari Poerworedjo untuk menunggu dengan pesannya sampai saya bergabung dengan surat kabarnya. Surat yang saya kirim setelah itu dapat saya lampirkan di sini (dengan pemberitahuan bahwa di sana-sini kata dan ungkapan mungkin telah diubah atau dikoreksi selama transkripsi; oleh karena itu, ini bukan reproduksi verbatim) Loanoe, Poerworedjo: 22-10-1912. Dear Ernest! Setelah percakapan kita kemarin di kereta, menurut saya sangat perlu untuk membahas beberapa hal lebih lanjut. Sambil merenungkan keadaan negara kita saat ini terkait dengan keadaan ideal yang sedang kita upayakan, saya menuliskan hal berikut kepada Anda, dan ini untuk mencegah kekecewaan di kedua belah pihak. Meskipun saya menghargai upaya Anda pada prinsipnya, dan di balik penampilan publik Anda yang tiba-tiba, saya dapat melihat cita-cita Anda tentang perdamaian umum berdasarkan pengejaran akal sehat dan keadilan sosial, namun saya harus mempertimbangkan bahwa kita harus memiliki pendapat yang berbeda mengenai pilihan cara yang akan digunakan. Sampai batas tertentu, ini kurang penting, tetapi tetap harus ada sesuatu yang dipertimbangkan, dan seperti yang saya katakan kepada Anda, ini untuk mencegah kekecewaan bersama. Pada prinsipnya kita sepenuhnya sepakat. Poin pertama dari program ini haruslah "kesetaraan sosial dan politik yang lengkap" bagi semua penduduk Hindia, tanpa memandang ras, jenis kelamin, agama, dll. Satu-satunya pertanyaan adalah: apa yang menghalangi kita untuk mencapai kesetaraan ini? jawaban atas pertanyaan ini. Kita akan sangat berbeda pendapat. Bagaimanapun, ada dua musuh, yang dalam pertempurannya seluruh kekuatan kita akan diperlukan. Kita telah mencari kesalahan baik "dalam diri kita sendiri" maupun di luar. Dalam salah satu artikel Anda di Het Tijdschrift, saya ingat Anda berbicara tentang almarhum Jenderal Booth, pemimpin terkemuka Bala Keselamatan. Anda membela proposisi bahwa hidup diberikan kepada mereka yang memiliki keberanian untuk mengambilnya. Ini agak mengejutkan saya. Sejujurnya, saya menginginkan bagi bangsa saya kesediaan untuk berkorban yang dimiliki para pejuang Bala Keselamatan hingga tingkat yang sangat tinggi. Saya sepenuhnya mendukung posisi hampir semua guru agama bahwa lebih diberkati untuk "memberi" daripada "mengambil". "Mengambil untuk diri sendiri" yang "secara rasional" ditoleransi, di mata saya, jelas jauh lebih rendah daripada "menolak" yang "tidak bijaksana". Memberi, berkorban itu tidak bijaksana, namun keberadaan dunia sangat bergantung padanya. Alam semesta dipertahankan oleh "pengorbanan", dan di mana individu bersedia berkorban, keberadaan terjamin. Menerapkan ini dalam kehidupan nyata. Jika rencana ini berjalan lancar, dan saya termasuk dalam staf redaksi surat kabar Anda, maka saya tidak dapat gagal untuk menanamkan prinsip ini pada masyarakat Jawa. Siapa sebenarnya yang akan kita jangkau dengan surat kabar ini? Pertama-tama, tentu saja, mereka yang merupakan "pemimpin kecil" di lingkungan mereka sendiri. Kita akan menunjukkan kepada mereka kata-kata Nnerada, yang setiap dalang akan bersedia ceritakan kepada Anda, yang diucapkan kepada Pandawa tertua. "Kaki Praboe! Apakah kau ingin menjadi seorang 'pangeran'? Nah, kau akan menanggung bagian 'penderitaan' yang paling besar. Maka bagianmu dari 'cinta' dunia bukanlah yang terkecil." Pangeran yang tidak menyadari, meskipun ia menjadi yang terakhir dalam kesenangan dan yang pertama dalam kesedihan, berbuat baik kepada orang seperti itu dengan mengenakan pakaian pengemis. Saya merasakannya, dengan usulan-usulan ini saya tidak akan berhasil, tidak mungkin mencapai kesuksesan. Anda mengimbau egoisme manusia, dan orang-orang enggan menerimanya. Namun, itu harus dilakukan. Kita masing-masing harus siap mengorbankan nasib kita: istirahat, kenyamanan, kesenangan, diri kita sendiri demi kesejahteraan sesama, terutama yang lebih lemah. Itulah prinsip filantropi yang indah, yang dipraktikkan oleh berbagai organisasi di dunia dan Bala Keselamatan. Dalam menjawab pertanyaan kedua saya, siapa musuh kita, kita kembali saling mendekati. Saya menganggap mereka semua yang tidak mau berkorban demi kesejahteraan orang-orang yang waspada. Anda menemukan mereka di semua lapisan masyarakat, di semua negara, bahkan di kelas bawah dan atas. Kita harus menyatakan perang terhadap mereka. Penulis menganggap para pejabat pagan, para pejabat pemerintah desa, para pengawas India dan Eropa di panti asuhan kuliner, Arab, atau Tiongkok, semuanya, ketika mereka menyia-nyiakan kesetiaan mereka dengan mengorbankan orang-orang yang berada di bawah mereka, adalah musuh bebuyutan kita. Dengan demikian, kita tidak akan memprovokasi keserakahan siapa pun; sebaliknya, perjuangan dilakukan melawan keserakahan orang yang lebih tinggi demi kepentingan orang yang lebih rendah. Lihatlah, apa yang menurut saya perlu saya sampaikan kepada Anda. Jika Anda berkenan, saya akan siap membantu Anda pada pertengahan Desember. (Kesimpulan dan tanda tangan). Pada surat ini, setelah saya kembali dari cuti pada tanggal 26 Oktober, saya menerima balasan telegram berikut: Tjipto, Dokter Kepandjen. Prinsip juga menjadi prinsip saya. Datanglah sesegera mungkin pada pertengahan Desember, terlalu terlambat, satu hari penuh untuk mengambil tindakan. Douwes Dekker. Laporan tentang pengangkatan saya yang mendesak sebagai editor Expres agak mengejutkan saya, karena saya membacanya sebagai bacaan yang diterima bersama telegram tersebut. Namun, saya sudah menduganya (lihat tulisan saya). (Namun, karena saya, meskipun sangat setuju dengan apa yang saya sebut dan inginkan sebagai prinsip-prinsip saya, terkadang masih mendapati diri saya dalam situasi yang sangat sulit, atau lebih tepatnya: karena saya khawatir bahwa publikasi saya di kemudian hari, dll., akan bertentangan dengan publikasi pemimpin redaksi, saya merasa perlu untuk membuat pengakuan saya kepada Anda. Namun, jangan salah paham! Saya sangat yakin bahwa Douwes Dekker secara pribadi sepenuhnya setuju dengan apa yang telah saya tulis kepadanya. Kesediaannya untuk berkorban, terlepas dari apakah pengorbanan itu perlu atau tidak, tidak diragukan lagi. Tatapan curiga, beberapa di antaranya agak meragukan, tidak dapat menyesatkan perasaan saya terhadapnya, yang tanpa pamrihnya tidak perlu diperbaiki. Bagi saya, bagaimanapun, pertanyaannya adalah apakah Partai Hindia mengikutinya dalam hal ini; saya sudah memiliki kesempatan untuk menyampaikan pendapat saya tentang apa yang telah ditulis tentang Bala Keselamatan. Kemudian saya juga ingin menunjukkan artikel dari "Twee Wolven", yang pernah menjadi salah satu edisi Het Tijdschrift. Hal ini membuat saya bertanya pada diri sendiri apakah, di era Hindia, mesin "cinta massa" mungkin digunakan sebagai sumber tenaga. Akan ada yang keberatan dengan saya bahwa Partai Hindia adalah partai yang ingin menjaga kepentingan sekelompok penduduk. Tetapi mengenai hal ini juga menurut saya, ada banyak hal yang perlu dibahas. Jika saya boleh menilai berdasarkan undang-undang terbaru, yang saat ini tidak saya miliki, maka saya mendapat kesan bahwa Partai Hindia menginginkan persatuan universal di mana ada ruang bagi setiap orang yang merasa mencintai negara tempat tinggalnya. Tetapi kemudian tidak ada antitesis yang valid, atau kita sampai pada antitesis yang bukan antitesis, seperti India —didominasi — yang berulang kali dinyatakan bahwa tidak semua orang Belanda, tidak semua elemen penduduk dijadikan bukan orang India. Kita lihat, tidak mudah menemukan kriteria untuk lawan. Bagi saya, saya telah memikirkan beberapa "umpan penindas." Namun kita menemukan ini dengan mudah pada aristokrat Jawa seperti pada orang Cina, dan sama mudahnya pada mandor seperti pada karyawan timbangan. Haruskah kita menganggap semua orang sebagai bukan orang India? Lalu, apa nama kolektif untuk orang-orang seperti itu? Memilih "orang Belanda" untuk ini menurut saya aneh dan tidak pantas. Anda lihat, semua ini membuat saya memandang organisasi ini bukan sebagai formasi partai, dalam arti pengelompokan rasial. Lalu muncul pertanyaan: lalu apa sebenarnya? Apakah Indische Partij dimaksudkan sebagai persatuan universal, seperti yang diyakini oleh sebagian orang, dan kemungkinan besar memang akan demikian? Kepentingan sekelompok kecil orang, yang ditentang oleh banyak kelompok lain dengan kebutuhan dan persyaratan yang berbeda, harus dipertahankan dengan gigih, di mana egoisme dapat ditantang jika perlu. Kelompok-kelompok lain akan melakukan koreksi dengan sendirinya. Namun, menurut pendapat saya, jalan pendekatan umum harus mengambil arah yang berbeda. Fakta bahwa begitu banyak orang dengan pandangan hidup yang berbeda, tingkat perkembangan yang berbeda, dan sebagainya, harus sampai pada—sampai batas tertentu—cara berpikir yang sama, dan fakta bahwa tujuannya adalah untuk membuat orang-orang ini menghargai spiral ini, harus menuntut kehati-hatian. Diketahui bahwa massa dipengaruhi oleh suasana hati, bahwa mereka kurang skeptis dan lebih suka tidak melakukan penyelidikan lebih lanjut, menolak semua yang ingin disampaikan oleh "orang yang sedang berkuasa"; Sama halnya dengan mereka akan melempari batu siapa pun yang kecurigaannya—baik beralasan maupun tidak—telah dibangkitkan dalam diri mereka, bahkan jika kecurigaan itu membawa "kabar baik" bagi mereka. Di sinilah sudah terdapat sedikit indikasi betapa hati-hatinya orang yang memegang kendali bertindak. Tanpa bermaksud mengabaikan segala sesuatu yang menyerupai rangsangan terhadap takdir hati, saya tetap merasa perlu untuk memperingatkan terhadap pembangkitan terus-menerus dari hasrat-hasrat tersebut, karena betapapun mereka tertidur di bawah banjir budaya, dll., dll., tidak banyak yang dibutuhkan untuk membangunkan mereka kembali. Oleh karena itu, perlu untuk menggunakan sesedikit mungkin "kata-kata kasar", bahkan hanya karena cara massa bereaksi terhadap hal ini, yang tidak pernah dapat diprediksi dengan kepastian mutlak. Selain itu, tidak boleh diabaikan bahwa "kata-kata kasar" memenuhi peran yang sama bagi pikiran kita seperti halnya obat-obatan rekreasi bagi fisik kita; mereka memiliki efek jika digunakan secara moderat, tetapi menunjukkan efek samping beracun jika terjadi penyakit. Lebih jauh lagi, zat-zat ini juga tentu saja menyebabkan efek tumpul yang lambat. Dalam jangka panjang, dosis harian yang berulang menjadi tidak efektif, dan seseorang terpaksa meningkatkannya jika ingin melihat efek dari pemberian obat; seseorang dapat secara tidak sengaja mengonsumsinya hingga dosis yang sangat tinggi sehingga batasnya terlampaui tanpa disengaja. Saya keberatan dengan metode yang diikuti oleh Dekker dalam hal ini. Dan jika tidak bisa sebaliknya, saya pasti akan menahan diri untuk tidak menulis semua ini. Namun, menurut pendapat saya, pendekatan yang berbeda harus diikuti dengan keberatan yang serius. Saya, misalnya, sangat setuju dengan cara orang-orang seperti dari Asosiasi Teologi, Bala Keselamatan, bekerja untuk memperbaiki kondisi sosial, karena pada akhirnya inilah inti dari semua pekerjaan kita. Para pengikut mereka jelas telah memilih fakta bahwa mereka memulai dari diri mereka sendiri ketika menangani semua masalah. Mereka menelusuri semua kondisi yang menyedihkan kembali ke penyebabnya: kesalahan dalam diri manusia itu sendiri. Dengan sungguh-sungguh, mereka menerapkan gagasan bahwa "manusia secara batiniah menciptakan keadaannya" atau "mendominas". Oleh karena itu, "batin" ini membentuk titik tumpu bagi mereka dalam pekerjaan sosial mereka. Sebaliknya, kita dapat dengan mudah mempertahankan proposisi bahwa "keadaan membentuk manusia." Proposisi pertama membawa kita pada kepasifan yang besar terhadap kehidupan, yang diimbangi oleh fakta bahwa hasil yang dicapai seringkali bersifat abadi. Proposisi kedua memaksa kita untuk mencari "lawan," karena meskipun kita sendiri tidak bersalah atas keadaan kita yang kurang baik, "orang lain" pastilah bersalah. Oleh karena itu, "perjuangan" merupakan komponen yang sangat diperlukan dalam pekerjaan para pembela proposisi kedua ini. Di manakah kebenaran harus dicari? Saya percaya bahwa di sini pun, jalan tengah adalah yang tepat. Berjuanglah di mana perjuangan diperlukan, tetapi jangan ragu, dari waktu ke waktu, untuk mengorbankan diri sendiri. dan untuk bertanya pada diri sendiri sejauh mana kita gagal menciptakan posisi terbaik bagi diri kita sendiri. Kita akan memperoleh banyak keuntungan jika kita dapat mengikuti sistem ini; bagaimanapun, kita akan mencapai ketidakberpihakan dan keterbukaan pikiran yang sangat diperlukan di negara tempat begitu banyak ras berkumpul. Perjuangan kemudian secara alami akan dilakukan melawan individu, paling banyak melawan sebagian dari suatu sistem, tetapi tidak akan pernah ras melawan ras. Saya tahu bahwa saya akan dituduh setengah hati, berpikir tidak konsisten. Saya akan diminta untuk menyatakan diri mendukung satu proposisi (yang diuraikan di atas). Saya tidak dapat mengatakan sebaliknya selain bahwa ini tidak mungkin bagi saya, karena "tidak ada yang sepenuhnya benar, bahkan proposisi kesehatan sekalipun." Para pembaca yang terhormat! Di atas, saya telah mencoba untuk berbagi dengan Anda perasaan saya mengenai Partai Hindia. Dalam melakukannya, saya telah melakukan yang terbaik untuk mempertahankan sudut pandang yang sepenuhnya objektif, menjaga agar tidak terjerumus ke dalam detail. Motif saya untuk secara terbuka menguraikan posisi saya mungkin tidak akan asing bagi Anda. Sebagian orang, khususnya, memandang saya sebagai salah satu pemimpin gerakan Pemuda Jawa, yang, yang mengejutkan saya, salah satu surat kabar Melayu juga mencoba menyarankan hal itu kepada para pembacanya. Namun, saya tidak boleh melewatkan kesempatan ini untuk membahas beberapa isu yang memang sedang menjadi perhatian masyarakat adat. Saya teringat mosi yang diajukan oleh Bapak de Jongh pada acara pesta dansa Semarang, yang mana mereka tidak ingin mencapai konsensus. Saya akan membiarkan bagian pertama mosi tersebut tidak dibahas, karena itu termasuk isu yang belum pernah dibahas secara serius tentang orang Jawa. Namun, saya menganggapnya sangat penting jika kita ingin mendengar pendapat majelis Semarang mengenai "kepemilikan tanah" dan "pendidikan". Saya tidak akan mengadopsi mosi tersebut, tetapi akan mencoba menjawab pertanyaan tentang bagaimana "kepemilikan tanah" dapat bermanfaat bagi orang India keturunan Eropa, bagi kita orang Jawa. Kita orang Jawa membayangkan bahwa begitu orang India memperoleh tanah, mereka juga harus menanggung kewajiban yang sama seperti keluarga pribumi. Memperoleh sewa tanah yang sama dianggap sebagai hal yang paling ringan. Ditambah lagi dengan layanan desa dan budaya; Ketergantungan mutlak pada para industrialis dan pemilik perkebunan (contoh: budidaya tembakau di Oosthoek), tunduk pada, terkadang bentuk kepura-puraan yang paling buruk, seperti berbondong-bondong ikut serta dalam pembakaran alang-alang, melakukan pertahanan polisi di kandang ternak, dan memasuki kebun alang-alang, bahkan ketika seseorang percaya bahwa upah terlalu rendah. Tanpa motif tersembunyi, perlu dikatakan bahwa saya memiliki harapan tinggi untuk pemerataan semacam itu. Hal itu pasti akan menegaskan pengaruhnya di desa dan merupakan koreksi yang baik terhadap semua kemungkinan tindakan melanggar hukum yang secara sederhana dihadapi oleh tani. Kepastian hukum dan keamanan hidup dan harta benda akan segera diberikan kepada tani-sadja juga. Masalah pendidikan adalah masalah yang sangat rumit. Seperti yang dicatat dengan tepat di Semarang, tuntutan akan pendidikan tinggi tidak demokratis. Orang Jawa mengambil pandangan yang agak pragmatis tentang hal itu. Keberatan yang saya dengar di sana-sini adalah: bahwa penduduk asli, secara umum, akan mendapat sedikit manfaat dari lembaga pendidikan tinggi serupa selama pintu sekolah dasar Eropa tetap tertutup bagi anak-anak mereka. Sekolah-sekolah pribumi kelas satu?! Sekolah-sekolah itu dihargai sebagai pengganti, namun orang-orang terus melirik secara diam-diam ke sekolah untuk orang Eropa, yang, bagaimanapun, terhubung ke sekolah menengah, dan mungkin kemudian ke sekolah tinggi juga. Itulah pendapat yang dipegang di kalangan pribumi. Bagi saya sendiri, saya menganggap sekolah untuk pendidikan tinggi tentu merupakan berkah bagi negara, karena negara dapat memperoleh tenaga kerja dengan lebih murah. Namun, sebagai pendukung partai, saya harus membiarkan pendapat saya sendiri tetap teguh. Saya tahu bahwa Bapak Douwes Dekker memiliki "penyatuan pendidikan" dalam programnya. Dengan itu, orang dapat menganggap keberatan yang diajukan oleh begitu banyak orang Jawa dan yang saya sampaikan sebagai hal yang sudah terbantahkan. Namun justru karena alasan itulah, hubungan dapat menjadi jauh lebih murni jika pertanyaan ini diajukan dalam salah satu pertemuan. Kita kemudian dapat mendengar pendapat Partai Hindia, alih-alih hanya menerima janji dari pemimpinnya. Sebagai antitesis dari pendidikan tinggi, berdirilah pendidikan rakyat. Terkadang dikatakan bahwa bangsa Jerman berutang budi kepada guru sekolah. Saya tidak dapat menilai ini, tetapi saya percaya bahwa ada kebenaran di dalamnya. Saat ini, masalahnya ada di hadapan kita sebagai berikut: dari semua jenis pendidikan, pendidikan untuk kaum ani adalah yang paling sedikit diberikan. Prijaji secara bertahap mulai sadar: ada baiknya bagi orang Jawa untuk memperhatikan bagaimana dalam keadaan seperti itu semuaDari semua sisi, tujuan didekati, bagaimana asosiasi membentuk diri mereka sendiri, semuanya untuk pendidikan yang lebih dan lebih menyeluruh. Oleh karena itu, ada alasan yang lebih kuat untuk bertanya kepada Indische Partij tentang sikapnya atau akan bersikap terhadap isu lain; maksud saya, apa yang dapat diharapkan Tani darinya dalam waktu dekat. Saya pasti akan mengajukan pertanyaan ini kepada Indische Partij jika saya memang juga bertanggung jawab atas kepemimpinan gerakan Jawa. Akhirnya, atas nama rakyat saya, saya akan dengan tegas mendefinisikan posisi yang ingin diadopsi oleh orang Jawa. Jika saya memahami rekan-rekan sebangsa saya dengan benar, mereka menginginkan Jawa yang kohesif, yang penduduknya, sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan—terlepas dari semua perbedaan ras, agama, atau lainnya—aktif untuk kesejahteraan negara. Dalam garis pemikiran ini, setiap antitesis harus dihilangkan. Perjuangan selalu dilakukan terhadap individu, sebisa mungkin bukan terhadap kelompok orang. Satu contoh saja sebagai ilustrasi. Mengikuti alur pemikiran yang sudah mapan, kami akan meminta pertanggungjawaban kelima anggota dewan asosiasi tersebut atas "protes Asosiasi Dokter" yang terkenal itu, bahkan bukan asosiasi itu sendiri, karena tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa asosiasi tersebut sepenuhnya mendukung isi dan bentuk protes tersebut; apalagi kami akan berani mendekati Gubernur Jenderal untuk masalah ini. Pada paragraf terakhir ini, saya telah melakukan pengulangan, tetapi saya harus melakukannya agar tidak terjadi kesalahpahaman. Di atas, untuk sementara saya telah mengambil alih kepemimpinan gerakan Jawa. Agar tidak kehilangan pandangan terhadap semua hubungan, saya harus segera kembali ke kapasitas saya sebagai individu Jawa dan menyatakan bahwa baik Tloedi-Oetomo maupun Sarikat-Islam — yang mana saya bukan anggota dari kedua asosiasi tersebut — tidak dapat dimintai pertanggungjawaban atas pernyataan saya. Namun, saya belum sampai pada akhir. Mengenai pengakuan saya, saya masih berhutang penjelasan kepada Anda tentang beberapa hal yang telah terjadi. Express telah terlalu banyak memberitakan nama saya sehubungan dengan kunjungan saya ke wilayah yang terkena wabah. Bukanlah kekhawatiran yang keliru dari pihak saya ketika saya menyatakan bahwa, di mata saya, tindakan itu sendiri tidak memiliki nilai sedikit pun. Lebih jauh lagi, masalah gelar kebangsawanan pasti menyakitkan bagi Anda. Bagaimana saya berpikir tentang penghargaan secara umum, dan tentang penghargaan saya sendiri secara khusus, mungkin tidak menjadi urusan Anda. Namun, anggapan bahwa pemerintah ingin menyuap saya dapat merugikan gerakan Anda, setidaknya jika seseorang berpegang pada fiksi bahwa Anda melihat saya sebagai salah satu pemimpin Anda. Saya tidak dapat memikul tanggung jawab ini. Saya ingin menunjukkan kepada Anda fakta bahwa saya bahkan tidak terdaftar sebagai anggota di asosiasi utama Anda, yang tentu saja berbicara banyak. Tetapi kemudian motif untuk menyuap saya juga hilang, dengan asumsi bahwa pemerintah tidak menghargai cara tersebut. Sekali lagi: saya memiliki pengaruh yang tidak saya miliki, dan saya tidak membayangkan akan pernah memiliki pengaruh itu. Dan sekarang! Saya merasa terdorong untuk memberikan kritik jika diperlukan. Saya telah melakukannya dengan penuh ketenangan dan kesabaran, dengan mengingat bahwa hanya dengan secara tegas menunjukkan—setidaknya menurut pendapat saya—kelemahan-kelemahan Indische Partij, saya mungkin dapat berkontribusi untuk memungkinkan rekan-rekan sebangsa saya membentuk penilaian yang tidak bias terhadap organisasi tersebut. Saya dapat dengan mudah tetap diam mengenai kualitas baik Indische Partij, karena Douwes Dekker juga bukan orang asing bagi Anda. Saya menaruh kepercayaan penuh padanya secara pribadi, tetapi percaya bahwa "moderasi dalam tindakannya" mungkin bermanfaat bagi gerakan yang telah dimulai. Pada tanggal 16 Desember mendatang, saya akan bersedia bertemu dengan para editor Expres. Masalah ini mungkin hanya bermanfaat bagi saya sendiri. Mengenai Anda, saya menahan diri untuk tidak memberikan nasihat apa pun. Saya tidak menyangkal bahwa surat ini mungkin memiliki pengaruh sugestif pada sebagian dari Anda. Ingatlah, bahwa saya tidak bermaksud demikian, namun saya tidak dapat mencegahnya. Bagi saya pribadi, tujuannya adalah untuk tetap jujur dalam posisi baru saya, untuk dapat mempertahankan metode kerja saya—di mana metode tersebut berbeda dari metode majikan saya—selama mungkin, dan pada saat yang sama untuk melepaskan diri dari beban berat tanggung jawab atas tindakan Anda, terlepas dari apakah Anda mendukung atau menentang Partai Hindia. Ya, memang! Saya akan mengakhiri surat ini dengan satu nasihat: bersikaplah tidak memihak, dan ingatlah bahwa "setiap orang baik, dalam dorongan hatinya yang disalahpahami, pada akhirnya akan menemukan jalan yang benar". Tjipto Mangoenkoesoemo. Kepandjen, 30 Oktober 1912’.
Indische Partij ini kemudian diketahui ketua pusatnya adalah Ernest Douwes Dekker (lihat De expres, 18-12-1912). Dalam pengumuman tersebut sekretariat pusat di Bandoeng dipimpin oleh GP Carli di Naripanweg. Daftar pemimpin cabang yang sudah ada di Bandoeng, Batavia, Cheribon, Tegal, Pekalongan, Kendal, Semarang, Soerabaja, Djokja, Djombang, Modjokerto, Blora, Indramajoe, Serang dan Padang. Suatu komite dibentuk di Bandoeng untuk menyusun statute (Anggaran Dasar).
Juga disebut para musuh Indische Partij: (1) Het Nieuws v. d. Dag, v. Ned.-lndië te Batavia. (2) M. v. Geuns en het Soerabajasch Handelsblad. (3) De journalist Mr JF Dijkstra te Bandoeng. (4) De firma G. Kolff & Co. te Bandoeng en de Preanger-bode. (5) W. Kerremans en het Soerabajasch Nieuwsblad. (6) Het dagblaadje Mataram te Djokja.
Sehari kemudian di Belanda, Vereeniging Oost en West cabang Amsterdam mengundang Soetan Casajangan untuk berbicara di forum mereka (lihat Het koloniaal weekblad; orgaan der Vereeniging Oost en West, jrg 12, 1912, No. 50, 12-12-1912). Disebutkan cabang Amsterdam mengundang Soetan Casajangan untuk memberi kuliah dengan topik: “Een en ander ter bevordering van den vooruitgang van Nederlandsch-lndie (Hal-hal lain untuk mempromosikan kemajuan Hindia Belanda), pada hari Kamis, 19 Desember 1912, di salah satu aula Hotel Amerika (pintu masuk Marnixstraat), dimulai pukul 20.00. Pembicara adalah seorang Batak dan guru bahasa Melayu di sekolah perdagangan Handelschool di Rotterdam dan Haarlem; beliau telah memperoleh ijazah akta guru kepala.
Ini untuk kali kedua, Soetan Casajangan berbicara di forum dua organisasi yang berbeda di Belanda: (1) Pada tanggal 23 Maret 1911 pada forum Vereeniging Moederland en Kolonien dengan makalah berjudul 'Verbeterd Inlandsch Onderwijs' (Peningkatan pendidikan pribumi): (2) Pada tanggal 19 Desember 1912 pada forum Vereeniging Oost en West dengan makalah berjudul “Een en ander ter bevordering van den vooruitgang van Nederlandsch-lndie (Hal-hal lain untuk mempromosikan kemajuan Hindia Belanda). Catatan: Satu lagi organisasi di Belanda yang memiliki kaitan dengan Hindia adalah Indisch Genootschaap yang dipimpin oleh Prof Mr Cornelis van Vollenhoven (ahli hokum adat pribumi).
Lalu pada tanggal 25 Desember 1912 Indisch Partij secara resmi didirikan (lihat De expres, 27-12-1912). Dalam pembentukan itu turut hadir perwakilan resmi dari asosiasi Sarikat Islam, yang sekarang berjumlah lebih dari 90.000 anggota. Perwakilan SI tersebut adalah R Tjokro Aminolo dan Hassan Alijralie.
Disebutkan lebih lanjut, bahwa dalam statute Indisch Partij: Pasal-2, ayat-1: "Tujuan Indisch Partij adalah untuk membangkitkan patriotisme seluruh rakyat Hindia terhadap tanah yang memelihara mereka, untuk memaksa mereka bekerja sama atas dasar kesetaraan politik, untuk membawa tanah air Hindia ini menuju kemakmuran dan mempersiapkannya untuk keberadaan nasional yang merdeka. Pasal-2, ayat-4: mengenai “membuat Hindia tangguh melawan penjajah asing”. Dalam Pasal-2, bahwa konsep orang Belanda tidak ada bagi Indische Partij. Indische Partij hanya merujuk pada Indier (orang Hindia) yang dalam hal ini dimana orang tersebut dilahirkan menjadi tidak relevan lagi.
Dr Tjipto Mangoenkoesoemo tidak hanya sebagai redaktur surat kabar De Express, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo juga telah menjadi salah satu pengurus pusat Indische Partij. Berita ini juga menjadi heboh pula di Belanda. Lantas apa reaksi para anggota Indisch Vereeniging di Belanda?
Het koloniaal weekblad; orgaan der Vereeniging Oost en West, jrg 13, 1913, No. 5, 30-01-1913: ‘Indische Partij. Pada Hari Natal, rapat konstituen Indische Partij diadakan di Bandoeng. Rapat tersebut dihadiri oleh 5.000 anggota; 19 cabang terwakili. Diumumkan bahwa HA Dezcntjé dari Solo telah menyediakan dana sebesar seratus ribu gulden untuk partai tersebut. De Express tanggal 28 Desember lalu memberitakan tentang pemilihan anggota dewan utama Indische Partij pada rapat konstituen di Bandoeng. Sebelum pemungutan suara, Douwes Dekker memprotes pencalonannya sebagai ketua. Ia mengemukakan alasan-alasan berikut, yang menurutnya membuatnya menjadi kandidat yang tidak diinginkan: 1. Anggota dewan utama harus mengambil posisi independen dan selalu dapat mengatur waktu mereka; 2. Gagasan Indische Partij telah dikaitkan oleh para anggota dengan sosok Douwes Dekker; hubungan ini harus diputus dengan segala cara; 3. Ketua Dewan Pusat seorang ayah yang juga bidan haruslah seorang organisator yang baik, dan Douwes Dekker tidak menganggap dirinya layak menjadi salah satu ayah yang juga bidan. Atas dasar ini, Douwes Dekker menganggap dirinya kurang cocok untuk jabatan ketua. Ia mengusulkan Dr Tjipto Mangoenkoesoemo dan JG van Ham sebagai kandidat. Pertemuan tersebut tampaknya tidak sependapat dengan keberatan Douwes Dekker; pertemuan tersebut memilihnya sebagai ketua dengan suara bulat dan kemudian menunjuk, dengan suara bulat dikurangi satu — dari seksi Cheribon, yang memberikan suara kosong karena mereka menginginkan jumlah anggota dewan eksekutif yang ganjil — kandidat yang diusulkan oleh Dewan Eksekutif sementara. Oleh karena itu, Dewan Eksekutif terdiri sebagai berikut: EFE Douwes Dekker, ketua; Dr Tjipto Mangoenkoesoemo, wakil ketua; JG v Ham, sekretaris; GP Carli, bendahara; JD Brunsveld van Hulten dan JR Agerbeek, anggota’.
Raden Mas Soewardi Soerjanigrat “Als ik een Nederlander was”: Ernest Douwes Dekker, Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat Diasingkan ke Belanda
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Klub Como 1907”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia di Jepang”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



Tidak ada komentar:
Posting Komentar