*Untuk melihat semua artikel Sejarah Dr Tjipto di blog ini Klik Disini
Pada tahun 1905 Tjipto Mangoenkoesoemo lulus sekolah Docter Djawa School di Batavia. Dr Tjipto (Mangoenkoesoemo) dan Dr Abdoel Hakim (Nasoetion) yang sama-sama lulus keduanya ditempatkan di Stadsverband (rumah sakit kota) di Batavia sebagai dokter pribumi (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 01-12-1905). Saat ini sudah ada organisasi-organisasi kebangsaan Indonesia (baca: pribumi) yang telah terbentuk: Societeit Paroekoenan di Bandoeng (1897), Medan Perdamaian di Padang (1900), Vereeniging Ambon di Ambon (1900) dan Sjarikat Tapanoeli di Medan (1905). Sejarah Pers di Indonesia
Pada tahun 1907, Wahidin Soedirohoesodo melakukan kunjungan ke Stovia dan bertemu para pelajar dan menyerukan gagasan untuk membentuk organisasi yang dapat mengangkat derajat bangsa. Selain itu, Sudirohusodo juga ingin mendirikan sebuah organisasi di bidang pendidikan untuk bisa membantu biaya orang-orang pribumi yang berprestasi dan mempunyai keinginan untuk bersekolah. Selanjutnya, Soetomo bersama dengan Soeradji mengadakan pertemuan dengan para pelajar STOVIA yang lain, untuk membicarakan gagasan organisasi yang disampaikan oleh Sudirohusodo. Lalu diadakan pertemuan dan membentuk sebuah organisasi yang diberi nama "Perkumpulan Boedi Oetomo" pada tanggal 20 Mei 1908 di Batavia. Tokoh yang tercatat sebagai pendiri Boedi Oetomo terdiri dari 9 orang, yaitu Mohammad Soelaiman, Gondo Soewarno, Goenawan Mangoenkoesoemo, Raden Angka Prodjosoedirdjo, Mohammad Saleh, Raden Mas Goembrek, Soetomo, Soeradji Tirtonegoro, dan tentunya Wahidin Soedirohoesodo sebagai penggagasnya. Soetomo menjadi ketua dan Soelaeman Affandi Kartadjoemena, sebagai wakilnya. Pengurus lainnya terdiri dari Gondo Soewarno sebagai sekretaris I, dan Goenawan sebagai sekretaris II, serta bendahara yang dijabat oleh Angka Prodjosoedirdjo. Sisa pendiri lainnya menjabat sebagai komisaris (Wikipedia)
Lantas bagaimana sejarah organisasi kebangsaan Indonesia? Seperti disebut di atas, saat Tjipto Mangoenkoesoemo lulus sekolah Docter Djawa School di Batavia 1905 sudah ada sejumlah organisasi kebangsaan Indonesia. Lalu bagaimana sejarah organisasi kebangsaan Indonesia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.Sejarah Bahasa Indonesia
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah, melainkan hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah tercatat dalam dokumen sejarah.
Organisasi
Kebangsaan; Dari Medan Perdamaian, Sjarikat Tapanoeli, Boedi Oetomo dan Indisch
Vereeniging
Lulusan sekolah guru pribumi dan lulusan sekolah kedokteran pribumi telah mencoba melangkah di depan dalam menerjemahkan situasi dan kondisi pribumi di Hindia. Di luar pekerjaan utama mereka, memanfaatkan waktu untuk memberi kontribusi terhadap kebutuhan pendudukan pribumi dengan cara-cara yang sesuai untuk kemajuan bangsa ke depannya. Salah satu guru yang terbilang pionir dalam urusan berbangsa ini adalah Dja Endar Moeda.
Pada tahun 1893 Dja Endar Moeda pension sebagai guru di Singkil lalu berangkat haji ke Mekah. Sepulang dari Mekah, Dja Endar Moeda memilih tinggal di Padang. Naluri guru segera muncul ketika banyak penduduk usia sekolah tidak tertampung di sekolah pemerintah, Dja Endar Moeda mendirikan sekolah swasta. Dalam hal ini, Dja Endar Moeda, guru tetaplah guru. Pada tahun 1895 penerbit surat kabar Pertja Barat menawarkannya untuk posisi redaktur, Dja Endar Moeda tidak keberatan. Seorang jurnalis Belanda bertanya kepadanya mengapa seorang guru terjun ke dunia jurnalistik. Dja Endar Moeda menjawab enteng: “pendidikan dan jurnulistik sama pentingnya; sama-sama mencerdaskan bangsa”. Singkatnya, Dja Endar Moeda pada tahun 1900 mengakuisisi surat kabar Perja Barat beserta percetakannya. Dja Endar Moeda juga menerbitkan surat kabar baru Tapian Na Oeli. Motto surat kabar Pertja Barat diubah menjadi: “Oentoek Sagala Bangsa”. Tidak cukup sampai disitu, Dja Endar Moeda menginisiasi organisasi kebangsaan (multi etnik) di Padang yang diberi nama Medan Perdamaian dan sekaligus menjadi direkturnya. Pada tahun 1902 Dja Endar Moeda menerbitkan majalah bulanan Insulinde yang sekaligus menjadi organ dari Medan Perdamaian. Topik-topik yang dimuat di Insulinde perihal pembangunan seperti pertanian dan industry kerajinan rumah tangga dan social budaya termasuk peningkatan penduduk pribumi dan mendorong terjadi perubahan ke arah kemajuan. Dja Endar Moeda “mengirim” salah satu asistennya di majalah Insulinde, Baginda Djamaloedin pada tahun 1903 untuk melanjutkan studi ke Belanda. Pada tahun 1904 Dja Endar Moeda kembali mengirim adik kelasnya guru di Padang Sidempoean Soetan Casajangan untuk melanjutkan studi ke Belanda. Di Belanda, Baginda Djamaloedin diterima di sekolah pertanian di Wageningen dan Soetan Casajangan diterima di sekolah keguruan di Haarlem. Baginda Djamaloedin lulus dari sekolah guru di Fort de Kock tahun 1899. Dja Endar Moeda lulus sekolah guru di Padang Sidempoean tahun 1885 dan Soetan Casajangan lulus dari sekolah guru Padang Sidempoean tahun 1889.
Pada saat Tjipto Mangoenkoesoemo lulus sekolah Docter Djawa School di Batavia tahun 1905, Dja Endar Moeda terkena delik pers di Padang dan dihukum. Dja Endar Moeda dihukum dengan cambuk dan diusir dari kota Padang. Dja Endar Moeda meminta bantuan adiknya (pensiun dini dari guru) untuk menggantikan posisinya di Padang (untuk mengurus pendidikan dan pers). Dja Endar Moeda kemudian hijrah. Di Medan, Dja Endar Moeda bersama pengusaha Hadji Ibrahim mendirikan organisasi kebangsaan baru Sjarikat Tapanoeli. Satu-satunya surat kabar berbahasa Melayu di Medan adalah Pertja Timor di bawah penerbit surat kabar Sumatra Post. Pemimpin redaksi surat kabar Pertja Timor di Medan adalah Mangaradja Salamboewe sejak 1902 (juga lulusan sekolah guru di Padang Sidempoean).
Tjipto Mangoenkoesoemo dan Abdoel Hakim (Nasoetion) beruntung lulus sekolah kedokteran Docter Djawa School karena langsung ditempatkan keduanya sebagai dokter pribumi di rumah sakit kota (Stadsverband). Disebut beruntung karena pendidikan di sekolah Docter Djawa School sangat ketat dan banyak yang gagal sebelum menyelesaikan studinya menjadi dokter. Beberapa siswa yang gagal di Docter Djawa School yang juga menjadi kolega Dr Tjipto semasih kuliah, tidak patah arah, lalu kemudian terjun ke dunia jurnalistik. Dua yang terpenting dalam hal ini adalah Tirto Adi Soerjo dan Abdoel Moeis. Pada tahun 1900 Raden Mas Tirto Adisoerjo lulus ujian transisi naik dari kelas tiga ke kelas empat tingkat medik (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 05-01-1900). Untuk lulus menjadi dokter harus lulus kelas enam medik. Sementara itu di kelas satu tingkat persiapan terdapat nama Abdoel Moeis. Pada tahun 1902 nama Tirto Adhi Soerjo di Batavia terinformasikan sebagai redaktur surat kabar berbahasa Melayu Pembrita Betawi di bawah kepala redaktur Wijbrand (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 17-05-1902). Abdoel Moeis pada tahun 1903 terinformasikan lulus ujian pegawai pemerintah (klein ambtenaar) di Fort de Kock (lihat Sumatra-bode, 20-01-1903). De locomotief, 07-11-1903: ‘Menurut surat kabar Mataram, RM Soewardi dan RM Soero di Poero, di antara yang lain, sedang mengikuti ujian tertulis yang diadakan di Djokja untuk para calon yang ingin dilatih sebagai dokter Djawa di sekolah terkait di Batavia’. RM Soewardi pada tahun 1904 lulus ujian transisi naik dari kelas satu ke kelas dua di tingkat persiapan (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 07-11-1904). Daftar dokter pribumi di Hindia berdasarkan penempatan menurut beslit pengangkatan tahun 1905 (lihat Regerings-almanak voor Nederlandsch-Indie, 1906).
Tunggu deskripsi lengkapnya
Dari
Medan Perdamaian, Sjarikat Tapanoeli, Boedi Oetomo dan Indisch Vereeniging;
Mengapa Dr Tjipto Mangoenkoesoemo Keluar dari Boedi Oetomo dan Mengapa Bersedia
Masuk Indisch Partij?
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Klub Como 1907”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia di Jepang”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



Tidak ada komentar:
Posting Komentar